Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 47


__ADS_3

“Hahaha ....” Meysi tertawa melihat wajah suaminya.


Novi dan Arga mengernyit heran melihat Meysi yang tertawa, bukannya marah melihat mereka berpelukan.


“Sayang, kamu kenapa? Kamu tidak marah?” tanya Arga bingung melihat istrinya tertawa.


“Kenapa aku marah Sayang? Aku tahu, itu hanya pelukan persahabatan.” Memeluk suaminya.


Walaupun sebenarnya Meysi tahu, bahkan ia sengaja ke kamar mandi ingin melihat apa yang di lakukan oleh Novi pada suaminya di saat dirinya ke kamar mandi.


Novi tampak menghela napas lega.


“Ayo kita berangkat,” ajak Meysi melepaskan dekapannya.


Ia melangkah lalu menarik tangan Novi agar bersama melangkah keluar dari rumah dan masuk ke mobil.


Dalam perjalanan, Meysi bersikap seperti biasanya, seperti tidak terjadi apa-apa.


Berbeda dengan Arga, sejak kecil tumbuh bersama dengan Meysi, sedikit banyak ia tahu sifat Meysi yang sebenarnya.


Dua jam perjalanan, mereka tiba di rumah Novi. Meysi mengajak suaminya untuk masuk, namun ia menolak karena beralasan menerima telepon.


Meysi masuk ke dalam rumah untuk bertemu dengan ibu dari Novi yang di anggap seperti ibu kandungnya.


Tidak lama Meysi di dalam rumah, lalu berpamitan karena tidak mungkin membiarkan suaminya terlalu lama menunggu di mobil.


“Sudah?” tanya Arga masih di dalam mobil.


Meysi mengangguk.


Sudah menjelang malam, mereka mampir di restoran untuk makan malam.


“Sayang, sepertinya kita langsung pulang saja. Kamu pasti sangat lelah, lain kali kita jalan-jalan lagi.”


“Hm ...” deham Arga masih fokus dengan makanannya.


Terlihat jelas jika Arga saat ini sedang kelaparan.


Kini tidak ada percakapan di antara mereka, hingga makanan di meja habis.


Kini Arga kembali mengendarai mobil tersebut, akan tetapi bukan menuju ke rumah mereka. Melainkan masuk ke salah satu hotel yang cukup mewah di kota tersebut.


“Kita ke hotel?” tanya Meysi mengernyit bingung.

__ADS_1


“Kita lanjutkan besok pagi untuk pulang. Aku sangat lelah, sangat bahaya jika mengendarai mobil dalam keadaan mengantuk.”


Meysi mengangguk mengerti, tanpa menaruh curiga sedikit pun.


Arga segera memesan kamar untuk mereka berdua, lalu segera membayarnya menggunakan kartu kredit yang sebelumnya di blokir oleh ayahnya.


Namun, pagi tadi ia mendapatkan pesan jika kartu tersebut sudah di aktifkan kembali.


Bahkan Toni meminta Arga untuk bertemu besok, di hotel yang sama dimana saat ini tempat Arga dan istrinya menginap.


Arga merebahkan tubuhnya di kasur empuk, hampir sebulan lebih lamanya ia tidur di tempat tidur yang sangat kaku.


Meysi melihat suaminya yang berbaring dengan posisi tengkurap.


“Tidurlah, aku ingin ke balkon sebentar.”


Meysi meninggalkan suaminya yang sedang tiduran di kasur, ia melihat pemandangan indah dari balkon kamar mereka.


Malam ini langit begitu cerah, di taburi ribuan bintang. Hingga menambah keindahan kota itu.


Meysi melipatkan tangannya, karena udara malam itu cukup dingin.


Ia teringat dengan ucapan Novi yang meminta maaf padanya saat tiba di rumahnya, ia tahu arti dari permintaan maaf dari sahabatnya tersebut. Namun, Meysi tidak mau menyakiti sahabatnya dan berpura-pura tidak mengerti dengan ucapan Novi padanya.


“Sedang memikirkan apa?” tanya Arga meletakkan jaket di bahu istrinya, karena udara cukup dingin di malam itu.


“Langit malam ini cukup cerah. Tapi, kenapa udaranya sangat dingin ya?” ujar Meysi perlahan melepaskan dekapan Arga, lalu melangkah duduk di sofa yang ada di balkon.


