Istri Untuk Reyhan

Istri Untuk Reyhan
Bab 23


__ADS_3

Acara malam ini telah usai, semua orang pulang ke rumahnya masing-masing, tak terkecuali suami istri yang baru saja menikah itu.


Reyhan juga tidak ingin menginap di hotel, ia ingin kembali ke rumah malam ini juga bersama yang lainnya, baginya menginap di hotel adalah hal yang membosankan apalagi harus jauh dari adiknya.


Reyhan dan Zahra sudah berganti pakaian dengan pakaian biasa. Saat ini mereka tengah berada di dalam lift, Zahra bersandar di dinding lift, sedangkan Reyhan sedang berbicara pada seseorang di telepon.


Bahkan di dalam mobil pun tidak ada percakapan di antara mereka berdua, hanya keheningan yang tercipta.


Setiba di rumah, Zahra tampak kebingungan. Untuk pertama kalinya ia masuk ke dalam rumah yang sangat besar tersebut.


“Kamarnya ada di lantai atas,” ujar Reyhan tanpa menoleh dan melangkah lebih dulu meninggalkan Zahra yang masih mematung.


Dengan langkah yang berat, Zahra mengikuti pria yang baru saja menjadi suaminya tersebut.


Di kamar, netra menatap sekeliling di dalam kamar tersebut. Kamar yang begitu luas, bahkan kamar ini lebih luas dari rumahnya.


Reyhan melepas sepatunya lalu meletakkannya di sembarang arah.


“Jangan menyentuh barang yang ada di kamar ini. Kamu memang istriku, tapi bukan berhak menyentuh semua barang ku!” dengan semua penuh penekanan.


Niat Zahra ingin meletakkan sepatu tersebut pada tempatnya, akan tetapi di urungkannya setelah mendengar perkataan Reyhan. Saat ini ia hanya bisa menelan saliva kasar.


“Apa yang kamu lakukan di sana? Apa kau ingin berdiri di sana sepanjang malam?!”


Zahra hanya bisa mengangguk pelan, ia menggeret koper miliknya.


Karena dari hotel dirinya sudah berganti pakaian, hingga ia tidak perlu mengganti pakaiannya lagi.


Zahra kali ini bingung harus tidur di mana, apa lagi ia melihat Reyhan yang sudah menutup matanya dan menguasai tempat tidur.


Ia melirik sofa panjang yang berada di kamar tersebut, tanpa pikir panjang Zahra melangkah ke sofa tersebut.


Karena tubuh yang begitu sangat lelah, tidak butuh lama untuk memejamkan mata.

__ADS_1


Tengah malam, Zahra meringkuk kedinginan. Apalagi saat ini dirinya tidak menggunakan selimut bahkan untuk bantalannya hanya menggunakan lengangnya.


Tengah malam Reyhan terbangun, netranya langsung tertuju pada wanita yang meringkuk di sofa.


“Astaga! aku sangat lelah, hingga aku lupa dengan wanita ini!” gumamnya.


Reyhan mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh wanita yang baru saja menjadi istrinya tersebut.


***


Pagi hari.


Zahra mulai mengerjapkan kedua kelopak matanya, ia baru tersadar setelah beberapa menit kemudian.


Jika, dirinya saat ini di kamar asing dan hari pertamanya menjadi seorang istri.


“Astaga! Jam berapa ini?” melirik jam di dinding sudah pukul 09.00 pagi.


Zahra melihat sekelilingnya tidak melihat keberadaan suaminya.


“Astaga! Kenapa tidak ada yang membangunkan ku?!” gerutunya lalu bergegas ke kamar mandi.


Tidak butuh lama ia mandi, ia keluar dengan handuk melilit di kepalanya. Bersamaan dengan Reyhan yang baru datang dan hendak memasuki kamar mandi.


Bruk!


Reyhan yang terburu-buru tanpa sengaja menambak tubuh istrinya.


“Aduh!” pekik Zahra mengaduh kesakitan sambil memegang bokongnya.


Bukannya menolong, Reyhan hanya menatapnya.


“Kamu kalau jalan pakai mata! Bagaimana bisa jalan kamar selebar ini kamu tidak melihatku!” kesalnya berlalu pergi masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


“Huftt ... dia yang menabrak ku, kenapa dia yang marah?!” gerutu Zahra perlahan berdiri dari tempat duduknya.


Sambil berjalan tertatih-tatih, perlahan Zahra duduk di sofa memoleskan sedikit make up di wajahnya agar tidak terlalu pucat.


Saat fokus menyisir rambutnya, terdengar suara Reyhan keluar dari kamar mandi.


Reyhan hanya meliriknya sekilas, lalu melangkah mengambil pakaian kerjanya di lemari.


“Di bayar berapa oleh adikku, untuk mau menjadi istriku?” tanya Reyhan tanpa basa basi lagi.


Zahra yang mendengarnya, membuat hatinya terasa teriris.


“Kita sama-sama tahu, pernikahan ini hanya terpaksa. Aku melakukan pernikahan ini demi adikku dan jangan berharap lebih padaku. Aku bisa membuang mu kapan saja jika aku mau!”


Seketika dua kaki Zahra terasa lemas, bahkan untuk berdiri dirinya seperti tidak mampu.


“Kenapa kamu diam saja?! Apa kamu tuli?!”


“Aku harus jawab apa, Tuan? Kalian yang mempunyai kekuasaan, orang kecil sepertiku bisa apa!” berusaha menahan tangisnya.


“Bagus! Ikuti saja apa yang aku katakan! Jika kamu tidak sanggup, silakan pergi!” dengan suara dinginnya.


“Apa pernikahan hanya untuk mainan bagi anda, Tuan?! Mengucapkan kata Nikah dan cerai begitu mudahnya?!” ingin Zahra berkata seperti itu, tapi apalah daya dirinya hanya bisa berkata dalam hati.


“Ingat!! Jangan melewati batasanmu!” ujar Reyhan memberi peringatan.


Zahra hanya bisa mengangguk pelan.


Setelah mengatakan itu, Reyhan berlalu pergi dari kamar tersebut dengan membawa tas laptop di tangannya.


Zahra hanya bisa menghela napas kasar melihat kepergian sang suami.


***

__ADS_1


__ADS_2