Istri Yang Terzolimi

Istri Yang Terzolimi
jalan-jalan ke bali


__ADS_3

Duh! Baru saja aku bertanya tentang hal itu dalam hatiku, pria ini yang duduk di depanku lansung menjawabnya. Aku tersenyum malu.


"Benarkah saya enak di ajak ngobrol, pak? Wah, kalau gitu, andatidak usah makan, ya? Cukuongobrol sama saya saja pasti bisa kenyang"


Lalu dia tergelak, tawanya renyah sekali, tanpa sebuah paksaan. Mas Satria belum pernah tertawa seperti ini bila bersama aku dan Raisya. Dia hanya mengeluh uang yang sedikit, harus irit dan irit. Dan harus ini harus itu. Ah, rasanya muak mengingat lelaki itu.


"santi, bagaimana rasa punya anak?" aku tidak menjawab, aku terdiam cukup lama, akutahu betul arah pertanyannya pak Andi. Dalamhati ter besit ras iba. Karenaumur yang sudah matang tapi belum pernah mendengar tawa anak kecil dirumahnya, aku ingat betul cerita bu sindi. Katanya dulu pak andi pernah menikah dan punya istri . Namun, beliaodi ponis mandul tidak bisa memiliki keturunana. Makanya istrinya pergi meninggalkan dia dan menikah dengan laki-laki lain.


"rumah kamu pasto rame, ya? Saat pulang, adayang menyambutmu di depan pintu. Dan saat pergi, ada yang kamu belikan oleh-oleh" menunggu jawaban dariku yang tak kunjung keluar, pria itu berbicara lagi.


"mau rumah rame, pak?"


Dia menoleh sambil menyerngit. Baru aku rasa bahwa pria ini cukup manis.


"apa? Bakar rimah orang? sudah basi, santi"


"bukan, jangan sok tau sepertu dukun, pak. Nggakpantas muka bapak jasi sukun"


"trus apa?" tanyanya sambilmenatap lekat wajahku. Aku jadi salh tingkah. Alih-alih menghiburnya dari pembahasan soal anak, aku malah yang di buat kikuk.


"tiap malam, bapakmanggil hiburan oekes. Kan, nanti tetangga pada datang pak."


Dia tertawa tebahak-bahak,lagi.tawa yang belum pernah aku lihat dari Satria.


"kamu lucu sekali, santi." ucapnya, ditengah tawanya yang masih berderai.


"oh, ya? Biar jadi the next Mr been, dong pak?" pria di depan ku ini tertawa lagi. Entah mengapa aku suka sekali melihat dia ketawa. dan aku menikmati ekspresi saat senyumnya mengembang.


Sejenak, aku lupa semua rasa sedih dan kesalku terhadap suamiku serta keluargannya. Duduk bersama pak Andi, meski kami baru kenal, terasa sangat nyaman. Aku merasa sebuah kebahagiaan yang belum pernah sekalipun aku rasakan.


Namun, kuanggap wajar rasa itu. Ini hanya karena selama hidup bersama mas Satria selalu terkurung di rumah. Tidak pernah melihat indahmya dunia di luar. Tidaklebih dari itu. Akan terlalu cepat bila pertemuan ini merupakan rasa suka.


Kaerana sudah sore, kami memutiskan untik pulang.


"santi, terima kasih," ucapnya dengan pelan, saataku hendak berdiri dari tempat dudukku.

__ADS_1


"untuk apa pak? Tanyaku singkat.


"untuk hari ini. Sudah lama aku tidak merasakan momen seperti sekarang ini. Tertawa lepas bersama seorang perempuan." dia terdiam sejenak.


"Maksudku , teman. Iyateman lupakan saja perkatanku barusan." lanjutnya, gugup dan salah tingkah.


"udah , ayo pulang pak. nanti reseler cantiku nunggu dikirim keripik." ku coba mengalihkan salah tingkahnya.


"santi, kapan-kapan, bisakahkita seperti ini lagi? Maksudku ngobrol. Kamuboleh bawa anakmu dia salah tingkah lagi.


"pak, selama kita di sini, berapa kali anda sebut namaku? Cobadi hitung! Sekali lagi, aku kasih satu reseler cantikku lho," candaku


"kalau bosnya saja, bagai mana?" kali ini aku yang salah tingkah.


"Kena kamu, santi," ucapnya sambil tertwa dan berlalu pergi.


