
Cukup lama mereka menunggu, pintu ruang operasi itu terbuka. Tampak dokter yang keluar dengan raut wajah yang tidak terbaca.
“Dok, apa istri saya baik-baik saja?” tanya Arga.
Semua orang menunggu jawaban dari dokter tersebut.
Tampak Dokter tersebut menghela napas, menatap wajah Arga serius lalu tersenyum.
Arga mengernyit heran, di saat semua orang menunggu jawaban darinya ia malah tersenyum.
“Tuan, tidak perlu khawatir. Nona Meysi sudah melewati masa kritisnya. Beruntung peluru yang masuk menembus perutnya, tidak terlalu dalam.”
Semua orang tampak menghela napas lega.
“Sebentar lagi Nona akan di pindahkan ke ruang rawat inap. Saat ini, Nona belum sadar karena efek obat biusnya.”
Reyhan dan Arga mengangguk mengerti.
Karena hari sudah malam, Reyhan meminta semua orang untuk pulang.
Namun, Toni menolak. Istrinya Zahra saat ini lebih membutuhkan dirinya.
“Tidak, Tuan. Nona Zahra sedang membutuhkan anda di rumah, apalagi saat mengandung seperti ini.”
Reyhan mendes*h, ia baru ingat jika istrinya berada di rumah. Apalagi setiap malam Zahra selama beberapa hari ini tidak mau jauh dari dirinya.
Sementara Indra dan Mesya sudah lebih dulu pulang, karena Reyhan yang memintanya.
“Baiklah, besok pagi aku akan kemari,” ujar Reyhan tanpa peduli dengan Arga yang tengah duduk di sampingnya.
“Izinkan aku yang menjaga istriku, Ayah. Ayah juga butuh istirahat,” ujar Arga menyela pembicaraan mereka.
“Tuan, jika terjadi lagi pada Meysi kali ini. Anda bisa membunuhku saat ini juga,” ucap Reyhan lirih.
Sebenarnya Reyhan masih menyimpan amarah pada Arga, akan tetapi tidak ada pilihan lain lagi. Ia juga tidak tega melihat Toni yang sudah tidak muda lagi untuk menjaga Meysi.
“Anda tenang saja, Tuan. Ada beberapa orang juga yang berjaga di rumah sakit,” sela Toni agar Reyhan tidak perlu cemas.
Reyhan mengangguk tanda mengizinkan Arga untuk menjaga adiknya, bahkan ia juga tidak memaksa untuk Arga tidak menjaganya, karena status Arga adalah masih suami adiknya.
“Ayah akan mengirimkan mu pakaianmu,” ujar Toni pada putranya, tampak baju putih Arga yang di penuhi noda darah.
Setelah kepergian mereka, Arga melangkah masuk ke ruang rawat inap.
Ia menatap lekat wajah Meysi yang dengan mata yang masih tertutup, tangan putih yang masih terpasang dengan infus.
“Sayang, kenapa kamu itu keras kepala sih? Aku tidak ingin memberitahumu, karena aku tidak ingin kamu kecewa terhadap sahabatmu yang ternyata diam-diam ingin menyelakaimu,” gumam Arga mengambil tangan istrinya, lalu berulang kali menciumnya.
Cukup lama berbicara dengan Meysi yang masih memejamkan matanya, terdengar suara ketukan pintu. Terlihat salah satu orang suruhan ayahnya mengantar pakaian untuknya.
Arga segera menggantikan pakaiannya, karena baju yang ia kenakan penuh noda darah istrinya saat menggendong dari mobilnya.
***
Di markas, Novi di kurung di salah satu ruangan yang tanpa penerangan sama sekali.
__ADS_1
Ia meringkuk duduk di pojokan, sangat jelas di matanya teringat akan sahabatnya yang terkulai lemas setelah melepaskan timah panas tersebut.
Novi teringat dengan Meysi yang selalu membantunya menyelesaikan tugas skripsinya, karena Meysi sangat pandai di semua bidang.
Meysi lebih banyak dengan dirinya di apartemen ketimbang dengan kakaknya di rumah mereka.
“Maafkan Mey,” ucapnya lirih.
“Aku buta dengan kebaikanmu, aku buta segalanya.”
Novi menangis dalam diam, ia berusaha mengusap air mata yang mengalir terus menerus di pipinya.
Bruak ...
Seseorang membuka kasar pintu tersebut.
Akibat sinar lampu yang sangat terang dari luar, membuat Novi tidak bisa jelas melihat wajah pria itu.
“Ini makan dan minummu! Setidaknya jangan mati sekarang, sebelum bos kami datang!” sentak pria itu meletakkan nasi bungkus dan sebotol air minum.
Pria itu menyalakan lampu yang ada ruangan tersebut, akan tetapi Novi mengetahui dari mana pria itu menghidupkan lampu tersebut.
Dengan tangan yang gemetar, Novi mengambil bungkus makanan tersebut. Karena memang sejak kemarin dirinya belum makan apapun, karena memang keegoisan dirinya yang tidak ingin menyentuh makanan tersebut.
