
Pagi hari, Meysi mengerjapkan kedua matanya. Pertama yang ia cari adalah sang suami yang tidak berada di sampingnya, perlahan duduk dan bersandar di bahu ranjang.
Meysi mengusap pelan wajahnya, lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas.
Saat menggeser layar, ada pesan suami yang masuk dari setengah jam lalu.
Setelah bangun, sarapanlah terlebih dahulu aku berada di kamar Ayah.
“Paman berada di hotel ini?” gumam Meysi, lalu melirik sebuah nampan yang berisi makanan dan teh hijau di meja.
Meysi meletakkan kembali ponselnya, lalu melangkah ke kamar mandi.
Setelah itu, ia kembali keluar masih dengan baju kimononya karena baru selesai mandi.
Ia duduk di sofa mulai memakan sarapannya dengan handuk yang masih melilit di kepala.
Setelah menghabiskan setelah sarapannya, pintu kamarnya terbuka melihat Arga yang masuk.
“Sudah bangun?” tanya Arga sembari menutup kembali pintu kamar lalu menguncinya.
Meysi mengangguk.
“Ayo sarapan bersama,” ujar Meysi menyodorkan roti belas gigitannya.
Arga menggelengkan kepalanya.
“Aku baru saja sarapan bersama Ayah,” sahutnya memperhatikan Meysi yang hanya menggunakan kimono.
Meysi mengangguk tanpa menaruh curiga dengan tatapan mesum Arga padanya.
“Kenapa Paman bisa ada di hotel ini? Kebetulan atau memang kalian sudah berjanji untuk bertemu di hotel ini?” tanya Meysi sambil sibuk dengan rotinya.
“Ayah meminta untuk bertemu di sini,” sahut Arga.
Ia merebahkan kepalanya di paha Istrinya, lalu meletakkan ke arah perut istrinya.
Meysi yang merasa geli, hanya bisa pasrah melihat tingkah suaminya.
“Kenapa berpakaian seperti ini? Apa kamu sedang menggodaku?” tanya Arga menatap istrinya sembari memainkan kedua alisnya.
“Siapa yang menggodamu, dasar bocah! Aku baru selesai mandi!” ketus Meysi sambil menyeruput teh hijau kesukaannya yang sangat ia rindukan beberapa hari ini.
“Apa kamu bilang? Coba katakan sekali lagi!” ujar Arga agar istrinya mengulang perkataannya.
“Dasar bocah!” ujar Meysi mengulang kembali ucapannya. Tanpa ia sadari, ucapannya tersebut membuatnya dalam bahaya.
Arga langsung duduk dari tidurnya, menatap istrinya.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Meysi mengernyit heran.
“Jangan panggil aku bocah! Sekali saja aku menidurkanmu, perutmu bisa buncit selama sembilan bulan!”
Meysi baru menyadari dengan ucapannya, lalu menutup mulutnya dengan tangannya. Dengan wajah memelas ia menatap suaminya, sambil menangkup kedua tangannya untuk meminta maaf.
Arga menggelengkan kepalanya, ia menarik tangan Meysi untuk mendekat padanya.
Aksinya tersebut terhenti, saat mendengar ketukan pintu kamar.
Tok! Tok!
“Mengganggu saja!” kesal Arga beranak dari tempat duduknya.
Meysi menghela napas lega, karena suara ketukan tersebut menyelamatkan dirinya.
Ceklek! Arga membuka pintu, terlihat petugas hotel yang datang membawa pesanannya.
“Ini pesanan anda Tuan,” ujarnya.
Sebelum ia masuk ke kamar, ia melupakan jika dirinya memesan kopi untuknya.
“Oh. Terima kasih dan ini untukmu.” Memberikan dua lembar uang kertas pada petugas hotel yang mengantarkannya kopi pesanannya tersebut.
Lalu masuk dan menutup kembali pintu tersebut, ia melihat sang istri sudah tidak berada di sofa lagi.
“Huftt ... gagal lagi!” menghela napas kasar.
Ia melangkah ke arah balkon membawa secangkir kopinya dan ponsel miliknya di sebelah kirinya.
Meysi keluar dari kamar mandi, mengeluarkan setengah kepalanya.
Netranya tertuju pada Arga yang duduk di balkon, lalu keluar dengan sudah berpakaian. Baju yang kekanakan adalah baju yang ia pakai kemarin, karena Meysi tidak mengetahui rencana suaminya yang ingin menginap di hotel.
“Sayang,” panggil Meysi menyusul suaminya ke balkon.
Arga tersenyum mendengar panggilan Meysi padanya, ia menarik tangan istrinya agar duduk di sebelahnya.
“Sedang apa?” tanya Meysi melihat Arga kembali fokus dengan ponselnya.
“Sedang memikirkan ingin membuka cabang lagi ke daerah lain,” sahutnya.
Meysi mengangguk mengerti. Ia meletakkan kepalanya di bahu Arga.
“Kapan kita pulang?” tanyanya.
__ADS_1
“Kamu maunya kapan?” tanya Arga balik.
