Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 52


__ADS_3

“A-apa? Aku, tidak! Aku belum pernah memasak, apalagi makanan yang kamu sebutkan tadi!” tolak Reyhan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


“Iya. Tapi anakmu yang menginginkan ini, dia ingin kamu memasak untuknya.”


“Anak kita apa Ibunya? Calon anak kita masih belum bisa berbicara!” seru Reyhan.


“Aku Ibunya, dia memang belum lahir. Tapi, ada di dalam perutku!” tutur Zahra mulai kesal.


Reyhan hanya bisa menghela napas berat.


“Sepertinya aku harus berhati-hati kalau bicara sekarang. Huftt ... kenapa aku memberikan ide gila itu?!” gumamnya dalam hati.


“Sayang, kamu mau tidak? Nanti anak kita bisa ileran loh!” tanya Zahra sangat berharap Reyhan yang membuatkannya.


“Tapi aku belum pernah memasak Sayang, kalau rasanya tidak enak bagaimana? Aku tidak ingin membahayakan kalian berdua dengan rasa masakanku. Jika kamu memintaku untuk memimpin meeting selama 24 jam, aku sanggup.”


“Huftt ... padahal anak kita ingin sekali makan masakanmu. Sabar ya Sayang, kita akan mencari Papa baru yang mau memasak untuk kita, walaupun rasanya tidak enak, kita pasti makankan Sayang?” ujar Zahra pelan sembari mengusap perutnya yang masih rata.


“Kamu ini bicara apa? Awas saja kalau bicara seperti itu lagi!” ancam Reyhan terlihat kesal mendengar ucapan Zahra.


“Baiklah, aku akan memasak untuk kalian. Tapi, jangan salahkan aku jika masakannya tidak enak!” tambah Reyhan akhirnya menyerah dengan permintaan aneh istrinya.


Zahra yang mendengarnya langsung tersenyum bahagia.


“Benarkah?” tanyanya lagi seakan tidak percaya jika Reyhan mau memasak untuknya.


“Hm ...” deham Reyhan.


Zahra langsung memeluk bahu suaminya, bahkan ia berulang mencium pipi kiri suaminya.


“Sebahagia itu dia,” gumam Reyhan dalam hati melihat sang istri yang tampak sangat bahagia.


Kini Reyhan putar balik arah mobilnya kembali pulang ke rumah mereka.


Tiba di rumah, Zahra langsung meminta Reyhan untuk membuatkan rujak cingur tersebut. Sebelumnya ia menghubungi orang rumah untuk menyiapkan bahannya.


Sementara itu Zahra tampak terlihat lelah setelah perjalanan singkat mereka, Reyhan meminta Zahra untuk beristirahat di kamar.


Di dapur, hampir setengah jam Reyhan menetap bahan yang ada di dapur. Ia bingung harus memulai dari mana, begitu banyak bahan yang tersedia.


“Bi, aku bingung harus mulai dari mana?” tanyanya pada Mala yang kebetulan melintasi dapur.


Mala terkekeh.


Mala mulai mengajarinya bahan apa saja yang di potong terlebih dahulu, bahkan Mala ikut membantu membuatkannya.


Hampir dua jam berkutat di dapur, Reyhan bernapas lega sudah menyelesaikan makanannya.


“Huftt ... akhirnya selesai juga. Terima kasih Bi,” ujar Reyhan begitu bangga dengan masakan pertamanya, walaupun Mala yang paling banyak membantunya.


“Iya, Tuan.”


“Bi, apa benar jika anak tidak turuti, air liurnya selalu menetes tidak berhentinya karena kemauannya tidak di turuti?” tanya Reyhan pada wanita paru baya itu.


“Menurut kepercayaan orang dulu sih begitu. Tapi, sepertinya itu hanya mitos. Bibi dulu mengandung Arga, begitu banyak makanan yang di inginkan. Tapi, Arga tidak seperti itu.”


Reyhan mengangguk mengerti.


“Jadi, ini hanya akal-akalan Zahra saja, agar aku memasak untuknya!” gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Reyhan membawa rujak tersebut ke kamar mereka, karena Zahra pasti sudah menunggu dirinya.


Namun, langkahnya terhenti ketika melihat kedatangan Indra.


“Indra, ada apa dia kemari?” gumamnya dalam hati.


“Kak,” sapa Indra.


Indra langsung mendudukkan bokonya di sofa empuk, dengan wajah yang terlihat kusut. Bahkan terlihat jelas kantung mata yang menghitam, seperti kekurangan tidur.


“Ada apa Indra? Kenapa wajahmu kusut begitu?” tanya Reyhan.


Ia kembali menuruni tangga, melangkah mendekati dimana Indra duduk.


“Mesya, kak. Apa dia memang sedang mengidam, atau hanya mengerjai ku saja?” berkata sembari memijit pelipisnya.


“Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan.” Reyhan mengernyit heran.


“Huftt ... Mesya mengidap yang aneh. Seperti meminta sop buntut di jam dua dini hari dan aku harus berkeliling mencarinya. Mana ada toko yang buka di jam segitu,” keluh Indra.


Reyhan yang mendengarnya terkekeh, ternyata bukan hanya dirinya yang mengalaminya.


