Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 31


__ADS_3

“Cepat keluar!” teriak beberapa orang yang berada di luar mobil.


Arga membuka pintu tersebut, baru satu kakinya keluar, dirinya sudah di tarik oleh beberapa pria tersebut.


Hingga membuat dirinya terjatuh ke tanah, Meysi yang melihatnya pun langsung bergegas keluar dari mobil.


“Kalian pikir ini di rumah kalian, berbuat mesum se enaknya!” menarik kerah baju Arga.


Kemarahan orang tersebut tidak bisa di bendung lagi, Arga yang belum sempat menjelaskan langsung menerima pukulan berkali-kali dari salah satu pria.


Bugh! Bugh!


Beberapa pria menahan pria yang memukul Arga membabi buta tersebut.


“Dasar anak muda tidak tahu diri!” sentak pria itu langsung mendorong tubuh Arga hingga kembali tersungkur ke tanah.


Arga mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


“Arga!” histeris Meysi, apalagi melihat sudut bibir Arga mengeluarkan darah.


Meysi membantunya agar berdiri dari duduknya.


“Jangan main hakim sendiri, Pak. Kami tidak melakukan apa yang kalian tuduh! Jangan menyebar fitnah!” protes Meysi tanpa takut pada beberapa pria tersebut.


“Mana ada maling mau mengaku!” sentak kembali beberapa pria tersebut.


Semua orang yang datang berkunjung ke tempat tersebut, menatap mereka.


Ada yang menatap kasihan dan ada juga menatap dengan kebencian dan jijik.


“Kalian harus di nikahkan sekarang, agar tidak terlalu banyak berbuat dosa!”


Mereka menarik tangan Meysi dan Arga.


Meysi memberontak begitu pun dengan Arga, mencoba melepaskan cengkeraman tangan mereka.


Karena tubuhnya sudah merasa lemah akibat pukulan beberapa orang tadi, membuat Arga pasrah.


“Ini di kota kami! Jadi ikut aturan tempat ini. Jika kalian berbuat mesum di rumah kalian, kami tidak peduli. Berhubung ini di wilayah kami, jadi kalian harus mengikuti aturan kami!”


Meysi yang mendengarnya pun tidak kehabisan akal, ia menendang kaki pria itu.


“Kurang ajar! Kalian sudah memfitnah kami, kami tidak pernah berbuat mesum!”


“Woii ... berani sekali kamu!” pria itu hendak memukul wajah Meysi.


Dengan cepat Arga melangkah dan melindungi Meysi.


“Jangan kasar pada wanita!” sentak Arga menatap tajam pria itu.


Pria itu langsung menuruni tangannya yang hendak menampar wajah Meysi.


“Kami punya bukti, jika kalian sedang berbuat mesum. Bahkan di area terbuka saja kalian berani berbuat zina!”


Meysi dan Arga diam. Melawan pun percuma, karena tidak ada yang mempercayai mereka berdua.


Mereka di bawa ke tempat salah satu ustadz yang tidak jauh dari tempat cafe tersebut.


“Assalamualaikum Pak ustadz.”


Kebetulan saat itu ustadz yang tengah duduk bersantai di teras rumahnya.


“Pak, mereka sudah melakukan perbuatan zina. Bahkan di area terbuka!” ujar salah satu pria pada pak ustadz tersebut.


Meysi saja bisa meneteskan air mata sambil menggelengkan kepalanya.


“Astaghfirullah ... anak muda, tahukan kalian perbuatan zina itu adalah dosa besar. Kalian harus segera bertobat!”


“Kami tidak pernah melakukan hal seperti itu Pak Ustadz. Kami hanya ingin berkunjung ke cafe itu,” sela Arga.


“Bohong Pak Ustadz! Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri, mereka di dalam mobil sedang melakukan dosa itu!” sela satu pria yang memukulnya tadi.


“Anda itu siapa? Kenapa begitu benci dengan kami?! Bahkan tidak mau mendengar penjelasan kami.” Meysi menatap pria itu dengan tatapan kebencian.

__ADS_1


“Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi. Bukti sudah ada di depan mata kami!” sentak pria itu.


Ia mengeluarkan ponsel miliknya dan memperlihatkan rekaman cctv tersebut.


