Istri Yang Terzolimi

Istri Yang Terzolimi
dapat undangan dari pak Andi


__ADS_3

Pagi harinya, aku kembali keruamh sembari memeriksa, apaka mas Satria masih berada diruma atau tidak, lamputeras masih menyala, pintudepan masih terkunci, jadiaku masuk lewat pintu sampinh yang kuncinya selalu aku bawa.


Sepertinya mas Satria masih tertidur di karpet di depan TV. Melihatnyaterbaring seperti itu, takbisa di pungkiri, sudut hati ini ada rasa kasihan, bagaimana pun, enamtahun bukan waktu yang sebentar, bukanwaktu yang singkat. Begitu banyak kejadian terlewatkan bersama. Canda tawa kamu saat bermain bersama Raisya menjadi kenangan paling manis yang sulit untuk di lupakan. Saatitu, sama sekali tak pernah terbesit akan ada banyak yang mas Satria sembunyikan di belakangku. Sama sekalitak oernah menyangka. Kalau dia akan banyak menyakiti aku dan Raisya di luar sana.


Andai kamu tidak melakukan itu semua mas mungkon saat ini kita masih hidup bahagia seperti keluarga pada umumnya.


Aku berlalu menuju dapur, seledarmembuatminuman pengjangat tubuh. Saat tengah duduk bersantai di meja makan, sambilmenik mati secangkir teh hangat, masSatria lewat. Diahendak kekamar mandi. Pipiny bengkakdan langkah nya tertatih-tatih. Sepertinya, dia lagi kurang enak badan. Apa mungkin karena penganiayaan kecil yang aku lakukan kemarin sore?


Namun, diapantas mendapatkan semua itu. Sudah salah, masihsaja membela dengan alasan wanita itu tidak pantas di sebut p*l*c*r karena dia wanita terhormat.


Tak aku hiraukan mAS satria yang berjalan ke arah kompor di sebelah meja makan. Aku fokus menyesap teh. Berbeda dari hiasanya,dia membuat minuman sendiri. Takut kena pukul lagi, mungkin?


Segera aku habiskan teh sebelum mas Satria ikut duduk di sini. Setelah teh nya habis aku berlalu dari meja makan, diri ini berlalu ke kamar mandi,membasuh badan dan bersiap-siap bertemu dengan bu rasti karna sebelum pulang kerumah beliau sempat menelpon mengajak bertemu dan berkunjung ke klinik cantikan.


Setelah punya banyak uang, penampilanku memang jauh neribah. Pagi ini aku kenakan tunik dan ron plisket dan aku ju memilih pasmina yang senada dan riasan, membuat wajahku tampak segar. Arjoli kupakai di tangan kanan, sedangkan sebuah gelang emas melingkar di sebelah kiri. Sebelum keluar kamar, kusemprotkan parfum beraroma musk. Saat membuka pintu kamat, tatapan kami berdu. Diatengah duduk menyila di atas karpet dengan sevangkit kopi di tangannya, tampak tak berkedip saat menatapku. Agak lama kami saling pandang, aku segera membuang muka dan berlalu.


"Danti," panggilnya saat kaki ini sudah melangkah keruang tamu, aku berhenti dan menoleh.


"jangam usir aku, akumohon. Biarkan aku di sini dulu. Jikakamu masih bersikukuh cerai sama aku, akanaku turuti. Tapi tolong, santi, izinkan aku mendamaikan diri di sini dulu. Aku lelah dengan mendengar ocehan ibu yang selalu menekan. Kalaupun kamu akan memukuli aku setiap hari, aku terima. Asalkan kamu biarkan aku tinggal di sini beberapa saat lagi di sini."pintanya terdengar memelas.


Aku menelag salivaku. Sejenakku berpikir untuk mengizinkan atau tidak. Lalu, akumengangguk pelan, tandasetuju biar saja dia di sini aku dan Raisya akan tetap tidur di rumah ibu.


"kamu cantik sekarang. Kamuberbeda sekali." ucapnya lagi, sambilterus menatapku.


"iya, karena uangku banyak, mas. Danhatiku bahagia." jawabku sekenanya. Pada hal aku berbohong. Sejujurnya hati ini masih meraskan sakit.

__ADS_1


"nanti mbak wati akan kemari. Dia yang masak untuk makanmu." ucapku lagi sebelum leangkah keluar.


Sepertinya dia tidak berangkat kerja hari ini karna kondisi wajah yang remuk.


