Istri Yang Terzolimi

Istri Yang Terzolimi
mas Satria tertangkap basah.


__ADS_3

Aku mengangguh tanda paham, Setelah pembicaraan kami berakhir bapak pergi untuk mengontrol pabrik lagi.


Semoga langkah bapak untuk kerumah mertiaku di beri kemudahan, agar bsamendapat segera buku nikah kami.


Sebah pedan masul di gawaiku dar pak Andi.


"santi kamu baik-baik saja? ".


Teringat pesan bapak, supayatidak berhubungan dengan laki-laki manapun. Aku segera menahan hati ini supaya tidak larut dalam swbuah perasaan. Dengan terpaksa, aku hanya membalas singkat.


(iya)


Saat ini, urusan packing produk kecantikan sudah aku serahkan kepada salah satu anak remaja yang rumahnya masih bertetangga denga rumah ibu. kebetulan dia juga masih kulyah dan akan kerumah ibu setelah pulang kulyah atau ketika libur. Karnakebetulan dia hanya mengambil 4 hari seminggu. Dan juga membawa stok produk ke indekosnya, untuk sistem COD wilayah yang dekat dengan kampus.


Sementara aku tidak memforsir pikiran untuk mengembangkan bisnis. Fokusdulu pada raisya juga proses perceraian yang sepertinya akan berjalan rumit. Aku tidak akan menuntut nafkah. Toh, penghasilanku yang aku dapatkan tiap bulannya lebih dari kata cukup.


Kening oni tiba-tiba merasa panas kembali. Kepala juga terasa begitu berat sekali. Segeraaku ambil obat dan meminumnya. Tak lama setelah itu rasa ngantuk pun tiba-tiba menyerang . Kubaringkan tubuhku di atas kasur di kamarku dan menggumakan selimut.


***


Suara ketukan pintu membangunkan aku dari tidur. Dengan kepala yang masih pusing, aku bangun, berjalan terhuyung untuk membuka pintu. Sambil memegang kepala, aku tarik gagang pintu perlahan.


Aku sangat terkejut ketika melihat tamu yang berdiri di depan pintu. Sesaat bergeming, menatap satu persatu dari tamuku pada siang menjelang sore dengan penuh tanya. 'ya allah ada apa lagi?'.


"santi."


Sapaan di depan pintu membuat aku tersadar. Dan dengan malas aku persilahkan tamuku iti untuk masuk. Mereka tidak menungguku menyuruh duduk, sudah ambil tempat duduk, sudahambil tempat sendiri-sensiri. Syikurlah, mulutini juga enggan berbasa basi dengan mereka.

__ADS_1


"ada apa lagi?" tanyaku dengan nada lelah, saatkami sudah menghadap satu meja yang sama.


"begini santi, kedatangankami kesini ingin membahas masalah yang sedang di alami oleh suamimu. Mungkinkamu belum tau. Makanya kami kesini mengajak kamu berunding dan mencari jalan keluar. Karna bagai manapun kamu adalah istrinya satria. Jadikamu harus ikut andil mencari solusi dari masalah yang menimpa satria" tanpa malu ibu mertua mengatakan itu.


Aku hanya menjawab dengan hembusan nafas kasar. Jujur saja, aku sudah sangat lelah bertengkar meladeni mereka. Namun, maubagai mana lagi? Keluarga satria sendiri yang datang kerumahku.


Mereka semua saling pandang. Kakaknya mas satria yang duduk berdampingan dengan istrinya terlihat menganggukkan kepala. Sementarasi tuyul kecil tumben-tumbennya bisa anteng.


"santi, kami minta maaf tidak seharusnya kami melibatkan kamu dalam masalah ini. Tapi, barangkali kamu punya solusi untuk jalan keluarnya, tidak masalahkan kalau kami datang kemarikan?" Kakak mas Satria berucap dengan bahasa dan intonasi yang sopan.


Namun, aku tetap tidak bisa menghormati ucapan nya. Karena aku sudah tau ujung dari pembicaraan ini.


"masalah apa lagi? Aku sudah lelah dengan keadaan rumah tanggaku dengan mas satria. Aku ingin hidup tenang." ujarku pura-pura tidak tau. Sebenarnya, inti dari kalimat aku ini. Adalah meninta mereka untuk tidak melibatka aku dari masalah ini.


