
Setelah kejadian penculikan dua Minggu yang lalu, hingga saat ini Mesya masih mengalami trauma.
Indra yang seharusnya ke kantor untuk bekerja, akan tetapi harus bekerja di rumah. Karena sang istri tidak bisa di tinggal sendirian di rumah.
“Sayang, kenapa wajahmu pucat sekali?” tanya Indra melihat Mesya yang baru keluar dari kamar mandi.
“Entahlah. Sepertinya masuk angin, makanan tidak bisa masuk ke dalam perutku.”
“Aku panggilkan Dokter?”
“Hah. Tidak perlu, ini hanya sakit biasa. Sebentar lagi juga sembuh,” tolak Mesya.
“Baiklah. Jika sakitnya bertambah, jangan menolak untuk di panggilkan Dokter. Sekarang kamu istirahat,” tutur lembut Indra.
Mesya mengangguk.
Cup!
Indra memberi kecupan di pucuk kepala sang istri.
“Aku bekerja dulu ya. Apa kamu tidak keberatan aku tinggal?” tanya Indra.
Mesya langsung menarik tangan sang suami menahannya, sejak dua minggu terakhir mereka sangat jarang ke luar kamar. Bahkan Mesya tidak bisa jauh dari sang suami, hingga terpaksa Indra harus membawa semua berkas dan laptopnya ke kamar.
“Jangan pergi.” Memeluk tangan sang suami dengan suara manja.
“Aku hanya di ruang kerja di bawah, tidak ke kantor.”
Mesya bersikukuh dengan kemauannya, tidak mau jauh dari sang suami.
“Jangan tinggalkan aku, hiks ....” Mesya mulai mengeluarkan air mata.
“Sayang, kenapa menangis? Iya, baiklah. Aku tidak akan pergi,” ujar Indra melemah.
Mesya yang mendengarnya langsung kembali sumringah, memamerkan wajah cerianya.
“Tapi, hanya untuk hari ini saja. Kalau aku tidak ke kantor, siapa yang memberimu makan dan membayar semua kebutuhan di rumah ini!”
Mesya kembali memasang wajah cemberutnya.
“Iya,” sahutnya menarik sang suami agar berbaring bersamanya.
Mesya masuk ke dalam dekapan sang suami, lalu meletakkan wajahnya di dada bidang Indra.
“Teruskan saja, jangan salahkan aku jika menginginkannya!” ancam Indra.
Karena sang istri sedang bermain di dada bidangnya, dengan mengusap wajahnya ke kiri dan ke kanan.
Namun, ancaman Indra tidak berlaku baginya. Ia malah berbaring di atas tubuh sang suami, seperti sapi mengendus aroma tubuh Indra.
“Sayang, kamu kok seperti sapi sih?” goda Indra terkekeh karena melihat tingkah sang istri.
Awalnya Mesya cemberut, akan tetapi wajah tidak berpindah dari atas tubuh suaminya.
“Mas, kenapa tubuhmu wangi sekali. Kamu memakai parfum apa?” tanya Mesya masih berada di atas tubuh, dengan berpindah posisi menjadi duduk.
“Aku tidak memakai parfum sama sekali.”
“Lalu memakai apa? Kenapa tubuhmu wangi sekali? Apa kamu pernah berpelukan dengan wanita lain?” memicingkan matanya menatap curiga.
“Apa sih Sayang. Kamu lihat sendiri, apa aku pernah keluar dari kamar ini? Bahkan selama dua Minggu ini, aku selalu bersama mu!”
“Lalu, kenapa wangi sekali? Seperti aroma perempuan!”
“Demi apa pun, Sayang. Aku tidak pernah bertemu dengan wanita mana pun!” memperlihatkan dua jarinya pada Mesya.
Tampak Mesya berpikir sejenak, lalu mengangguk.
“Awas saja! Jika aku melihatmu bersama wanita lain, aku akan memotong asetmu hingga habis!” ancam Mesya.
Indra yang mendengarnya, menelan salivanya dengan kasar.