Memang saat itu wajah Meysi tidak terlihat karena tertutup dengan kepala Arga, sehingga terlihat dari rekaman cctv jika mereka seperti sedang berciuman.


Meysi yang melihatnya sang syok dan bahkan terdiam, ia terduduk lesu di lantai teras rumah tersebut.


Dirinya tidak menyangka apa yang telah di lakukan Arga padanya, padahal dirinya saat itu sedang tertidur pulas.


“Mey ... itu tidak seperti yang kamu pikirkan! Percayalah padaku, biarkan aku menjelaskannya dulu. Aku tidak bermaksud ....”


Ucapan Arga langsung di sela oleh beberapa pria itu.


“Apa lagi yang di jelaskan, semua sudah jelas bukan! Pak ustadz, segera nikahkan mereka agar terhindar dari dosa zina!”


Arga di paksa oleh beberapa pria untuk duduk, bahkan ustadz tersebut pun sangat setuju dengan apa yang di ucapkan oleh beberapa pria itu.


“Mey, jangan diam saja Mey.” Arga berusaha untuk menjelaskan pada Meysi, akan tetapi Meysi hanya diam saja.


Akhirnya Arga dan Meysi pasrah, dengan terpaksa Arga mengulurkan tangannya pada pak ustadz tersebut.


Dengan sekali pengucapan, akhirnya mereka sah menjadi suami istri secara agama dengan mahar uang seratus ribu rupiah.


Meysi hanya bisa pasrah, mendengar pengucapan Arga yang begitu lancar menyebutkan nama mendiang ayahnya, ia hanya bisa meneteskan air mata.


“Kalian sudah sah menjadi suami istri, sekarang kalian pulang. Bersenang-senang lah di rumah kalian,” ujar pria itu.


Arga hanya bisa menghela napas berat, memang benar dirinya menyukai Meysi. Akan tetapi tidak dengan cara yang salah seperti ini.


Dengan tatapan kosong, Meysi melangkah lebih dulu ke mobil di ikuti oleh Arga di belakangnya.


Di dalam mobil, Meysi banyak diam meratapi nasibnya saat ini.


Begitupun dengan Arga, dirinya tidak mengeluarkan sepatah katapun, saat ini dirinya hanya fokus mengendarai mobil ke hotel tempat mereka menginap.


Setibanya di hotel tersebut, Meysi masih melangkah dengan tatapan kosong, di depan kamarnya Meysi langsung membuka pintu kamarnya tanpa peduli pada Arga lagi.


“Mey, dengarkan penjelasanku dulu!”


Meysi menutup pintu kamarnya dengan kuat, hingga Arga yang ada di depan pintu tersebut terkejut.


Arga menghela napas kasar, ia membiarkan Meysi untuk sendirian berharap besok bisa berbicara dengannya lagi.


Arga masuk ke kamar miliknya, kebetulan saat itu Arga memang memesan kamar yang berhadapan dengan Meysi.


Arga merebahkan tubuhnya di kasur menatap langit-langit kamar, mengingat kebodohan yang ia lakukan di mobil tadi.


“Argghh ... kenapa jadi kacau begini! Pasti Meysi sangat membenci ku!” kesalnya pada dirinya sendiri.


***


Pagi harinya, Arga mengerjapkan kedua matanya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi.


“Astaga, sudah jam segini.”


Arga bergegas ke kamar mandi, lalu melakukan ritualnya di kamar mandi.


Setelan selesai mengenakan pakaian yang rapi, ia Keluar dari kamarnya untuk menemui Meysi.


Namun, ia melihat pintu kamar yang terbuka lebar. Ia melihat ada beberapa orang pekerja di hotel tersebut membersihkan kamar Meysi.


“Maaf, dimana wanita yang menginap di kamar ini?” tanya Arga melihat kamar tersebut sudah kosong.


“Sudah pulang satu jam yang lalu Tuan,” sahut mereka.


Arga yang mendengarnya langsung lesu, bahkan ia bersandar di tembok hotel itu.


“Anda baik-baik saja, Tuan?” tanya wanita yang sedang membersihkan kamar tersebut.


“Iya, aku baik-baik saja.”


Arga segera masuk ke kamarnya dan mengemas pakaiannya. Setelah itu ia segera memesan tiket untuk kembali pulang.

