
Pagi hari, Zahra tengah sibuk melakukan panggilan video dengan sang suami.
Reyhan dulunya bersikap dingin, kini berubah drastis menjadi sangat romantis.
“Sayang, kok pergi mendadak sih?!” protes Zahra karena tidak berpamitan dengan dirinya.
“Iya. Maafkan aku ya, pengawal akan membawamu kemari. Jadi bersiaplah,” sahut Reyhan.
“Hah. Aku tidak mengerti?”
“Sayang akan kemari bertemu denganku, sekaligus aku mengajakmu jalan-jalan. Anggap saja ini bulan madu kita yang tertunda.”
Zahra terdiam sejenak.
“Kenapa diam? Apa lagi yang kamu pikirkan? Sekarang cepatlah bersiap,” Ujar Reyhan lagi, masih sibuk dengan komputernya.
Zahra mengangguk, setelah mengakhiri panggilan video dengan suaminya ia segera bersiap.
***
Pagi yang cerah, Meysi terbangun lebih dulu. Ia merasakan sebuah benda berat melingkar di perutnya, saat hendak membalikkan tubuhnya ia baru menyadari ternyata sebuah tangan kekar yang melingkar di perutnya.
“Astaga! Apa ini tangan Arga?” gumamnya dalam hati.
Perlahan memindahkan tangan tersebut, agar menjauh dari perutnya.
Namun, Arga malah mempererat pelukannya. Sama seperti dirinya memeluk guling, bahkan kakinya naik ke atas kaki Meysi.
“Arga, aku tidak bisa bernapas!” keluh Meysi menepuk pelan tangan Arga.
Arga hanya menyahut dengan suara gumamnya.
“Arga!” panggil Meysi lagi.
“Kenapa mimpiku terasa nyata?” gumam Arga masih dengan mata tertutup.
“Kamu tidak mimpi!” ujar Meysi lagi.
Seketika Arga langsung membuka matanya, melihat Meysi yang berada di sampingnya yang benar-benar nyata.
“Apa yang kamu lihat? Lepaskan aku! Aku tidak bisa bernapas!” protes Meysi lagi.
Arga langsung tersadar, melihat kaki dan tangannya di atas tubuh Meysi.
Dengan cepat ia memindahkannya dan berubah posisi menjadi telentang.
Terlihat Meysi menghela napas lega.
“Kenapa aku bisa ada di kamar ini?” gumam Arga.
“Kamu lupa? Semalam kamu pindah ke kamar,” sahut Meysi hendak beranjak dari tempat tidurnya.
“Oh ya?” Arga langsung menarik lengan istrinya, karena ia juga baru ingat jika mereka saat ini masih sah menjadi suami istri.
Hingga Meysi terjatuh tepat di atas tubuh Arga.
“Aaa ... Arga! Apa yang kamu lakukan?” kesal Meysi.
“Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kamu lakukan di kamar ku? Apa kamu sudah menodaiku?” memicingkan matanya sambil memeluk tubuh sang istri.
“Dasar tidak waras!” gerutu Meysi.
“Mana mungkin aku menodai pria. Lepaskan aku!” mencoba melepaskan dekapan Arga.
Bukannya melepaskan, Arga malah menarik tubuh Meysi hingga posisi menjadi di bawah.
“Aku tidak akan melepaskan mu, sebelum kamu mengaku. Apa yang kamu lakukan padaku semalam?” tanya Arga mendekatkan wajahnya.
“Arga, jangan gila! Aku tidak melakukan apa pun padamu,” sahut Meysi masih sedikit memberontak, apa lagi wajah mereka yang begitu dekat.
“Bohong!”
“Sumpah, aku tidak melakukan apa pun.”
“Lalu, kenapa aku bisa terpana pada kecantikan mu pagi ini?” tanya Arga menatap wajah sang istri.
Meysi yang semula memberontak, langsung terdiam bahkan netra mereka sejenak saling bertemu.
Melihat wajah Meysi yang merah merona, ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
Arga meletakkan wajahnya di leher Meysi, aroma tubuh Meysi yang membuat candu.
“Jangan pergi,” ucap Arga lirih.
Meysi mengernyit bingung, mendengar ucapan Arga.
“Aku masih di sini , belum pergi.”
“Jangan tinggalkan aku,” ucap Arga yang masih menyembunyikan wajahnya di leher Meysi.
Hening sejenak.
