
Tawaku hampir meledak berhasil kutahan. lagi-lagi mahluk yang basah kuyup karna sedang main air hanya diam tanpa menjawab sapaan dari ayahnya.
Di perlihatkannya sebuah boneka kecil serukuran sedang. Mungkin raisya merasa tidak tertarik dengan buah tangan yang dibawa oleh orang yang telah membuat luka dihatinya.
Raisya kembali pada aktivitas bermainnya di kolam renang plastik yang baru aku belikan.
Netraku kembali fokus pada layar HP. Senyum mengembang terukir indah di bibir yang telah ku poleskan lipsik mahal berwarna pink ini.
"dek" sapa mas satria beralih kepadaku.
Aku menoleh lagi, demi melihat separti apa ekspresinya pasca di acuhkan oleh mahluh kecil tersebut.
Ternyata dia tengah memperhatikan kendaran mini yang terparkir cantik dihalaman rumah. Aku paham raut mukanya itu, penuh pertanyaan. Dia pasti akan terkejut bila tahu seharian ini aku telah menghabiskan uang hampir empat puluh juta di pasar tadi.
"ya?" jawabku dengan lembut sembari berdiri dengan kedua tangan terlipat didada.
Tak ada raut wajah marah kutunjukkan sekalipun dalam tubuh ini, letupan emosi seolah mendorong untuk memaki bahkan mencakar tubuk kekar itu. Namun aku akan menahan gejolak demi bersikap elegan saat di hadapan nya.
"kamu yang beli itu semua?" tanya nya sekilas melihat kendaran mini yang masih tetparkir di halaman rumah.
"iya'sahutku dengan tenang, sambil menghampiri raisya. Menggoda putri kecilku dengan menggilitik tubuh nya yang masih betah bermain air.
Sengaja kulakukan ini agar laki-laki itu merasa benar-benar di abaikan di sini. Terlihat dia menduduki kursi yang aku duduki tadi, mainan boneka yang dia bawakan tadi dia letak di atas meja. Sorotmatanya tak lepas dari putri kecilnya.
Tak ingin berlama-lama bersama dengan laki-laki pembohong itu. Aku segerak mengajak raisya membersihkan badannya dikeran yang di samping rumah karna raisya sepertinya juga sudah kedinginan takut nanti dia masu angin.
Setelah mengganti pakaian dengan baju baru yang aku beli tadi raisya berlari menuju mainan baru.
Bapak seperti tiba-tiba datang datang daria rah depan. Separtinya hendak melanjutkan menemani cucunya mengendarai mainana barunya.
Melihat mas satria bapak hanya melihat sekilas, lalu bersiakap tak acuh, tidak seperti hari-hari sebelumnya, bila berjumpa, pasti berbincang- bincang terlebih dahulu.
__ADS_1
"belum mulai mengemasi pesaan san" tanya bapak
"bentar lagi pak" sahuthu, yang paham kemana arah pembicaraan bapak. Ingin agar aku segera berlalu dari hadapan pria yang telah tega tehadap aku dan raisya.
Setelah bapak dan raisya pergi, aku segera masuk rumah. Mas satroa mengikuti langkahku, dia kemudian merebahkan diri disofa ruang tamu.
"dek,habis uang berapa buat beli mainan raisya?" tanya mas satria
Dugaanku tepat bukan? Apa yang ada di dalam pikiran ku terjadi dia pasti tanya aku dapat uang dari mana buat beli itu semua.
"bukan urusanmu mas" jawabku ketus
Mas satria bangkit karna mendengar jawabanku. Dia juga melihat dan memindai penampilanku dari atas sampai bawah tapi semua itu tak kuhiraukan. Aku segera beranjak melangkah kedapur.
Sebagai istri yang baik tentu aku menyiapkan makan siang untuknya, menu favorit yang selalu dia bangga-banggkan semenjak menikah denganku. Yaitu bening bayam yang sengaja kupetik dari kebun belakang rumah, ikan asin, dan sambal ijo
Sekarang aku baru paham itu semua adalah akal-akalan dia saja agar aku tidak membeli sayur lauk bergizi.
Setelah semua siap dimeja makan aku memanggilnya, untuk mengisi perut yang mungkin sudak berteriak mintak di isi.
"cuma ini dek?" tanyanya, tanpa malu, Aku mengangguk.
"bukankah itu makanan favoritmu mas?" aku tanya balik
"oh iya mas lupa. Adalagi makanan favorit mas yang lain selain ini sate" cetusnya penuh semangat. Lalu memasang wajah cemberut.