__ADS_1


Jika Meysi menceritakan hal ini pada kakaknya, sudah di pastikan saat itu juga dirinya akan di hukum oleh ayahnya.


Berulang kali Arga menghubungi nomor Meysi, akan tetapi nomornya tidak bisa di hubungi.


Siang hari, Meysi sudah tiba di kota kelahirannya. Ia menghubungi sopirnya untuk menjemputnya di bandara, akan tetapi tidak pulang ke rumah, melainkan untuk mengantarnya ke apartemennya. Dirinya ingin menenangkan diri untuk beberapa hari di apartemen pribadinya.


Setibanya di apartemen, Meysi merebahkan tubuhnya yang begitu sangat lelah setengah melakukan setengah hari perjalanan.


Ia melihat notifikasi pesan masuk, yang tertera nama Arga.


Ia mengabaikan pesan tersebut, bahkan memblokir nomor Arga agar bisa menenangkan dirinya sejenak.


Sementara itu, pesawat yang di tumpangi Arga baru saja lepas landas.


Ia menggeret kopernya dan masuk ke dalam mobil taksi yang telah ia pesan sebelumnya.


Saat menghidupkan ponselnya, ia melihat begitu banyak panggilan dari ayahnya.


Deg!


Sudah bisa di tebak, jika ayahnya pasti akan mengetahui hal ini.


Arga menghela napas kasar.


Tiba di rumah, sang ayah menatapnya dengan tajam dari pintu utama.


“Ikut aku ke kamar sekarang!” ajak Toni terlihat masih menahan amarahnya.


Baru saja memasuki kamarnya, Toni langsung menutup pintu dengan kasar lalu menguncinya.


“Ayah, aku bisa jelaskan ....”


Plak!


Plak!


Plak!


Suara tamparan keras tempat di pipi kirinya hingga tiga kali di tempat yang sama.


“Ku rasa ini masih belum cukup untuk menghapus dosa mu itu! Apa kamu tidak membuka matamu lebar-lebar saat itu?! Hah? Jawab!” bentak Toni pada putranya.


“Ayah, dengarkan dulu penjelasanku. Itu tidak seperti yang Ayah pikirkan! Itu salah paham,” Ujar Arga mencoba menjelaskannya.


“Ceraikan Nona sekarang juga!” sentak ayahnya.


Deg!


Bagaikan pukulan keras tepat di jantungnya, hingga membuat jantung tersebut seakan berhenti berdetak.


“Kenapa kamu diam?! Ceraikan Nona Meysi sekarang juga, bukankah kalian hanya menikah secara siri? Lebih mudah untuk menceraikan. Aku tidak tahu reaksi Tuan Reyhan, jika dia tahu akan hal ini!”


“Tidak! Sampai kapan pun, aku tidak akan mencerainya. Bagiku pernikahan ini untuk sekali seumur hidup.”


Walaupun pernikahan itu terpaksa, hanya karena sebuah salah paham saja. Arga bersikukuh tidak akan menceraikan Meysi.


“Apa kamu tidak mengerti apa yang aku katakan?!” bentak Toni pada putra sulungnya itu.


“Tidak! Sekali pun Ayah ingin membunuhku atau pun Kak Reyhan, aku tidak akan mau menceraikan nya!” sentak Arga.


Plak!


Tamparan itu mendarat kembali.


“Apa kamu sadar? Apa pernikahan itu sudah di rencanakan olehmu?!” menatap curiga pada putranya.


“Aku tidak pernah merencanakan hal seburuk itu. Semua orang salah paham padaku!” sahut Arga sembari mengalihkan tatapan menakutkan ayahnya.


“Kalau kau tidak mau menceraikan Nona Meysi, angkat kaki dari rumah ini! Dan jangan kembali lagi!” bentak Toni lagi.


Terdiam sejenak, Arga menatap wajah sang ayah yang sudah mulai terlihat keriput.


“Ayah tega mengusir putra mu sendiri, itu hanya karena aku ingin mempertahankan pernikahan ini. Baiklah ... kalau itu mau Ayah. Suatu saat Ayah akan mengetahui kebenarannya!”

__ADS_1


Arga melangkah keluar dari kamarnya dengan tas yang ia bawa tadi, sembari mengusap sudut bibirnya yang terlihat kembali mengeluarkan darah.


***


__ADS_2