“Besok,” sahutnya asal.
“Baiklah, kalau itu maumu. Kita akan pulang besok.”
Meysi terkekeh.
“Aku hanya bercanda. Bagaimana dengan gerobak baksomu? Apa kamu meninggalkannya begitu Saja?”
Arga tersenyum sembari merangkul bahu istrinya.
“Aku sudah memberikannya pada orang yang membutuhkan dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang yang butuh pekerjaan. Aku memulai bisnis baruku dan membuka cabang di beberapa kota.”
Meysi mengangguk mengerti.
“Ini semua untukmu dan juga untuk masa depan anak-anak kita kelak.”
Meysi membulatkan matanya, mendengar ucapan Arga. Ia tidak pernah terbesit di pikirannya untuk memikirkan soal anak saat ini. Namun, Arga sudah berpikir sejauh ini.
“Kenapa diam?” tanya Arga.
“Tidak. Apa kamu ingin mempunyai anak dariku?” tanya Meysi pelan.
“Aku tidak memaksa jika kamu belum siap. Aku akan melakukan di mana kamu siap,” ujar Arga lagi.
Meysi hanya tersenyum menanggapinya.
***
Di rumah kebesaran Mesya.
Ia tengah sibuk menyuapi Dafi untuk makan siang, setelah itu ia akan ke kantor suaminya untuk mengantar makan siang.
Ia menatap lekat wajah dafi, ia begitu prihatin. Sekecil ini ia harus merasakan kehilangan orang tuanya.
Setelah selesai menyuapi Dafi makan siang, terlihat penjaga rumahnya datang menghampirinya.
“Maaf, Nona. Ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Nyonya.”
“Wanita? Siapa?” tanya Mesya penasaran.
“Saya tidak tahu Nyonya.”
“Biarkan dia masuk,” Ujarnya.
Sambil membersihkan mulut Dafi dengan menggunakan tisu, lalu mengganti pakaiannya karena sedikit kotor.
Sedang sibuk dengan Dafi, tanpa Mesya sadari jika wanita tersebut menatapnya di depan pintu.
Mesya langsung menoleh, ia menatap wanita tersebut.
“Iya, ada apa? Apa anda yang ingin bertemu denganku?” tanya Mesya.
Sebelum itu ia menyambut ramah wanita tersebut, lalu mempersilahkan dia untuk duduk.
“Maaf, sebelumnya kita belum pernah bertemu. Perkenalkan saya Melina, Tante dari Dafi.”
Mesya langsung terdiam sejenak, lalu menyambut uluran tangan Melina tersebut.
“Maaf, kedatangan saya kemari membuat anda terkejut. Saya sudah beberapa hari mencari keberadaan Dafi, setelah kematian ibunya dan saya mendapat info dari kepolisian jika Dafi berada di rumah anda, Nyonya.”
Mesya mengangguk.
“Saya ingin menjemput Dafi dan kami sendiri yang ingin merawatnya.”
Deg!
Mesya kembali terdiam, memang awalnya ia tidak menerima kehadiran Dafi dulu. Tapi, saat ini ia sudah memperlakukan Dafi seperti putranya sendiri.
“Maaf sebelumnya, Nona. Izinkan kami untuk merawat Dafi, kamu sudah menganggapnya sebagai putra kami.”
“Tidak bisa! Sebelum meninggal, Mila berpesan jika Dafi ikut bersama kami!” tolak Melina.
“Kecuali ....” Melina menggantungkan ucapannya.
“Kecuali apa?” tanya Mesya penasaran.
“Kecuali ada ini, anggap saja anda membelinya dari kami,” ujar Melina menjentikkan jarinya.
Mesya mengerti yang di maksud oleh Melina, ia menghela napas berat.
Sekarang Mesya baru menyadarinya, kedatangan Melina kemari bukan bermaksud mengambil Dafi.
“Sebentar,” ujar Mesya beranjak dari tempat duduknya.
Sambil menunggu Mesya, Melina melihat sekelilingnya penuh dengan pernak pernik yang begitu mewah di dalam rumah tersebut.
“Ekhem ...” deham Mesya.
Melina berbalik badan lalu tersenyum melihat kedatangan Mesya.
“Ini. Mungkin uang ini sudah lebih dari cukup! Jangan mengganggu Dafi lagi, pergi sejauh mungkin!” ujar Mesya sedikit kesal mendengar perkataan Melina yang menyamakan Dafi dengan dagangan yang di perjual belikan.
__ADS_1
Mata Melina membulat, melihat segepok uang di meja tersebut.
Niat awalnya memang ingin menjemput Dafi, setelah melihat rumah yang begitu megah membuatnya mengurungkan niatnya. Karena hidup Dafi akan lebih terjamin jika tetap tinggal di rumah tersebut dan muncul niat buruknya ingin meminta uang pada istri dari mantan kekasih mendiang keponakannya tersebut.
“Terima kasih,” ujarnya mengambil segepok uang tersebut tanpa rasa malu.
