
Pagi yang sejuk, masih terasa dingin sisa hujan semalam.
Alarm berbunyi tidak membangunkan sepasang suami istri ini, bahkan kembali tidur setelah mematikan alarm yang berbunyi tersebut.
Ia kembali memeluk sang istri yang masih dalam selimut tebalnya.
Zahra bergumam dalam selimut, ia meregangkan badannya yang terasa sangat pegal.
Ia setengah terkejut merasakan tangan kekar yang melingkar di perutnya, ia segera menoleh ke sampingnya dan ia baru menyadari ia tidur di samping sang suami bukan di sofa lagi.
“Astaga! Aku sangat malu,” gumamnya dalam hati mengingat kejadian semalam.
Zahra perlahan membalikkan tubuhnya menghadap sang suami.
Melihat Reyhan yang masih tertidur pulas, bahkan terdengar dengkuran kecil menandakan jika Reyhan masih tertidur pulas.
“Aku tidak tahu ke depannya nanti, apakah kita akan bersama atau tidak? Bahkan hingga detik ini, aku merasa belum pantas untuk menjadi istrimu,” tambahnya masih memandang wajah sang suaminya yang begitu menenangkan.
Zahra meletakkan telunjuknya di bibir sang suami yang berwarna pink pucat, lalu naik ke hidung yang begitu mancung.
Reyhan merasakan ada yang mengganggu di wajahnya, dengan cepat ia menangkap tangan sang pengganggu tersebut.
“Kamu mau apa? Kenapa mengganggu tidurku?” tanya Reyhan dengan suara paraunya, dengan keadaan mata yang masih tertutup.
“Maaf, Tuan.” Zahra segera menarik tangannya, bahkan ia mengutuk dirinya sendiri sudah berani menyentuh wajah sang suami.
Reyhan perlahan membuka kelopak matanya, pertama yang lihat adalah wajah sang istri yang tengah sibuk mencari sesuatu.
“Cari apa?” tanya Reyhan menarik kembali tubuh istrinya dan memeluknya dari belakang.
“Tu-tuan, aku mau ke kamar mandi.” Berusaha melepaskan dekapan Reyhan, apalagi tangan Reyhan mulai tidak bisa di kondisikan.
“Hm ...” dehamnya.
Reyhan mengecup sekilas bahu mulus sang istri, akan tetapi berulang kali.
Kini bibir itu menjalar ke tengkuk leher Zahra, karena belum terbiasa membuat Zahra merasa sangat geli.
Entah kenapa, Reyhan kini ingin mengulang lagi permainan yang mereka lakukan semalam.
Zahra hanya pasrah tidak bisa menolak permintaan sang suami, walaupun masih terasa sakit.
Tidak butuh waktu lama untuk mereka mengulangnya lagi, seusai itu Zahra kembali tertidur.
Reyhan menutup kembali tubuh polos sang istri dengan selimut tebal tersebut, sebelum beranjak ia mengecup berulang kali wajah sang istri.
Reyhan mengambil pakaian yang tergeletak di lantai, lalu mengenakannya.
Saat hendak melangkah ke kamar mandi, terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
Karena kamar tersebut kedap suara, sehingga tidak terdengar suara dari luar.
__ADS_1
Reyhan melangkahkan kakinya menuju pintu.
Ceklek! Pintu terbuka.
Reyhan hanya membuka sebagian.
“Ada apa Mey?” tanya Reyhan melihat adiknya yang sudah berpakaian rapi.
“Kak, Kaka tidak ke kantor?” tanyanya melihat sang kakak masih berpakaian tidur dan seperti baru bangun.
Reyhan hanya menggelengkan kepalanya.
“Kak aku butuh tanda tangan Kakak, aku dan Arga akan pergi ke luar kota jam 09.00 nanti.”
Reyhan mengambil berkas yang ada di tangan adiknya dan lalu menandatanganinya.
“Dimana Zahra?” tanya Meysi ingin masuk ke kamar kakaknya.
“Sudah,” ujar Reyhan dengan cepat menyerahkan berkas tersebut.
Karena ia tidak ingin adiknya masuk ke kamar, apalagi melihat keadaan Zahra yang tidur tanpa busana.
Meysi mengernyit heran dengan sikap kakaknya.
“Apa Zahra masih tidur?” tanya Meysi lagi.
