
Mendengar ucapan Raisya tiba-tiba selera makanku hilangku pagi ini, akuhanya diam menyaksikan percakapan anak dan ayah, membiarkan merka dusuk satu meja mengungkapkan gundahan di hati yang di rasakan. Membiarkagadis kecilku meluapkan swluruh emosi yang dia rasakan. Karena dendam luka hati dari kecil. Bisa berakibat fatal pada perkembangan psikis anak. Bahkan, tidak menutup kemungkinan itu menjadi swbuah goresan luka yang membekas hingga mereka sampai dewasa dan sulot untuk di sembuhkan.
Buka bermaksud untuk mengajari anakku berlaku kurang ajar terhadap sosok seorang ayahnya. Hanya saja, aku memiliki sebuah pemkiran bahwa seorng anak berhak untuk berbicara dan meluapkan persaan apa yang inginkan dan mereka rasakan.
Di luar sana banyak orang tua yang memaksa anak kehendak terhadap anak. Menganggpabahwa, mereka adalahsebuah boneka yang dengan mudah kita atur. Menghilangkan kebebasam hak untuk menwntukan pilihan, serta menganggap bahwa pwmikiran adalah yang terbaik bagi masa depan si anak.
Tanpa di sadari, doktin semacam ini akan berdampak burum terhadap emosi buah hati. Anak-anakyang terkadang terkekang cendering berperilaku agresif dan kehilangan motivasi hidup. Sejauh ini, akumasih bisa mengajari batasan-batasan norma kesopanan yang harus Raisya junjung terhadap orang tua yang lebih tua.
"ayah mita maaf kalau perbuatan ayah selama ini kurang baik dan kurang memberi kasih syang kepada raisya"
Apa hanya itu yang mampu dia ucapkan kepada darah dagingnya? Hanya kata maaf? Tidak ada sebuah upaya yang di lakukan untuk menhobati luka hati gadis kecil yang malang ini? Membeli sesuatu yang dia inginkan, misalnya.
Ah, dasarkamu mas. Selalu saja hal-hal sederhana jauh dari kemewahan yang kamu berikan untuk putri mu yang telah lahir dari rahim ini. "kadang aku berpikir, aku tidak punya ayah?" lirih Raisya sambil terisak. Menelungkupkan kepalanya berbantalkan lengan di atas meja.
"ayah bekerja jauh sayang jadi terpaksa menginap dirumah mbah" kilah mas Satria.
"lalu mengapa ayah selalu menuruti semua kemauan nenek membeli mainan yang banyak dan mahal buat mbak nisa sedangkan buat Raisya ayah tidak pernah?" Raisya berkata dengan nada lebih tinggi. Kepalanya terangkat, menatap sang ayah penuh luka.
Raisya sayang pelankan suaramu, ibu tidak pernah mengajarkan raisya untuk membentak""terlgurku dengan halus.
"Raisya benci ayah, bu"dia kembali tergugu.
Aku bangkit dari tempat duduk dan memeluk tubuh mungil Rasya.
" Raisya sudah tenang? Sudah mengungkapkan semua yang Raisya rasakan?"tanyaku pelan, sambilmengelus punggungnya.
Dia mengangguk dalam pelukanku. Sementaramas Satria terlihat tertunduk.
__ADS_1
"Sekarang Raisya habiskan sarpannya, setelahitu gosok gigi, lalu berangkat, mita di antar sama mbah kakung ya?" pintaku kemudian.
Raisya mengangguk setuju, lukudia menghabiska sarapannya yang sempat tertunda, lalu bangkit melakukan apa yang tadi aku monta,
***
setelah Raisya pergi kesekolah kini tinggal kami berdua di meja makan.
"dek, mengpakamu menyuruh ibu menjempitku kesini? Tenya mas Satria dengan kirih.
Aku sibuk sedang mencucui piring bekas kami sarapan tadi. Aku meghentikan sejengak aktivitasku.
" aku lelah membahasnya mas. Kamu taukan sebenarnya semua yang terjadi? Jadi jangan pura-pura tidak tau! Dan jangan berlagak bodoh memutar balikkan keadaan, seolahaku yang mwzolimi dirimu dan keluargamu mas."ujarku denga tatapan tajam.
"aku serius dek, akupengin memperbaiki hubungan kita, dan mengobati luka di hati Raisya yang tergoreskan oleh kelakuanku. Dan merejut kembali keluarga yang bahagia.
