Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 50


__ADS_3

“Dari mana?” tanya Meysi melihat suaminya baru pulang, setelah seharian menunggunya.


“Ada pekerjaan di dekat sini,” sahutnya sembari melepaskan sepatunya.


Arga duduk di sofa di samping istrinya.


“Oh,” sahut Meysi singkat.


Ia beranjak dari tempat duduknya, ingin mengambilkan minum untuk suaminya.


Namun, saat ia kembali Arga sudah tidak ada di ruang tamu. Meysi membawa minuman dingin tersebut ke kamar, saat membuka pintu Arga tampak langsung menutup teleponnya tampak dari wajahnya ia terlihat gugup.


“Ada apa? Kenapa di matikan?” tanya Meysi lalu meletakkan air dingin tersebut di meja yang ada di kamar.


“Hah, tidak.” Meletakkan ponselnya.


Arga menarik tangan Meysi karena hendak melangkah keluar kamar mereka.


“Mau ke mana?” bisiknya di telinga istrinya.


Mendengar bisikan tersebut, membuat Meysi merinding.


Meysi menggelengkan kepalanya.


“Kamu dari mana sih?” tanyanya meletakkan kepalanya di dada bidang Arga, saat ini keduanya saling berpelukan.


“Ada pekerjaan,” sahutnya berbohong.


“Pekerjaan apa? Bukankah hari ini kita sepakat untuk tidak bekerja!” seru Meysi masih tidak terima karena Arga keluar tanpa memberitahu dirinya.


“Iya, maafkan aku.” Memeluk istrinya dengan erat.


Tangan nakal Arga sudah mulai masuk ke dalam baju, sehingga menempel dengan sempurna disana.


“Sayang,” panggil Arga pelan dengan mata sayu menatap sang istri.


Meysi sangat mengerti dengan tatapan itu.


Meysi mengangguk, sudah sebulan lebih sejak pernikahan sirinya mereka. Namun, Meysi belum berani memberikan sesuatu ya g berharganya pada Arga. Bukan tidak percaya, hanya saja dirinya masih belum siap. Apalagi pernikahan mereka yang begitu mendadak saat itu.


Melihat anggukan Meysi, Arga tersenyum senang. Ia menggiring istrinya ke tempat tidur, karena tidak ingin menunda lagi. Sudah sangat lama ia menginginkannya, akan tetapi Arga masih menghargai istrinya yang masih belum siap.


Jika dirinya ingin memaksa waktu itu pasti saja bisa, akan tetapi tidak mau membuat sang istrinya kecewa padanya hingga membuat hubungan mereka kembali renggang.


Arga melepaskan semua pakaiannya dan membuangnya ke sembarang arah. Namun, sebelum itu ia lebih dulu menutup tirai balkon dan mengunci pintu. Karena tidak ingin ada yang melihat aktivitas mereka, apa lagi sampai melihat tubuh mulus istrinya.


“Ini akan terasa sakit di awal, nanti akan enak kok,” bisik Arga.


Meysi yang mendengarnya merasa sangat malu, Arga sudah berbicara begitu intim padanya.


Bibir keduanya kini sudah mulai menyatu, bahkan saat ini Meysi sudah pandai membalasnya.


Arga menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua dan mulai melancarkan aksinya yang lama dia inginkan.


Awalnya membuat Meysi merintih kesakitan, karena merasakan sakit yang luar biasa.


“Maaf aku menyakitimu,” bisik Arga, namun aksinya masih berlanjut.


Perlahan rintihan Meysi mulai tidak terdengar lagi, ia mulai mengimbangi dan merasakannya.


Kesabaran Arga menunggu sebulan lebih lamanya, kini terbayarkan.


“Terima kasih, Sayang.”


Pergumulan panas itu selesai setelah satu jam lamanya, Arga perlahan beranjak dari atas tubuh istrinya dan berbaring di sampingnya.


Arga menarik Meysi ke dalam pelukannya dan mengecup pipinya berulang kali.


Ia sangat bersyukur, hingga saat ini Meysi masih menjaga kehormatannya untuk suaminya.

__ADS_1


“Kita mandi yuk,” ajak Arga, karena merasa sangat lengket akibat keringat mereka berdua.


Meysi mengangguk, ia merentangkan kedua tangannya meminta untuk di gendong.


Arga tersenyum, untuk pertama kalinya melihat Meysi begitu manja padanya.


Arga menarik selimut dari atas tubuh mereka berdua, ketika beranjak dan bersiap ingin menggendong istrinya.


Namun, netranya tertuju pada tempat tidur yang penuh dengan noda darah yang berceceran di mana-mana.


“Sayang, banyak darah.”


Netra Meysi mengikuti arah netra sang suami, ia juga sedikit terkejut melihat begitu banyak noda di darah tersebut. Apalagi, alas kasur tersebut berwarna putih.


Meysi menutup wajahnya dengan kedua tangannya, merasa sangat malu.


“Jangan malu, kita sudah sah menjadi suami istri.”


Arga melanjutkan langkahnya untuk menggendong sang istri ke kamar mandi dengan tubuh yang sama-sama polos.


“Ish ... perih,” tutur Meysi berdesis. Saat buang air kecil, ia merasakan perih yang sangat luar biasa.


“Maaf ya,” ujar Arga merasa sangat bersalah.


Meysi tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


“Jangan meminta maaf, ini sudah kewajiban istri.”


Arga kembali mengecup pucuk kepala Meysi.


Arga membantu istrinya untuk mandi bersama, tidak ada aktivitas lain selain mandi bersama.