“Iya, masih tidur. Berhati-hati lah di jalan, hubungi Kakak jika sudah tiba di sana.”
Mengusap pipi sang adik dengan pelan.
“Apa aku boleh masuk, aku ingin bertemu dengan Zahra. Hanya sebentar,” ujar Meysi memelas.
“Tidak. Zahra masih tidur,” tolak Reyhan malah menahan pintu dengan tangnya.
“Pelit sekali!” protes Meysi dan terpaksa melangkah pergi.
Reyhan hanya terkekeh melihat wajah adiknya yang cemberut.
Setelah adiknya menghilang dari pandangannya, Reyhan menutup pintu kembali dan menguncinya.
Saat berbalik badan, ia melihat sang istri sudah terbangun bahkan saat ini sedang mengenakan pakaiannya.
“Tidur saja, jika masih lelah.” Duduk di samping sang istri.
Zahra tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
“Masih sakit?” tanya Reyhan, karena saat ia melakukannya untuk kedua kali, ia melihat sang istri kesakitan.
Zahra sangat malu dengan pertanyaan sang suami, memang mereka sudah lama menikah. Akan tetapi, hari ini adalah hari pertama kalinya mereka melakukan hubungan suami istri.
Zahra kembali menggelengkan kepalanya, lalu memalingkan wajahnya agar tidak terlihat oleh sang suaminya jika saat ini wajahnya sedang merah merona.
__ADS_1
“Mau ke mana?” tanya Reyhan menahan tangan sang istri yang melihatnya hendak beranjak.
“Mau ke kamar mandi,” sahut Zahra lembut.
Reyhan tersenyum lalu mengangguk.
Saat hendak melangkah, Zahra berdesis. Ia menahan sakitnya di bawah sana, Zahra terdiam sejenak menahan perihnya di bawah sana.
Melihat sang istri kesakitan, Reyhan terlihat merasa sangat bersalah. Karena sakitnya sang istri ini akibat ulahnya, apalagi pagi ini ia tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak mengulanginya lagi.
Reyhan berinisiatif untuk membawa Zahra, tanpa menunggu lagi ia langsung menggendong tubuh sang istri dan membawanya ke kamar mandi.
“Tu-tuan, aku bisa sendiri.” Setengah memberontak agar Reyhan menurunkannya.
“Diamlah! Jika kamu memberontak, kita akan sama-sama terjatuh! Aku hanya membantumu saja.”
Mendengar itu, Zahra langsung terdiam. Bahkan ia mengalunkan tangannya di leher sang suami.
Setibanya di dalam kamar mandi, perlahan Reyhan menuruni istrinya.
“Apa perlu aku bantu?” tanyanya karena melihat sang istri hanya diam.
“Tidak! Aku bisa sendiri. Keluarlah dulu, aku ingin mandi.”
“Yakin?” tanyanya.
“Iya, Tuan.”
Setelah melihat sang istri mengangguk, Reyhan melangkah keluar dari kamar mandi.
Sambil menunggu sang istri selesai mandi, Reyhan keluar kamar untuk mengambil sarapan untuk mereka berdua.
“Anton,” panggil Reyhan saat melihat anak pak Toni yang paling bungsu itu bersiap keluar rumah.
“Iya, Kak.”
Anton mengernyit heran, melihat Reyhan yang masih menggunakan pakaian tidur, bahkan terlihat baru bangun dengan wajah masih sembab.
“Atur jadwal meeting ku pagi menjadi setelah makan siang nanti, aku akan ke kantor setelah makan siang.”
Anton hanya bisa mengangguk, karena Anton saat ini di pindah ke kantornya Reyhan bukan lagi di kantor Meysi.
Setelah mengatakan itu, Reyhan langsung melangkah ke dapur untuk mengambil sarapan untuk dirinya dan istrinya.
“Pagi Bi,” sapa Reyhan pada istri Toni yang tengah sarapan di meja makan.
“Pagi, dimana Zahra?” tanyanya melihat Reyhan hanya datang sendiri.
“Ada di kamar. Kami akan sarapan di kamar,” sahut Reyhan sembari meletakkan segelas susu dan kopi tidak lupa Reyhan meletakkan tiga roti yang sudah di lapisi selai.
Mala mengangguk, ia juga membantu Reyhan untuk mengoles roti tersebut.
__ADS_1
Di rasa semua sudah cukup, Reyhan berpamitan untuk kembali ke kamarnya.
***