
Di dalam pesawat, Arga tampak banyak diam. Bahkan ia tidak banyak bicara pada asistennya, yang hanya ada di pikirannya saat ini adalah istrinya.
Arga mendapatkan kabar, jika Meysi sudah pulang ke rumah. Saat ini Arga bingung, di rumah sakit pun dirinya hanya bisa menatap dari kejauhan, apalagi kalau Meysi sudah di rumah.
Setiap dirinya menghubungi istrinya, selalu Reyhan yang mengangkatnya. Karena alasan Meysi sedang tidur dan jangan di ganggu.
Reyhan meminta Arga untuk menemui Meysi selama yang ia mau, karena itu adalah bentuk hukuman untuknya.
Arga menghela napas kasar, bingung harus bagaimana lagi cara menemui istrinya dan membujuk Reyhan.
“Kenapa Tuan?” tanya asistennya.
“Hah? Tidak ...” sahut Arga singkat.
Pesawat mendarat dengan sempurna, Arga sudah di dalam mobil menuju ke apartemennya. Sebenarnya dirinya ingin sekali ke rumah Reyhan, akan tetapi tidak ingin membuat Reyhan semakin marah lagi.
Arga langsung mengaktifkan ponselnya, karena di dalam pesawat tidak di perbolehkan untuk mengaktifkan ponsel.
Saat ponselnya aktif, ada pesan dari ayahnya masuk.
Senyumnya tampak mengambang, setelah membaca pesan tersebut.
“Pak, kita tidak perlu ke apartemen, kita langsung ke rumah utama saja,” ujar Arga dengan wajah yang sangat sumringah.
Kesempatan baik untuknya bertemu dengan istrinya.
“Baik, Tuan.”
Setiba di rumah utama, rumah tampak sepi. Bahkan terlihat dari luar jika lampu rumah ruang tengah terlihat gelap.
Deg ...
Tubuh Arga langsung lemas, ia bersandar di bahu kursi mobil. Bahkan ia hanya melihat mobil ayahnya yang berada di garasi.
“Tuan, kita sudah di rumah,” ujar sopirnya, karena melihat Tuannya tidak ingin keluar dari mobil.
“Ke mana semua orang, Pak? Kenapa sangat sepi? Bahkan mobil hanya ada satu di garasi.”
“Saya kurang tahu, Tuan.”
Arga mengangguk, ia melangkah dengan malas menuju pintu rumah. Di pikirannya saat ini selalu pada istrinya, ia berpikir pasti Meysi tidak berada di rumah saat ini.
Ting ... tong ...
Arga menekan bel pintu.
Namun, tidak ada yang membuka pintu. Arga mencoba mendorong pelan pintu tersebut, yang ternyata tidak di kunci.
“Tidak terkunci,” gumamnya.
Ia membuka pintu tersebut, lalu melangkah masuk. Karena sangat gelap, Arga menepuk tangannya dua kali agar lampu menyala ,untuk menerangkan rumah yang sangat gelap. Karena dirinya tidak mungkin melangkah ke kamar ayahnya dalam kegelapan.
Tek ...
Lampu menyala dengan sempurna, tampak banyak orang yang berdiri di ruang tengah itu.
“Happy birthday,” ucap mereka dengan serempak.
Arga tampak terkejut, ia terdiam sejenak.
Lalu tersadar, setelah melihat kedatangan istrinya masih duduk di kursi roda dengan membawa kue ulang tahun untuknya.
“Sayang,” gumamnya menatap sang istri yang begitu ia rindukan setelah tiga hari terpisah.
__ADS_1
“Selamat ulang tahun,” ucap Meysi tampak tersenyum bahagia.
Arga melangkah mendekati istrinya, ia berjongkok di depan istrinya yang masih duduk di kursi roda.
“Sayang, kamu ingat hari ulang tahunku?” tanyanya pelan.
Meysi tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.
Arga mengernyit heran.
“Tiup dulu lilinnya,” ujar Meysi.
Arga mengangguk, karena begitu bahagianya melihat istrinya hingga lupa dengan kue yang di bawa oleh Meysi.
Arga meniup lilin yang berangka 26 itu.
Semua orang bertepuk tangan, lalu kembarannya Mesya memberikan pada Arga pisau dan piring kecil.
Arga memberikan kue potongan pertamanya itu pada istrinya, lalu pada ibunya.
Setelah itu, semua orang memberikan selamat pada Arga. Begitupun dengan Reyhan, ia menepuk punggung Arga pelan.
“Selamat, selama tiga hari kamu bisa melewati semua ini.”
Arga tersenyum.
Lalu terakhir, ia kembali pada istrinya dan memeluknya. Karena begitu sangat merindukan Meysi, ia tidak menghiraukan orang sekitarnya lagi.
“Ekhem ... kami bukan obat nyamuk disini,” ujar Reyhan.
Membuat Arga langsung melepaskan pelukannya.
“Maaf,” sahutnya lirih.
Tidak ada tamu yang di undang, hanya saja semua keluarga yang berkumpul di rumah itu.
