
Pagi-pagi sekali Arga terbangun, saat terbangun ia langsung menatap wajah istrinya yang tengah tertidur pulas.
Seperti mimpi melihat istrinya berada di sampingnya, selama tiga hari ini ia sangat tersiksa.
Mengelus pipi lembut Meysi, tersenyum melihat Meysi yang tidur seperti bayi.
“I love u, Sayang,” gumam Arga.
Karena tidak ingin mengganggu tidur istrinya, perlahan Arga beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.
Meysi menggeliat dan bergumam di balik selimutnya. Tangan kirinya meraba samping, merasakan tempat tidur yang kosong.
Sejenak Meysi terdiam, apa semalam pertemuannya dengan Arga hanyalah mimpi?
Namun, ia tersadar setelah mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Meysi menghela napas lega, karena semalam bukanlah mimpi.
Perlahan Meysi duduk dan bersandar. Ia melihat baju di bagian perutnya ada noda darah, lalu melihat luka yang masih terbalut perban ini begitu banyak noda darah.
Ceklek ...
Pintu kamar mandi terbuka, Meysi menutup kembali lukanya.
“Sayang, sudah bangun?” tanya Arga keluar hanya menggunakan boxernya.
Karena malu, Meysi langsung memalingkan wajahnya. Walau sudah beberapa bulan menikah, Meysi masih belum terbiasa dengan suaminya yang selalu menggunakan boxer di hadapannya ketika selesai mandi.
“Sudah,” sahut Meysi singkat sembari melipat selimut, agar tidak melihat suaminya yang bertelanjang dada.
Perlahan Meysi turun dari tempat tidur, karena sangat ingin buang air kecil.
Sebenarnya Meysi sudah bisa walaupun berjalan pelan, akan tetapi Reyhan melarangnya karena luka Meysi yang belum sembuh total.
“Mau ke mana?” tanya Arga sembari mengenakan pakaiannya.
“Mau ke kamar mandi,” sahut Meysi melangkah pelan sambil memegang perutnya.
Tanpa menunggu lagi, Arga langsung menggendong istrinya untuk ke kamar mandi.
Meysi tidak bisa protes, karena saat hendak membuka mulutnya untuk berbicara, Arga melototkan matanya agar Meysi tidak banyak bicara.
“Apa perlu aku mandikan juga?”
Dengan cepat Meysi menggelengkan kepalanya.
Arga terkekeh.
Selesai dengan urusan di kamar mandi, saat ini Arga membantu istrinya untuk menggantikan perban luka istrinya yang terdapat banyak bekas noda darah.
“Lukamu berdarah. Kita ke rumah sakit saja,” ajak Arga. Tangannya masih menempelkan perban yang baru pada luka istrinya.
“Ini hanya berdarah sedikit saja, ini sudah biasa. Sebentar lagi juga akan sembuh,” tutur Meysi.
“Kapan jadwal kamu kontrol?”
“Seminggu lagi,” sahut Meysi.
Arga mengangguk.
Setelah selesai, Arga membuang bekas perban yang lama ke tempat sampah yang tak jauh dari jangkauannya.
“Sarapan dulu, setelah itu minum obatmu,” ujar Arga mengambil nampan yang berisi roti dan susu.
__ADS_1
Saat Meysi mandi, Arga ke dapur untuk mengambil sarapan untuk mereka berdua.
Selesai itu, terlihat Meysi ingin mengambil ponsel miliknya. Namun, di cegah oleh Arga. Karena teringat akan pesan Reyhan untuk tidak memberitahu tentang sahabatnya saat ini. Apalagi dengan berita yang sudah beredar luas di sosial media saat ini.
“Jangan bermain ponsel! Lukamu masih belum kering!” ujar Arga mengambil ponsel milik istrinya dan di nonaktifkan oleh Arga.
“Kenapa? Yang luka perutku, bukan jariku!” protes Meysi.
“Sama saja. Setelah minum obat, istirahat. Aku akan menemanimu seharian di kamar,” ujar Arga memainkan kedua alisnya.
“Hm ... kamu tidak bekerja?” tanya Meysi menyadarkan punggungnya di bahu kursi.
“Tidak. Aku hanya ingin bersamamu sepanjang hari, selain itu hari ini juga hari Minggu.”
Tampak Meysi berpikir, ia mengingat hari ini adalah bukan hari minggu.
“Minggu? bukankah hari ini Selasa?” gumam Meysi masih tampak berpikir.
Arga terkekeh mendengarnya, tanpa Meysi sadari jika dirinya sudah di kerjai oleh suaminya sendiri.
“Ada apa? Kenapa kamu bergumam, aku tidak mendengar apa yang kamu ucapkan?”
Meysi nyengir kuda memperlihatkan gigi putihnya.
“Aku ada sesuatu untukmu.” Arga melangkah mengambil kotak kecil seperti tempat perhiasan di dalam laci.
Lalu kembali mendaratkan bokongnya di samping istrinya.
“Apa ini?” tanya Meysi melihat kotak perhiasan yang di serahkan Arga padanya.
“Buka saja. Ini dari Ibuku, saat di hari pernikahan kita Ibu belum sempat memberikannya pada kita. Karena saat itu kita langsung pulang ke apartemen.”
Meysi mengangguk mengerti, ia membuka kotak perhiasan tersebut. Memperlihatkan sepasang cincin di dalam tersebut.
