
Sore ini Meysi tengah bersiap untuk pulang, sembari menunggu Arga ke ruangannya Meysi bermain dengan ponsel miliknya.
“Sayang, kamu pulanglah lebih dulu. Aku dan Ayah ada urusan sebentar,” ujar Arga langsung masuk ke ruangannya.
Meysi menatap suaminya dengan tatapan serius, bahkan rasa penasaran yang tinggi.
Setahunya jika ada urusan pekerjaan di kantor, Toni selalu mengajak dirinya.
“Urusan apa? Kenapa tidak mengajakku?!” ketus Meysi memperlihatkan wajah cemberutnya.
“Sayang, ini bukan urusan pekerjaan. Aku janji hanya sebentar,” ujarnya lembut sembari duduk di samping istrinya.
Lama terdiam, akhirnya Meysi mengangguk.
Sebelum pergi, Arga lebih dulu mengantar istrinya ke mobil untuk memastikan Meysi benar-benar pergi dari kantor.
Namun, rasa penasaran yang sangat tinggi Meysi berniat mengikuti mobil Arga dari belakang.
Keluar dari Basement, Meysi tidak benar-benar pulang, dari kejauhan dirinya memantau mobil Toni keluar dari kantor.
Tidak lama ia menunggu, tampak mobil Toni keluar dari area kantor tersebut dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Bukan Meysi namanya jika dirinya tidak bisa mengejar mobil tersebut dengan kecepatan tinggi, Meysi yang begitu lihai mengendarai mobil bisa mengejar mobil Toni. Namun, ia harus tetap menjaga jarak, agar suaminya tidak mengetahuinya jika dirinya sedang mengikuti dari arah belakang.
Meysi mengernyit heran bahkan bingung ke mana perginya ayah dan anak itu, karena Meysi belum pernah ke jalan yang di lalui oleh mereka saat ini.
Hampir 30 menit, Meysi mengikuti mereka. Namun, mobil itu tidak kunjung berhenti bahkan tidak mengerti arah tujuan mereka.
Meysi tidak putus asa, ia tetap mengikuti mobil Toni karena sangat penasaran kemana perginya mereka.
Mereka tiba di sebuah rumah tua, bahkan di penuhi semak-semak belukar di halamannya.
“Kenapa mereka kemari? Rumah ini sepertinya sudah sangat lama tidak di tempati, bahkan tempat ini sangat sepi.” Meysi bergumam, ia memarkirkan mobilnya sedikit jauh mobil Toni.
Meysi segera memakai sepatunya, karena menurut dirinya lebih cepat berlari dari pada menggunakan sepatu pantofel.
Meysi perlahan masuk ke rumah tua itu, masih berjaga-jaga karena anak buah Toni yang selalu datang tiba-tiba.
Meysi mendengar suara tangis perempuan dari dalam rumah tua itu, namun ia masih perlahan melangkah mencari sumber suara tersebut.
“Arga, maafkan aku hiks ... hiks. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi, biarkan aku pergi.” Wanita itu tampak terikat di kursi, dengan berlinang air mata.
Meysi seperti mengenali suara tersebut, bahkan tidak asing baginya.
“Apa sih yang membuatmu begitu tega ingin meracuni istriku? Kamu tahu bukan, aku sangat mencintainya sejak dulu!” kesal Arga menatap wanita itu.
“Kalian sudah bersahabat sangat lama, Meysi banyak membantu keuanganmu bahkan keluargamu! Apa kamu tidak punya hati nurani sedikitpun?!” sentak Arga.
Saat ini Meysi mencari tempat yang aman untuk bersembunyi, karena ia juga sangat penasaran melihat langsung wajah wanita tersebut.
“Siapa wanita itu? Sahabatku siapa?” gumam Meysi dalam hati, masih penasaran dengan wanita yang menangis meminta pengampunan.
__ADS_1
Meysi mendengarkan mereka berbicara, tidak ada yang aneh hanya Arga yang berbicara jika dirinya begitu sangat mencintai istrinya Meysi.
“Aku akan melepaskan mu. Tapi pergi sejauh mungkin dari sini dan jangan coba-coba mengganggu kehidupan kami lagi. Kamu akan menerima akibatnya!” ancam Arga terlihat sangat murka.
Wanita yang terikat tersebut mengangguk, Meysi tidak bisa melihat jelas wajah wanita itu karena wanita tersebut duduk membelakangi.
Tampak wanita itu mengangguk, tanda setuju dengan apa yang telah di ucapkan oleh Arga.
Toni hanya berdiri sembari melipat tangannya, tanpa banyak bicara.
Perlahan anak buah Toni tampak mulai melepaskan ikatannya tersebut, tampak wanita itu mengusap air matanya setelah tangannya di lepaskan dari ikatannya.
Saat wanita itu berbalik badan, Meysi membulatkan matanya melihat wajah wanita itu. Wanita yang sudah di anggap adik olehnya, akan tetapi tega ingin meracuni dirinya.
“Novi,” ucapnya lirih.
Meysi langsung terduduk lemas, tidak menyangka wanita itu adalah sahabatnya sendiri.
Meysi masih berada di tempat persembunyiannya, saat melihat Arga keluar tampak tangan Novi dengan lihai mengambil senjata api yang ada di pinggang salah satu anak buah Toni.
