Istri Yang Terzolimi

Istri Yang Terzolimi
menghindari fitnah


__ADS_3

Sepulang dri rumah sakit Santi mendapat telpon dari bu bu Rasti dan mereka telah berjanji utuk bertemu.


aku berpamitan dengan Raisya dan ibu karna kebetulan bapak lagi tidak di rumah. Kemudian aku menitipkan Raisya kepada ibunya, lalu betangkat untuk menemui bu Rasti.


Setelah sampai di restoran yang telah di janjikan, ternyatabu Rasti telah sampai duluan.


"Assalamualaikum, buk,maaf Santi terlambat." ucapku sambil menyalami wanota paru baya, namun masih kelihatan cantik.


"Waalaikum salam santi, nggak apa-apa ibu juga baru datang" ucap beliau sambil tersenym ramah learahku.


"kamu mau pesan makanan apa? Silahkan husus untuk hari ini ibu yang bayar." ucap nya lagi dengan senyum manisnya.


"Makasih bu kebetulan pas tadi waktu ibu nelpon santi baru selesai makan siang sama Raisya dan ibu" jawabku sambil membalas senyum bu Rasti. "Ya sudah kalau gitu kamu pesan minumannya saja." sahut bu Rasti lagi "Ga makish bu,oh ya katanya ibu pengen nyampein sesuatu sama Santi apa tuh buk??" tanyaku.Kemudian aku memanggil pelayan dan memesan minuman.


"itu ruko ibi yang di pinggir jalan yang tidak jauh dri rumah kamu, kita lihat-lihat dulu kalau kamu berminat nanti kamu bisa nyicil bayar sama ibu seberapapun kamu ada uang ibu nggak matokin berapa kamu harus nyicil." aku lansung terperangah mendengan keterangan ibu Rasti.


"maksud, ibu?"


"maksud ibu rukonya lebuh baik kamu saja yang beli dan lagi tempatnya bagus untuk buka usaha, tempatnyapun setra tegis. Dan uangnya bisa kamu cicil." ucapnya lagi, beberapa saat kemudian pesanan kami pu datang. Dankami menghentikan pembicaraan kami sejenak.


"sialahkan di nikmati mbak, buk." ucap pelayan itu sambil ter senyum ramah.


"terimaka kasih" jawab kami nersamaan kemudian pelaya pun berlalu. Dan bu Rasti menikmati makan siangnya tanpa bersuara.


Beberapa saat kemudia makanan dipring dihadpan bu Rasti habis. Kami melanjutka obrolan yang sempat tertunda.


"Bagai mana Santi kamu beminat?."


"Tapikan buk, rukonya pasti mahal sekali? Harus sampai berapa lama aku menyicil untuk memebayarnya?" bu Rasti lansung mengusap punggungku.


"ibu tidak memberi tenggang waktu untuk kamu membayarnya. Sebisa kamu saja untum menyicilnya. Jadikamu bisa meletakkan stok-stok jualanmu diruko itu." aku mengusap sudut mataku yang sudah mulai mengembun. Aku bener-benar mersa terharu dengan kebaikan ibu Rasti.


Wanita paru baya yang telah allah hadirkan dlam hidupku dan Raisya. yang membantuku dengan memandang dunia dengan sudut pandang yang berbeda.


Beliau juga banyak membantuku untuk masuk kedalam dunia bisnis dan juga bergabung dengan orang-orang hebat yang maju.


"tetima kasih buk. Terima kasih atas semua kebikan yang selama ini ibu berika kepadaku dan Raisya. Semoga allah memberika semua kebaikan ibu yang selama ini, ibuberikan kepadaku."ucapku penuh haru aku tidak tahan menahan air mataku aku lansung memeluk tubuh wanita hebat di sampingku. Dan ibu rastipun menyampbu pelukan ku dan mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang yang tulus.

__ADS_1


"sama-sama sayang. Kamu sudah ibu anggap sebagai anak ibu sendiri semenjak kehadiran kamu dan Raisya ibu sudah tidak mersakan sendiri lagi ibu seprti sedah memiliki anak perempuan dan seorang cucu yang lucu."pungkas bu Rasti karena pak Andi jarang dirumah. Dan anak cucu yang lain. Tinggal jauh dan juga mereka sibuk dengan kehidupan mereka.


"allah memang adil disaat kita sabar menerima dan menjalani ujian, maka allah pun akan menggantika dengan beribu kenikmatan yang jauh lebih nikmat. Yang kita sendiri pun tidak pernah membayangkannya.


***


Dua hari kemudian.


Hari ini adlah hari sidnag kedua perceraian kami berlansung. Pada hari ini aku menghadirkan saksi. Buatku tanpa menhadirkan saksi pun tidak masalah. Karena kasus mas Satria sudah menjadi rahasia umum.


Aku bersyukur sidang kali ini berjalan dengan lancar. Dan mas Satria seperti sidang yang bertama dia datang bersama ibunya. Sepertinya sudah lelah berdebat. jadi tadi hanya diam dan pasrah. Hanya menjawab pertanyaan seperlunya saja.


Bapak yang mendapingiku sekaligus menjadi saksi dari pihakku. Beliau memberi keterangan sesuai denga yang beliau ketehui.


