Istri Yang Terzolimi

Istri Yang Terzolimi
bertamasya


__ADS_3

Selepas magrib aku sudah memulaikan raisya untuk belajar iqro, aku mengajk nya nengaji sebentar, selepas mengaji raisya meneton televisi dengan kartun kesayangannya.


Ayahnya mendekat, awalnya cuek. lama-lama luluh juga colotehan mulut sikecil raisya terdengar. kelihatan sekali kalau dia sangat merindukan ayah nya. Dia menceria kan segala hal yang dia lakukan selama ayah nya pergi. Aku mengamati sambil duduk di sofa diruang keluarga.


Saat asyik bermain dengan raisya gawai mas satria yang berada di atas meja didepanku menyala. Tapi tidak berbunyi. Kotak yang masuk atas nama felli beberapa saat kemudian terdiam iseng ku pencet HP mas satria, terdapat foto dirinya dan felli tersenyim bahagia dan bergandeng sangat mesra di jadikan foto wallpaper. Hati ini mulai memanas kembali. Panggilan dari kontak yang sama memanggil lagi. Saat itu mas satria berjalan hendak mengambil benda pipih itu, aku pura-pura nggak tau kalau ada panggilan masuk ke HP mas satria. Dia melihat ke arah aku sekilas, tapi aku pura-pura pokus ke arak HP yang ada di ngenggaman tanganku.


Mas satria melangkah keluar menuju ke pintu jalan keluar sambil mengakat setelah tau siapa yang menelpon dari seberang sana.


***


Dalam nya lautan bisa di ukir. dalamnya hati, hanya orang tesebut yang tau.6 tahun pernikahan aku dengan mas satria. Nyatanya tidak membuat aku mengerti sebesar apa rasa sayang nya kepadaku dan juga raisya. Kenyataan akhir-akhir ini membuatku sadar siapa dan posisi apa yang ku dududki di hati laki-laki yang selama ini bergelar suami bagiku.


Beberapa hari mas satria kembali kerumah orang tuanya alasan karnya ada kerjaan yang belum selesai, sampai malam ini dia tak kunjung menengok keluarga kecilnya, bahkan menelpon untuk sekedar menanyakan kabar raisya pun tidak.Setiap malam aku pandangi wajah putri kecilku ketika dia terlelap. Semenjak ayahnya tak pulang raisya tidur bersamaku. Sesak kurasa didada. seringkali, tangis menemani malam-malamku. Rasa sedih, marah, terluka, setra sepi ngumpul menjadi satu.

__ADS_1


Terlebih bila mengingat pernyataan raisya yang sering dia lontarnya. Ayah lebih sayang sama tante yang di rumah mbah, ya, bu? Aku bingung menjelaskannya. Bila kukatakan iya. Apakah aku tidak meracuni otak anak kecil membenci orang laen. Bila aku katakan tidak, itu sungguh kebohongn besar.


Dari cara dia yang menghawatir felli malam itu. Sama kemesran mereka waktu dirumah ibu. Aku yakin dia lebih bertahta di hati suamiku. Bersimpuh di harimbaannya, haya itu yang mampu aku lakukan, untuk mengurangi lepedihan dihati ini.


Di setiapa sepertigaan malam, selalu aku adukan segala lara pada sang pemilik jagad raya. Berharap ada secercah harapan dan sedikit mendapatkan kesejukan di relung hati ini. Apa yang harus aku lakukan pada rumah tangga ini bertahan menyesak menyerah kasian taisya kalau kehilangan ayahnya.


Penampilanku yang sekarang, jauh berbeda dari penampilan sebelumny. sebagai seorang yang berkecimpung di dunia kecantikan, sudah sewajarnya aku begini. Namun, tetap dari lubuk hati yang paling dalam. Sungguh aku tidak bahagia. Bohong bila ada materi yang berlimpah dan kehidupan yang mewah mampu mengobati luka hati dengan sekejap. Seperti membalik kan telapak tangan. Akan sembuh, tidak semua butuh waktu.


