Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 46


__ADS_3

Reyhan menepati janjinya, sore hari mereka kembali menaiki kapal tersebut.


Sambil menikmati indahnya pemandangan pulau karang yang terlihat jelas karena air yang begitu bening.


Zahra merasa sangat bahagia, sambil menikmati beberapa camilannya di temani pemandangan indah.


Reyhan merangkul istrinya, menatap sekilas istrinya yang tengah sibuk menikmati camilannya.


“Besok kita akan ke Dokter kandungan,” ucap Reyhan.


Zahra mengangguk.


“Apa kamu sudah memberitahu Ibu?” tanyanya sembari menyatukan tangan mereka.


Zahra menggelengkan kepalanya.


“Aku ingin memberitahu Ibu langsung,” sahutnya.


“Baiklah. Setelah kita ke tanah air, kita langsung ke tempat Ibu.”


Reyhan berulang kali mengecup kepala sang istri, lalu mencubit pelan pipi Zahra yang terlihat sudah berisi.


“Sayang,” panggil Zahra.


“Hm ...” dehamnya masih bermain dengan pipi sang istri.


“Aku mau tanya sesuatu. Tapi, janji jangan marah.”


Reyhan tersenyum lalu mengangguk.


“Sebelum berangkat ke mari, aku melihat ada foto pria yang sangat mirip denganmu, foto pria itu juga bersama mendiang Mama. Siapa dia?” tanya Zahra pelan agar suaminya tidak tersinggung dengan pertanyaannya tersebut.


Tampak Reyhan menghela napas berat, ia membenarkan posisinya dan meletakkan kepalanya di kedua paha istrinya.


Reyhan mulai bercerita tentang pria yang ada di kamar tersebut, bahkan ia juga di beritahukan oleh Paman Toni semuanya setelah satu tahun kepergian Erwin untuk selamanya.


Flashback On.


“Tuan Reyhan,” panggil Toni.


Saat itu mereka baru selesai melaksanakan pengajian di rumah tersebut.


“Iya, Paman.”


Langkah Reyhan langsung terhenti, bahkan ia mengernyit bingung melihat wajah Toni yang tampak serius.


“Ada pesan dari Tuan Erwin untuk anda, ia meminta untuk menceritakan semuanya pada anda setelah setahun kepergiannya.”


“Cerita apa Paman?” tanya Reyhan bingung.


Toni mengajak Reyhan ke balkon rumahnya, agar lebih leluasa berbicara di sana.


“Tuan Erwin meminta saya untuk menjelaskan tentang Ayah kandung anda, Tuan.”


Tidak ada raut terkejut dari wajah Reyhan, karena ia sudah mengetahuinya siapa ayah kandungnya yang sebenarnya. Namun, ia belum mengetahui terlalu jauh tentang ayah kandungnya tersebut.


Toni mulai menceritakan siapa ayah kandung dari Reyhan, dan tentang penyakit yang di derita oleh Bara hingga merenggut nyawanya.


Sebelum kepergian Bara, ia sempat menitipkan Reyhan sejak masih dalam kandungan.


Begitu banyak pengorbanan yang Erwin lakukan untuk Reyhan sejak masih dalam perut hingga ia usia Reyhan menginjak dewasa.


Bara di besarkan oleh keluarga yang berantakan, dan di paksa menikah dengan Nisa oleh ayahnya atau kakek dari Reyhan.


Butuh perjuangan untuk meluluhkan hati Bara yang sangat keras seperti batu.


Sejak dulu, hanya Erwin yang selalu ada di samping Nisa, bahkan sejak Bara di vonis dengan penyakit yang sangat serius hingga Bara menghembuskan napas terakhir.


“Iya, Paman. Nenek juga sudah menceritakan itu padaku, mendiang Papa Bara atau Erwin aku tidak membedakan mereka. Keduanya adalah Papa terbaikku, walaupun aku belum pernah melihat wajah asli Papa Bara secara langsung. Mereka adalah orang yang sangat spesial di hati Mama, dan mereka adalah Papa yang terbaik,” ucap Reyhan lirih.