"satria mendapatkan ujian yang agak berat kali ini, Santi. Dia kepergok oleh warga sedang berduaan di rumah felly. Semalam warga mengarak merka menuju balai desa. Kami jadi repot karena masalh ini."kakaknya mas satria diam lagi mungkin sedang mengatur bahasa selanjutnya.


" bagai mana pun juga kamu masih istrinya Satira Santi. Masalh Satria adalah masalah kamu juga. Jangan mai lepas tangan gitu saja dong Santi. Jangan mau enak nya saja" ibu mas satria seperti biasa ikut turut campur dalam bahasa memojokkan aku.


"istri buk?" aku menyerngit kening. "giliran lagi ada masalah begini saja aku di akui dan di libat kan dalam masalah ini. Tapi di saat punya uang banyak senang-senang kemana saja. Kenapa istri konon tidak di anggap dan tidak di libatkan? Ibi selalu bilang kalau mas Satria seorang menejer. wajar kalau dia mau bahagiakan keluarga saat itu. Aku selau di anggap orang luar, disebut orang lain bukan termasuk dalam keluarga kalian. Dan ketika ada masalah sebesar ini menimpanya baru sekarang aku di anggap istri? Dan aku harus bertanggung jawab? Oh no." ibu mas Satria terdiam seketika.


"kalau ngomong yang benar buk jangan bikin emosi. Yang ada, seorang suami harus bertanggung jawab memberi nafkah dengan benar. Jangan asal bicara. Malu dikit dong buk." ucapku sewot.


Ibu satria seperti akan bicara. Namun di dahului oleh oleh anak sulungnya.


"santi, kami tau kami salah. Maafkan sikapa ibu swlama ini ya? Pintan mas denis dengan lembut.


" Santi, tolonglah Satria ibu sudah tidak sanggup melihat Satria dalam keadaan seperti ini."ucap nya sambil sesekali terisak.

__ADS_1


Ya allah aku jadi tambah pusing dengan kandisi seperti sekarang ini.


"aku tidak faham dengan kata-kata kalian semua. mas Satria yang melakuakan perbuatan amoral. Apapun resikonya harus di hadapi. Kenapa kalian malah memohon sama aku seperti ini, Udah terlanjur terjadi, ya sudah harus berani dong menanggung semua resiko."


"bagini santi, bila kamu belum paham biar bapak yang jelasin sama kamu sama kamu"mas denis berucap lagi sambil membetulkan posisi duduknya.


Sungguh aku tidak nyaman dengan situasi seperti sekarang ini. Namun aku memilih , diam saja. Ingin taubu ke arah mana pembicaraan merka akan bermuara. Apa ini ada hubungan nya dengan uang?


"merka hanya ngobrol saja, Satria hanya menemani felly karna di rumah Felly hanya tinngal sendiri. Karna sering di tinggal merantau suaminya. Jadi dia merasa takut sendirian dirumah, hanya itu tidak lebih."


Omong kosong macam apa ini? Di kiranya aku tidak tau apa? Trus aku percaya gitu ucapan mereka?.


"jadi? Intinya saja mas jangan berbelit-belit, saya lagi sedang tidak enak badan."


"itu.. Perangkat desa yang menghakimi tanpa mau mendengar penjelasan Satria terlebih dahulu. Meminta uang denda. Karena semalam ada polisi juga yang datang. Banyak pihak yang terlibat ibu tidak mau masalah salah faham ini jadi kemana"


Alis ku terangkat mendengar kata demi kata. Yang keluar dari mulit ibu mertua dan seyangnya itu masih berlanjut.


"bagini merka meminta uang damai tiga puluh juta. Sedangkan kami tidak punya uang dengan jumlah yang segitu banyak. Kamu bsa memberikan uang itu untuk Satria, kan?"


Saat itu juga aku menepuk jidatku dan segera pindah posisi dudukku di atas lantai. Tubuh ini butuh sandaran karena permintaan konyol keluarga mas Satria.


"bagaiman santi?"


Bersambung.


Maaf baru sempat UP karna punya kesibukan yang lain.

__ADS_1


__ADS_2