Lalu memasangkannya di jari manisnya, cincin tersebut sangat pas di jari manisnya. Bahkan sangat indah, apalagi menyesuaikan dengan warna kulit Meysi yang putih mulus.
“Cantik bukan?” tanyanya pada Arga memperlihatkan cincin yang terpasang di jari manisnya sebelah kiri.
Sedangkan cincin pernikahannya di sematkan di sebelah kanan jarinya.
“Cantik. Kamu suka?” tanya Arga balik.
Meysi mengangguk.
“Tentu saja aku suka. Bukan karena cincinnya yang sangat cantik, tapi dari seorang wanita yang begitu luar biasa telah melahirkan pria yang ada di hadapanku ini.”
Arga tersenyum mendengar Meysi menerima sangat baik cincin pemberian ibunya.
“Katakan pada Ibu, terima kasih banyak.”
Arga menggelengkan kepalanya.
“Kamu sendiri yang memberitahunya pada Ibu,” sahut Arga.
“Iya. Aku akan mengatakannya nanti, sekarang aku sangat bosan. Apa kamu memberikan ponselku? Hanya sebentar!”
“Tidak. Aku ingin berduaan bersamamu, tanpa ada orang ketiga, yaitu ponselmu!” perlahan menggendong tubuh istrinya meletakkannya pelan ke tempat tidur.
Lalu ia berbaring di samping istrinya.
“Hari ini aku hanya ingin memelukmu, melupakan pekerjaan sejenak.”
__ADS_1
Memiringkan posisi tubuhnya ke hadapan Meysi, namun netranya tanpa sengaja malah tertuju pada bagian da*a Meysi yang ukurannya tidak sekecil dulu.
Selama tiga hari berpisah, ia begitu sangat menginginkannya. Namun, ia harus bersabar karena harus menunggu istrinya pulih total.
“Sayang, bagaimana dengan Novi?” tanya Meysi dengan berhati-hati.
Sebenarnya ia juga masih memikirkan nasib sahabatnya tersebut, karena pasti tidak di biarkan lepas begitu saja oleh Toni.
“Jangan memikirkan itu! Sekarang istirahatlah, agar luka cepat pulih.”
“Iya cepat pulih. Bahkan tubuhku semakin gemuk, karena setiap harinya di suruh tidur!” protes Meysi, karena merasa berat badannya semakin naik.
Arga terkekeh, melihat wajah istrinya yang cemberut. Baginya begitu sangat lucu.
“Kamu ini, bikin aku tidak tahan ingin menggigit bibirmu itu!”
Bukan hanya ancaman dari Arga, ia benar-benar menggigit pelan bibir istrinya yang berwarna pink pucat itu.
“Arghh ... sakit,” teriak Meysi memukul pelan bahu suaminya.
“Maaf. Makanya jangan biarkan bibirmu itu cemberut, kalau tidak bibir itu akan menerima akibatnya!” mengusap pelan bibir istrinya.
“Berbaliklah.”
Arga meminta Meysi untuk membelakanginya, lalu ia memeluk dari belakang. Karena tidak ingin menatap wajah istrinya terus menerus, apalagi Meysi selalu memperlihat wajah imutnya. Karena dirinya tidak bisa menahannya jika sudah berhadapan dengan Meysi.
“Maafkan aku. Karena aku ceroboh, hingga membuatmu seperti ini.” Memeluk dari belakang dan berulang kali mencium punggung istrinya.
Meysi hanya mengangguk pelan.
“Cepat sembuh ya istriku. Aku akan mengajakmu jalan-jalan, setelah kamu sembuh nanti. Seperti permintaanmu dulu, yang ingin jalan-jalan,” ucap Arga.
Namun, tidak ada jawaban dari Meysi.
“Sayang,” panggil Arga pelan.
Tidak ada sahutan dari istrinya, Arga mengangkat kepalanya untuk mengintip wajah istrinya dan ternyata Meysi sudah tidur pulas.
“Cepat sekali. Apa obatnya bekerja begitu cepat?” gumamnya.
Arga menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh istrinya.
Perlahan Arga beranjak dari tempat tidur, ia melangkah ke arah jendela.
Karena saat ini mereka tidur di kamar tamu yang ada di bawah, jendela tersebut langsung melihat ke arah luar.
Apa yang di ucapkan oleh kakak iparnya Reyhan semalam tidak salah, ada beberapa wartawan menunggu di luar pagar.
Mereka yang akan haus dengan berita, masih tetap menunggu salah satu anggota rumah ini yang akan keluar dari rumah untuk meminta keterangan. Tidak peduli panas teriknya matahari, demi mencari nafkah untuk keluarga mereka di rumah.
Ting ...
Suara pesan masuk melalui ponsel miliknya.
Arga membaca pesan dari ayahnya, meminta dirinya untuk ke ruang kerja.
Melihat istrinya masih tidur, Arga melangkah keluar kamarnya.
Arga melangkah menuju ke ruangan ayahnya, terlihat Toni sedang menunggunya sembari melihat ke luar jendela.
“Ayah. Ayah memanggilku,” ujar Arga memanggil ayahnya yang terlihat membelakanginya, sebelum duduk Arga lebih dulu menutup ruangan itu kembali.
__ADS_1
***