Toni mengusap punggung Reyhan.


Toni mengeluarkan sebuah album foto dari tas kecil, di dalam album foto tersebut begitu banyak foto Bara dan ayahnya.


Reyhan menatap lekat wajah Bara saat kecil, yang begitu mirip dengannya di saat masih kecil, bagaikan pinang di belah dua.


“Ini, Papa?” tanya Reyhan.


Toni mengangguk.


“Tuan Bara saat kecil dan ini adalah kakek, anda.” Menunjuk pada pria yang duduk di kursi sambil memangku Bara.


“Dulu Ayah dari Tuan Bara sangat kaya raya. Tapi, karena keserakahan adiknya hingga bisnis tersebut bangkrut. Hanya ini yang tersisa,” Ujar Toni mengeluarkan sebuah cincin yang di lapisi berlian mahal.


“Cincin?” mengambil cincin tersebut dari telapak tangan Toni.


“Cincin itu turun menurun. Awalnya cincin itu di gadaikan oleh Paman Ridwan sebagai jaminan dan Tuan Erwinlah menebusnya. Tuan meminta saya untuk memberikannya kepada anda, Tuan.”


Reyhan melihat cincin tersebut, lalu mengangguk mengerti.


Hingga saat ini cincin tersebut, tidak pernah lepas dari jari manis Reyhan.


Flashback off.

__ADS_1


Mendengar cerita sang suami, tanpa sadar meneteskan air mata hingga terjatuh ke pipi Reyhan.


“Sayang, kenapa menangis?” tanya Reyhan mengusap air mata istrinya.


“Kamu sangat beruntung mempunyai dua Papa. Aku jadi merindukan Papa,” ucap Zahra lirih.


Mendengar cerita suaminya, Zahra langsung teringat dengan Ayahnya yang berjuang di meja operasi dan akhirnya meninggal setelah beberapa hari operasi selesai.


Reyhan Kembali mengubah posisinya menjadi duduk, lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya.


Reyhan mendengar sang istri yang menangis sesegukan di dalam dekapannya.


“Kita akan ke makam Papa setelah pulang nanti,” ucapnya mengusap lembut kepala istrinya.


Sebelum Zahra menceritakan tentang keluarganya, Reyhan sudah mengetahuinya dari adik iparnya yaitu Zanira.


Karena saat itu Reyhan belum sedekat seperti sekarang ini pada istrinya.


Bahkan mantan dari Zahra pun ia tanyakan pada adiknya iparnya tersebut, karena sedikit cemburu pada Zahra yang terlihat begitu mudah dekat dengan seseorang baik pria maupun wanita.


“Sudah. Sekarang kita kembali ke kamar dan istirahat sejenak. Kapal akan bersandar beberapa jam lagi, masih ada waktu untuk istirahat.”


Zahra mengangguk, lalu Reyhan mengajak istrinya masuk ke dalam kamar.


***


Arga membawa kembali istrinya dan Novi untuk kembali ke rumah, setelah cukup lelah berjalan-jalan mengunjungi rumah makannya.


“Mey, sepertinya aku harus pulang ke rumah deh.” Membuka percakapan, karena sejak tadi tidak ada percakapan di antara mereka.


“Hah, pulang? Kenapa mendadak?” tanya Meysi menoleh ke arah belakang.


Sedangkan Arga hanya jadi pendengar, karena tidak ingin masuk ke dalam pembicaraan dua perempuan tersebut.


“Mama minta aku harus pulang hari ini,” sahutnya berbohong.


“Jangan bohong Nov, kamu tidak pandai berbohong apa lagi denganku!” sela Meysi, karena menangkap kebohongan dari wajah sahabatnya.


“Ak-aku tidak berbohong!” pungkasnya.


