Istri Yang Terzolimi

Istri Yang Terzolimi
kedatangan tamu tak di undang.


__ADS_3

Pak dan ibu duduk di ruang tengah sambil nonton TV, aku mendekati ibu dan bapak dan duduk di antara keduanya


"bu,pak santi ingin menceritakan sesuatu kepada ibu dan bapak," ucapku sedikit ragu, kedua orang tuaku mengalihkan pandangan mereka.


"ada apa nak apa satria bikin ulah lagi?" tanya ibu, sementara bapak hanya diam menatikan apa yang akan aku ceritaka. Akhirnya aku menceritaka tentang semua yang terjadi di warung bakso. Dansemua sudah aku pikrkan baik buruknya. Bapakdan ibu mendukung apapun keputusanku. sepertinya tak ada yang bisa aku pertahankan dari seorang satria.


Semoga allah mengampuniku, sungguh, bukan kondisi keuanganku saat ini, akan tetapi, hati ini terlanjur luka begitu dalam. Aku muak bila harus kembali hidup bersamanya. Untuk raisya, ada mau pun tidak ada ayahnya, itu sama saja. selama pergi tak pernah menanya kaber anaknya. Dan sekarng semua nomor keluarganya sudah aku hapus dari kontak, aku tidak mau lagi berurusan sama keluarga itu.


Hari-hari selalu seperti biasa. Aku mengantar raisya kesekolah menjemputnya, mengemasi ppesana, mengecek mengunjngi klinik kecantikan. Dan ada stu lagi yang aku tunggu. Yaitu surat cerai dari mas satria, sudah lama aku menunggu surat yang satu ini tapi sampai saat ini belim ada tanda-tanda kedatangannya.. Tapi tidak terlalu kupusingkan, tohaku juga belum berniat untuk menjalin hubungan dengan lakihlaki manapu. Tugasku sekarang ngurusin raisya, dan masih tetap pokus menyembuhkan luka hati.


Beberapa kali pak andi menanya kabarku kujawab seperlunya saja. Untuk urusan mengantarr barang pesanannya, semua di urus oleh bapak.


***


hari ini, adalah hari minggu jadi raisya libur sekolah, dan di saat aku menemani raisya main kedaraan mininya. datang sebuah mobil. Mobil tersabut parkir di jalan depan rumah. aku pikir mereka adalah tamu tetangga depan rumah. Namun, saat melihat orang yang pertama kali turun, aku membuang nafas kasar. Satu persatu penumpang lainnya keluar dari kendaraan roda empat silver itu. Kupijit kening yang sakit tiba-tiba.


"adek raisya, mbak nisa datang nih" ucap seseorang yang masih setarus sebagai ibu mertua dengan ramah(nisa anak mbak ida kakak satria)


Namun, raisya cuek tidak merespaon ucpan neneknya, raisyamasi tetap fokus sama mainan yang sedang di mainkannya.


Allahuakbar.


Astaghfirullahal'adzim.


Entah adu mulut seperti apa lagi yang akan terjadi. Sejujurnyaaku sudah sangat malas berurusan dengan mereka.


"mbak nisanya di kasih pinjamin mainannya dong" ucap mbak ida yang baru datang. Bukanya menyapa, menanyakan kabar, memeluk, atau suruh salam, justru membuat kepalaku mau keluar tanduk. Aku sangat muak berhadapn dengan keluarga ini.

__ADS_1


"mau naik itu bu" rengak nisa.


"masuk dulu, sapa yang punya rumah. Baru minta pinjam mainannya" aku berteriak dari teras.


Mbak ida terlihat melirik tidak suka kearahku.


"rumah yang harus di datangi jauhnya minta ampun. Heran,satria cari istri kok jauh-jauh" celoteh nya sambil menggendong ananknya dan berjalan ke arah teras.


"mbak kalau ke sini mau marah-marah sama aku, mending pulang saja sana, lagi pula aku nggak minta kok mbak kerumahku" usirku ketus.


Seharusnya,tamu yang di hormati oleh tuan rumah. Namun, jika tamunya seperti mereka, apakah aku masih wajib menghormatinya?


