Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 60


__ADS_3

Sembilan bulan sudah berlalu, suara tangis bayi menggema di ruang bersalin.


Oek ... Oek ...


Zahra menghela napas lega. Karena sudah lancar melahirkan putranya secara normal.


Sementara Mesya, saat ini tengah berjuang di meja operasi. Karena kepala bayi yang tidak pada tempatnya, sehingga mengharuskan dirinya di operasi Cesar.


Semua orang mendengar suara tangisan tersebut terlihat bahagia, tapi mereka belum bisa bernapas lega. Karena dokter di dalam sana masih berjuang untuk mengeluarkan bayinya.


Wajah Sifa tampak tegang, karena keponakan perempuannya masih berada di dalam ruangan operasi.


“Aunty ... tananglah. Semua akan baik-baik saja,” ujar Meysi sembari menggenggam tangan Sifa.


Sifa mengangguk memaksakan senyumnya, walaupun pikirannya masih tidak karuan.


Netra Sifa tertuju pada Indra yang baru keluar dari ruangan operasi, dengan memamerkan wajah bahagianya.


“Indra, bagaimana dengan Mesya? Dia baik-baik saja kan.” Terlihat jelas wajah Sifa yang begitu sangat khawatir.


Indra mengangguk, tanpa ragu ia memeluk Sifa. Hingga tanpa sadar ia meneteskan air matanya, bukan air mata kesedihan. Melainkan air mata kebahagiaan yang tersirat, Indra tidak henti-hentinya bersyukur.


“Indra, kenapa kamu menangis? Semuanya naik-baik saja, bukan?” tanya Sifa untuk memastikannya lagi.


Indra melepaskan dekapan tersebut, mengusap air matanya yang mengalir begitu saja.


“Semuanya baik, Aunty. Aku menangis dengan perjuangan istriku untuk melahirkan putri kami, dia sangat luar biasa. Bahkan rela perutnya di gunting, demi putrinya di dalam kandungan.”


Sifa mengusap punggungnya, agar Indra tenang.


“Itulah nak, perjuangan seorang Ibu itu luar biasa. Dia rela mempertaruhkan nyawanya demi anaknya,” ujar Sifa lembut.


“Selamat, kalian sudah menjadi seorang Ayah,” tambah Sifa lagi.


Setelah di pindahkan ke ruangan rawat inap, mereka datang berkumpul di ruangan tersebut.


Zahra di tempatkan di ruangan yang sama, ruangan yang sudah di sewa oleh Reyhan untuk adik dan istrinya.


Zahra saat ini sedang belajar menyusui bayinya, tampak bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu membuka mulutnya mencari put*ng susu ibunya.


“Dia sangat lucu kak,” ujar Meysi yang duduk di samping Zahra, menatap nanar wajah bayi yang sedikit kemerahan itu.


Zahra mengangguk sembari membenarkan put*ng susunya, ke mulut putranya.


Sementara Mesya hanya bisa melihat dari tempat ia berbaring, karena merasa sakit selepas operasi sudah mulai terasa.


Mesya tersenyum bahagia melihat kembaran dan kakak iparnya.


***

__ADS_1


Tiga tahun sudah berlalu.


Tiga bocah tersebut sedang belajar berenang di kolam pribadi mereka, saat ini semua keluarga Reyhan sedang berlibur ke vila pribadi mereka yang berada di luar negeri.


Tampak Dafi tengah mengajari Kedua adiknya yang berusia tiga tahun tersebut berenang di kolam dangkal, bahkan Zanira adik kandung dari Zahra juga ikut turun tangan untuk mengajari mereka.


Sedangkan Meysi tengah duduk menatap ketiga bocah tersebut sembari bermain ponselnya, menunggu kedatangan sang suami saat itu tengah sibuk dengan pekerjaannya di luar.


Sementara Zahra dan Mesya, serta kedua suaminya tengah sibuk membakar jagung ikan dan yang lainnya.


Zahra yang terlihat bahagia tengah bercanda dengan suaminya, Meysi yang melihat ikut turut merasakan kebahagiaan.


Tidak sia-sia perjuangannya menjodohkan kakaknya dengan Zahra, awal terlihat sulit dengan pernikahan mereka. Namun, saat ini mereka saling menerima satu sama lain.


Netranya tertuju pada Mesya, kembarannya tersebut juga tampak bahagia. Mereka terlihat tengah serius membicarakan sesuatu, entah apa yang mereka bicarakan.


Cup ...


Sebuah kecupan hangat mendarat di pipi Meysi, ia tidak terkejut karena dirinya sangat tahu kebiasaan suaminya.


“Kok melamun, Sayang? Hai anak Papa ...” sapa Arga mengelus perut buncit istrinya.


Selama dua tahun, Meysi dan Arga memang sengaja menunda kehamilan mereka. Bukan tidak ingin mempunyai anak, Arga takut dengan luka Meysi selepas operasi dulu.


“Aku menunggumu,” sahut Meysi lembut.


“Huh! Lain kali, kalau mau liburan, prepare dulu deh! Kan repot kalau mendadak begini!” keluh Anton membawa barang belanjaannya sembari mengusap keringat yang bercucuran di keningnya.


“Zanira! Lihatlah, ada pria yang ....” belum sempat Arga melanjutkan ucapannya, mulut Arga di bungkam oleh adiknya sendiri yaitu Arga dengan menggunakan tangannya.