“Lalu, kenapa kamu pulang begitu mendadak? Aku belum puas bercerita denganmu, kita bertemu jarang sekali,” tanyanya.


“Entahlah, Mama minta aku harus kembali, siang ini juga.”


Kebetulan, saat itu ponsel Novi berdering dan panggilan tersebut dari mamanya.


“Iya, Ma. Novi akan pulang sore ini juga,” sahutnya di dalam telepon, tak lama ia mengakhir panggilannya.


“Lihat Mey, aku tidak berbohong, bukan?” ujarnya menghela napas lega.


Setibanya di rumah, Novi segera turun untuk masuk ke dalam rumah. Karena harus mengemas pakaiannya.


“Aku berharap Arga yang menahanku untuk pergi. Mey maafkan aku, jujur kalau masalah hati kita bukan sahabat!” gumamnya dalam hati sambil melangkah masuk ke kamar.


“Arga, bagaimana kalau kita yang mengantar Novi pulang?”


“Hah, tidak!” tolak Arga langsung.


Ia melangkah lebih dulu masuk ke kamar mereka, meninggalkan istrinya yang masih mematung menatapnya.


“Arga,” panggil Meysi lagi menyusul Arga ke kamar.


Melihat Meysi masuk ke kamar, dengan cepat Arga menutup pintu dan menguncinya.


“Arga, kenapa di tutup?” tanya Meysi mengernyit heran.


Ia melihat gelagat yang aneh pada suaminya. Arga perlahan mendekatinya dengan menyeringai licik.


“Kenapa menatapku seperti itu?” tanyanya dengan meletakkan kedua tangannya di pinggang, seakan menantang.


Arga semakin mendekat, membuat nyali Meysi langsung menciut. Ia mengambil guling hendak melempar ke arah suaminya.


Bug!


Bukannya takut, Arga semakin mendekat, sembari membuka kancing kemejanya.


“Arga! Berhenti di tempat!” sentak Meysi.


Arga langsung menarik tangan Meysi, karena melihat istrinya yang hendak pergi.


Bruk!


Arga membawa istrinya ke atas tempat tidur, hingga posisi saat ini Meysi di atas tubuhnya.


“Sudah berulang kali aku katakan. Jangan panggil aku dengan sebutan nama!” ujarnya penuh penekanan.


Meysi langsung terdiam dan tidak bisa berkutik lagi. Apalagi saat ini, Arga mengunci tubuhnya hingga tidak dapat bergerak.


“Iya, Sayang.” Ucapnya lirih.


“Aku masih belum terbiasa,” tambahnya lagi.


“Mulai sekarang biasakan!” tutur Arga lembut, namun dengan nada penuh penekanan.

__ADS_1


Meysi hanya mengangguk, ia meletakkan wajahnya di dada bidang Arga. Aroma tubuh Arga begitu candu baginya.


“Bagaimana? Apa kamu mau mengantar Novi? Sekaligus kita jalan-jalan, aku ingin sekali melihat keindahan kota ini saat di malam hari.” Menuliskan bentuk love dengan jarinya di dada bidang suaminya.


“Kamu mau jalan-jalan?” tanya Arga mengusap kepala istrinya dengan lembut.


Meysi mengangguk pelan.


“Baiklah, beri aku ciuman.”


Meysi langsung memasang wajah cemberut, menatap wajah suaminya.


“Kenapa menatapku? Kalau tidak mau, lupakan jalan-jalannya. Lebih baik aku tidur,” ujar Arga sembari melepaskan dekapannya.


“Iya, baiklah.” Menahan tangan suaminya.


Cup! Cup!


Dua kali kecupan di pipi kiri dan kanan Arga.


“Sumpah, aku seperti mencium adikku!” gumam Meysi dalam hati.


“Apa yang kamu pikirkan? Aku suamimu, bukan adikmu!” kesal Arga menjentikkan jarinya ke dahi Meysi, karena sudah membaca isi pikiran istrinya saat ini.


