
“Nona, ini semua untuk saya? Ini terlalu banyak, Nona. Maaf saya tidak bisa terima ini,” tolak Zahra melihat semua belanjaan di berikan padanya.
“Jangan menolak, ini calon suamimu yang membelikannya,” bisik Meysi.
Zahra langsung menutup mulut Meysi, karena bicara terlalu nyaring. Sang ibu belum mengetahui kejadian yang sebenarnya, jika dirinya bersedia menikah dengan Reyhan demi kesembuhan ibunya.
“Maaf, Ibu ku belum mengetahuinya Nona."
Wajah Zahra terlihat sedih, akan tetapi ia berusaha menutupinya.
“Iya, jangan katakan sekarang. Kesehatan Ibu mu lebih penting, dari awal sudah aku katakan! Aku tidak memaksamu. Tapi, kamu yang sudah berjanji padaku, untuk bersedia menikah dengan Kakakku!” bisik Meysi.
Zahra mengangguk, ia bahkan mengutuk dirinya telah berkata seperti dan berjanji untuk bersedia menikah dengan Reyhan.
Saat itu, ia tidak bisa berpikir jernih. Apalagi kesehatan ibunya saat itu menurun dan membutuhkan biaya untuk di rawat di rumah sakit.
“Kenapa Nona meminta ku untuk menikah dengan Tuan Reyhan? Bukankah, banyak gadis di luar sana? Mereka lebih baik dari pada aku.”
“Zahra. Tidak ada alasan lagi untukmu menolak perjodohan ini, kamu sudah berjanji. Aku tahu kamu wanita sepertimu yang tidak pernah ingkar janji,” Ujar Meysi.
Zahra mengangguk, ia sudah tidak bisa menarik ucapan yang pernah ia katakan. jika, dirinya akan mau menikah dengan Reyhan.
Setelah mengatakan itu, Meysi berpamitan untuk pulang.
Setelah kepergian Meysi, Zahra lagi-lagi menghela napas kasar, ia menutup pintu rumahnya.
“Iya. Semua Nona Meysi yang membelikannya, kamu pilih yang cocok untukmu.” Zahra mengerti tatapan adiknya yang meminta penjelasan, karena melihat belanjaan drinya yang begitu banyak.
Mendengar itu, Zanira kegirangan dan langsung membuka satu persatu paper bag tersebut.
“Kak, Aku tidak pernah melihat kakak membawa teman Kakak ke rumah ini. Sepertinya, dia bukan orang sembarangan.”
“Oh itu. Di-dia teman kakak yang baru saja tinggal di kota ini,” sahut Zahra tampak gugup.
Zanira percayainya dan mengangguk mengerti.
“Kak, pria itu sangat tampan sekali. Tapi, dia selalu mencuri pandang terhadap Kakak. Apa dia Kakak dari teman perempuan Kakak?”
“Iya. Dia begitu khawatir pada adiknya, karena kemari tidak memberitahu orang rumah.
Mendengar penjelasan dari kakaknya, Zanira mengangguk mengerti, dengan tangan yang masih aktif memilih pakaian yang cocok untuknya.
***
Di dalam mobil, Reyhan masih fokus menyetir mobilnya.
“Apa kamu sudah senang sekarang?” tanya Reyhan pada adiknya ya tengah sibuk dengan ponsel miliknya.
__ADS_1
“Bagaimana dengan Kakak? Apa kakak sudah berubah pikiran setelah bertemu dengan Zahra? Aku tidak memaksa jika tidak ingin menerima Zahra, karena Zahra juga mengatakan jika dirinya akan di nikahkan oleh pilihan Pamannya,” ujar Meysi berbohong.
“Ya, begitu. Jika Kakak tidak ingin menikah, ya tidak apa-apa. Aku juga tidak ingin memaksa Kakak!” Meysi menampakkan raut wajah sedih yang di buat-buatnya.
“Kalau Zahra ingin di jodohkan dengan orang lain, lalu kenapa kamu bersikeras ingin memintaku menikah dengannya? Hingga kabur dari rumah!”
Deg!
Jawaban di luar dugaan, Meysi mati kutu. Niat awal ingin membuat kakaknya cemburu, malah senjata berbalik arah padanya.
“Kakak tidak ingin menikah dengan perempuan yang sudah di jodohkan oleh keluarganya dengan orang lain, sudah cukup bermainnya Meysi. Sekarang fokus pada bisnis yang sedang berkembang!”
“Zahra menolak pria itu, karena pria itu sudah beristri!” ujar Meysi tidak kehabisan akal.