“Sayang, ancaman mu itu serius?”
“Aku sangat serius. Mau mencobanya?” tanya Mesya dengan memainkan kedua alisnya.
Dengan cepat Indra menggelengkan kepalanya.
Mesya tersenyum puas, apalagi melihat wajah ketakutan sang suami.
Mesya kembali memeluk sang suami, namun belum berpindah dari atas tubuhnya.
__ADS_1
“Sayang, jangan seperti ini. Aku tidak tahan,” bisik Indra, karena sudah merasa sesak di bawah sana.
Mesya tidak menghiraukan ucapan sang suami.
Indra mendorong pelan tubuh sang istri, lalu berpindah kini dirinya yang berada di atas tubuh sang istri.
“Sudah cukup! Kini giliran ku,” ujar Indra dengan mata yang sayu.
Menarik pelan pakaian Mesya dan membuangnya ke sembarang arah.
Indra mulai bermain di atas sana dan meninggalkan beberapa jejak di leher putih Mesya.
Karena sudah tidak bisa menahannya lagi, Indra melepaskan semua pakaian yang ia kenakan dan memulai aksinya.
Olah raga di siang hari, sukses membuat suami istri ini menjadi berkeringat.
Kamar yang penuh dengan suara desa**n Mesya, membuat Indra semakin bersemangat.
Hingga di penghujung, Indra semakin mempercepat hingga meninggalkan benih-benih cinta di dalam perut sang istri. Mereka berdua sangat berharap, agar malaikat kecil di dalam sana cepat tumbuh.
Dengan napas yang naik turun, Indra melepaskan diri dan merebahkan diri di samping sang istri.
Mesya menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
“Sayang, sepertinya hari ini kamu sangat bersemangat?”
“Tentu saja. Setiap harinya aku selalu bersemangat, apalagi hari ini kamu yang memulainya.”
“Sering-sering lah seperti ini.” Menarik sang istri ke dalam pelukannya, berulang kali Indra mengecup pucuk kepalanya.
Hening sejenak.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Indra.
“Aku sedang memikirkan pernikahan adikku, Meysi. Aku sangat berharap jika mereka bisa mempertahankannya. Sejak dulu, Arga memang perhatian padanya dan dari tatapannya, Arga menyukai Meysi.”
“Kita berdoa saja. Semoga jalan yang di ambil oleh mereka, itu yang terbaik,” tutur lembut Indra.
“Kita tidak bisa memaksa apa yang kita mau. Karena, mereka yang menjalaninya. Jadi, kita hanya memberi semangat dan selalu mendukung jalan yang mereka ambil,” tambah Indra lagi.
***
Selepas magrib, Arga mulai bersiap untuk berjualan keliling.
“Kunci pintu rumah, hingga aku pulang jangan membuka pintu jika ada orang yang tidak di kenal mengetuk pintu,” ujar Arga bicara tanpa melihat Meysi.
“Jam berapa pulang?” tanyanya.
“Jam 10.00 malam, mungkin bisa hingga tengah malam,” sahutnya.
Tampak Meysi berpikir.
“Aku ikut.”
“Tidak. Di rumah saja!” tolak Arga.
Alasannya menolak, bukan tidak ingin membawa. Akan tetapi, tidak ingin melihat Meysi kedinginan apa lagi ada banyak nyamuk yang nakal.
“Tidak. Aku tidak mau di ....”
“Di apa?” tanya Arga melihat Meysi tidak meneruskan ucapannya.
“Astaga! Aku hampir saja keceplosan!” gumamnya dalam hati.
“Maksudku, bagaimana jika ada yang berbuat jahat di luar sana. Secara, kamu tidak bisa berkelahi!” ejek Meysi.
“Aku bisa menjaga diriku!” celetuk Arga sembari mengenakan jaket miliknya.
“Aku tidak mau tahu. Aku ikut denganmu,” ujar Meysi tetap dengan pendiriannya.
Arga menghela napas kasar.
“Cepatlah! Aku tidak punya waktu banyak!” melangkah lebih dulu keluar rumah.
