
Tiga Minggu sudah berlalu, Mesya terduduk lemas di kursi yang berhadapan dengan suaminya. Wajah yang semula ceria, kini menjadi pucat pasi. Setelah membaca hasil tes DNA tersebut, yang dikirim ke alamat rumah mereka. Dalam kertas putih tersebut tertulis dan menyatakan jika Indra suaminya ayah biologis anak tersebut.
Tepat tiga Minggu yang lalu, Indra dan Mesya datang ke rumah sakit untuk mencocokkan DNA anak laki-laki yang di yakini oleh mantan kekasih dulu. Bahwa laki-laki itu adalah hasil dari hubungan gelap mereka.
“Sayang, aku bisa jelasin ini. Maafkan aku sayang,” ujar Indra meraih tangan istrinya.
Mesya hanya bisa duduk pasrah, menatap sendu wajah suaminya.
“Sayang, jangan tinggalkan aku. Aku berani bersumpah, aku tidak pernah merasa jika aku pernah tidur dengannya.”
“Lalu hasil tes ini bohong?!”
“Kejadian ini sudah sangat lama, anak itu sudah berusia tiga tahun. Jujur, aku dalam keadaan mabuk dulu. Jadi, aku tidak ingat apapun.”
“Sayang, bukankah kamu sudah berjanji apapun hasilnya nanti, kamu tidak akan meninggalkanku,” tambah Indra lagi.
Mesya menghela napas berat.
“Beri aku waktu Mas,” tuturnya lalu beranjak dari tempat duduknya.
Indra tampak kacau, ia mengacak rambutnya frustrasi.
“Mila, kenapa kau baru datang sekarang? Setelah aku menemukan cintaku! Aku tidak akan mengampunimu!” geramnya mengepal tangannya kuat.
Dengan perasaan yang sangat marah, sedih, dan kacau. Ia beranjak dari tempat duduknya, melangkah besar menuju ke arah mobilnya.
Indra masuk ke dalam mobil dan menghidupkannya. Ia langsung tancap gas menuju ke rumah Mila.
Mesya hanya menatap sang suami dari kejauhan.
Awalnya memang dirinya mau menerima apapun hasil dari tes DNA tersebut, tapi hati manusia begitu cepat berubah begitu pun dengan Mesya yang masih belum bisa menerima hasil tes DNA tersebut.
__ADS_1
***
Tiba di rumah Mila yang tidak terlalu besar, Mila yang duduk bersantai di balkon langsung beranjak dari duduknya karena mendengar suara mobil yang berhenti di halaman rumahnya.
Sejenak ia berpikir, lalu tersenyum mengambang di bibirnya.
Ia segera beranjak dari tempat tersebut, dengan hati yang begitu bahagia.
Indra hendak menekan bel pintu, akan tetapi pintu rumah tersebut langsung terbuka.
“Indra, akhirnya kamu datang juga padaku,” Ujarnya langsung memeluk Indra.
Indra berusaha melepaskan dekapan Mila.
“Lepaskan! Dasar wanita murahan!” bentaknya mendorong tubuh Mila, hingga tubuhnya terbentur ke tembok dinding.
“Akhh ... kau kasar sekali!” mengusap bahunya yang terasa sakit akibat dorongan Indra.
“Mau mengaku atau tidak, itu terserah padamu! Hasil DNA itu sudah membuktikan jika, kamu adalah ayah biologisnya!”
“Cih ... aku sangat tahu dirimu. Kamu pasti sudah menjebak ku, agar aku seolah-olah tidur denganmu. Jangankan tidur denganmu, melihat tubuh mu saja aku jijik!” kesal Indra melihat pakaian Mila yang sangat terbuka.
“200 juta? 500 juta? Katakan saja, karena wanita sepertimu pasti menginginkan uang! Katakan saja nominalnya dan pergi dari kehidupanku!” seru Indra menatap tajam Mila.
“Oh ya? Yakin kamu bertanya apa mau ku? Bagaimana jika aku menginginkan dirimu? Apa istrimu merelakannya?” tanya Mila dengan suara manja, senyum yang terukir di bibir ranumnya.
“Ckck ... jangan bermimpi! Aku tidak akan pernah meninggalkan istriku!”
“Kapan aku memintamu meninggalkan istrimu? Aku bisa menjadi istri keduamu, asalkan kamu bisa berlaku adil,” usul Mila dengan tatapan manja pada Indra.
“Aku sangat menyesal telah mengenali dirimu! kau Dengarkan aku baik-baik, sampah tetap lah sampah, walaupun di daur ulang dan akhirnya tetap akan kembali menjadi sampah!” ujarnya penuh penekanan dengan menyeringai licik.
__ADS_1
Mila yang mendengarnya langsung murka, hendak memukul wajah Indra. Akan tetapi, Indra lebih dulu menangkap tangannya.
“Kenapa? Aku benarkan! Bahkan aku sangat jijik menyentuh tanganmu ini!” ejek Indra melepaskan tangan Mila dengan kasar.
“Oh ya. Kita lihat saja, aku bahkan sangat yakin. Jika, kamu akan bertekuk lutut dan memohon di hadapanku suatu saat nanti!” ujar Mila dengan percaya diri.
“Buang jauh rasa percaya dirimu itu dan berkaca lah!” ujar Indra menyeringai.
“Aku peringatkan mu, jika berani menyentuh istriku! Kau akan menerima akibatnya!” ancam Indra menunjuk wajah Mila dengan geram, lalu melempar segepok uang ke wajah Mila.
Sekejap Mila menutup matanya, karena hampir mengenai matanya.
“Maaf. Aku memang sampah di matamu! Tapi, perlu kamu ingat! Aku bisa mencari uang yang halal untuk menghidupi anak yang tidak di akui oleh bapaknya!”
Menyerahkan uang tersebut pada Indra, meletakkan paksa di tangan Indra.
Indra menatap tajam wajah Mila, lalu bergegas pergi dari tempat tersebut.
“Sebentar lagi aku akan bisa masuk ke rumah kalian,” ujar Mila dalam hati menatap kepergian Indra.
Saat hendak membuka pintu mobil, terlihat anak kecil yang berdiri di depan pintu mobilnya.
Indra menatap nanar wajah anak kecil tersebut.
“Dafi,” panggil Mila.
“Iya, Ma,” sahutnya setengah berlari menuju rumahnya.
Indra sekilas menatap wajah anak kecil tersebut, Mila dan Indra saling menatap sejenak. Indra langsung tersadar, dengan cepat membuang wajahnya dan langsung masuk ke dalam mobil langsung pergi dari rumah tersebut.
Melihat mobil Indra yang sudah menjauh, Mila menyeringai licik.
__ADS_1
***