Reyhan mulai tidak tertarik lagi dengan pembicaraan adiknya tersebut.
“Kak. Selamatkan Zahra dari pria tua itu dan menikahlah dengannya. Jujur, aku hanya ingin punya Kakak perempuan. Setelah Mesya menikah, aku sangat kesepian.”
“Ada banyak orang di rumah, kamu begitu bahagia berteman dengan Arga. Setiap malam kalian bercanda bersama, Kakak tidak melihat jika dirimu kesepian.”
“Dia pria, aku juga harus menjaga batas Kak. Ah, sudahlah! Kakak tidak mengerti!” Meysi melipat kedua tangannya dengan wajahnya yang cemberut.
Tiba di depan rumah mereka, Reyhan melihat wajah adiknya yang kembali cemberut.
“Sayang. Jika itu membuat kamu bahagia, Kakak akan melakukan apa yang kamu inginkan dan kamu berjanji tidak pergi lagi dari rumah,” tutur Reyhan lembut dengan memiringkan tubuhnya.
“Kakak serius?” menatap netra kakaknya.
“Aku tidak berbohong. Asal adikku sendiri yang mempersiapkan semuanya,” Ujarnya mengusap pipi mulus adiknya.
Mendengar itu, Meysi langsung memeluk kakaknya, bahkan ia meneteskan air matanya.
“Sebahagia itu dia mendengar diriku setuju untuk menikah?” gumam Reyhan dalam hati.
Meysi masih memeluk erat kakaknya, seakan enggan untuk melepaskannya.
Ia tidak menyangka, dengan kepergiannya dari rumah membuat kakaknya akan bersedia menikah dengan Zahra.
Meysi mengutuk dirinya, kepergiannya dari rumah kenapa tidak ia lakukan sejak dulu.
***
Suami istri ini, baru saja bangun dari tidur panjang mereka.
Karena hari ini hari Minggu, Indra tidak ke kantor.
“Hm ...” gumamnya, akan tetapi tidak membuka matanya.
__ADS_1
Sebenarnya, Mesya sejak tadi sudah terbangun. Ia sangat malu mengingat pertempuran antara dirinya dan suaminya kemarin.
Malu karena dirinya lebih dulu memulainya.
“Apa kamu tidak lapar?” tanya Indra lagi, berubah posisi miring menghadap istrinya.
Mesya hanya mengangguk.
Perlahan Mesya membuka kelopak matanya, netra mereka saling bertemu.
“Kamu sangat cantik Sayang, apalagi baru bangun tidur.”
Mesya hanya tersenyum mendengarnya.
“Maafkan aku ya, maaf sudah membuatmu marah dan kecewa padaku. Jujur, aku masih belum yakin jika anak itu adalah putraku. Hasil tes DNA itu ....”
“Sstt ... aku percaya padamu, Mas. Maafkan keegoisanku kemarin, aku baru menyadarinya sekarang.”
“Seharusnya aku minta maaf. Aku ingin kita selalu bersama, kita cari sama-sama kebenarannya. Namun, dengan melanjutkan sandiwara kita,” tambah Mesya.
“Sandiwara?” tanya Indra mengernyit heran.
Sejenak Indra berpikir untuk mencerna perkataan istrinya, senyumnya langsung mengambang dari bibir ranumnya karena sudah mengerti apa yang di maksud oleh istrinya.
Indra memeluk istrinya erat, akan tetapi tangannya begitu aktif hingga membuat istrinya sedikit kesal.
Plak!
Mesya memukul tangan suaminya, karena tangan suaminya sudah berada di area favoritnya.
“Sebentar saja. Kamu hanya menikmatinya saja, biarkan aku yang bekerja,” ujar Indra menyeringai.
Mesya hanya pasrah, melawan pun tidak bisa. Karena sang suami sudah berada di atasnya.
Suara indah kembali terdengar dari mulut istrinya, membuat Indra semakin bersemangat untuk melakukan perkerjaan yang membuat mereka berkeringat.
“Aku mencintaimu sayang,” bisik Indra pada telinga istrinya, setelah selesai dengan tugas penting mereka.
Mesya tersenyum hanya tersenyum, karena sangat malu dengan aktivitas mereka yang sebelumnya ia menolak.
Akan tetapi, dirinya yang paling menikmati akan permainan sang suami.
“Aku juga mencintaimu,” sahutnya.
Indra beranjak dari tubuh istrinya, lalu mengendong istrinya untuk ke kamar mandi dan mandi bersama.
***
__ADS_1