"pulang, ah. Kasian ada anak , menunggu ibunya di rumah." tambahny, setelah berjalan beberapa langkah dari posisi kami duduk.


Kini , giliranku yang merona. Ada sesuatu yang meletup-letup dalam dada ini. Perasaan malu, bercampur bahagia.


Terlintas di dalam pikiran kotorku. Kudekati pak Andi saja, supayaaku dapat membuktikan hinaannya salahbesar. Namun,.. Tidak! Hati kecilku menolak. Sebuahhubungan tidak boleh di awali dengan niat yang tidak baik. Lagi pula. Pastibukan orang seperti aku yang menjadi kriteria istrinya.


***


Tidak terasa , mobilkusudah sampai masuk ke pelataran rumah, motorku masih teparkir di teras samping. Berarti mas Satria masih di rumah, dantidakjadi pergi pakai motorku. Walaupun malas, aku tetap turun dari mobil dan melangkah masuk.


"sudah pulang dek?" sapanya.


Aku sampai kaget karena dia tidur di atas tempat tidurku. Senyuman itu, aku tau maksudnya. Dulu saat kami masih akur, senyuman itu dia berika di saat mengajak aku bergaul. Aku hanya mendesis untuk mereponnya.


Ku telpon bapak untum mengantar Raisya pulang. Setelahnya, akumembersihkan diri. Akan tetapi, adayang berbeda dari air mandi kali ini. Rasanya, sepertimembuat hati bermekaran. Tiba-tiba pikiran ini terbayang sesuatu, senyum itu, tawa renyah yang keluar dari mulutnya dan kata-kata terakhir sebelum berlalu pergi.


Oh, tidak! pasti aku sudah tidak waras.


Selesai mandi, bapak sudah berada di ruang makan, mas Satria hendak kekamar mandi.

__ADS_1


"kamu masih di sini sat? Nggak pulang? Nanti anisa sakit lo, tidakbertemu dengan kamu lama," sindir bapak.


Sedangkan yang disindir tersenyum menahan malu. "itu pak saya kangen sama Raisya" jawabnya, gugup.


"tumben!" celetuk bapak. Setelahaku berika ikan bekar bapak pulang. Tinggallah aku dan Raisya di meja makan, meniknatimenu lezat yang belum pernah sekali pun di belikan oleh ayahnya.


"wah Raisya sekarang makan nya enak-enak ya?" selesai dari kamar mandi, mas Satria mendekat dan bergabung dengan kami.


"iya yah, sejak ayah pergi, Raisya dan ibu makannya yang enak-enak nggak kayak waktu ayah ada di sini. Iya kan bu?" ucap Raisya suksea membuat mas Satria semakin malu.


"mbak Nisa juga suka makan ikan bakar,"


Dasar tak punya malu. Sudah di ingat jangan di bahas, masih juga di sebut nama tuyul kecil itu.


"iya lah mbah Nisa kan ponya om Satria. Kalau minta apa-apa, pasti di turuti. Nggakkayak Raisya, yakan bu? Nggak punya ayah"Skak Raisya lagi.


Good job, Raisya! Bukan mengajari anak yang tidak baik. Dia sudah mulai bisa menilai mana yang baik sama dia mana yang tidak.


Aku hanya berdehem. Memendamrasa senang atas kemenangan ini. Sementara satira kikiuk di hadapan anaknya sendiri salh sendiri sudah di ingat masih saja ngeyel.


Selama makan, mas Satria tidak bicara apa-apa lagi. Syukurlah, dia masih punya malu. Sementara aku tidak ikut makan hanya menyuapi Raisya saja.


"bu, liburan nanti kita jadi mebali kan?" tanya Raisya, aku tersenyum dan mengangguk.


Mas Satria menyerngit. "kamu mau ke bali dek?" mau ngapain?"tanyanya.


Kenapa nih orang memberikan pertanyaan yang tidak bermutu harus di jawab dengan konyol.


Mas Stria lansung diam, tak bertanya lagi. Dan beralih kepada Raisya


"Raisya mau piknik kebaliya?" Raisya hanya diam tak menjawab pertanyaan ayah nya.


"bareng mbak Nisa sekalian ya?" aku melotot, kemudian membanting sendok. Muka mas Satria menciut.


Seharusnya, kemarahan dan pertengkaran suami istri jangan dilakukan dihadapn anak.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2