"maksud kamu dek?"tanyanya penuh dengan selidikan " lalu dengan apa lagi?" sekarang terdengar putus asa. Berika merka batang berharga.
Dengan uangmu Saudara Satria, beliakan Raisya barang yang mewah seperti yang telah kamu berikan kepada anak ida, dan sebarapa uang yang telah kamu berika kepada ibumu, dan berikan semua itu untuk Raisya .dsn ajak anak mu berllibur jika perlu keluar negri. Supaya dia merasa jau lebih bahagia, dan merasa memiliki seorang ayang yang menyayanginya. Dan ingat lalkuan semua itu tanpa Anisa yang kamu ajak ikut serta."aku keluarkan semua pemikiran yang selama ini menyiksa hati.
"sesekali menanglan anakmu di atas anaknya ida. Prioritaskan anakmu dan abaikan anak ida."
Dia tampak bergeming sesaat. kemudian, kembali menimpali.
"Uangku sudah habis dek.bahkan, untusekedar beli bensin aku beranglat kerja saja sudah tidak ada" ucapnya sambil munundukkan kepala. Aku tersenyum sinis.
"oh? Jadi sebab itu kamu bertahan dirumahku hingga sampai sekarang? Sekalipun sudah berkali-kali aku usir? Ternyata benar kamu hanya menanggung kesusahan hidup kamu saja, manakala kebahagiaan menghampori dirimu, kamu habis kan bersama keluargamu dan gudikmu itu"jawabku berapi-api
__ADS_1
"santi! Akusidah tidak behubungan lagi dengan felly" sanggahnya sengeit.
Omong kosong"balasku yangvtidak mau kalah dengannya, bahkan aku sudah tidak peduli lagi dengan apa yang aku lakukan tempao hari.
"kamu pikir aku tidak basa cat kamu di whatsapp? tentang janjimu untuk membeli mobil-mobilan seperti yang dimiliki oleh Raisya. Hingga ejekan untukku wanita kampung ini. Serta kerinduan perbuatan zina kalian" ujarku penuh emosi.
Wajah mas Satria merah padam seketika , seperti menahan malau. "dek, itu semua.. " kalimatnya menggantung.
"karena ibumu pikir aku ini masih wanita bodah yang dengan mudah kalian manfaatkan?"senyum mengejek tersunghing dari bibir ini.
" jangan coba-coba memanfaatkan fasilitas yang aku miliki" ancamku serius.
"dek, aku janji, setelah aku gajian, akanaku berkan kepadamu semua. Kita akan pergi kemanapun kalian mau. Dankamu dan Raisya juga boleh membeli apapun yang kalian inginkan. Danaku juga akan menjauhi felly aku janji dek, percaya lah sama mas, Mas mohon. Kamu percayakan sama mas dek?" dia berujar sambil bersimpuh di kakiku ini.
Ingin rasanya aku menendang tubuhnya, tapi takut kualat.
"tidak! Aku sudah tidak percaya lagi apapun yang kelar dari mulutmu, dan aku tidak butuh uang gajimu, mas. Akubisa membeli apa pun yang aku inginkan dengan uang aku sendiri, dan aku juga bisa mengajak putriku kemana pun yang dia inginkan, tanpa uang kamu"
Kutarik kakiku dari pelukannya, sehinggatubuhnya terjengkang demi apa pun juga, seharusnya ibunya malu, dengan keadaan anak kesayangnnya saat ini. Seandainyawanita judes itu melihat ke adaan anaknya sekarang, aku akan mersa lebih puas.
"pergilah, mas! Jangan korbankan harga dirimu. Kamu seorang yang berpendidikan seorang pegaiai di perusahan ternama. tidak pantas mengemis dan bersimpuh di kaki wanita kampung seprtiku" ucapku, pelan.
Aku segera berlalu menuju kamar. Mas Satria mengejarku. Saat di ambang pintu, dia kembali membuka suara.
"Dek, aku tau dari gelagatmu. Kamu lagi dekat dengan laki-laki lain bukan? Berartikamu tidak ada bedanya dari anti." ujarnya, mendenngar ucapan nya tdi membuat darahku tiba-tiba berdeser naik keubun-ubun, tanpa perlu waktu untuk berpikir dua kali, lansung saja aku tampar wajah itu sekeras-kerasnya.
"jaga bicaramu saudara Satria!"
__ADS_1
Bersambung.