Novi mulai makan dengan tangan yang gemetar, lalu meminum air yang ada di botol tersebut hingga menghabiskannya setengah.
***
Pagi itu Arga tertidur dengan kepala yang bertumpu pada lengannya, Arga mulai mengerjakan matanya setelah merasakan ada sebuah tangan yang mengusap kepalanya.
“Sayang, kamu sudah siuman?” tanya Arga sedikit terkejut melihat istrinya sudah sadar, dengan suara khas bangun tidur.
Karena jam 04.00 dini hari, Arga baru saja bisa tertidur.
Meysi mengangguk.
Arga menarik tangan istrinya pelan, lalu mengecupnya berulang kali.
“Sayang, ini sakit?” tanya Arga menunjuk luka yang ada di perut istrinya.
“Tidak,” sahut Meysi dengan suara lemah.
“Kamu tidak pandai berbohong, jadi jangan pernah membohongiku. Jika saja saat itu kamu tidak berbohong dan tidak mengikutiku hal ini tidak akan terjadi!” kesal Arga karena Meysi bersikap ceroboh.
“Jika aku tidak mengikutimu, mungkin saat ini aku tidak bisa bersamamu,” sahut Meysi membalas ucapan suaminya yang terlihat kesal padanya.
“Apapun aku lakukan agar kita tetap selalu bersama.”
“Termasuk membahayakan dirimu sendiri!?” sela Arga.
“Sudah tugasku melindungimu, jangan pernah lakukan hal bodoh ini lagi!” Arga menyentil kening istrinya pelan, karena kesal dengan tindakan istrinya yang begitu ceroboh.
Meysi hanya terkekeh melihat Arga yang sangat marah padanya.
“Sekarang kamu sarapan, setelah itu minum obat.” Arga mengambil makanan yang sudah di antar oleh petugas rumah sakit, perlahan mulai menyuapi istrinya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, jika Reyhan menatap mereka berdua di balik kaca pintu.
Terlihat Arga yang begitu sangat memperhatikan Meysi, hingga terbesit di pikiran ingin mengerjai mereka berdua.
Ceklek ...
Pintu terbuka lebar, keduanya menatap pintu yang terbuka tersebut.
“Kakak,” panggil Meysi pelan.
Arga yang sudah selesai memberi istrinya makan, lalu beranjak dari tempat duduknya untuk mempersiapkan Reyhan untuk duduk.
“Biarkan aku yang menjaga adikku, sekarang kamu bisa pulang dan jangan Kembali lagi ke rumah sakit!” tegas Reyhan.
Meysi yang mendengarnya membulatkan matanya.
“Eh kenapa Kak? Arga suami Mey, kenapa tidak boleh datang lagi?!” tanya Meysi menatap Reyhan dengan wajah serius.
“Kamu bertanya kenapa? Karena dia kamu jadi seperti ini! Kakak tidak mau kamu kembali celaka karena dia!” menunjuk wajah Arga.
“Kak, aku sendiri yang membuat dirimu celaka! Kalau aku tidak ada, mungkin kita tidak akan bersama Arga lagi!” protes Meysi masih membela suaminya.
“Mey, tenangkan dirimu. Lukamu masih belum kering. Sekarang istirahatlah, aku akan pulang sekarang,” ujar Arga berkata lembut.
“Tapi kamu jangan pergi.” Memelas pada suaminya agar tidak pergi.
“Aku akan kembali, aku harus bekerja dan menyelesaikan pekerjaan di kantor.”
Meysi menghela napas berat, lalu mengangguk.
Arga tersenyum saat melihat istrinya mengangguk, sebelum keluar dari ruang rawat inap Arga memberi kecupan di pucuk kepala Meysi.
“Jangan kembali kemari lagi!” ujar Reyhan pada Arga yang hendak keluar kamar.
“Kakak!” teriak Meysi menatap kakaknya.
Arga mengangguk pelan, lalu keluar dari ruangan tersebut dengan langkah yang berat.
Arga merasa ujian cinta mereka kembali lagi di uji, Arga bertekad kembali berusaha mengambil hati Reyhan kembali agar mengizinkannya untuk bertemu dengan istrinya.
Reyhan mengulum senyumnya melihat kepergian Arga.
“Kakak jahat sekali!” kesal Meysi menutup wajahnya dengan selimut.
Reyhan hanya terkekeh.
Sebenarnya Reyhan masih kesal pada Arga, karena begitu ceroboh sehingga adiknya hampir saja kehilangan nyawanya.
Namun, setelah melihat mereka berdua yang terlihat bahagia. Reyhan sangat yakin, jika Arga adalah orang yang tepat untuk adiknya.
Reyhan tidak benar-benar mengusir Arga, hanya karena ingin memberikan Arga kejutan ulang tahunya yang tinggal dua hari.
“Adikku yang setengah cantik. Apa kamu lupa dia hari lagi tanggal berapa?” tanya Reyhan perlahan menarik selimut yang menutupi wajah adiknya.
Meysi berpikir keras, ia mengingat apa yang di maksud oleh kakaknya untuk dua hari ini.
__ADS_1
***