Novi yang sangat pintar dengan bela dirinya, sama seperti Meysi.
Lalu menodongkan senjata api itu pada Arga, saat hendak menarik pelatuknya Meysi langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari ke arah Arga.
“Awas!” teriak Meysi histeris mendorong tubuh Arga.
Door ...
Peluru tersebut bukan mengenai Arga, akan tetapi peluru itu langsung menembus perut Meysi.
Novi langsung di amankan oleh beberapa anak buahnya, tapi setelah tembakan itu mengenai perut Meysi.
Arga yang murka langsung beranjak lalu menampar wajah Novi dengan keras hingga mengeluarkan darah.
Bugh ...
“Biadab! Kamu, dasar wanita laj*ng!” sentak Arga.
“Bos, biarkan ini urusan kami. Nona Meysi,” ujar salah satu anak buah Toni, menunjuk Meysi yang terkulai lemas bersimbah darah.
Arga langsung tersadar, ia melihat Meysi sudah berada di gendongan Toni dengan langkah cepat Toni membawanya ke mobil.
Arga berlari mengikuti ayahnya yang tengah berjalan cepat membawa Meysi.
Tanpa menunggu lagi mereka langsung tancap gas membawa Meysi ke rumah sakit terdekat.
Sementara Novi tampak kebingungan karena obsesinya, ia hampir menghilangkan nyawa sahabatnya sendiri.
“Bawa dia ke markas, kita akan memberinya pelajaran yang setimpal dengan perbuatannya!”
Novi hanya bisa jalan pasrah, karena di paksa oleh beberapa orang keluar dari rumah tua itu.
__ADS_1
Di rumah sakit, Meysi masih berjuang di meja operasi bahkan saat ini ia sedang mengalami kritis, ada beberapa dokter yang ikut menanganinya.
Arga terduduk lemas bersandar di tembok rumah sakit, berulang kali ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Toni mengeraskan rahangnya, melihat keadaan Meysi yang kritis membuatnya sangat murka pada putranya
Toni menarik kerah baju Arga agar dirinya berdiri dari tempat duduknya.
Plak ... plak ...
“Semua ini karena dirimu! Bukankah aku memintamu untuk meminta Nona Meysi pulang?! Kenapa Nona bisa berada di rumah itu!” sentak Toni dengan bola mata yang memerah menahan amarah.
Arga hanya bisa pasrah, karena dirinya memang salah tidak memastikan Meysi benar-benar pulang.
“Jika terjadi sesuatu pada Nona, kamu harus merasakan sama seperti yang dia rasakan!” ancam Toni pada putranya sendiri.
“Aku akan menerimanya Ayah, sekalipun nyawaku, akan aku berikan!” sahut Arga pasrah dengan tatapan kosong.
Itulah sebabnya Toni dari awal dirinya tidak menyetujui pernikahan putranya dengan Meysi, bukan karena status mereka. Akan tetapi, resiko yang harus ia terima adalah menghukum putranya sendiri.
Pilihan yang sangat sulit baginya, antara memilih putranya atau cicit dari orang yang sangat berjasa di dalam hidupnya.
Toni melepas kasar kerah baju Arga, lalu duduk sambil memijit pelipisnya.
Toni menghela napas berat, melihat kedatangan Reyhan yang terlihat begitu cemas.
“Tuan. Tuan tenang, Meysi saat ini sudah di tangani oleh Dokter.” Toni berusaha menahan Reyhan agar tidak mendekati Arga yang masih berdiri mematung di tempatnya, dengan tatapan yang belum berpindah dari pintu ruangan operasi.
Namun, tangan Reyhan menahan Toni untuk berbicara. Netranya tertuju pada Arga, dengan tatapan yang tidak terbaca.
Reyhan melangkah mendekati Arga.
“Apa ini Arga? Bukankah kau sudah berjanji padaku, untuk menjaga adikku? Lalu apa ini, bagaimana bisa adikku terkena tembakan?!” menatap tajam Arga yang tampak menunduk.
“Aku yang salah Tuan, hukum saja aku. Anda boleh membunuhku,” sahut Arga lirih.
Toni hanya bisa memejamkan matanya mendengar penuturan Arga.
“Ck ... Arga. Aku sudah percaya penuh padamu, akhh ....” Reyhan mengusap wajahnya frustrasi.
“Tenangkan diri anda, Tuan. Anda tidak perlu khawatir, aku sendiri yang akan menghukumnya!” melirik sinis putranya.
Arga hanya bisa diam seribu bahasa, tak di pungkiri jika dirinya yang sangat bersalah melihat keadaan istrinya yang harus berjuang di meja operasi saat ini.
Hening, tidak ada lagi percakapan di antara mereka bertiga.
Tampak Indra dan istrinya juga baru tiba, terlihat jelas mata Mesya yang terlihat sembab.
“Kak, bagaimana dengan Meysi? Dia baik-baik saja kan, kak?” tanya Mesya dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Reyhan berusaha tetap tenang di hadapan adiknya, ia mengangguk lalu menarik Mesya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
“Kita berdoa agar Meysi baik-baik saja dan mampu berjuang di dalam sana,” sahut Reyhan.
***