
"cih sambongnya temanku yang satu ini, mentang-mentang sudah jadi entrepreneur sukses," godanya.
Kami pun tertawa bersama.
Pada saat bersamaan, dari arah depan, masuklah sepasang kekasih yang sangat aku kenal. Senyum sembari terpancar dari bibir merka . Sesekalisaling pandang sembari melempar senyum.
Dadaku bergemuruh hebat darahku kembalo berdesre dan naik ke ubun-ubun, aku hampir mempertimbangkan saran dari sahabatku tadi. Namun, akan tetapi, yang aku lihat sekarang di depan mata itu membuat keputusanku yang akan aku ambil adalah hal yang paling tepat buat aku dan gadis kecilku.
Sejenak aku biarkan mereka berduaan menikmati kebersamaan yang membahagiakan itu. Karena sebentar lagi, mereka akan aku permalukan di depan pengunjung rumah makan padang ini.
Sintia melihat aku menatap lekat kedepan, ikut berpaling. Kami memang duduk berhadapan, dengan posisi aku menghadap ke arah pintu masuk.
"kamu kenal dengan mereka santi?" sintia memang tidak pernah tahu, siapa suamiku.
"dia orang nya, sin. laki-laki itu suamiku." aku menjawab dengan lirih. reflek sinta menutup mulut.
"jadi, kamu isttinya satria?" aku hanya mengangguk kecil.
"kalu begitu aku sangant mendukung keputusanmu untuk bercerai santi" ucap sintia dengan mantap.
Aku lansung berdiri dan melirik ke arah mereka yang duduk lesehan di depan pintu masuk.
Pelayan meletakkan air minum es teh di meja makan keduanya. kesempatan yang bagus.
Begitu suamiku yang duduk, kutepuk keras punggungnya. Dia tersentak dan segera melirik kearahku. Mukanyamerah padam antara malu dan terkejut.
Lekas aku ambil segelas es teh di depannya dan aku siram dari atas kepala. Baju kebanggaannya basah kuyup terkena air manis. Sedangkan guding di sampingnya seprtinya terliaht tidak terima atas perlakuanku
"dimana kunci morotku dan uang aku yang kamu curi tadi pagi serahkan sekarng." bentakku,
Aku tatap wanita yang katanya terhormat itu yang bersama suaku ku. Akubalik melotot kearah suamiku sambil berdecak pinggang.
__ADS_1
"apa? Tidak terima? Dimana kunci motor ku serahkan sekarng!' tantangku yang sudah pindah posisi menghadap merka berdua.
Denagn tangn gemeteran suamiku mengulurkan kunci motor dan uang selembar 100 ribu dan selembar uang 50 ribuan. "yang lima puluh ribunya kepakeke beli bensin sama roko" ujarnya sambil menunduk.
Pengunjung rumah makan sontak melihat kearah kami semua. Beberapayang datang dengan teman atau sama pasangan. Terdengar berbisik-bisik.
"Dasar, wanita tidak berpendidikan! Sikapkamu bar-bar sekali!" ucapnya seraya mengambil tissue untuk mengelap wajah laki-laki selingkuhannya yang sudah basah kuyup.
Aku tertwa kencang. Senenak menoleh pada yang punya warung.
"maaf buk saya membuat kekacauan sejenak. Mohon izin, bilananti ibu merasa di rugikan, bisa minta rugi sama saya" ucapku sopan.
Wanita itu tampak terpana memandangku dengan tangan masih memegang gelas bekas esteh yang aku siram ke kepala suamiku tadi.
Tanpa menunghu jawaban pemilik rumah makan ini, aku berbalik dan menatap dua manusia tak berakhlak di depanku.
"aku tidak berpendidika? Apakabar dengan anda? yang katanya wanita terhormat kerjanya di perusahan ternama?" aku ter senyim miring.
"dengar ya para pengunjung! Laki-laki ini adalah suami saya, yangduduk di samping nya ini adalah selingkuhannya. Bisa di lihat dari pakaiyan yang mereka kenakan. Mereka adalah orang-orang yang terhormat" teriakku pada semua pengunjung.
"tadi pagi, dia pergi membawa moyor saya tanpa pamit, serta menagmbil uang di lemari saya tanpa izin, ini uang saya" sambil menunjuk kan uang dari mas Satria dan kunci motor yang sudah di tanganku.
