
Zahra mengernyit heran melihat Arga yang keluar dari kamarnya dan melangkah keluar rumah dengan wajah yang tidak biasa.
“Arga. Dia sudah pulang? Lalu dimana Meysi?” gumamnya berhenti di tengah anak tangga.
Lalu Toni juga baru keluar dari kamar Arga, dengan raut wajah yang tidak biasa.
“Paman, dimana Meysi?” tanya Zahra.
“Belum kembali Nona. Saya permisi,” pamit Toni setengah mengatakan itu.
Zahra di buat heran dengan raut wajah antara ayah dan anak itu.
Zahra tidak memusingkan hal tersebut, ia kembali melanjutkan langkahnya. Karena hari ini ia akan memasak makanan kesukaan sang suami dan itu atas permintaan Reyhan sendiri.
“Bi,” sapa Zahra melihat Mala sedang meracik sayuran.
“Iya, Nona.”
“Arga sudah kembali dari luar kota ya?”
Mala menghentikan aktivitasnya memotong sayuran, ia menoleh ke arah Zahra sambil mengernyit heran. Karena yang ia ketahui, jika Arga dan Meysi sedang berada di luar kota, untuk melihat cabang perusahaan disana.
“Arga sudah pulang? Aku belum bertemu dengannya Nona.”
Zahra hanya mengangguk mengerti, lalu mereka berdua memasak bersama di dapur di hiasi canda dan tawa mereka berdua.
***
Di apartemen.
Meysi duduk di balkon sambil menatap hamparan pesisir pantai yang di sapu oleh ombak berulang kali.
Tatapannya memang kosong, akan tetapi pikirannya selalu pada Arga yang ternyata tega berbuat yang tidak wajar padanya.
Meysi tidak menyangka, jika pria yang sudah di anggap seperti adik olehnya. Kini menjadi suaminya, yang jauh lebih muda darinya.
“Bagaimana jika Kakak tahu tentang ini? Aku harus jawab apa?” gumam Meysi dalam hati.
Meysi menyandarkan punggungnya, sembari memijit pelipis yang terasa pusing.
Ting! Tong!
Suara bel berbunyi, menandakan ada tamu datang.
Dengan langkah malas, Meysi membuka pintu tersebut. Ia terkejut melihat kedatangan Toni ke apartemennya, bahkan ia belum memberitahu orang rumah jika dirinya sudah kembali dari luar kota.
“Huftt ... aku lupa! Jika Paman dingin ini, pasti begitu mudah mendapatkan info!” gumamnya dalam hati.
“Paman,” sapanya memperlihatkan senyum paksanya.
“Nona. Apa aku bisa berbicara dengan Nona sebentar?” tanya Toni.
“Tentu saja. Silakan masuk,” sahut Meysi.
“Aku sengaja tidak pulang ke rumah, karena aku ingin menenangkan diri. Karena aku sangat lelah dengan begitu banyak pekerjaan di luar kota kemarin,” ujarnya berbohong.
Toni yang mendengarnya tersenyum kecut, karena sebenarnya dirinya sudah tahu apa yang terjadi pada Meysi dan putranya.
“Nona, aku tidak mau basa basi lagi. Aku akan memaksa Arga untuk menceraikan anda, saya tidak ingin anda tertekan dengan pernikahan ini dan juga saya akan mengusir Arga dari rumah sebagai bentuk hukuman baginya! Maafkan putra saya telah berbuat tidak senonoh pada anda, saya sangat malu dengan perbuatan putraku!”
__ADS_1
Toni menunduk malu dan bahkan ada rasa sedih telah mengusir putranya sendiri. Tapi, mau bagaimana lagi? Dirinya sudah berjanji dengan mendiang nenek Dira, jika dirinya akan menjaga cucunya.
Sontak membuat Meysi membulatkan matanya mendengar penuturan Toni.
“Paman, aku ....”
“Anda tidak perlu cemas, saya akan bertanggung jawab jika Tuan Reyhan mengetahui hal ini!” sela Toni.
“Paman tenang dulu. Dimana Arga sekarang?” tanyanya.
“Saya tidak tahu dimana Arga saat ini. Tapi, saya sudah memintanya angkat kaki dari rumah. Saat ini, Arga masih tidak mau bercerai dari anda.”
“Aku akan menghubungi nanti dan berusaha membujuknya untuk menceraikan anda. Sekali lagi, saya minta maaf atas perbuatan Arga.”
“Astaga, Paman! Kenapa Paman mengusirnya?”
Meysi tidak habis pikir jalan pikiran Toni saat ini, yang begitu tega mengusir darah dagingnya sendiri.
“Itu hukuman yang pantas untuknya! Aku tidak ingin anda tidak pulang ke rumah, karena keberadaan Arga.” geram Toni.
Meysi menghela napas kasar, niat dirinya hanya ingin menenangkan dirinya sejenak, bahkan tidak ada terbesit di pikirannya untuk mengakhiri pernikahan dadakan mereka.
“Pulang lah Nona, Nona Zahra menanyakan anda tadi.”
“Aku akan pulang sore ini!” sahut Meysi sembari mengambil ponsel miliknya.
Setelah mengatakan itu, Toni pergi dari apartemen itu. Karena tidak ingin berlama-lama, apalagi pekerjaan kantor sedang menunggunya saat ini.
Sementara Meysi tengah sibuk membaca pesan dari Arga, ia kembali membuka nomor Arga yang sebelumnya sudah di blokir olehnya.