Selesai sidang kami berjalan menuju parkiran. Aku mengendarai mobil dan bapak yang membawa motor yang sempat aku titipkan diruamh sintia waktu itu. Sebelumberangkat tadi kami sempatkan untu mengambil motor itu dan berniat untuk menjualnya. Bila mas Satria meminta bagiannya maka akan aku berikan semuanya.


Aku segera pergi meninggalkan parkiran kantor pengadilan agama. Karean mersa perut menuntut untuk segera di isi, Aku putuskan untuk mamapir dirumah makan yang berbentuk saung.


Aku juga perlu mendamaikan pikiranku, dengan melihat hamparan sawah yang terletah di pinggiran bangunan panggung yang berjejer rapi.


Setelah memesan makanan aku memilih tempat duduk yang berda di ujung paling belakang.


"santi" sebuah suara yang tidak asing memanggil namaku.


Aku menoleh. "pak Andi?" sapaku. Aku kaget bertemu dengan orang yang dengan sengaja aku hindari.


Aku bingung. Sejujurnya aku tidakn igin berada dalam satu tempat seperti oni dengan laki-laki yang bukan mahromku, ditengah proses perceraian yang belum selesai. Aku tidak mau ada yang berpikiran negatif tentang kami.


Siapa yang tidak berpikir jelek bila melihat aku denga laki-laki yang bukan mahrom di tempat yang seperti ini.


Namun, akujuga tidak dapat menolak jika dia mengajak ngorol.


"sialhkan, pak. Tapi, maaf saya tidak bisa lama."


Di sinilah kami berda, dalam kebisuanyang mengirngi kebersamaan kami di terik siang ini. Hanya bisika hembusan angin yang terkadang ter dengar di telinga. Aroma makanan yang terhidang di depanku, sesekali keluar menghampiri indra penciumanku. Aku diam dalam lamunan dan rasa cemas. Entah apa yang dia rasa apakah sama dengan yang aku rasa atau tidak aku tidak mengerti.


"apa kabar?"

__ADS_1


Suara laki-laki dihadpanku memecahkan kesunyian. Netraku yang semual menatap indahnya pemandangan sawah liukan padi yang terpana oleh hembusan angin. Terpaksaberpaling kepada pemilik suara.


"Baik" jawabku singkat sambil tersenyum.


Wajahku kembali ku palingkan kehamparan tanaman yang bernama ilmiah oryza sativa itu. Rasanya begitu damai bila melihat pemandangan sedrhana itu. Terkadang, saat suasana lelah melanda hati, yangkita butuhkan hanyalah alam yang menenagkan.


"kamu dari mana tadi?"


Suaranya kembali mengusil ketenangan batin ini. Seandainya tidak ada dia bersamaku saat ini ingin rasanya aku menhabiskan banyak waktu di saung kecil ini.


"tadi dari sidang" jawabku tanpa mengalihkan pandangan. Pandanga ku masih tertuju pada hamparan tanaman petani di depan mata.


"Sidang keberrapa?" tanyanya lagi.


"Kedua" jawabku masih menikmati keindahan alam ciptaa tuhan di depan mataku.


"kamu sengaja menjauhiku ya? Apa salahku? Jika ada sikap ku yang tidak bisa kamu terima dari aku, bisakah kamau memberi tahukan kepadaku, santi? Akuingin menjadi yang terbaik dimatamu!"


Aku menoleh, dan menatap lekat wajah teduh dihadpanku. Perkataannya sukses mengusik relung hatiku. Aku tersenyum padanya agar dia tidak tersinggung dengan sikap tak acuh yang aku berika kepadanya. Meski iru hanya trik bodahku semata. Ternya ta pria tampan didepaku itu meras kalau aku sedang tidak baik-baik saja.


"tidak ada yang salah dari anda pak, hanya keadaan yang mengharuskan supaya saya menjauh dari anda. Sayamasih terokat hubungan denga suami, meskisekarang kami sudah dalam proses cerain. Dan yang pasti saya tidak ingin membawa anda dalam masalh kami.


Pria di depanku hanya brrgeming sembari terus menjadikan aku sebagai pusat atensinya.


"Anda harus sadar satu hal, pak, antara anda dan suami saya kalian saling mengenal. Dan maaf, kareana status anda maish sendiri nanti ak menimbulkan fitnah. bagi siapa pun yang tahu kedekatan kita.


Pria yang masih menatap wajahku itu kini mengangguk-angguk pelan.


"Bukan berarti kamu menjauh dalam komunikasi hpkan, santi?"


"Saya belum bebas pak. Tetap saja sya harus menjaga jarak dri lawan jenis siapapu itu."


"Sekalipun hanya berteman, Santi?"


"Iya sekalipun hanya berteman. Tegasku.


"Karena di dalam agama kita tidak di perbolehkan berteman denga laki-laki yang jelas bukan mahrom.maaf,pak.saya hanya menjaga marwah saya sebagai perempuan yang masih sah sebagai seorang istri."

__ADS_1


Terlalu kejam kata-kat yang aku sampaika kepada pria di depanku, ini jelas menyinggung perasaannya.


__ADS_2