
Dua Minggu sudah berlalu, dua Minggu pula Arga sudah meninggalkan rumah kebesaran Meysi dan Reyhan.
Sejak kepergiannya dari rumah itu, Arga pergi ke kota lain dan memulai hidupnya yang baru.
Hari ini adalah hari ke lima dirinya bekerja untuk biayai hidupnya sendiri. Bukan bekerja di kantoran seperti sebelumnya, melainkan bekerja sebagai penjual bakso keliling.
Karena keahliannya memasak, ia memulai hidupnya dengan berjualan bakso. Dengan sisa uang tabungannya, ia membeli gerobak dan peralatan dapur yang lainnya.
Dari pagi hingga siang dirinya menyiapkan semua yang ingin di bawa untuk berjualan keliling, sore harinya ia mulai mendorong gerobaknya dengan pelan sambil memukul pelan sendok ke mangkok.
Ting! Ting!
“Bakso, bakso.” Ucapnya setengah berteriak.
Karena parasnya yang tampan, hingga dirinya di juluki paman bakso tampan.
“Beli, Bang.”
Salah satu ibu-ibu dengan menggendong putranya, yang kebetulan tinggal di rumah yang tidak jauh dari rumah sewanya.
“Oke, Bu.”
Arga mulai meracik Mie kuning dan putihnya beserta yang lainnya, lalu menuangkan kuahnya dan juga bakso bulatnya.
“Bang. Istrinya tidak ikut dimari? Atau Bang Arga belum menikah nih?” tanya ibu pembeli baksonya.
Arga terdiam sejenak, teringat akan Meysi. Arga tersenyum, lalu menggelengkan kepala.
“Istri saya di kampung, Bu. Jika saya sudah berhasil nanti, aku akan menjemputnya,” sahut berbohong agar ibu-ibu tersebut tidak bertanya lagi tentang istri padanya.
Hingga saat ini, Arga tidak pernah berniat menceraikan Meysi. Bahkan dirinya tidak pernah mengaktifkan lagi ponselnya setelah kepergiannya dua Minggu yang lalu.
“Oh, ternyata sudah menikah. Semoga Bang Arga banyak rezekinya dan bisa membawa istrinya ke kota.”
Arga hanya tersenyum menanggapinya.
Setelah melayani pembeli, Arga duduk di kursinya. Ia mengingat wajah Meysi yang tertawa bahagia jika bercanda dengannya, teringat akan kelucuan Meysi yang selalu memukul bahunya.
“Apa mungkin kita bisa bersama? Setelah tiga bulan, sepertinya aku akan melepaskan dan merelakanmu menikah dengan pria pilihanmu,” gumam Arga dalam hati.
Terbesit di pikirannya untuk mengaktifkan ponselnya kembali, ponsel yang selalu ia bawa ke mana-mana. Namun, belum di aktifkan hingga sekarang setelah kepergiannya.
Sambil menunggu ponselnya menyala, ia kembali melayani pembeli. Belum tengah malam, bakso yang ia jual sudah hampir habis.
“Alhamdulillah, hari kelima bakso ku selalu habis terjual,” gumamnya.
“Bang, Arga. Baksonya enak banget loh, bagi resep dong.”
“Boleh,” sahut Arga tersenyum.
“Wah, Bang Arga sangat baik deh. Sudah tampan, baik hati lagi mau membagikan resepnya,” goda wanita yang baru datang membeli baksonya lagi.
“Ibu juga cantik,” puji Arga.
Sontak membuat wajah wanita tersebut menjadi merah merona atas pujian yang Arga lontarkan.
__ADS_1
Setelah selesai, ia kembali duduk dan mengambil ponselnya yang sudah menyala.
Begitu banyak panggilan tidak terjawab, hanya panggilan saja tidak ada pesan sama sekali di kirim oleh Meysi padanya bahkan dari ayahnya sendiri.
“Dia sudah membaca pesanku, akan tetapi ia tidak membalasnya. Sepertinya, aku harus merelakannya. Aku tidak ingin dia tersiksa akan statusnya saat ini.” Arga kembali bergumam.