Isi dari pesan Arga.
Kejadian di mobil itu hanya salah paham, aku tidak pernah menyentuhmu sama sekali. Apalagi berbuat mesum seperti yang di tuduhkan oleh orang-orang terhadapku.
Saat ini aku akui sedang memandang wajahmu dari dekat, aku akui itu kesalahan sangat fatal hingga membuat kita terpaksa di nikahkan.
Percaya atau tidak itu ku serahkan padamu, waktu itu aku hanya memandangmu dari dekat dan menyelipkan rambut mu ke belakang telinga menggunakan jari telunjukku. Aku berkata jujur, bahkan aku bersumpah demi nama tuhan.
Maafkan aku Meysi, aku tahu dirimu saat ini pasti sangat membenciku. Tapi percayalah, sebesar apapun kebencianmu padaku aku tidak akan pernah meninggalkan mu, bagiku pernikahan cukup satu kali seumur hidup.
Aku hanya bisa menjelaskannya melalui pesan ini, karena tidak ada yang mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu.
Yang menyayangimu, Arga.
Meysi membaca pesan tersebut, dirinya saat ini merasa sangat bersalah. Karena tidak mau mendengar terlebih dahulu penjelasan Arga dan sudah berpikir buruk tentangnya.
Meysi menekan nomor Arga, akan tetapi nomor tersebut sudah tidak aktif lagi.
“Astaga! Kenapa aku bodoh sekali?!” Meysi mengutuk dirinya sendiri.
Tanpa menunggu lagi, Meysi bergegas dari apartemennya untuk pulang ke rumah. Sebelum Reyhan mengetahui hal ini dari orang lain, ia berniat memberitahu kakaknya.
Dalam perjalanan, Meysi masih mencoba menghubungi nomor Arga, akan tetapi nomor tersebut sudah tidak bisa di hubungi lagi.
“Apa Arga benar-benar pergi?” gumamnya dalam hati.
Setibanya di rumah, Meysi berlari kecil masuk ke dalam rumah.
“Zahra,” sapa Meysi dengan napas yang naik turun.
__ADS_1
Kebetulan saat itu Zahra tengah duduk di sofa, sambil menunggu suaminya pulang dari kantor.
“Mey. Kapan kamu kembali?” tanya Meysi.
“Zahra, apa kamu melihat Arga?” tanya Meysi duduk di sebelah kakak iparnya tersebut.
“Arga? Aku tidak melihat Arga pulang. Tapi, aku terakhir melihat Arga keluar dari rumah, aku belum tahu ke mana dia pergi.”
“Hah ... dia sudah pergi beneran?” tanya Meysi terlihat lemas.
“Ada apa Mey?” tanya Zahra melihat adik iparnya sedang cemas.
“Aku. A-aku bingung harus mengatakannya dari mana?” mengusap wajahnya kasar.
Meysi perlahan menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan Arga. Di paksa menikah oleh warga di sana, karena salah paham.
Zahra yang mendengarnya langsung melongo, bahkan tidak percaya saat ini Meysi dan Arga sudah menikah.
Sebelumnya, ia melihat Arga dengan wajah lebam keluar dari kamarnya.
Zahra saat ini baru mengerti, jika ada pertengkaran antara Arga dan ayahnya di dalam kamar.
“Meysi!” teriak Reyhan keluar dari mobil miliknya.
Zahra dan Meysi yang mendengarnya langsung ketakutan, apalagi melihat wajah Reyhan yang terlihat sangat marah.
“Kakak,” lirihnya langsung berdiri dari tempat duduknya.
Reyhan masuk dengan langlah besar, menghampiri adiknya.
“Apa ini?!” memperlihatkan koran di tangannya pada Meysi, sembari menatap tajam adiknya.
“Lihat ini!” bentak Reyhan.
Membuat nyali Meysi menciut.
“Sabar Sayang,” Ujar Zahra mengusap pelan bahu suaminya.
Reyhan hanya bisa menghela napas kasar.
Meysi membuka lebar koran tersebut, terpampang jelas wajah dirinya dan Arga yang tengah berjabat tangan dengan pak ustadz.
Dalam koran tersebut bertuliskan, adik dari pengusaha muda sedang melakukan hubungan terlarang di dalam mobil dan di bawa paksa oleh warga untuk di nikahkan.
“Kamu sudah mencoreng nama baikku! Sekarang beberapa klien membatalkan kerja samannya! Apa aku pernah mengajarkan mu untuk berbuat zina di luar sana?!” bentak Reyhan.
“Kak, mereka menyebarkan berita yang tidak tahu kejadian yang sebenarnya! Aku berani bersumpah, aku dan Arga tidak melakukan dosa itu.”
“Jangan pernah bersumpah atas perbuatan yang kamu lakukan! Aku sangat salah mempercayai mu pergi dengan Arga. Aku sangat kecewa pada mu!”
Reyhan duduk di sofa sembari memijit kepalanya, tidak menyangka dengan perbuatan yang di lakukan adiknya saat ini.
“Kak, percayalah padaku kak! Aku tidak melakukan itu.” Meysi terduduk di lantai tangannya bertumpu pada paha kakaknya dengan air mata yang mengalir.
Sementara Zahra menerima telepon dari Indra, karena sejak tadi Indra menghubungi ponsel Reyhan akan tetapi di angkat.
“Apa?! Mesya di culik?” pekik Zahra, membuat Meysi dan Reyhan langsung menoleh ke arah Zahra.
***
__ADS_1