__ADS_1
Tangan Meysi mulai mengusap kepala Arga pelan, sementara tangan satunya memeluk tubuh Arga.
“Memangnya kamu mau aku tetap di sini?” tanya Meysi lembut.
Tidak ada jawaban dari Arga.
Arga mengangkat kepalanya untuk menatap wajah sang istri yang begitu dekat, dalam keadaan sadar dari keduanya.
“Jika aku ingin kamu tetap di sini, apa kamu mau?” tanya Arga pelan netranya tidak berpindah dari wajah sang istri.
“Apa kamu mau mempertahankan pernikahan ini?” tanya Meysi balik.
Arga tersenyum, lalu mengangguk.
“Lalu kenapa kamu pergi?” tanya Meysi dengan tangan Meysi berpindah pada wajah Arga. Untuk mengusap keringat di dahinya, padahal pagi ini cukup terasa dingin.
“Ayahku sudah mengusirku dan kamu juga pergi meninggalkan aku. Saat itu aku tidak bisa berpikir jernih, yang di pikiranku rasa bersalah yang sangat dalam.”
“Aku berpikir, kamu pasti sangat membenciku. Hingga aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak muncul di hadapanmu lagi.”
Meysi tersenyum, ia mengecup dahi Arga sekilas.
Arga begitu terkejut dengan perlakuan Meysi saat ini padanya.
“Maafkan aku,” ucap Meysi.
Tanpa menunggu lagi, Arga menyatukan bibir mereka yang sudah lama ingin ia cicipi.
Tidak ada perlawanan dari Meysi, karena ciuman ini pertama baginya di area bibir.
Merasa tidak ada sambutan dari Meysi, Arga berinisiatif untuk memulia permainan di bibir mereka.
Ia memberi *******n pelan, perlahan ada perlawanan dari Meysi.
Lama-lama menjadi ganas, membuat Arga hampir tidak terkontrol lagi.
Bibir itu berpindah ke leher Meysi, hingga terdengar suara ******* pelan yang keluar dari mulut sang istrinya dan meninggalkan beberapa jejak di sana.
Tangan Arga perlahan membuka kancing baju istrinya, dan tangannya mulai bermain manja di dalam sana.
“Arga,” panggil Meysi sembari menarik tangan Arga yang menurutnya sangat mengganggu karena belum terbiasa.
“Iya,” sahut Arga dengan napas yang turun naik.
“Maaf, aku belum bisa memberikanmu itu. Aku ....”
Arga tersenyum, lalu meletakkan telunjuknya di bibir sang istri.
Kini posisi mereka saling berhadapan.
“Lupakan masa lalu itu. Aku merasa berdosa, karena telah menikah dengan adikku sendiri.”
Meysi terkekeh.
“Oh ya?”
Meysi mengangguk, Arga menarik Meysi ke dalam pelukannya.
Setelah cukup lama berpelukan, perut Meysi mulai terasa lapar. Apa lagi, dirinya sejak kemarin siang belum makan sama sekali.
“Arga, aku sangat lapar.”
Membuat Arga langsung melepaskan dekapannya, ia baru menyadari jika Meysi belum makan sejak kemarin siang.
“Astaga! Sebentar, aku memasak untuk kita.”
Arga melepaskan dekapannya, lalu beranjak dari tempat tidurnya.
Tidak mungkin dirinya meminta Meysi untuk memasak, ia sangat tahu jika Meysi belum pernah menyentuh barang-barang dapur sama sekali.
Akan tetapi, jika meminta dirinya untuk berkelahi Meysi maju paling depan.
Meysi tersenyum melihat kepergian Arga.
Sebelum kepergian Arga dari rumah, dirinya sudah sangat merasa kehilangan. Entah perasaan seorang kakak yang kehilangan adiknya, atau perasaan seorang istri.
Setelah berpikir beberapa hari, Meysi akhirnya memutuskan untuk menerima Arga sebagai suaminya dan bertekad untuk mencari keberadaan Arga.
Namun, Reyhan lebih dulu mempertemukan mereka. Hingga dirinya tidak lagi bersusah payah mencari keberadaan Arga saat ini.
“Suami macam apa kamu, membiarkan istrinya kelaparan,” ejek Meysi berdiri dengan melipat tangannya, sembari melihat tangan lihai Arga memasak.
Arga hanya tersenyum mendengar ejekan Meysi padanya.
“Iya, Tuan putri. Maafkan aku ya,” sahutnya lembut.