Ia melihat pesan sang Ibu untuknya, membacanya dari atas sampai bawah. Pesan yang begitu panjang, pesan yang sangat menyentuh hati, seorang ibu mengungkapkan isi hatinya yang begitu merindukan anaknya.
“Maafkan Arga, Bu. Arga anak yang tidak berbakti pada Ibu. Suatu saat nanti, Arga akan pulang untuk menemui Ibu. Saat ini Ayah begitu membenci Arga Bu, jadi biarkan Ayah meredamkan emosinya dulu,” gumamnya dalam hati.
Setelah membaca pesan tersebut, Arga kembali menonaktifkan ponselnya dan kembali berkeliling kompleks mendorong gerobaknya.
Ting! Ting! Ting!
“Bakso, bakso!” ujarnya lagi mulai mendorong gerobaknya dengan pelan.
***
Setelah kejadian dua minggu yang lalu, Toni banyak diam. Seperti saat ini, dirinya tengah termenung di balkon rumah di temani secangkir kopinya yang sudah dingin.
“Paman,” panggil Reyhan menghampiri Toni.
Toni tersadar, lalu membalikkan tubuhnya.
“Iya, Tuan.”
“Apa yang Paman lakukan di sini?” tanya Reyhan basa basi.
Sebenarnya Reyhan tahu, jika hampir setiap malam selama seminggu ini Toni selalu duduk di balkon. Tempat biasanya putranya duduk dengan Meysi.
“Hanya minum kopi,” sahutnya kembali menyeruput kopinya yang sudah dingin di meja.
Toni sedikit terkejut, karena Reyhan berkata seperti itu.
Toni hanya diam tidak menjawab pertanyaan Reyhan.
“Paman. Tidak ada yang salah dengan hubungan Meysi dan Arga, bahkan mereka juga tidak ada hubungan darah sama sekali. Jadi, sah-sah saja jika mereka membina rumah tangga.”
Toni menoleh ke samping sejenak, menatap Reyhan yang tersenyum padanya.
Ia sudah menduga, jika Reyhan sudah mengetahui pernikahan Arga dan Meysi.
“Yang salah adalah, mereka menikah dengan cara yang unik. Yaitu, di nikahkan secara di paksa oleh warga di sana. Bahkan kita belum tahu kejadian yang sebenarnya seperti apa?!”
“Paman, turunkan ego Paman dan aku berharap Paman membawa pulang Arga kembali ke rumah ini. Kita akan membicarakan hal ini secara terbuka pada mereka berdua, aku tidak marah dengan mereka berdua. Aku hanya kecewa dengan perbuatan mereka berdua.”
Reyhan juga sangat merasa bersalah, setelah kejadian hari dimana dirinya membentak adiknya. Meysi tidak seceria dulu lagi, tidak pernah makan bersama. Pergi bekerja pagi sekali, setelah pulang bekerja dirinya selalu mengurung diri di kamar.
“Akan saya pertimbangkannya Tuan,” sahut Toni singkat.
“Arga dan Meysi tidak salah. Jangan menghukum mereka berdua, aku hanya ingin melihat mereka kembali seperti dulu. Jika mereka ingin mempertahankan pernikahan ini, aku sangat merestui hubungan mereka berdua.”
Toni hanya mengangguk.
Setelah berbincang, Reyhan berpamitan untuk kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Setibanya di kamar, ia melihat sang istri yang tengah berdiri di balkon sambil melipat kedua tangannya.
Reyhan langsung menghampirinya dan memeluknya dari belakang.
Hubungan mereka berdua semakin hari semakin dekat, bahkan semakin romantis dan setiap harinya Reyhan selalu membawa hadiah kecil untuk istrinya Zahra.
“Kenapa di luar? Ini sangat dingin,” bisiknya sembari mengecup bahu mulus istrinya.
“Lihat lah,” ujarnya menunjuk Meysi yang terbaring di sofa sambil memeluk sebuah album foto, akan tetapi tidak terlihat foto siapa yang ia peluk.