"sayangnya, kamu selalu menyuruh aku menyediakan masakan ini saja, jadi aku lupa maaf ya mas? Lagi pula sudah makan yang enak-enak dirumah ibumu kurang lebih satu bulan lamu bisa makan yang enak-enak disana. Dihotel juga tidak mungkin ada menu receh seperti ini kan. Mas? Sindirku.
Mas satria tidak menyahuti sama sekali. Dia memilih duduk dan makan .
"
__ADS_1
Menu seperti ini pantas tersaji setiap hari di rumahku. Untuk makanan aku dan raisya, yang orang rendahan. Di ibaratkan sama orang india. kami ini bersal dari kasta sudra. Jadi makanan yang pantas untuk kami ya itu makanan seperti ini. Mainan pun untuk anakku cukaup dengan harga yang murah saja"sindirku lagi.
Skak! Dia berhenti mwngunyah.
Tugasku sebagai seorang istri telah selesai. aku berlalu berncana kerumah ibu tuk mengontol pengemasan pesanan dan sekalian tadi sebelum mas satria pulang aku di telpon sama ibu sindi untuk bertemu dia juga sudah janjian sama buk rasti aka bertemu di klinik kecantikan. Tanpa pamit sama mas satria. Saat melewti teras, aku baru sadar, bungkusan boneka yang di bawa mas satria masih terkemas rapi di atas meja,tanpa tersentuh. Senyum sisnis terukir melihat oleh-oleh untuk putri kecilku yang tidak di hiraukan olehnya.
***
Sesamapi nya di klinik kecantikan, ternyata bu rasti dan bu sindi telah menunggu kedatanganku.
"maaf bu saya terlambat" ucapku merasa nggak enak hati dengan kedua wanita hebat di depanku
"enggak apapa kok san kami juga baru nyampek" balas bu sindi.
"sudah siap bisa kita berangkat sekarang?" tanya bu rasti
"sudah ayo" ajak bu sindi, aku yang bingung nggak nerti apa-apa cuma celingak celinguk. Bu rasti menggandeng tanganku keluar dari klinik kecantikan, menuju mobil alphard milik nya. Yang di ikuti oleh bu sindi, Aku hanya mengikuti langkah mereka kemanapun mereka akan membawaku. setelah mobil yang kami tumpangi berjalan barulah buk sindi memberi tau bahwa mereka akan mengajak aku ketempat arisan yang bias mereka hadiri. Tiga puluh menit kemudian sampai lah kami di halaman sebuah rumah yang begitu megah. Aku masih berjalan diapit oleh dua wanita hebat ini. Semua mata tertuju kepada kami. Tiba lah kami ditenah-tengah kerumunan wanita sosialita ini. Aku merasa sedikit minder, namun bu rsati selalu menggenggam tanganku. Di sini aku bertemu dengan bu endang (ibu mas satria) dan semua yang hadir turut berpartisipasi.
Karna selain ariasan, acara ini juga menyambung silaturrahmi antar ibu-ibu lain.
Saat sedang asik berkumpul dengan ibu-ibu yang lain mungkin ibu mas satir tidak senga melihat kehadiranku. Sontak saja dia terkejut melihat kehadiran aku mungkin dia tidak menyangka akan bertemu aku disini,
"santi ngapain kamu disini?" gumamnya seperyinya dia tidak suka dengan kehadiranku.
Aku yang sedang beramah-tamah pada ibu-ibu yang sudah hadir di acara ini. sambil nobrol dengan ibu rasti wanita paling kaya di daerah ku. Kami mengambil tempat duduk yang tak jauh dari ibu mas satira.
Matanya terus saja memperkatikan gerak-gerikku dari tempat duduknya yang nggak begitu jauh.
dari tatapanya memendangku dengan penuh emosi entah apa salah ku, aku juga tidak paham dengan orang tua yang satu ini. Memamg selama ini aku nggak pernah mengikuti kegiatan ibuk-ibuk ya karna nggak ada waktu dan juga aku nggak punya uang untuk menggikuti arisan. Jangankan untuk mengikuti arisan untuk makan saja aku kempang kempis.
Mungkin Seperti dia sudah tidah sanggup untuk tidak mempermalukan aku dihadapan ibu-ibu yang hadir disini. dia berjalan menuju ke meja dimana aku dan bu rasti duduk, dan tanpa babibu beliau lansung nyerocos seolah nggk punya malu.
__ADS_1