“Dari mana dia tahu?” gumamnya dalam hati memasang wajah cemberut sembari mengusap keningnya.


“Apa yang kamu lihat? Pasti di pikiranmu saat ini, dari mana aku mengetahuinya, bukan?”


Dengan cepat Meysi menggelengkan kepalanya, Meysi beranjak dari atas tubuh suaminya untuk duduk di tepi kasur.


“Sakit ya. Maafkan aku,” Ujar Arga merasa bersalah lalu mengusap dahi istrinya yang sedikit kemerahan dan menciumnya berulang kali.


“Tidak sakit kok.” Memperlihatkan senyumnya.


Arga tersenyum.


“Sekarang bersiaplah dan ganti pakaianmu. Setelah mengantar Novi, kita akan jalan-jalan.” Mendengar tutur Arga yang menyetujuinya, Meysi langsung tersenyum senang.


“Oke,” sahutnya langsung beranjak menuju lemarinya.


Sementara itu, Arga memeriksa pesan dari ayahnya yang sejak tadi belum ia buka.


Dirinya tidak menaruh dendam, hanya kecewa karena ayahnya tidak mendengar penjelasannya terlebih dahulu.


Ia hanya membaca pesan tersebut, tidak berniat ingin membalasnya.


“Huftt ....” Agra menghela napas kasar, lalu merebahkan kembali tubuhnya di kasur dengan legannya yang menjadi bantalan.


Ia melirik istrinya yang tengah sibuk mengganti pakaiannya, terbesit di pikirannya untuk mengerjai istrinya kembali.


Ia beranjak dari tidurnya, melangkah pelan mendekati Meysi yang tengah bersiap.


Grep!


Arga memeluknya dari belakang.


“Eh, Arga! Aku ingin bersiap!” pekiknya mencoba melepaskan dekapan Arga.


“Apa? Aku tidak dengar,” goda Arga karena mendengar Meysi kembali memanggilnya dengan sebutan nama.


Meysi kembali menghela napas berat.


“Sayang, aku bersiap dulu,” ujarnya dengan nada lembut.


Membuat Arga terkekeh mendengarnya.


“Baiklah, aku akan lepaskan.” Melepaskan dekapannya.


Setelah selesai bersiap, mereka keluar bersama. Begitupun dengan Novi keluar dengan tas kecilnya.


“Nov, kami akan mengantarmu. Jangan naik bus sendirian, tapi tunggu sebentar aku ke kamar mandi dulu.”


Novi mengangguk.


Kini di ruang tamu hanya Novi dan Arga. Melihat Meysi sudah masuk ke kamar mandi, tanpa menunggu lagi Novi langsung memeluk Arga yang tengah sibuk dengan ponselnya.


“Arga, jangan lepaskan. Aku hanya ingin memelukmu untuk terakhir kalinya, setelah ini aku tidak akan mengganggumu.” Memeluk erat Arga.


Sedangkan Arga terdiam mematung, tidak habis pikir dengan Novi yang berani memeluknya.


“Lepas, apa yang kamu lakukan!” sentak Arga dengan nada pelan, karena tidak ingin di dengar oleh istrinya.


“Ini permintaan terakhirku, sebelum aku pergi. Izinkan aku memelukmu,” ujarnya semakin mempererat pelukannya.


“Sudah. Kamu sudah memelukku, bukan? Sekarang lepaskan!” mencoba menjelaskan melepaskan lengan Novi dari pinggangnya.


“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Meysi menatap mereka dari kejauhan.


Novi langsung melepaskan tangannya, mereka berdua mematung di tempat.


Lidah Arga langsung kelu, bingung harus menjelaskan apa pada istrinya.


“Sa-sayang. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” ujar Arga langsung tersadar.

__ADS_1


Ia melangkah mendekati istrinya yang masih mematung, menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan.


***


__ADS_2