
Sebulan sudah berlalu, tidak ada perubahan dari hubungan di antara mereka berdua.
Bicara seperlunya saja, bahkan mereka pernah tidak saling bicara atau pun saling menyapa saat di dalam kamar.
Namun, siapa sangka, Reyhan yang terlihat cuek bahkan seperti tidak peduli pada istrinya.
Diam-diam memperhatikan istrinya dari kejauhan, sama halnya seperti hari ini.
Semua orang berada di balkon, kecuali Reyhan yang sejak pulang bekerja hanya berada di dalam kamar.
Walaupun tampak Reyhan berada di dalam kamar, siapa sangka dirinya menguping pembicaraan empat manusia itu dari balkon kamarnya.
Sangat jelas terdengar jika Zahra tertawa bahagia, apalagi terdengar Arga yang bercerita membuat Meysi dan Zahra tidak henti-hentinya tertawa.
Reyhan berdecap kesal, entah kenapa dirinya sangat tidak suka mendengar istrinya tertawa bahagia dengan orang lain.
Reyhan bergegas keluar dari kamarnya, melangkah menuju balkon di mana istri dan adiknya berada.
“Ekhem ...” deham Reyhan saat tiba di balkon.
Suasana yang semula penuh canda dan tawa, kini langsung mencekam.
“Kak, kemari duduk bersama kami,” ucap Meysi bergeser agar kakaknya duduk di sebelah kakak iparnya.
Reyhan tidak bergerak dari tempatnya berdiri, ia hanya melirik sejenak tempat duduk yang kosong di sebelah istrinya.
Reyhan meletakkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
“Apa yang kalian bicarakan? Terlihat kalian begitu sangat bahagia?” tanya Reyhan dengan suara yang terdengar dingin.
Arga yang mendengarnya begitu sangat sulit menelan salivanya.
“Apa kalian tidak melihat jam berapa ini?! Apa kalian lupa, besok kalian berdua harus ke luar kota?”
Meysi yang mendengarnya mengernyit heran, tidak seperti biasanya kakaknya mempermasalahkan waktu mereka untuk tidur.
“Sepertinya aku harus ke kamar. Kak Mey, aku masuk dulu,” pamit Arga.
Arga dan Anton lebih dulu masuk, begitu pun dengan Meysi mengekori belakang Arga.
Kini di balkon hanya tinggal Zahra dan Reyhan. Terlihat Zahra juga beranjak dari tempat duduknya.
“Permisi Tuan.”
__ADS_1
Karena Reyhan menghalangi jalannya, bukannya menghindar Reyhan malah menahan lengan Zahra.
“Apa kamu lupa, jika kamu itu sudah mempunyai suami?” tanya Reyhan menatap istrinya dengan tajam.
Zahra mengernyit heran dengan perkataan suaminya.
“Aku tidak mengerti apa yang Tuan katakan!” berlalu pergi meninggalkan Reyhan yang masih mematung.
Sebenarnya Zahra sangat mengerti apa yang suaminya katakan, hanya saja dirinya tidak ingin berdebat. Apalagi ia melihat Meysi yang bersembunyi dan menguping pembicara mereka.
Melihat istrinya sudah berlalu pergi, Reyhan membalikkan tubuhnya untuk menemui istrinya yang lebih dulu masuk kamar.
Setibanya di kamar, Reyhan langsung menutup pintu sedikit kasar lalu menguncinya.
Zahra sangat jelas mendengarnya, jika Reyhan terlihat sangat marah. Walaupun ia tidak tahu apa penyebab kemarahan dari suaminya tersebut.
Zahra masih sibuk membereskan tempat tidurnya di sofa, ia berusaha bersikap seperti biasa. Walaupun saat ini jantungnya berdetak sangat kencang.
Reyhan perlahan mendekati istrinya yang tampak sibuk untuk menyelimuti dirinya, Zahra melirik sekilas tatapan tajam Reyhan.
Zahra menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya.
Beberapa detik kemudian, Zahra merasakan dirinya melayang.
Reyhan yang menggendong tubuh istrinya, sama sekali tidak peduli dengan teriakan histeris istrinya.
“Lepaskan Tuan!” histeris Zahra sambil memberontak.
“Diam, bodoh!” bentak Reyhan.
Seketika Zahra langsung terdiam mendengar suara bentakan sang suaminya.
Bruuk!
Zahra di letakkan di kasur empuknya dengan sedikit kasar.
Zahra dengan cepat membuka selimut yang masih melekat di tubuhnya.
“Tu-tuan, mau apa?” tanyanya dengan suara bergetar melihat Reyhan membuka pakaian miliknya.
Zahra berusaha mundur dan menarik selimut tebal tersebut untuk menutupi tubuhnya.
“Tu-tuan, bukankah anda ....”
__ADS_1
“Jangan banyak bicara! Kamu adalah istriku, aku berhak melakukan apa pun yang aku mau padamu! Termasuk meminta hakku sebagai suami.”
Mencoba menarik selimut tersebut dari tubuh istrinya dan setelah berhasil mendapatkan selimut tersebut, Reyhan membuangnya ke sembarang arah.
“Tu-tuan, aku mohon.” Dengan menyatukan kedua tangannya.
Air mata Zahra yang tiba-tiba saja mengalir begitu saja.
Bukannya kasihan pada istrinya, Reyhan menarik kedua kaki istrinya yang terlihat sudah di ujung dan bahkan hampir terjatuh.
“Aaa ... Tuan, maafkan aku!” Zahra kembali berteriak histeris.
Tanpa di duga, Reyhan membaringkan tubuhnya di samping tubuh istrinya dengan tangan yang melingkar di perut istrinya.
Membuat Zahra yang semula berteriak langsung terdiam, dia bahkan terkejut dengan sikap sang suami yang tiba-tiba memeluknya.
“Biarkan seperti ini,” bisik Reyhan menarik pelan tubuh istrinya agar menghadap padanya.
Zahra menurut saja apa yang di lakukan oleh suaminya, walaupun masih malu dengan Reyhan yang bertelanjang dada.
Reyhan memeluknya erat, awalnya Zahra membiarkan Reyhan memeluknya.
Tak lama, ia membalas pelukan sang suami.
Reyhan menyungging senyumnya, karena merasakan Zahra membalas pelukannya.
Reyhan membenarkan posisinya, agar wajah mereka bisa saling bertemu.
“Kenapa? Apa kamu takut pada suamimu?” bisik Reyhan yang melihat istrinya masih menunduk, tidak mau menatap dirinya.
“Apa? Kenapa dia bertanya seperti itu?!” gumam Zahra dalam hati.
“Hei, lihat aku.”
Menarik pelan dagu istrinya, netra Reyhan selalu tertuju pada bibir istrinya.
Reyhan mendekatkan wajahnya mereka hingga tidak ada jarak.
Bahkan kening mereka saling bertemu, Zahra yang melihat sang suami yang semakin mendekat, ia menutup kedua matanya.
Zahra sudah pasrah saat ini, ia bahkan tidak bisa menolak. Karena Reyhan memang sah menjadi suaminya saat ini.
***
__ADS_1