Semua orang memberi selamat atas lancarnya bisnis yang baru ia kembangkan, bahkan dalam beberapa bulan ia sudah membuka cabang di beberapa kota dengan jerih payahnya sendiri.
Tak terkecuali Mala sendiri sang ibu, ia begitu bangga pada putranya.
Arga mengantar istrinya yang harus istirahat, apalagi luka yang masih belum sembuh total.
“Sayang.” Arga kembali memeluk istrinya, setelah memastikan pintu kamar terkunci.
“Aku tidak menyangka jika kamu menyiapkan semua ini. Aku sangat bahagia, kita bisa bertemu lagi. Aku sungguh tersiksa, selama tiga hari berpisah darimu.”
Masih memeluk erat sang istri.
“Sstt ... sayang, kamu banyak bicara sejak tadi.”
Arga terkekeh.
Perlahan Meysi melepaskan dekapan Arga padanya, lalu perlahan berdiri dari kursi rodanya agar sejajar dengan suaminya.
“Apa sangat sakit?” melihat wajah Meysi tampak meringis menahan sakit.
Meysi mengangguk.
“Maafkan aku.” berulang kali mencium tangan istrinya, dirinya begitu sangat bersalah atas penembakan itu. Karena kelalaiannya, istrinya menjadi korban tembakan sahabatnya sendiri.
“Jangan minta maaf terus, Sayang. Aku yang salah, aku yang tidak menjaga diriku.”
Meysi kembali memeluk sang suami, mereka saling melepas rindu dengan saling berpelukan.
__ADS_1
Arga melepaskan pelukannya, lalu mengajak sang istri untuk duduk di kasur. Karena harus memberikan istrinya untuk istirahat.
“Sekarang istirahatlah,” ucap Arga perlahan membantu istrinya untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Meysi mengangguk, Arga memberi kecupan di kening istrinya. Lalu berpamitan untuk mandi, karena dirinya belum mandi dan menggantikan pakaiannya setelah pulang dari luar kota.
Setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, Arga keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya.
Ia melirik istrinya yang sudah tertidur pulas, dengan napas yang sudah beraturan.
Ia melangkah dan berjongkok menatap lekat wajah istrinya yang begitu sangat cantik saat tertidur.
“Sayang, aku berjanji akan menjagamu lebih ketat lagi. Aku tidak mau kejadian ini terulang lagi, walau nyawaku menjadi taruhannya. Aku sangat bersalah melihatmu yang begitu kesakitan,” gumamnya dalam hati.
Ia merapikan rambut yang menjuntai menutupi wajah cantik istrinya.
Puas memandang wajah cantik sang istri, Arga beranjak dari tempat ia berjongkok lalu melangkah untuk membuka koper miliknya.
Setelah selesai, perlahan ia membuka pintu ingin ke kamar ayahnya. Karena sebelumnya Toni meminta dirinya untuk menemuinya di ruang kerja setelah Meysi tidur.
Sebelum itu, ia ke dapur untuk membuatkan kopi untuknya.
Di dapur, tampak ibunya tengah duduk di kursi.
“Ibu, masih belum tidur?” tanya Arga melihat ibunya duduk di kursi.
“Belum. Ibu menunggumu,” sahutnya.
“Menungguku? Ada apa Bu?” memeluk sang ibu dari arah belakang.
“Aku sangat merindukan Ibu,” ucap Arga.
“Sama, Ibu juga merindukanmu. Oh ya, ini Ibu mempunyai hadiah untukmu.” Mengeluarkan kotak kecil dari kantong bajunya.
Arga melepaskan pelukannya pada ibunya.
“Apa ini, Bu?” tanyanya mengambil kotak kecil yang terbungkus dengan kertas kado itu.
“Buka saja,” tutur ibunya lembut.
Perlahan Arga membuka bungkus itu, lalu membukanya.
Tampak sebuah cincin sepasang di dalamnya.
“Ibu sudah lama menyimpan ini. Dulu Ibu ingin memberikannya sebagai hadiah pernikahan kalian, akan tetapi Tuan Reyhan sudah membelikannya untuk kalian yang lebih bagus dan sangat mahal.”
Arga tersenyum, lalu memberi kecupan di pipi ibunya.
“Ini sangat indah, pasti Meysi sangat menyukainya. Ibu, harga hanyalah angka, tidak perlu minder. Ini adalah hadiah yang luar biasa,” ujar Arga kembali memeluk di ibunya.
“Aku akan memberikannya pada Meysi besok, karena sekarang Meysi sudah tidur.”
Ibu Mala mengangguk, ia terlihat bahagia karena Arga sangat senang menerima kado darinya.
Arga melepaskan dekapannya, lalu meminta ibunya untuk istirahat.
Karena sudah larut malam, apalagi mengingat usia ibunya yang sudah tidak muda lagi.
"Sekarang Ibu istirahat," ujar Arga lembut.
Mala mengangguk, lalu beranjak dan melangkah ke kamarnya yang ada di lantai atas.
***
__ADS_1