
Suasana kota jogja karta sangat dami sekali. Apalagi disini ada ibu dan bapak orang yang sangat aku cintai di dunia ini. bu rasti dan bu sindi menyusul kami dan bertemu dihotel. Mereka menyewa kamar hotel yang sebelahan dengan kamarku dan raisya.
Tiga hari disini banyak tempat yang telah kami kunjungi. banyak tempat yang telah kami kunjungi.
(subhanallah indahnya pemandangan di pagi hari ini sunnguh indah cipataan mu ya allah) kutuliskan caption yang menurutku biasa saja. Dan tak lupa aku setrakan pemandangan yang menyejukkan mata bila memandangnya.
Sengaja aku mengambil foto-foto pemandangn yang menurutku sangat indah di sini. Setiap momen aku abadikan di hanponku. Dan tak lupa aku buat strori di aplikasi whatsapp,
Dan sekarang adalah waktunya untuk memanjakan diri, ada yang mengatakan kalau syurganya wanita adalah berbelanja. Sejenak aku melupakan masalah yang sedang aku hadapi. Hingga saatnya pulang kami diajak gabung sama bu rasti dan bu sindi. Kami tidak di bolehkan naik kareta dan sekarang kami siajak pulang ikut mobil mereka.
Saat di jalan menuju pulang. Tiba-tiba masuk sebuah pesan dari ibu yang ku titipkan kunci rumah.
(mbak santi tadi mas satria datang kesini nanyain mbak, sambil aku menyerah kan kunci terus pergi lagi. Aku nggka tau dia mau ngapain. Soalnya tadi kuncinya di anaterin kesini lagi]
Takku balas pesan tadi , aku hanya menenangkan diri sambil berzikir menyebut asma allah.
Iseng kubuka stori teman-teman di aplikasi whatsapp, hal yang biasa ku lakukan untuk membuang rasa bosan dan kesepian. Sudut mataku memanas, melihat foto di stori mas satria dia juga menulis kalimat:
(tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi keluargaku hiatiku, siapa pun itu. karna tidak ada istilah mantan orang tua, serta saudara kandung.rasa sayangku pada kalian tak pernah ada yang bisa menggantikan siapa pun itu) lengkap dengan emotikon hati yang banyak sekali.
Ku usap perlahan sudut mata ini. Sakit. Tapi aku harus kuat dan harus bisa menyembuh kan luka ini. Ibu tertidur memangku raisya yang juga terlelap. bapak juga melakukan hal yang sama sudah terlelap di alam mimpi. Sekali-kali terdengar obrolan bu rasti dan sopirnya sedangkan bu sindi menggunakan mobilnya sendiri.
__ADS_1
Kami pulang kerumah ibu.bila siang aku dan raisya banyak menghabiskan waktu disini.
Ketikaaku sedang menemani raisya bermain sepulang sekolah. Pikiran ku melayang ingat kepada mas satria. Curiga mengapa dia kerumah kemaren setelah itu dia pergi lagi. Entah mengapa, kali ini perasaanku gelisah. pirasatku mengatakan, bahwa kedatangan mas satria kemaren ada sesuatu yang nggak beres.
Aku segera beranjak pulang. Saat memasuki rumah, dada ini berdebar hebat. Perasaan seorang istri begitu kuat. Dia seolah tau meski tidak melihat. Langkah kaki terayun menuju kamar tidur kami. Dorongan hati sangat kuat untuk membuka lemari, kosong. Baju-baju mas satria sudah tidak ada satu helai pun di tempatnya.
Aku terjatuh lemah. Tergugu hebat, sesalah itu kah aku di matanya? Hingga dia tega pergi meninggalkan kami?
Kuakui aku begitu marah kecewa pada semua yang dia lakukan. Namun, kini melihat tidak ada tertinggal satu helai baju pun yang dia tinggalkan. Hati ini begitu sakit.
Enam tahun bukanlah waktu yang sebentar yang kami lalui bersama. Mustahil rasa cinta lenyap tanta meninggalkan rasa sakit. Apa ini jawaban dari allah atas doa-doaku selama ini.