Setelah semua keluar dri mobil baru lah aku tahu siapa yang datang. Mbak ida, suaminya, ibu mertua, dan juga gita, mereka pasti senang sekarng semua keluarga berkumpul disana kecuali aku dan raisya. Ah aku lupa aku dan raisyakan tidak di anggap di dalam keluarga itu.


Keluarga mas satria tengah melepas penat di teras. Belum ada yang menhajak aku berbicara,. Mereka ngobrol sendiri tanpa melibatkan menantu yang di abaikan ini. Mudah-mudahnsebentar lagi akn menjadi mantan menatu. Kebetulan ada mbak wati yan biasany menegrjakan pekrjaan rumah tanggak dirumahku , kuminta saja sekalian membuat minuman untuk tamu yang tanpa di undang.


Melibat ayahnya, raisya yang masih bermain kendaran mininya menoleh. Dia hanya terpaku melihat seseorang yang telah sekian bulan mengabaikannya. Satria juga berhenti, memandany haru kepada putri kecilnya.


Hanya akting! Fitnah hatiku yang sudah terlanjur kecewa terhadapnya.


"oom satria" teriak anak yang berkucir dua di pangkuan ayahnya. Dia berlari menuju suamiku yang masih berdiri mematung di halaman.


Yang di panggil sama sekali tidak menoleh. Sorot menyesal terlihat dari bahasa tubuhnya.bila sebuah perasan terluka mudak untuk melupakan, maka akn banyak orang-orang yang zalim tanpa memikir akibat dari perbuatan itu.


Nisa mengoyang-goyangkan lengan satria. dengan tepaksa, diraihnya tubuh mungil keponakan kesayangnya kedalam gendongannya. Sedangkan pendangannya tak lepas dari gadis kecilnya yang kini tetunduk di atas mainannya .


Ah, permata hatiku pasti sangat terluka melihat sosok yang seharusnya menjadi miliknya tetapi perhatiannya di rebutoleh anak lain.

__ADS_1


"raisya tidak kangen sama ayah?" tanya pria yang terlihat agak kurus itu, mengakhiri sesi mematungnya.


Nisa terlihat bermain-main dalam gendongan, dia mencubit pipi satria, menarik hidung, menjambak rambut, dan entah apalagi. Takada satu pun yang berniat mengambil nisa , memberikan ruang bagi ayah dan anak untuk sekedar melepas rindu.


"ayah lebih sayang mbak nisa, ayah milik mbak nisa sekarang. Raisya sudah tidak punya ayah lagi" raisya menjawab pertanyaan satria dengan netra berkaca-kaca.


Aku hanya mematung menyaksikan reaksi raisya.


"nisa sayang sin sama papa, biar om satria sama dek raisya" mas denis ayah nisa berdiri dan berjalan pelan menganbil nisa.


Anak itu terlihat enggan melepaskan diri dari satria, tetapi di paksa oleh ayahnya.


"Nisa sama satria lengket sekali, susah di pisahkan kalau ketemu. Bahkan kadang klamu dirumah tidur sama satria" ibu mertua ikut menyahut.


Mbk wati datang membawa minuman, dan mempersilahkan mereka minum. Lalu, ku minta membawa nampan serta gelas yang berisi minuman kemeja ruang tamu.


"mbah santi mau ku ambilkan bronis buat cemilan di pabrik?" tanyanya sebelum berlalu.


"nggak usah nanti biar aku nelpun bapak buat antar kesini, mbak lanjutkan saja mencucinya"


Mendengar percakapan kami, semua tamu yang tak di undang ini menoleh. Seperti mersa heran. Mencuci saja aku nyuruh orang.


Mas denis sepertinya sangat menyayangi putinya. Mbak ida terdengar cekikikan bersama gita. Meraka berdua tengah melihat-lihat benda pipih yang ada di pegangan gita. Aku melengos. heran, untuk apa mereka kemari? Dengan terpaksa ku persilahkan mereka masuh dan duduk di ranag tamu.


"mari, masuk!" ajakku, tapi tidak ramah.


Kulihat dia berjongkok di depan raisya. Dia seperti tengah berbicara sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2