“Sstt ... jangan berisik!” kesal Anton, lalu beranjak membawa barang belanjaannya menghampiri Zahra dan Mesya.


Meysi dan Arga kembali terkekeh, melihat wajah Anton yang tampak pasrah.


Anton dan adik kandung Zahra, yaitu Zanira sudah menjalin hubungan sekitar satu tahun lamanya, bahkan dua keluarga tersebut sudah sangat setuju dengan hubungan mereka.


Mereka akan melangsungkan pernikahan, setelah Meysi melahirkan.


Malam hari, tampak semua orang berkumpul bersama. Makan bersama, serta canda dan gurau di penuhi malam itu. Liburan mereka kali ini dengan keluarga yang sangat lengkap, bahkan orang tua dari Zahra dan Indra juga ikut hadir.


Bahkan Toni berserta istrinya ikut memeriahkan malam itu, usia Toni yang sudah tidak muda lagi. Reyhan memintanya untuk pensiun untuk beristirahat saja di rumah, mereka sudah di anggap seperti orang tua bagi Reyhan.


Namun, di tengah canda gurau mereka. Tiba-tiba saja Meysi merasakan air keluar dari celana bawahnya.


“Sayang, sepertinya aku pipis di celana,” bisik Meysi.


Terlihat Agra memeriksa celana istrinya, akan tetapi air tersebut tidak mengeluarkan aroma kencing.


“Ada apa Arga?” tanya Toni melihat putranya tampak sibuk memeriksa celana istrinya.

__ADS_1


“Entahlah, Meysi merasakan kencing di celana. Tapi, tidak mengeluarkan bau sama sekali.”


Zahra yang mendengarnya langsung membulatkan matanya.


“Dasar bodoh! Istrimu mau melahirkan, itu pecah ketuban!” teriak Zahra histeris.


Karena dirinya juga langsung panik mendengar ucapan Arga barusan.


Semula penuh canda dan tawa. Kini berubah menjadi panik, sedangkan Meysi hanya menatap mereka yang terlihat panik, sedangkan dirinya tidak menunjukkan wajah panik sama sekali.


Reyhan dan Arga menggendong Meysi menuju mobil mereka. Reyhan langsung tancap gas ke rumah sakit yang sudah ia booking sebelumnya untuk adiknya.


Semua orang menyusul mereka, kecuali Mesya dan Zahra yang tidak bisa meninggalkan putra putri mereka, apalagi di waktu malam hari. Mereka berencana akan menyusul ke rumah sakit besok pagi.


Karena takut membahayakan janin yang ada di dalam kandungan, Meysi harus segera di operasi.


Malam itu juga, Meysi segera di operasi, dengan Arga yang selalu setia di sampingnya.


Yang di tunggu-tunggu, akhirnya suara tangisan bayi lahir terdengar jelas, bahkan menggema di ruang operasi.


Arga begitu haru sehingga tidak bisa menahan tangisnya lagi, bayi berjenis perempuan tersebut kini sudah berada di gendongannya.


Setelah selesai di bersihkan, tak berselang waktu lama Meysi di bawa ruang rawat inap.


Toni meneteskan air matanya, sangat bersyukur di usianya saat ini ia masih bisa melihat cucu pertamanya.


“Cucu pertama kita, Mas,” ucap Mala lirih.


Toni mengangguk.


Arga memberikan putranya pada ibunya, orang pertama setelah dirinya merasakan menggendong cucunya.


“Lihat, Mas. Bibirnya sangat mirip dengan Ibunya,” ucap Mala lagi menatap haru wajah cucunya yang sangat cantik, perpaduan antara Meysi dan Arga.


Pagi hari semua orang berkumpul di ruangan itu, mereka menetap bayi yang masih tertidur lelap.


“Ma, dedeknya kita bawa pulang ke rumah. Agar Dafi punya dua adik di rumah,” ucap Dafi polos.


Semua orang tertawa mendengar ucapan polos Dafi.


Dafi tumbuh jadi sosok yang sangat penyayang bagi adiknya, bahkan ketika adiknya menangis ia selalu yang terdepan agar membuat adiknya berhenti menangis.


Lengkap sudah kebahagiaan Reyhan hari ini, mempunyai istri yang cantik dan baik berkat perjodohan adiknya. Bahkan kini adik kembarnya sudah tumbuh menjadi sosok ibu bagi putri mereka.


“Ma, Pa dan juga Ayah. Lihatlah, putra putri kalian saat ini sudah mempunyai anak semua. Pasti kalian juga ikut bahagia di sana, karena sudah mendapatkan cucu,” ujar Reyhan dalam hati, melihat kedua adiknya yang tampak begitu bahagia menyambut kedatangan keluarga baru mereka.


\*\*\*\*\*


Satu Dinar kau infaqkan di jalan Allah, satu Dinar kau infaqkan untuk membebaskan budak, satu Dinar kau sedekahkan untuk membebaskan orang miskin dan satu Dinar kau keluarkan untuk menafkahi keluargamu. Maka yang paling besar pahalanya adalah yang kau keluarkan untuk menafkahi keluargamu.

__ADS_1


(HR. Muslim)


\***Sekian Terima Kasih**\*


__ADS_2