Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 49


__ADS_3

Dua Minggu sudah berlalu, hari ini adalah hari bahagia untuk Meysi.


Dimana mereka telah meresmikan pernikahan mereka berdua, resepsi yang begitu sangat mewah bahkan di siarkan langsung di televisi.


Banyak yang memuji kecantikan Meysi, dirinya kini menjadi seorang putri.


Bahkan banyak temannya yang percaya jika Meysi secantik itu, mereka mengenalnya dulu dengan sosok wanita yang selalu berpakaian kebesaran dengan gaya tomboinya.


Yang paling antusias bahagia adalah Sifa, ia tidak menyangka jika Meysi akhirnya menikah juga. Ia berpikir dulu, jika tidak ada pria yang mau dekat dengannya dulu, apa lagi Meysi yang selalu memasang wajah galak pada semua pria.


resepsi kini sudah usai, semua orang pulang ke rumahnya masing-masing.


Meysi langsung merebahkan tubuhnya, karena sangat lelah sehari duduk dan berdiri untuk bersalaman dengan tamu undangan.


“Tamu banyak sekali! Itu tamu pernikahan atau pesta rakyat, banyak sekali!” gerutu Meysi.


“Cape?” tanya Arga yang baru tiba di kamar mereka.


“Iya, sangat lelah!” seru Meysi.


Saat ini mereka ada di apartemen milik Meysi, mereka berdua sepakat untuk tidak menginap di hotel.


“Ganti pakaiannya dulu, lalu bersihkan semua makeupnya. Setelah itu beristirahat,” tutur Arga lembut sembari melepaskan sepatunya.


Meysi duduk di tepi kasur, lalu membuka aksesoris di kepalanya yang masih menempel.


“Ish, bagaimana sih cara melepaskannya!” seru Meysi mencoba melepaskan aksesoris di kepalanya.


Arga yang melihatnya menggelengkan kepalanya, Arga beranjak dari duduknya untuk membantu istrinya yang tampak kesusahan dengan aksesorinya.


“Pelan-pelan Sayang,” ujar Arga lembut mulai melepaskan satu persatu hingga habis tidak bersisa.


Setelah itu, Meysi beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


Arga masih sabar menunggu istrinya di kamar mandi, sambil memijit kepalanya yang terasa sangat pusing.


“Arga, aku sudah selesai.”


Arga berdecap kesal karena Meysi masih saja memanggilnya dengan sebutan nama.


Tanpa menghiraukan Meysi, ia segera masuk ke kamar mandi.


Setelah mengenakan pakaian, Meysi lebih dulu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Ia merasakan tubuhnya sangat remuk, apalagi memakai pakaian yang cukup berat membuatnya sedikit kesusahan untuk bergerak.


Tak butuh waktu lama, Meysi langsing tertidur pulas tanpa menghiraukan suaminya lagi.


“Kasihan, pasti dia sangat lelah.” Arga juga menyusul ke tempat tidur, karena ia juga merasa sangat kelelahan.


Di tempat lain, seorang wanita menangis histeris bahkan membanting beberapa vas bunga yang terbuat dari keramik itu hingga hancur berkeping-keping.


Pyar !


“Aku benci kalian!” serunya menatap video rekaman yang sedang berlangsung di layar ponselnya.


***


Pagi harinya, Meysi menggeliat untuk merenggangkan semua otot-ototnya.


Ia meraba ke sampingnya dengan tangannya, akan tetapi ia tidak menemukan siapapun.


“Ke mana Arga sepagi ini?” gumamnya dengan suara seraknya.


Huamm!


Berulang kali Meysi menguap, sembari menutup mulutnya dengan tangannya.


Ia perlahan melangkah, tujuan utamanya saat ini adalah ke kamar mandi, setelah itu mencuci wajahnya.

__ADS_1


Selesai urusannya di kamar mandi, Meysi melangkah keluar kamar dengan langkah gontai.


Ia mencium aroma makanan yang sanga wangi dari arah dapur, tanpa menunggu lagi ia sudah bisa menebak jika Arga berada di dapur saat ini.


“Ar ....” ucapannya terhenti, saat melihat bukan Arga yang memasak, melainkan wanita paruh baya.


“Pagi, Nona.”


“Pagi,” sahut Meysi.


“Saya pembantu baru, Tuan Arga meminta saya untuk datang hari ini.”


Meysi mengangguk.


“Dimana suamiku?” tanyanya, karena tidak menemukan Arga sejak tadi.


“Tuan Arga lagi tadi sudah berangkat, Tuan tidak menitipkan pesan apa pun.”


“Oh, begitu! Baiklah, sekarang lanjutkan pekerjaanmu.”


Meysi mengernyit bingung, karena Arga pergi tanpa memberitahunya.


Ia kembali ke kamarnya, untuk mengambil ponsel miliknya.


Tut! Tut!


Panggilan masuk, akan tetapi belum di angkat oleh suaminya.


Meysi tidak putus asa, ia kembali lagi menghubungi suaminya, hingga terdengar suara Arga di sana.


“Halo, kamu dimana?”


“Sebentar lagi aku pulang,” sahutnya lalu mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


“Ck ....” Meysi berdecap kesal, karena Arga memutuskan telepon begitu saja.


***


__ADS_2