Dari balkon kamar Reyhan, sangat terlihat jelas jika Meysi saat ini tengah tertidur di sofa, yang ada di balkon kamarnya, balkon mereka hanya terpisah oleh tembok yang setengah badan.
“Selama kenal dengan Meysi beberapa bulan ini, aku tidak pernah melihatnya sedih. Bahkan dia tipe wanita yang periang. Tapi, dua minggu terakhir ini dia terlihat begitu tertekan bahkan tidak pernah turun makan bersama lagi. Ia seakan menutup dirinya dengan semua orang, Meysi sangat jarang berbicara denganku, bicara pun hanya seperlunya saja,” ujar Zahra menatap sendu wajah Meysi yang terlihat pulas tertidur.
Reyhan perlahan melepaskan dekapannya dan membalikkan tubuh istrinya untuk menghadapnya.
“Aku minta maaf. Aku akan berusaha membuatnya kembali seperti dulu lagi, aku juga sangat terpukul melihat adikku seperti itu. Sejak kecil aku selalu bersamanya, aku juga merasakan kesedihan yang ia alami saat ini.”
Memeluk sang istri.
“Kamu pasti mengetahui kejadian itu, bukan? Sekarang ceritakan padaku, jangan menutupinya dariku.”
Zahra mengangguk. Sebelumnya, Meysi meminta Zahra untuk tidak menceritakan kejadian itu pada kakaknya. Menurutnya semua itu percuma, kakaknya pasti tidak percaya. Hingga dia meminta Zahra agar menutupi semuanya.
“Kita masuk ke dalam. Pakaianmu terlalu seksi, aku tidak ingin orang lain melihat tubuhmu! Lain kali, jangan keluar dengan pakaian seperti ini! Kamu mengerti?!”
Zahra hanya mengangguk, karena dirinya memang salah sudah memakai pakaian yang terlalu minim.
Zahra tidak ingin berada di balkon saat itu, niatnya hanya ingin menutup pintu balkon. Akan tetapi, di urungkannya setelah melihat Meysi yang tengah berbaring di sofa panjang sembari mengusap foto tersebut.
“Ceritakan pada ku kejadian yang sebenarnya, jangan menutupinya! Aku akan menghukummu, jika kamu berbohong!” ancam Reyhan menarik sang istri ke dalam pelukannya.
Saat ini, suami istrinya ini tengah berbaring di tempat tidur.
“Iya Sayang,” sahut Zahra lembut.
Zahra mulai bercerita pada suaminya, semua kesalahpahaman yang terjadi. Tidak ada perbuatan terlarang yang mereka lakukan, semua itu hanya salah paham.
Mendengar cerita sang istri, Menghela napas panjang. Ada gurat penyesalan di wajahnya, dirinya tidak mau mendengar penjelasan adiknya terlebih dahulu.
“Aku akan memperbaiki dan mengembalikan semuanya seperti semula. Maafkan aku,” Lirih Reyhan memeluk istrinya.
“Iya sayang. Aku begitu sangat kehilangan dua sahabatku, rumah ini terasa sangat sepi tanpa canda tawa mereka berdua,” ujar Zahra mencoba merayu sang suami.
Tangannya yang tidak bisa diam, selalu di favoritnya yaitu bermain dengan dagu suaminya.
“Lalu, keberadaan ku untuk apa? Apa kamu tidak bahagia, jika berada di samping suamimu?” menarik tangan sang istri dan menatapnya.
“Astaga! sepertinya aku salah bicara!” gumam Zahra dalam hati.
Zahra tidak kehabisan akal, ia memulai permainan yang biasa suami sukai. Ia tanpa ragu untuk memulainya, karena hanya itu bisa membuat sang suami melupakan amarahnya.
“Sayang, akh ....” Reyhan tidak mampu lagi melanjutkan kata-katanya, ia begitu menikmati permainan sang istri.
Setelah puas dengan permainan istrinya, kini Reyhan memindahkan posisi istrinya.
__ADS_1
Hingga satu jam lamanya, mereka baru menyelesaikan permainan mereka. Akibat kelelahan, mereka berdua tertidur pulas dalam keadaan tubuh yang polos di tutupi selimut tebal dan saling berpelukan.
***