Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 25


__ADS_3

Cukup lama mereka berpelukan, hingga terdengar dengkuran halus dari arah dada bidang Reyhan.


Reyhan tersenyum simpul mendengar dengkuran halus istrinya, Zahra terbangun karena terkejut dengan adanya pergerakan.


“Ssshh ... tidurlah lagi,” ujar Reyhan pelan kembali menarik kepala istrinya agar kembali ke tempatnya semula.


Untuk pertama kalinya Reyhan memeluk wanita sambil berpelukan seperti yang ia lakukan saat ini, ia memberanikan diri mengecup pucuk kepala istrinya.


Zahra yang semula tertidur, kini terbangun. Ia baru menyadari jika dirinya saat ini masih berada di pelukan Reyhan.


Perlahan Zahra menarik tangannya yang melingkar di pinggang sang suami, ia mulai merenggangkan pelukannya.


“Kenapa bangun?” tanya Reyhan lembut menatap sang istri.


Zahra yang mendengar suara lembut Reyhan membuatnya semakin gugup, sangat berbeda dari sebelumnya yang sempat membentak dirinya.


Melihat sang istri hendak menjauhkan diri, Reyhan langsung menariknya kembali.


“Mau ke mana?” bisik Reyhan.


Mendengar bisikan Reyhan, Zahra langsung merinding.


“A-aku ....”


“Aku apa? Maaf aku sudah membentakmu tadi!” ujar Reyhan menatap sang istri dengan tatapan lembut.


Zahra mengernyit bingung dengan perubahan sikap Reyhan yang berubah drastis pada sebelumnya.


Reyhan membenarkan posisi tubuhnya, yang semula miring kini menjadi telentang.


Ia menarik pelan lengan Zahra, agar berbaring di sampingnya.


Bagaikan kerbau di cucuk hidungnya, Zahra menuruti keinginan suaminya. Bahkan meletakkan tangannya Zahra di atas perutnya.


“Maaf jika sikapku selama ini kurang begitu baik padamu!”

__ADS_1


Sembari mengusap lembut rambut halus istrinya.


Zahra mengangguk pelan.


Hening sejenak.


“Zahra,” panggil Reyhan lembut.


Mendengar Reyhan memanggil namanya, Zahra mendongakkan kepalanya.


Reyhan menatap bola mata sangat istri yang hitam legam itu.


“Iya,” sahut Zahra.


“Apa kamu mau memulainya dari awal?” tanya Reyhan pelan.


“Memulai apa?” tanya Zahra bingung, karena memang tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh sang suami.


Reyhan menghela napas panjang, selain malu ia juga sangat gugup.


Entah kenapa saat itu, ia masih ragu dengan dirinya sendiri.


Namun, melihat kedekatan Zahra pada Arga membuat dirinya takut akan kehilangan Zahra.


“Mm ... itu. Me-memulai hidup denganku,” bisik Reyhan.


Zahra terdiam sejenak, lalu tersenyum.


“Kenapa tersenyum?” tanya Reyhan dengan tatapan sayu, apalagi melihat bibir ranum istrinya.


Karena begitu tergoda, hingga tidak bisa menahan dirinya untuk mengecup bibir sang istri.


Cup!


Kecupan itu mendarat tepat di bibir sang istri, tanpa aba-aba lagi.

__ADS_1


Zahra mematung, untuk pertama kalinya juga ia merasakan bagaimana rasanya di kecil oleh pria.


Melihat tidak ada perlawanan dari sang istri, dirinya menganggap jika istrinya mengizinkannya.


Reyhan kembali mengecupnya sedikit ada luma**n di sana.


Di tengah aktivitasnya yang bermain dengan bibir sang istri, Reyhan langsung tersadar dan langsung melepaskan bibir mereka yang tengah menyatu.


“Maafkan aku, aku sudah lancang!” Ujarnya Reyhan kembali dengan posisi semulanya dengan napas yang masih naik turun.


“Tu-tuan. Se-sebenarnya, ini yang pertama untukku. Maafkan aku, jika aku belum bisa apa yang di harapkan oleh anda.” Dengan suara yang terbata-bata menahan rasa gugupnya.


“Tidurlah!” ujar Reyhan tanpa melihat sang istri, kembali dengan suara yang terdengar mencekam.


Bukan karena marah pada Zahra, tapi malu dengan perbuatan apa yang ia lakukan saat ini.


“Tu-tuan marah? Tadi sangat mendadak bagiku!”


Reyhan menghela napas berat, lalu memiringkan tubuhnya untuk menghadap sang istri.


“Tidak perlu meminta maaf. Aku yang seharusnya meminta maaf, karena sudah lancang menyentuhmu. Sekarang tidur lah!” menarik sang istri ke dalam pelukannya.


Namun, Zahra menahannya hingga membuat Reyhan mengernyit heran.


“Aku sudah sah menjadi istri anda, Tuan. Lakukan apa yang ingin anda lakukan padaku,” lirih Zahra.


Ia harus mengatakan itu, walaupun saat ini jantungnya berdetak begitu sangat kencang.


Reyhan menarik dagu istrinya, agar menatap dirinya.


“Kamu yakin?” tanya Reyhan, ia melihat wajah sang istri yang terlihat gugup.


Zahra mengangguk pelan.


Reyhan tersenyum, ia perlahan mendekatkan wajah mereka bahkan tidak ada jarak di antara mereka. Suara hembusan napas yang saling bertabrakan, terlihat masih ada rasa canggung di antara keduanya.

__ADS_1


***


__ADS_2