“Sebelum pergi. Tanda tangan di surat perjanjian ini dulu, mulai sekarang kamu tidak akan pernah kembali ke rumah ini untuk menjemput Dafi lagi!” tegas Mesya.
Tanpa menunggu lagi, Melina langsung menandatangani kertas tersebut.
“Sudah.” Memberikan kertas tersebut pada Mesya.
“Baiklah, aku permisi. Oh ya, aku ingin memberitahu kamu sesuatu. Dafi bukanlah darah daging Indra, ayah dari Dafi sudah meninggal beberapa bulan yang lalu akibat overdosis.”
Mesya tampak tidak terkejut mendengar pernyataan Melina, karena sebelumnya ia dan suami sudah mencari tahu kebenarannya.
“Oh ya?” ujar Mesya tersenyum kecut menatap Melina.
“Iya. Terima kasih, saya permisi.”
Mesya hanya mengangguk menatap kepergian wanita tersebut.
Setelah itu, Mesya menitipkan Dafi pada pembantu rumahnya. Karena ia harus ke kantor untuk mengantar makan siang untuk suaminya.
30 menit perjalanan, akhirnya ia tiba di kantor. Semua orang menyapa ramah kedatangannya, begitupun sebaliknya.
Ceklek!
Pintu ruangan itu terbuka, Indra begitu fokus menatap layar komputernya hingga tidak melihat kehadiran istrinya.
“Ekhem ... serius sekali,” ujar Mesya.
Mendengar suara istrinya, Indra langsung menoleh dan memperlihatkan senyum di wajahnya.
“Sayang, kok tidak memberitahuku jika mau ke kantor?” tanya Indra langsung menarik istrinya ke dalam pangkuannya.
“Sengaja,” sahutnya mengalungkan lengannya ke leher suami.
Cup!
Indra memberi kecupan hangat di pipi istrinya.
“Aku membawakan makan siang untukmu.” Melepaskan diri lalu mengambil kotak makan yang ia letakkan di meja.
“Wah, wangi sekali.” Menghirup aroma masakan saat istrinya membuka kotak makan tersebut.
Indra mengambil kursi agar istrinya duduk di sampingnya, mereka makan siang bersama sesekali Indra menyuapi istrinya begitupun sebaliknya.
Setelah selesai makan, mereka duduk di sofa panjang untuk rehat sejenak.
Terbesit di pikiran Indra untuk melihat cctv, karena ingin melihat apa saja yang di lakukan oleh Dafi.
Ia melihat dari layar ponsel, yang sudah ia sambungkan sebelumnya.
Namun, ia melihat rekaman cctv ada seorang wanita yang datang ke rumahnya dengan wajah yang begitu asing.
“Sayang,” Panggil Indra.
Saat ini posisi Mesya berbaring di kaki suaminya.
“Iya,” sahut Mesya tanpa mengalihkan pandangannya ke ponsel miliknya.
“Kenapa kamu memberikan uang pada wanita yang tidak di kenal? Siapa wanita itu?” tanya Indra.
Mesya langsung berubah posisi menjadi duduk, niatnya tidak ingin memberitahu suaminya.
“I-itu. Namanya Melina, ia mengaku jika dia adalah Tante dari Mila. Apa kamu mengenalinya?” tanya Mesya menatap suaminya.
Tampak Indra berpikir keras, ia mencoba mengingat nama Melina.
“Entahlah, aku seperti pernah bertemu dengannya. Akan tetapi aku lupa dimana. Lalu, kenapa kamu memberikannya uang?”
Mesya menghela napasnya terlebih dahulu, sebelum bercerita dengan suaminya.
Lalu mulai menceritakan tentang Melina yang meminta uang padanya, sebagai tanda bukti jika Dafi sudah menjadi anak angkat mereka.
Mendengar itu, Indra mengepalkan tangannya kuat. Walaupun Dafi sudah terbukti bukan darah daging, hatinya terluka setelah mendengar Dafi seperti barang yang di perjual belikan.
“Kurang ajar!” geram Indra.
“Mas. Biarkan saja dia, aku sudah membuat surat perjanjian dengannya. Jika dia tidak akan pernah mengganggu kita dan Dafi.”
“Entah kenapa mereka itu gila dengan uang. Lihat dampak yang Mila perbuat, anaknya menjadi terlantar!” kesalnya pada mendiang Mila.
“Sudah biarkan saja. Mila sekarang sudah tenang di sana, yang terbaik saat ini adalah bagaimana kita menjaga anak yang tidak berdosa itu, Mas. Sungguh malang nasibnya,” tutur Mesya lembut.
Indra mengangguk.
“Iya, kamu benar Sayang.” Menarik istrinya ke dalam pelukannya.
Ia sangat bersyukur, saat ini dirinya tidak salah pilih istri.
“Aku akan mencarimu, Melina. Aku ingin memberikan sedikit pelajaran berharga untukmu, agar tidak menilai semua itu dengan uang!” gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Indra berusaha mengingat wanita yang bernama Melina tersebut, karena nama yang tidak asing.
***