***


Sesampai nya di klinik kecantika rupana bu rasti juga baru keluar dari mobilnya. Melihat kedatangan mobilku beliau berdiri di sebelah mobilnya. Aku segera keluar dari mobil dan menghampiri wanita hebat yang satu ini


"assalamualaikum, bubaru datang?" tanyaku basa basi.


"Waalaikum salam, ya ibu baru datang , tadidi jala agak sedikit mact jadi agak terlambat,.wah, sekarang ibu lihat penampilan kamu tambah cantik saja, san? Ibu senang melihat perubahan kamu yang sekarangmenjadi wanita hebat dan mandiri" ucap bu rasti.


Kami melangkah mesuk menuju klinik kecantikan karena kami juaga janjian sama bu sindi jadi kami memutuskan untuk menunggu kedatangn busindi di dalam sambi bisa ngobrol-ngbrol.


Terima ksih bu. Santiberuntung bisa bertemu dengan ibu dan belajar banyak dari ibu. Yang sudah sukses dan juga bisa merubah pola pemikiran santi, dan juga perjalanan hidup santi"sahutku, danbu rasti pun tersenyum bahagian.


Tak berapa lama bu sindi pun datang dan bergabung bersama kami. Bu rasti sindi, dan aku pun lansung berbincang-bincang bersama membahas banyak hal.


"oh ya saya mau mengundang bu rasti dan santi ke acara pesta ulang tahun saya tiga hari lagi, dan acaranya akan di adakan di sebuah bllroom hotel mewah di dekat pusat kota. Danyang pasti akan meriah sekali, saya harap kalian semua bisa hadir. Jangan lupa ya saya tunggu ke datangan kalian bagi santi sekalian ajak orang tuamu sama gadis kecil oma juga ya?"undangan ibu sindi panjang lebar. Dan setelah ngobr panjang lebar kami pun berpamitan untuk pulang.


Di perjalanan pulang tiba-tiba ad panggilan masuk dari pak Andi .


"Assalamualaikum, pak," sapaku


"Waalaikumsamalam, santi. Apa kabar?" tanyanya dari seberang sana.

__ADS_1


"alhamdulillah baik" jawabku sekenanya.


"Maaf mengganggu" ucapnya lagi, mungkunitj hanya kalimat basa-basi menurutku. Karena jelas saja, bila merasa mengganggu, seharusnyatidak usah menelpon.


"tidak apa-apa pak , saya juga nih lagi di jalan mau pulang. Bagai mana kabarnya pak?"


Alhamdulillah baik juga"


Kami ngobrol agak lama. Dengantema tidak jelas. Sepertinyaorang itu ada niat terselubung padaku, atau ini hanya rasa percaya diriku saja?


"oh ya santi, tadi mama nitip pesan sama aku untuk menyampaika sama kamu kalau tiga hari lagi mama ulang tahun,katanya menyuruh kamu datang bersama keluargamu" tuturnya


"ya, tadiaku juga bertemu dengam beliau, dan beliau juga mengundang ku untuk hadir bersama keluargaku" jawabku, kemudiankami sama-sama terdiam.


"Bagaimana hubunganmu dengan Satria?" tanyanya lagi.


Setelah berbicara tidak jelas, tiba-tiba dia menanyakan perihal masalh pribadiku. Jujur saja, aku tidak suka mengumbar masalah apapun yang terjadi dalam rumah tanggaku kepada orang lain siapapun itu. Apa lagi orang itu yang baru beberapa hari saja aku kenal.


"ya seperti ini lah, pak. Tidak jauh lebih baik. Sekarang, Satria meminta tinggal di rumahku dengan alasan igin mencari ketenangan dan kedamian dari tekanan keluarganya"


"trus kamu izinkan?"


"Aku harus bagai mana, pak? Aku tidak tega kalau menyeret dia keluar dari rumahku, jadiuntuk sementara waktu, akanaku biarkan saja dia tinggal di rumahku. Sedangkanaku memilih tinggal dirumah ibu. Toh, yang di inginkan adalah kedamaian. dengan sendiri di rumah akan terasa lebih damai, kan?"


"Bagai mana baiknya saja san, segala keputusan ada di tangan kamu. Baik buruknya, kamuyang akan menjalani. Bilakamu masih ingin mempertahankan hubungan kalian, maka anggap saja ini adalah sebuah ujian yang akan menjadi masa transisi bagi Satria berubah menjadi lebih baik. Bagaimanapun, di antara kalian ada putri kecil kalian yang harus kamu pikir perasa mereka."

__ADS_1


Aku refleks mengangguk, setuju dengan ucapan pak andi.


__ADS_2