Arga kembali menggendong istrinya, untuk keluar ke kamar mandi.


Setelah mengenakan pakaian mereka, Arga membantu istrinya untuk menggantikan alas kasur yang penuh dengan noda darah.


“Biarkan aku yang mencucinya, sungguh memalukan jika orang lain mencucikan ini.”


“Memangnya kamu bisa mencuci?” tanya Arga dengan nada mengejek.


“Kata siapa aku tidak bisa?!” serunya.


Arga terkekeh mendengarnya.


Selesai menggantikan itu, Meysi segera membawanya ke kamar mandi dan mulai mencuci dengan tangannya.


Hampir satu jam lamanya di kamar mandi, tidak ada tanda-tanda Meysi keluar kamar mandi.


Arga yang merasa curiga, ia beranjak dari tempat duduknya. Karena sebelumnya ia berkutat di depan laptopnya.


Perlahan Arga membuka pintu kamar mandi yang terbuka sebagian, ia mengintip istrinya yang tengah sibuk mencuci alas kasur tersebut.


“Sayang, masih lama?” tanya Arga yang ikut masuk ke dalam kamar mandi.


Arga mengernyit heran, melihat Meysi yang mencuci alas kasur tersebut tanpa menggunakan detergen, karena tidak melihat busa sama sekali di dalam ember tersebut.


“Nodanya masih belum hilang!” kesal Meysi sudah berulang kali menggosoknya.


Arga terkekeh.


“Biarkan saja. Nodanya tidak akan bisa hilang jika kamu tidak mencucinya dengan menggunakan detergen, Sudah lupakan itu! Nanti kamu sakit terlalu lama dengan air!” seru Arga menarik pelan lengan istrinya untuk keluar dari kamar mandi.


“Aku sangat lapar. Kita makan dulu,” ajak Arga.


Walaupun Meysi belum pernah masuk ke dapur, ia masih berusaha melayani suaminya.


“Ini kamu yang masak?” tanya Arga melihat berbagai masakan di meja makan.


Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Bukankah kamu sendiri yang mengirim wanita untuk datang ke apartemen kita?”


Arga mengernyit bingung, sejak kemarin ia belum ada yang menghubungi orang untuk datang ke rumahnya.


“Kamu sudah makanan ini?” tanyanya balik.


Meysi kembali menggelengkan kepala.


“Jangan di makan. Aku belum pernah menghubungi orang untuk datang kemari!” seru Arga segera membuang makanan tersebut ke tempat sampah.


Meysi menatap heran dengan suaminya yang membuang makanan tersebut.


“Dimana wanita itu?” tanya melihat sekeliling.


Arga mulia mencari keseluruhan apartemen itu, akan tetapi ia tidak menemukan siapapun.


“Tidak ada orang selain kita di rumah ini. Sudah jelas, wanita itu orang jahat!”


Meysi semakin bingung, ia masih berpikir bagaimana wanita itu bisa masuk ke dalam rumah itu.


Sedangkan kode pintu rumahnya, hanya mereka bertiga yang tahu termasuk sahabatnya Novi. Karena saat kuliah, mereka berdua lebih sering tidur di apartemen.


“Aku akan pesankan makanan untuk kita,” Ujarnya.


Meysi mengangguk.


Tak butuh waktu lama, makanan yang Arga pesan sudah tiba.


Karena perut yang sudah lapar mereka makan dengan lahap malam itu, apalagi habis berolah raga membuat tenaga mereka habis terkuras.


Malam ini, Arga masih berkutat dengan komputernya. Terbesit di pikirannya untuk memeriksa cctv di apartemen tersebut.


Ia segera melangkah menuju ke kamar mereka, melihat Meysi yang tengah berbaring di kasur sambil bermain dengan ponselnya.


“Sayang,” panggil Arga, menyusul istrinya duduk di tempat tidur.


“Ada apa? Apa pekerjaanmu sudah selesai?” tanyanya.


Arga mengangguk.


“Apa apartemen ini di lengkapi cctv?” tanyanya.


“Ada,” sahutnya.


Meysi membuka laptopnya, untuk melihat rekaman cctvnya.


“Apa kamu kenal dengan wanita ini?” tanya Meysi menunjuk wanita yang tengah sibuk memasak untuk mereka.


Arga memperhatikannya dengan teliti, lalu menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Sepertinya, ada yang ingin berniat jahat pada kita! Aku akan mencari tahu,” tutur Arga.


Meysi hanya mengangguk tanda ia setuju dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya.


Meysi menyimpan kembali laptop miliknya, lalu kembali ke tempat tidur.


“Siapa yang ingin berbuat jahat pada kita? Apa kamu punya musuh?” tanya Meysi.


“Entahlah. Aku merasa tidak punya musuh selama ini!”


“Tapi, perempuan yang menyukaimu, banyak bukan?!” ujar Meysi sedikit ketus.


“Iya, banyak sekali. Aku saja bingung harus memilih yang mana, semuanya cantik-cantik.” Dengan sengaja Arga berkata seperti itu, apalagi melihat wajah istrinya yang cemburu.


“Tidur di luar!” seru Meysi melempar bantal ke tubuh Arga, membuat Arga terkekeh.


Arga menarik istrinya agar mendekat padanya, walaupun Meysi sedikit memberontak.


“Hanya kamu wanita satu-satunya yang ada di hatiku, sejak dulu hingga sekarang perasaan ini tidak pernah berubah.”

__ADS_1


***


__ADS_2