"dia juga tidak penah memberi nafkah selama beberapa bulan terahir, tapi malah mencuri uang saya dan sekarang dai malah makan dengan wanita selingkuhanya ini" aku meneruskan ucapanku.
parempuan itu, 'FELLY' hanya bisa menunduk kepalacsaat aku menunjuk wajahnya.
"dan tanpa malu dia mengatakuan kalau saya tidak berpwndidikan, karena saya mwnyiram suami saya sendiri, kalau sya tidak berpendidiakan lalu bagai mana dengan dia yang jalan sama suami saya?' ucapku dengan lantang.
"santi, sudah cukup, hentikan! Kita bicarakan ini baik-baik. ayo, kita pulang." mas Satria berucap sambil menarik lenganku. segera aku teris tangannya denga kasar.
"kita? Pulang? Pulang kemana? Jangan pernah coba-coba menginjakkan kakimu di rumahku lagi. Najis!" segera aku berlalu dari hadapan merka.
__ADS_1
"santi nanati aku pulang peke apa? Felly tidak bawa motor." ujarnya ketiak melihat aku berlalu. Dasar laki-laki tidak tahu malu.
"jalan kaki, sana! Biarlebih romantis. Atau mau aku panggil rebana untuk sekalian mengiring? Ucapku sengit,
"laku aku bayar makan ini pake apa, santi?" aduh kenapa aku bejodoh dengan laki-laki PEAK seperti ini? Sudah lah dri pda meladeni dia yang tidak habis-habis lebih baik aku segera pegi dari tempat ini.
Aku segera pergi meninggalkan rumah makan ini, namun Satria berusaha mencoba merebut uang dan kunci motor, tapi aku lebih cepat. Bahkan Satria mengenarku tanpa malu. Akumempercepat langkahku. Sehingga aku melupakan sesuatu. Danbaru ingat ketiak aku sudah masuk kedalam mobil.
"sintia" aku reflek menyebut nama itu, dan ketika aku amu keluar lagi aku melihat siantia membayar tagiahn makanan kami tadi. Ya ampun. Akusudah berniat mentraktir, malah dia yang bayar. Melihat kebodohan aku, wanita cantik itu memberi kode bahwa itu bukan masalah. Sintia menghampiri mobilku. Satria masih merngek dari luar mobil meminta uang dan kunci motor di kembalikan, keadaannya sudah berantakan, tetapi aku tidak peduli.
Saat melihat sintia dia seprti terkejut. "aintia, kamu kenal sama santi?" tanyanya.
"iya, santi ini adalah sahabtku dari SMA, dan aku bari tau kalau kamu suaminya, tahu gitu aku dukung saja dia bercerai dari kamu sejak duli. Dasarotak mesum!"
Aku belum ingin tahu tentang apa yang terjadi di antara mereka berdua. Fokuskumemendam emosi saja dulu.
"sin, aku nitip motor di rumahmu ya? Nanti ada teman yang bisa ambilkan kesini, nggak? Besok aku suruh orang ambil kerumahmu."
sintia mengangguk. Kuberika saja kunci motor sama dia. Mas Satria tidak berkutik sama sekal.entah ads rahasia apa di antara merka berdua. Aku tidak peduli, setidaknya dengan adanya seintia di sini Satria bisa diam tidak merengek lagi untuk minjam motorku.
Namun, setelah di pikir-pikir ada cara lebih cemerlang.
"sin, aku berubah pikiran. Motorku akan di bawa ke sorum saja, aku sudah nggak mau lagi pake motor bekas gudik Satria"ujarku sengit.
Sembari melitik laki-laki itu. Lalu, aku beralih kepada sintia san memberi sejumlah uang "ini uangnya ganti yang tadi"
Dia menolak, namunaku tetap memaksa.
Aku pergi dulu ya sin, maaf aku merepotkan kamu hari ini. Tolong jaga jangan sampai motor ku di bawa oleh laki-laki itu. Tatapan mataku sinis pada Satria.
Sintia mengangguk dan tersenyum manis padaku, aku segera berlalu pergi. Keputusanku sudah bulat, aku akan mengurus berkas percetaian minggu depan.
__ADS_1
Bersambung.