“Mau mandi?” tanya Arga melihat Meysi membawa handuk di bahunya.
“Hm ...” dehamnya.
Netranya masih tertuju pada tangan Arga yang sangat lihai memasak.
__ADS_1
“Apa perlu aku mandikan?” goda Arga menatap mesum padanya.
Meysi berdecap kesal.
“Dasar adik durhaka!” melangkah cepat masuk ke kamar mandi.
“Hei ... aku suamimu!” ujar Arga terkekeh melihat wajah Meysi yang cemberut.
Kini Arga fokus dengan masakannya, makanan sederhana yaitu nasi goreng untuk sarapan mereka berdua.
Cukup lama berkutat di dapur, akhirnya Arga menyelesaikan masakannya.
Bersamaan dengan Meysi yang baru keluar dari kamar mandi.
“Arga,” panggil Meysi dengan pakaian yang sudah melekat di tubuhnya.
“Ada apa?” tanyanya lembut sembari mencuci alat memasak yang ia pakai.
“Aku boleh minta tolong?” Meysi tampak ragu untuk mengatakannya.
Arga membasuh tangannya, lalu mendekati sang istrinya yang masih berdiri di ambang pintu kamar mandi.
“Katakan. Semoga aku bisa membantumu,” sahut Arga mengusap air yang mengalir di pipinya, air tersebut berasal dari rambut Meysi yang masih basah.
“A-aku tidak punya pembalut. Apa kamu bisa membelikannya untukku?” tanya Meysi sedikit ragu.
Arga terdiam sejenak, ia tersenyum lalu mengangguk.
“Hanya itu?”
Meysi mengangguk.
“Aku mandi dulu, setelah itu aku akan membelikannya untukmu.”
Setelah mengatakan itu, Arga bergegas ke kamar mandi.
Tidak butuh waktu lama untuknya mandi, ia segera mengenakan pakaiannya dan keluar untuk membelikan istrinya pembalut.
Di dekat rumah kontrakannya, ada sebuah toko kecil yang menjual barang lengkap. Kebetulan, toko tersebut adalah pemilik rumah kontrakan yang ia tempati saat ini.
“Bu,” panggil Arga pada pemilik warung tersebut.
“Eh, ada nak Arga. Mau cari apa?” tanyanya.
“Mau beli pembalut,” ujar Arga tanpa ragu.
Pemilik toko tersebut mengernyit heran, karena ia tahu jika Arga adalah berjenis kelamin laki-laki.
Seakan mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh pemilik toko itu, Arga menjelaskannya.
Hingga pemilik toko tersebut, mengangguk mengerti.
Setelah membayarnya, Arga kembali melangkah untuk kembali ke rumah kontrakan tersebut.
Di tengah perjalanan, langkahnya terhenti ketika melihat wanita yang sama saat datang ke rumahnya sore kemarin.
“Bang, Arga.”
“Iya Bu,” sahutnya.
“Apa benar wanita yang ada di kontrakan mu itu istrimu? Kenapa dia terlihat lebih tua darimu?” tanyanya antusias.
“Kenapa memangnya? Dia memang istriku.”
“Oh. Bang Arga tidak berniat menikahiku? Aku mau jadi yang kedua.”
Arga yang mendengarnya langsung menggelengkan kepalanya.
“Maaf, saya permisi. Istri saya sedang menunggu di rumah!”
Tanpa menunggu lagi, Arga bergegas pergi dan meninggalkan wanita itu yang masih mematung.
Wanita tersebut menatapnya sinis, sambil mengepal tangnya kuat.
“Aku akan membuatmu tergila-gila padaku,” gumamnya sambil mengepal kuat tangannya.
“Lama sekali!” gerutu Meysi tengah duduk menunggunya kedatangan suaminya.
Tak lama, terdengar suara langkah kaki yang datang dan membuka pintu rumah.
“Maaf, kamu pasti sedang menungguku.”
Meysi hanya mengangguk, lalu mengambil plastik di tangan sang suami.
Lalu bergegas ke kamar mandi.
Melihat istrinya melangkah ke kamar mandi, ia mengunci pintu rumahnya. Karena terlihat dari kejauhan jika wanita janda yang bertemunya tadi, masih memperhatikan dirinya.
“Dasar tidak waras!” gerutu Arga.
Sambil menunggu istrinya, Arga mengambil sarapan untuk mereka berdua yang telah ia sajikan di piring sebelumnya.
__ADS_1
***