“Ada apa? Apa ada yang ingin kamu bicarakan?” tanya Arga ikut duduk di samping istrinya.


“Banyak. Tapi, saat ini aku tidak ingin bertanya. Aku ingin mendengar sendiri dari mulut suamiku,” sahut Meysi sembari melipat tangannya menatap ke arah lurus.


Arga sudah menduga, jika Meysi pasti akan meminta penjelasan darinya. Karena ia sangat tahu, jika Meysi bukan wanita bodoh.


“Aku tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Novi, sungguh! Aku juga tidak tahu, jika dia tiba-tiba memelukku.”


“Lalu, malam itu?” tanya Meysi dimana dirinya mendengar jelas percakapan Novi dan Arga.


“Kamu bukan wanita bodoh, kamu pasti mendengar malam itu dan sangat jelas aku menolaknya. Entah apa yang di pikirkan Novi saat itu, apa dia tidak memikirkan perasaanmu?”


“Cinta itu mengalahkan segalanya. Jika seseorang sudah cinta mati, ia melupakan semuanya!”


“Mey. Sejak dulu, aku memendamkan perasaan ini padamu. Jujur, tidak ada wanita lain selain kamu. Bahkan aku tidak pernah menjalin kasih dengan wanita manapun.”

__ADS_1


Meysi tersenyum.


“Aku percaya. Aku hanya tidak habis pikir, kenapa kamu memilihku untuk menjadi pendamping hidupmu? Usia kita terpaut tiga tahun, banyak wanita di luar sana yang lebih muda darimu.”


“Aku tidak tahu. Yang jelas aku mencintai mu, aku tidak ingin wanita mana pun selain kamu.” Menarik lengan Meysi lalu menggenggamnya.


“Lihat, ribuan bintang yang bertaburan. Tapi, hanya satu yang bersinar sangat terang. Bintang itu ibaratkan kamu, hanya kamu yang bersinar di hatiku di antara ribuan wanita.”


“Gombal!” goda Meysi.


“Aku serius,” ujar Arga.


“Jangan tinggalkan aku.” Menarik Meysi ke dalam pelukannya.


Ia memeluknya erat seakan takut akan kehilangan istrinya.


“Terima kasih,” ucap Meysi lirih.


Berulang kali Arga mencium pucuk kepala istrinya, terlihat jelas jika ia begitu sangat mencintai Meysi.


Lama mereka duduk di balkon, sibuk dengan pikirannya masing-masing dalam keadaan masih berpelukan.


“Arga. Eh maksudku, sayang. Aku mengantuk, kita masuk yuk,” ajak Meysi.


Arga mengangguk, tanpa menunggu persetujuan Arga langsung menggendongnya masuk ke dalam kamar mereka.


“Apa kamu setuju, jika aku meresmikan pernikahan kita dan membuat resepsi pernikahan. Aku ingin semua orang tahu, kamulah milikku.”


Meysi Kembali mengangguk.


“Kita akan membicarakan ini pada Kakak setelah pulang dari luar negeri.”


“Terima kasih, Sayang.” Menarik istrinya.


“Arga, tubuhku seakan remuk! Seharian ini kamu terima berhentinya memelukku!” protes Meysi.


Arga terkekeh.


“Iya, maaf. Tidurlah,” sahut Arga melepaskan dekapannya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.


Tidak butuh waktu lama untuk Meysi tertidur, apa lagi dirinya terbiasa dengan kasur empuk di rumahnya. Hampir seminggu dirinya tidur di kasur yang sangat kaku membuat semua tulangnya remuk.


Berbeda dengan Arga yang belum tidur, netranya belum berpindah pada Meysi yang tertidur pulas.

__ADS_1


Hingga saat ini, dirinya masih belum bisa percaya bisa menikah dengan wanita yang dia idamkan sejak dulu, bahkan wanita di hadapannya saat ini sudah menganggapnya seperti adiknya.


Ada hikmah di balik kejadian saat di mana mereka berdua di sangka berbuat mesum oleh orang-orang sekitar, tanpa kejadian itu mungkin saat ini Arga masih menjadi adiknya bukan suaminya.


__ADS_2