
Bapakku telihat gusar. Didepan mata, betapajelas telah menunjukkan siakap satria yang royal kepada anak ida nya.
"selain itu apa lagi kesalahan yang kamu lakukan terhadap anak saya , sat."bapak kembali bertanya.
" anu itu pak, saya.."
"om besao ajak nisa naik gajah lagi ya" lagi-lagi anak itu berceloteh.
Aku heran,merka sadar tidak? Kalau sekarang sedang membahas suatu hal yang penting, seharusnya ada yang membawa nisa keluar, supaya tidak selalu berusaha mencari perhatian.
"saya berselingkuh dengan.. "
"om satria, lihat deh ini pato nisa naik gajah cantikkan"
Kali ini aku menarik nafas kasar, ingin rasanya aku membentak mbak ida, agar menagjak anaknya keluar.
"sialahkan, di urus anak kesayangannya dulu, kalau anaknya sudah bosan bicara, panggil saya kesini"bapak terlihat emosi. Beliau berdiri dari tempat duduk hendak pergi.
Namun, lansung dicegah oleh satria. Ya, kami sadar sepenuhnya, diahanya seorang anak kecil. Namun, rasa cemburu karna anakku tidak di perhatikan. Membuat kami gelap mata, dengan ikut membenci anak yang tidak berdosa.
"mbak ida, bawa anak mu keluar! Sudah tau membahas yang penting, terus saja di biarkan mengganggu!"
Entah akting atau memang kesal. Untuk pertama kalinya aku melihat satria membentak menantu kesayangan dirumah mereka.
Mbak ida jadi salh tingkah , dan mengajak nisa keluar. Gita pun mengikuti dari belakang.
"kalau kesi niat pamer kalau nisa kesayangan, ataumengjak nya bersenagng-senang, kaliansalah tempat! Seharusanya kebali saja sekalian. Biar raisya makin sayit hati mendengarnya" aku berujar saat mbak ida lewat di depanku.
"begini, satria. Sudahlah tidak usak berbelit-belit, kamisudah terlanjur sakit hati dengan perbuatanmu. Lagi pula keluargamu sudah kelihatan sangat tidak menyukai santi, dantidak bisa menerima kehadiran santi dengan baik. Berbeda denga perlakuannya terhadap ida. Bukankah keluargamu menyuruh kalian bercerai? Jadi sekali pun kamu bertekat memperbaiki hubunganmu dengan santi, saya yakin rumah tangga kalian tidak akan bahagia. Apa lagi kami tidak tahu motivasimu berubah karena apa." bapak menatap satria dengan tegas.
"keputusan saya sudah bulat kami tunggu saja kedatangan surat cerai darimu" lanjut bapak lagi.
Sepertinya bapak sudah tidak tahan berbicar dengan merka lagi. Aku pun tidak gentar mendengar kata perceraian. Karena memang benar adnya kata bapak, pernikahan ini tidak akan pernah bahagia lagi.
"pak ibrahim jangan pernah salah kan satria saja doang, salahkan juga santi, saya tidak suka anak saya di perlakukan seperti ini" ibu satria angkat bicara
"lebih kejam kata-kata saya tadi atau saat kalian memojokkan santi, setelah apa yang telah dilakukan oleh satria? Bila anak ibu tidak boleh di sakiti, maka begutupun dengan anak saya. Saya tidak akan pernah membiarkana kalian membentak-bentak santi, paham!" pembicaraan apa ini? Aku sungguh sudah muak terhadap merela. Rasanya.ingin aku mengusir mereka.
"kalau santi ingin bercerai, urus saja sendiri mengapa malah maksa anak saya" jawab ibu mertua Terdengar sewot.
__ADS_1
Aku jenuh mendengar pertangkaran tanpa ujung. Segera kulangkahkan kaki menuju kamar. Untuk memberi uang yang di berika bapak. Mbak wati sudah selesai bekerja, dan pamit mau pulang.
"kalau sudah tidak ada yang harus di bicarakan, mohon maag saya haurus pergi, saya sibuk mengurus pabrik perusahaan santi yang semakin ramai."
Mendengar ucapan bapak lega rasanya. Berharapkeluarga satria segera angkat kaki dari rumahku.
makanya pak ibrahim, jangan bicara cerai-cerai. Itu tidak baik. Kalau satria disini, kan bisa untuk bantu-bantu di sini. Santi kalau mau pergi kemana-mana juga ada yang nyopiri mobilnya. Tidak kasian nyopir sendiri? "
Dasar nggak tau malu nih orang. Aku sudah berdiri di ruang tamu sekarang.
