
Tiga hari Meysi di rumah sakit, akhirnya hari ini dirinya di perbolehkan untuk pulang. Bukan di perbolehkan oleh dokter, akan tetapi Meysi yang memaksa untuk pulang dan meminta untuk di rawat di rumah saja.
Tiga hari pula Meysi dan Arga tidak bertemu, karena selalu di cegah oleh Reyhan.
Terlihat ada raut sedih dari wajah Meysi yang harus pulang tanpa suaminya.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Reyhan lembut.
Meysi tersenyum paksa, lalu menggelengkan kepalanya.
Mereka menempuh perjalanan dengan kecepatan stabil, memakan waktu sekitar 40 menit hingga tiba di rumah. Karena Reyhan meminta sopir membawa mobil jangan terlalu cepat, karena kondisi Meysi yang masih belum stabil belum bisa menerima guncangan keras.
Tiba di rumah mereka, Reyhan mengambil kursi roda di bagasi mobil untuk adiknya lalu mendorong kursi roda itu pelan masuk ke dalam rumah.
Cukup berat selama tiga hari ini yang di lalui oleh Meysi tanpa suaminya, karena harus mengikuti sandiwara sang kakak.
Meysi masuk ke dalam rumah, terlihat semua orang berkumpul di ruang tamu menunggu kedatangannya, kecuali suaminya.
Semua orang menyambut haru kedatangan dirinya dan memeluknya secara bergantian.
Begitupun Mala tak kalah cemasnya mendengar Meysi di tembak oleh sahabatnya sendiri, Mala yang di anggap seperti ibu oleh Meysi bahkan saat ini sudah menjadi ibu mertuanya.
“Cepat sembuh ya, Nona. Aku sangat cemas padamu.” Mengusap kepala Meysi pelan.
“Iya, Bu. Terima kasih,” sahut Meysi.
Setelah berpelukan, mereka berbincang hangat sejenak di ruang tamu.
Meysi berpamitan ingin ke kamar, karena pengaruh obat membuat dirinya mulai merasakan kantuk.
Kembarannya mengantar dirinya ke kamar, lalu perlahan membantunya untuk berbaring di tempat tidur.
“Istirahatlah, serahkan semua kepada kami untuk menyiapkan acara untuk nanti malam. Tapi, Paman Toni bilang jika Arga saat ini sedang keluar kota,” tutur Mesya.
Karena hari ini adalah hari ulang tahun Arga, mereka semua ingin memberikannya kejutan.
“Entahlah, selama tiga hari ini Kakak melarangku untuk berkomunikasi padanya. Entah bagaimana dengannya?” sahut Meysi lirih, terlihat jelas jika dirinya terlihat sangat sedih.
“Kamu tenang saja. Semua akan baik-baik saja,” ujar Mesya sembari mengusap keringat yang ada di dahi kembarannya tersebut.
Meysi mengangguk.
Setelah melihat kembarannya keluar dari Meysi menghela napas berat, ia perlahan mengambil ponsel miliknya dari dalam tas.
Ia membuka pesan yang di kirim Arga terakhir kali, dalam pesan tersebut bertuliskan jika Arga begitu sangat merindukan dirinya.
Saat ini Arga meminta Meysi untuk bersabar, ia akan menyelesaikan urusannya lalu menjemputnya kembali.
“Huftt ... kenapa aku harus mengikuti ide konyol ini!” gerutu Meysi meletakkan kembali ponsel miliknya di nakas.
Semua orang di luar masih bekerja sama menyiapkan acara untuk ulang tahun adik ipar mereka.
__ADS_1
Sementara Toni dan Reyhan keluar menuju markas mereka, untuk menemui gadis yang sudah tega menembak adiknya.
Toni belum memberitahukan siapa wanita tersebut, karena ingin Reyhan sendiri yang melihat wajah wanita itu.
Mereka baru bisa ke markas, karena harus menunggu Meysi pulang dari rumah sakit.
“Dimana gadis itu?” tanya Reyhan saat tiba di gudang yang menjadi markas mereka.
Suara Reyhan yang terdengar sangat mencekam, siapa saja yang mendengarkan pasti nyali mereka akan menciut.
“Ada di dalam Bos,” sahut mereka.
Reyhan melangkah mengikuti langkah Toni.
Usia Toni yang sudah tidak muda lagi, meskipun begitu dirinya masih di takuti oleh banyak orang.
Salah satu anak buahnya membuka gembok gudang tersebut, netra Reyhan langsung tertuju pada gadis yang meringkuk ketakutan di pojokan.
“Hei, kamu!” sentak Reyhan.
Wajah gadis itu langsung menoleh, matanya menyipit karena silau lampu dari luar kamar.
Tek!
Suara lampu menyala di kamar tersebut, sehingga Reyhan lebih jelas melihat wajah gadis tersebut.
Reyhan membulatkan matanya, melihat wanita yang begitu sangat familiar.