***
Menyembuhkan sebuah luka tak semudah membalikkan telapak tangan apa lagi itu hati dan persaan yang terluka. Terlebih, selain luka yang kudapat aku juga menghibur anakku yang merasa kehilangan ayah nya. dengan kepergian mas satria, aku jadi yakin bahwa kami tidak memiliki tempat di hati mas satiria.
Perlahan menata hati dan menerima takdir bahwa kini aku sendiri. Merawat anakku sendiri tanpa adanya suami disiski. Boneka yang kemaren sempat dibelikan oleh mas satria masih teronggoh rapi dan terbungkus plastik di atas meja tanpa tersentuh oleh tangan mungil raisya.
Kusingkirkan benda yang telah menggoreskan sejuta luka dihati anakku. Rencananya akan ku berikan kepada anak salah satu pegawaiku.
Sebulan sudah mas satira pergi meninggalkan kami. Aku sudah siapp bila suatu hari nanti jika ada surat gugatan cerai yang dia kirimkan. Sedangkan aku sendiri tak ingin repot mengurus perceraian tesebut. Namun,sampai saat ini tidak ada pembahasan menuju kesana dari pihal mas satria.
__ADS_1
Saat ini kami sudah terbiasa hidup berdua dengan gadis kecilku. Sedikit demi sedikit kuberi pengertian pada raisya. Bahwa mereka harus terima kepergian sang ayah.meski aku tau ada luka yang menganga, ada sorot sedih dimata gadis kecilku. Namun, lambat laun raisya mulai bisa menerima bahwa ini semua takdir dari yang kuasa kami harus menjalani dengan kuat.
Saat ini aku sudah bisa mengendarai mobil. Usahaku makin hari makin berkembang. Kerjasamku denga klinik bu rasti pun berjalan dengan baik. hari demi hari ATM ku makin gemuk pundi-pundi uang mengalis begitu deras mesuk ke ATM ku.
Hari ini aku ada janji untuk menemui seseorang yang memiliki restauran. Kami saling kenal di akun aplikasi facebook dia ingin mengerjakan kerja sama. Sepertinya teman dunia mayaku ini ingin aku mengirimkan bronis-bronisku ke restaurannya
Kami akan bertemu di warung bakso terkenal. Hanya seja warung bakso tersebut agak jauh dri tempat tingalku kalau nggak salah dekat sama perosahaan tempat suamiku kerja.
Dia pernah cerita kalau sering nongkrong sama teman-temannya di situ. Dia juga sering memuji bertapa lezatnya rasa bakso diwarung tempat sederhana itu.aku hanya bisa menelan air liur saat mendengar ceritanya itu. Aku dan raisya belum pernah di ajak serta.entahlah,bodohnya aku yang selama ini tak mempunyai keberanian untuk meminta.
(aku sudah berda di lokasi mbak) sebuah pesan baru yang kuterima dari orang yang akan ku temui.
Seblum masuk, kerapika jilbabku dan memoles kembali bibir ini denganlipstik kesayanganku, kusapukan sedikit blash-on pada pipi agar terlihat merona.
Bukan masud untuk mengoda, sebagai seorang yang berkecimpung di dunia kecantikan aku harus tetap menjaga penampilan supaya tetap menarik.
Area parkir terlihat ramai oleh pengunjung sebagian ada juga yang kelihatannya dari kalangna kelas atas. Maklumlah sekarang sudah jam makan siang. Seketika ada rasa gelisa yang menyusup di dalam dada. Bukankan jam segini mas agam biasanya makan siany jagan-janag dia juga ada di sini.
Nafas ku hembuska perlahan, demi menetralisirkan detak jantung. Sekali lagi aku perhatikan riasan wajah pada kaca mobil. Netraku memindai busanaku yang ku kenakan siang ini. Setelah merasa tak ada yang kurang dri menampilanku, aku turun dari mobil putih. Menuju tempat yang sudah di beri tau lewat pesan singkat.
Bersambung.
__ADS_1