Meysi yang mendengarnya tersenyum puas.
Setelah memastikan rumah sudah terkunci, Arga perlahan mendorong gerobaknya di ikuti oleh Meysi di belakangannya.
“Bakso, bakso.”
Arga berhenti di tempat dirinya biasa nongkrong, dengan memukul mangkok dengan menggunakan sendok.
__ADS_1
Selang beberapa menit, datang seorang wanita yang biasa membeli baksonya.
“Bang, Arga. Beli baksonya dong.”
“Oke, Bu.”
Netra wanita itu tertuju pada wanita cantik yang duduk di sebelahnya.
“Siapa, Bang? Pacar barunya ya, bukan kah sudah punya istri?”
Arga yang mendengarnya langsung tersenyum kecut, belum selesai drama tadi sore dengan wanita janda yang datang ke rumahnya.
Kini datang lagi wanita yang berbicara dengan asal.
“Haha, bukan Bu,” sahut Arga dengan tertawa terpaksa.
“lalu, siapa dong?” tanya wanita itu lagi, karena sangat penasaran.
Tampak Arga sedikit kesusahan untuk menjawab.
“Kenalkan, Bu. Saya istrinya Bang Arga,” ujar Meysi mengulurkan tangannya.
“Oh istrinya. Bukan kah, istrinya sedang di kampung?”
Meysi menatap Arga sekilas.
“Iya, Bu. Saya kemari menyusul suami saya,” sahut Meysi lagi.
Setelah selesai membungkus bakso tersebut, Arga kembali duduk di kursi.
“Siapa istrimu yang di kampung?” tanya Meysi.
“A-anu ....”
“Anu apa? Kenapa kamu tampak gugup? Apa kamu punya kekasih?”
Arga tampak berpikir, lalu mengangguk pelan.
Melihat Arga mengangguk, ada raut kekecewaan dari wajah Meysi.
“Oh,” sahutnya dengan suara bergetar.
“Lebih tepatnya Istri. Tapi, aku tidak yakin! Jika dia menganggapku sebagai seorang suami.”
“Kenapa begitu? Bearti kamu sudah pernah menikah sebelumnya?” tanya Meysi masih belum mengerti.
Arga menggelengkan kepalanya.
“Aku lahir dan besar di rumah itu. Apa kamu pernah melihatku menggandeng wanita selain kamu?”
Meysi mulai mengerti arah pembicaraan Arga.
Hening sejenak.
“Pernikahan ini sebuah kesalahan. Aku tidak memaksamu, untuk mempertahankan pernikahan ini. Aku akan menerima semua keputusan darimu,” tutur Arga.
“Arga, Maafkan aku!” lirih Meysi.
“Jangan meminta maaf, Nona. Semua itu adalah salahku.”
“Ini bukan salahmu. Seandainya saja waktu itu aku tidak meninggalkan mu dan mendengar penjelasanmu. Mungkin, masalah ini tidak akan sejauh ini.”
“Tidak perlu menyesali yang telah berlalu, aku minta maaf, Nona. Tidak seharusnya, aku melakukan itu pada Nona.”
“Nona, kembali lah ke rumah besok. Semua orang pasti menunggu Nona di rumah.”
“Kamu mengusirku?”
“Tidak. Nona punya kehidupan di sana, Nona bisa kembali menjalani kehidupan yang baru dengan pria yang Nona cintai.”
Kembali hening.
“Berarti kamu tidak mau melanjutkan pernikahan ini?”
Arga tersenyum kecut.
“Untuk apa pernikahan tanpa di dasari cinta dan juga hanya salah satu saja yang menginginkan pernikahan ini berlanjut. Aku tidak ingin ada keterpaksaan di antara hubungan ini,” tutur lembut Arga.
“Kata siapa? Aku mau,” ujar Meysi, akan tetapi ia dengan cepat menutup mulutnya dengan tangannya.
Arga menoleh ke sampingnya, Arga mengulum senyumnya melihat Meysi yang keceplosan.
__ADS_1
***