“Kamu!” menunjuk wajah gadis itu dengan tatapan murka.
“Apa yang kamu dapatkan? Setelah mencoba membunuh adikku berulang kali!” tanyanya sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
Novi perlahan menggelengkan kepalanya.
“Jawab!” sentak Reyhan mulai kesal.
“Ti-tidak ada, Tuan.” Dengan suara yang bergetar, menahan rasa takutnya.
“Lalu, apa adikku pernah menyakitimu? Apa kamu lupa, Meysi begitu banyak berkorban untukmu. Apa kamu tidak punya hati nurani sedikit pun?!” lagi-lagi Reyhan membentaknya.
Sehingga Novi yang mendengarkan memejamkan matanya, karena suara Reyhan yang memenuhi ruangan tersebut.
Novi tidak bisa berkata-kata lagi, karena memang dirinya bersalah. Ia terduduk lemas di lantai, sambil menunduk.
Reyhan mengambil senjata dari tangan salah satu anak buahnya, lalu menembaknya ke arah tembok hingga sebanyak tiga kali.
Door ... Door ... Door ...
Novi menutupi telinganya dengan menggunakan tangannya, dengan suara tangis yang pecah.
“Maafkan saya, Tuan!” histeris Novi.
__ADS_1
Terlihat jelas saat ini dirinya begitu ketakutan, apalagi di kelilingi oleh beberapa pria.
Reyhan meletakkan senjata itu kepala Novi.
“Satu kata sebelum aku menarik pelatuk ini!” ujar Reyhan sudah sangat kesal, bahkan saat ini di penuhi amarah.
“Maaf,” ucap Novi lirih.
Novi sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya saat ini, karena memang dirinya sangat bersalah.
“Jika saja aku tidak memikirkan anakku di dalam kandungan istriku dan kedua adikku, mungkin saat ini kamu sudah menjadi mayat!” geram Reyhan menarik kembali senjata api itu dari kepala Novi dan memberikannya pada anak buahnya.
Tampak Novi menghela napas lega.
“Serahkan dia ke kantor polisi beserta bukti-bukti yang ada dan jangan biarkan dia bebas! Sesuai bukti yang ada, aku pastikan kamu di penjara seumur hidup!” geramnya menarik dagu gadis itu, lalu melepaskannya dengan kasar.
Reyhan keluar dari ruangan itu, Toni menatap tajam ke arah Novi.
“Anda sangat beruntung, karena Tuan Reyhan membiarkan anda hidup! Lain kali, sebelum melakukan tindakan di pikir terlebih dahulu, terutama pada kedua adik Tuan Reyhan! Karena semuanya bisa berakibat fatal!” ujar Toni menatap Novi.
Tampak kedua bahu yang bergetar karena menangis tanpa suara.
“Kalian urus semuanya, berikan semua bukti yang akan memberatkan dirinya!” perintah Toni pada anak buahnya, lalu melenggang pergi dari tempat itu.
Sudah jatuh, tertimpa tangga bahkan ter siram air panas pula. Itulah yang di rasakan oleh Novi saat ini, karena akibat perbuatannya sendiri. Dengan obsesi yang terlalu tinggi, ingin memiliki seseorang dengan cara curang.
“Tuan,” panggil Toni saat tiba di dalam mobil.
“Jangan bicara apapun tentang gadis itu, Paman! Aku sungguh muak dengan wajah polosnya itu, ternyata itu hanya topeng!” kesal Reyhan sembari memijit pelipisnya yang terasa pusing.
Masih terbayang di benaknya, bagaimana Meysi memperlakukan Novi dengan sangat baik. Bahkan Meysi lebih memilih tinggal dengan Novi di apartemen ketimbang dirinya di rumah, karena Novi kurang nyaman jika tinggal di rumahnya semasa kuliah dulu.
“Apa keluarganya tahu tentang perbuatan anaknya?” tanya Reyhan.
Toni menggelengkan kepalanya.
“Saya akan menghubungi keluarganya,” sahut Toni.
“Iya,” sahut Reyhan singkat.
“Oh ya, Arga kapan pulang dari luar kota?” tanya Reyhan disaat amarahnya kembali normal.
“Sore ini sudah kembali.”
“Akhiri sandiwara ini dan bawa Arga ke rumah. Sudah cukup memberinya pelajaran padanya, dengan tidak mempertemukan mereka.”
“Iya, Tuan. Saya minta maaf atas keteledoran putraku, saya pastikan ini tidak akan terulang lagi.”
Reyhan mengangguk.
Sebelum pulang ke rumah, Reyhan terlebih dahulu ke kantornya. Memeriksa keadaan kantornya yang selama beberapa hari ini tidak masuk ke kantor.
__ADS_1
Beruntung selalu ada Anton, putra bungsu dari Toni yang selalu siap di perintahkan oleh Reyhan.
***