Namun, bagaimana bisa aku menyembuhkannya, bila yang menoreh lula dihati selalu menyiram luka ini dengan air garam? Akankah seperti ini terus bila aku masih tetap memilih bertahan? Lalu untuk apa aku bertahan di sebuah posisi, perumpamaan, ada api yang selalu berkobar di sekitar tempat tinggalku?


Aku yakin, ada waktu allah menjawab segala do'a-do'a yang selalu aku pinta seitap sujudku. Mungkin sekarang allah sedang mengguji sebatas mana mampu aku bersabar menjalani kehidupan yang rumit ini. seketika aku ingat ucapan penceramah munggkin allah akan menggugurka sedikit demi sedikit dosa yang pernah aku perbuat. Sampai suatu saat nanti dia lah yang akan mengangkatku dari posisiyang menyakitkan ini, dengan caranya.


Bisnis berkembang pesat. Pundi-pundi rupiah mengalir setiap hari masuk kerekeningku, aku mengajak raisya, ibu, dan bapak pergi piknik. Tiket kereta api sudah aku pesan melalui sebuah aplikasi. dan tak lupa aku juga memesan kamar hotel. Kami akan pergi bertamasya kejogja minggu ini. Setelah aku memberi tau kepada raisya di terlihat sangat senang , pabrik, dan produk kecantikan sudah ku titipkan kepada orang kepercayanku dan tak lupa aku juga ngabarin buk rasti dan bu sindi, katanya kalau ada waktu senggang mereka juga mau bergabung ikut dengan kami untuk sekejap melepas penat.

__ADS_1


Tiba lah waktu kami akan berangkat. Dengan mengendarai mobil bapak ke stasiun. Kami sudah janjian dengan bu rasti dan bu sindi bahwa kami akan ketemu di jogja, mereka tidak bisa berangkat bersama kami karna masih ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan. Kunci rimah ku titpkan kepada salah satu ibu yang rumahya sebelahan dengan rumah ku. Jaga-jaga kalau nanti pas waktu kami nggak dirumah ayahnya raisya pulang.


Raisya telihat bahagia saat berada di kereta. Kebetulan kursi banyak yang kosong, raisya duduk sama bapak terpisah, sepmentara aku duduk sama ibu. Netra wanita yang melahirkan aku ini seperti menatap sedih kepadaku. Aku tau, ibu juga merasaka apa yang aku rasakan.


"ibu ikhlas jika kamu berpisah sama satria. san, perceraian memang sangat di benci allah. tapi, jika ikatan pernikahan hanya membawa pada sebuah penderitaan, maka tidak ada jalan lain yang harus di tempuh selain berpisah. Kecuali satria sendiri mempunyai iktikad baik untuk berubah dan meninggalkan semua sipat buraknya, dan memperbaiki semua kesalahannya" sosok yang melahirkan ku berkata smabil mengelus telapak tanganku.


Aku hanya menanggapi dengan senyuman dan sembari menganggukkan kepala.


"aku kasihan kepada raisya jika harus kehilangn ayahnya bu"jawabku hampir tidak terdengar. Setelah agak lama kami saling diam, akhirnya aku mengutarakan apa yang aku pikirkan.


" bukankah raisya sudah lama kehilangan sosok ayah? Bahkan mungki dari dulu-dulu. Hanya saja kamu baru tahu, baru melihat kenyataannya sekarang, ibu tidak rela kalian tersakiti seprti ini, bukan berarti ibu membujuk mu untuk bercerai ya. Namun semua keputusa ada di tangan kamu pikirkan baik buruknya dan jangan lupa mohon petunjuk allah, senentiasa melibatkan allah dalam segala urusan yang akan kamu jalani" ibu berkata sambil meneteskan air mata. Selepas itu tergugu hebat.


Perjalanan yang seharusnya kami lalui dengan bahagia, tapi sekarang kami lalui dengan air mata kesedihan. Niat hati pergi piknik untuk bersenang-senang. Justru mengingatkan kepedihan hidup yang aku jalani. Aku tak pernah melakukan hal seperti ini bersama suami dan putri kecil kami. Karna katanya kami haris berhemat dan berhemat., sementara dia hidup bergelimanagn harta bersama keluarganya nafkah yang seharusnya jadi milikku malah diberika kepada ibu dak adiknya.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2