“Mohon bersabar ini ujian. Aku juga mengalami hal yang sama seperti yang kamu alami, seperti ini.” Reyhan menunjuk dengan telunjuknya pada piring yang ada di meja tersebut.


Netra Indra mengikuti telunjuk Reyhan, yang menunjuk ke arah meja.


“Apa itu?” tanya Indra yang begitu asing.


“Itu namanya rujak cingur. Aku saja pertama kali melihatnya, bahkan Zahra memintaku memasaknya!” keluh Reyhan pada adik iparnya tersebut.


“Oh ya, aku juga baru pernah mendengar nama makanan itu. Ada-ada saja wanita hamil ini,” Ujar Indra menggelengkan kepala pelan.


Setelah mengobrol lama pada adik iparnya tersebut, mereka saling mencurahkan hati mereka menghadapi istri mereka yang saat ini sedang mengidam yang sangat aneh menurut mereka.


Reyhan membuka pintu, netranya tertuju pada istrinya yang tertidur sangat pulas di tempat tidur.


“Huh! Dia masih tidur,” gumamnya.


Reyhan meletakkan makanan tersebut di meja, lalu berusaha membangunkan istrinya.


“Sayang, makanannya sudah selesai. Ayo kita makan dulu,” ujar Reyhan berkata selembut mungkin.


“Hm ...” deham Zahra, ia mulai merenggangkan tubuhnya.


“Mm ... wangi sekali.” Menghirup aroma makanan yang tidak asing.


“Iya, sangat wangi bukan? Bangunlah, aku akan menyuapimu.” Menarik pelan tubuh Zahra agar duduk.


Perlahan Reyhan mulai menyuapinya, baru beberapa suap makanan itu masuk ke dalam mulutnya. Zahra menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan semua makanannya.


“Sayang, cukup. Aku sudah tidak tahan lagi,” ujar Zahra melangkah setengah berlari ke kamar mandi.


Reyhan meletakkan piringnya, lalu menyusul Zahra yang tengah mengeluarkan isi perutnya.


Huwek ... huwek ...


Makanan yang ia makan habis tak bersisa. Reyhan perlahan memijat punggung istrinya, ia bingung harus melakukan lagi.


“Sudah,” ujarnya mencuci mulutnya dengan napas yang turun naik, seperti habis lari maraton.

__ADS_1


“Kita akan ke rumah sakit sekarang, aku tidak tega melihatnya seperti ini.”


Zahra menggelengkan kepalanya.


Lagi-lagi Reyhan menggelengkan kepalanya, melihat Zahra yang selalu menolak untuk di bawa ke rumah sakit.


“Kalau begitu istirahat saja.”


Memapah istrinya keluar kamar mandi, lalu mengajak istrinya untuk beristirahat kembali.


“Aku ingin tidur memelukmu, apa boleh?” tanya Zahra lembut.


Tanpa menunggu lagi, ia berbaring di samping Zahra lalu memeluknya.


“Cepat sehat ya, Sayang. Aku sangat cemas dengan kesehatan kalian berdua,” ujar Reyhan lembut sembari mengelus rambut halus istrinya.


Zahra mengangguk, sekilas Zahra mengecup bibir suaminya sebanyak dua kali, lalu kembali ke pelukan suaminya


***


Siang hari, Arga dan Meysi makan siang bersama di kantin.


Berbeda dengan sebelumnya, mereka makan bersama seperti adik dan kakak. Kali sangat berbeda, mereka berdua makan bersama sebagai suami istri.


Setelah makan, mereka kembali ke ruangan sambil bergandengan tangan.


Tidak ada yang berubah dengan jabatan Arga, masih seperti yang dulu.


Sembari bekerja membantu istrinya mengurus pekerjaan di kantor, ia juga mengurus bisnisnya yang baru saja buka.


“Sayang, ke ruangan ku sebentar,” ujar Meysi menghubungi melalu telepon kantor.


Tanpa menunggu lagi, Arga langsung masuk ke dalam ruangan istrinya.


“Ada apa, Sayang?” tanya Arga tidak merubah panggilannya pada istrinya.


“Aku sangat pusing dengan data ini. Coba kamu periksa, begitu banyak selisihnya.”


Arga mulai memeriksanya dengan teliti, tanpa ia sadari jika Meysi sedang menatapnya.


Cup...


Kecupan hangat mendarat di pipi Arga.


“Sayang, ini di kantor. Jangan memancingku!”


“Apaan sih. Aku hanya memberimu kecupan cinta, agar kamu lebih semangat kerjanya.” Memperlihatkan senyumnya.


“Jadi, kamu hanya mengerjaiku?” menatap Meysi


Istrinya mengangguk, sembari memainkan kedua alisnya.


“Kamu mulai berani sekarang.” Mendekatkan dirinya.


“I love u,” ujar Meysi lirih.


Arga terdiam sejenak, ia masih mencerna apakah dirinya tidak salah dengar.


“Coba ulangi,” ujar Arga menatapnya dengan tatapan yang penuh maksud.

__ADS_1


“I love u,” ujar Meysi mengulang ucapannya tersebut.


***


__ADS_2