"saya permisi" ucap bapak sambil berlalu.
Satu persatu mereka berdiri dan berjalan keluar. Aku pun ikut keluar, hendak melnengok raisya, Dan ternyata sudah di ajak oleh bapak pergi.
"Aku mau nauik itu bu" teriak nisa melihat kendaraan mini raisya.
"bu mobilnya dibawa polang ya bu"dia merengek sambil menangis. Terus begitu. Meminta mobil raisa di bawa pulang.
" om satria, biliin ya?" rengek gadis kecil itu.
Ku banting pintu dengan keras dan menguncinya dari luar. Karena aku harus mengemas paket pesanan pelanggan di rumah ibu.dan juga sudah janji sama raisya bahaw akan mengajaknya jalan-jalan sambil beli ayam goreng.
" raisya memang tidak punya ayah dari dulu, buk"ucapku sambil memakai sandal dan lansung naik di atas motor kebanggaa.
***
Sesampai di rumah ibu, aku dari pintu sampinh karna pintu depan tutup,masuk aku mencari keberadaan raisya,
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam"jawab ibu
" raisya mana bu? "tanyaku setelah mencium punggung tangan ibuku.
" di dalm lagi nonton kartun kesayangannya, ucapibu sambil menatap sedih ke arahku mungkin bapak sudah menceritakan kejadian di rumahku kepada ibu.
Aku hanya menatap ibu dengan tersenyum, aku berusaha menyakinka ibu dengan senyumku kalau aku baik-baik saja.
"bentar ya bu, santitemuin raisya dulu, tadisudh janji mau ngajak beli ayam goreng" ucapku sambil berlalu.
__ADS_1
Ibu hanya mengangguk sambil menatap kepergian langkahku menuju ruang TV di mana bapak yang sedang menani cucu kesayangannya.
Aku menghampiri dua orang kesayanganku.
"dek katanya tadi mau beli ayam goreng jadi nggak?" tanyaku sambil melirik kearah raisya yang sedang asyik nya menyaksikan kartun kesayangannya.
"jadi dong bu" jawab raisya panuh semangat
"bu raisya penhen makan ayam goreng di tempat biasa kakung ngajak raisya beli ayam goreng, rasa ayamnya enak banget bu" pinta raisya
"di mana tempatnya sayang? emang raisya tau tempatnya?"
"tau buk"
"Ya udah, kita berangakat sekarng ya"
"ayo kta berangkat sekarng nanti ayam goreng nya habis" ucap raisya sambil menarik tanganku penuh semangat.
"ayo kita pergi sekarang."raisya bersorak riang.
" asyik beli ayam goreng, nantikta beli buat mbah uti sama kakung juga ya bu"ujar raisya penuh kegirangann, aku hanya tersenyum melihat kelakuan putriku.
kami lalu lansung menuju ke arah restoran ayam goreng yang di inginkan oleh raisya.
Tujuan aku sekarang adalah membahagiakan raisya dan kedua orang tuaku. Tentang masalah jodoh aku tidak ambil pusing, karnasekarang lagi malas berhubungan dengan laki-laki mana pun termasuk ayahya raisya.
Dan niat ku sudah bulat aku igin berpisah dengan ayah raisya aku sudah malas punya urusan sama dia apalagi sama keluarganya.
Setelah menempih perjalanan 20 menit,akhirnya aku dan raisya sampai juga pada tujuan. Ya itu di sebuah kedai ayam goreng.
Raisya berlari dengan riangnya menuju kearah meja kasir untuk memesan menu kesukaannya.
"hallo anak cantik? kamu apa kabar? kok kamu baru kesini?"sapa seorang laki-laki berparas tampan dan juga riang.
" hallo juga om, kabar raisya baik, raisya kesini mau pesan ayam kesukaan raisya"sahut raisya dengan girang juga.
"boleh, boleh, nanti om lebihin ya? Hususbuat anak cantik seperti yang satu ini. Oh ya kamu kesini sama siapa sama kakung?" laki-laki bermata elang tersebut pun ter perangah saat meluhat aku berjalan kearah raisya.
Tadi di waktu raisya berlari aku memarkir motor dulu setelah itu baru aku menyusul raisya,. Sedangkan raisya dulu masuk kedalam restoran tersebut.
__ADS_1