Istri Yang Terzolimi

Istri Yang Terzolimi
Raisya bertemu Anisa di rumah sakitt


__ADS_3

Baik, jika itu mau kamu. Satria tidak akan pernah mau berverai dari kamu. Inagat, santi! Laki-lakiboleh menikah lebih dati satu kali, biar pun itu di lakukan dengan siri. Kamuaka semakin menderita nantinya. Setelah ini, Satria akan menikah dengan Felly, tanpa menceraikan kamu" ujar ibu mas satira, pongah.


"silahkan saja, buk. Saya tidak takut."


Merka bangkit, dan bersiap-siap pulang.


"Santi tidak kasiankan kamu sama aku? Bagai mana pun, aku adalah ayah dari putrimu. Akusudah tidak punya apa-apa, santi." ucap mas satria dengan lirih, saat sudah di ambang pintu


"jual saja tanah yang kita beli bersama. Aku ikhlas," jawabku, lalu aku saku kerumah dan menutup pintutak ku antar tamuku pergi.


***


Ke esokan harinya ibu harus ke rumah sakit untuk periksa kolesterol. Bapak tidak bisa mengantar ibu karena masih sibuk mengurus di pabrik. Ibu Tidak bisa mengendarai mobil.


"kan hari ini hari jum'at jam pelajaran cuma sebentar. Raisya di suruh izin saja santi.kita perginya ajak raisya saja. Kamuyang nyupir nanti kita ajak salah satu pemrja di pabeik yang masih gadis untuk menjadi temean ibu kepoli. Kamujaga Raisya saja main di taman rumah sakit. Kan, ada permainannya. Sekalianngadem sama jajan, gitu."usul ibu


Ucapannya ibu ada benaranya juga . Akhirnya aku setujui.


"ya sudah ibu siap-siap dulu. Sekalianyabu tolang urisin Raisya. Aku mau manasin mobil dulu. Ananti biar aku lansung mandi na siap-siap saja. Seperti rencana awal, ibu mengajak salah satu pegawai pabrik yang masih remaja untuk menemanininya ke poli. Sedangkanaku mengajak Raisya ke area bermain yang di sediakan rumah sakit. Tempatnya ada di sebuah aula ruang tunggu. Di depannya ada kantin besar untuk pengunjung membeli beraneka ragam cemelian. Saagsampai disana tempat itu agak sedikit sepi. Mungkinkarena hari jum'at. Jadi pengunjung hanya sedikit.


aisya lansung berlari menuju aneka tempat permainan. Di sana ada beberapa buah perosotan , rumah-rumahan besar, mandi bola, sertabeberapa alat bermain lainnya. Raisya memilih bermain masak-masak.


Wahana permainan di alasi karpet yang bersih. Sehinga, penunggu anak-anak bisaikut bersantai sembari meluruskan punggung. Kubaringkan tubuhku dengan bantal salah satu boneka. Saathendak memejamkan mata, karena ngantuk. Aku di kejutkan suara seseorang yang datang.


"lah kok dik Raisya ada di sini?"


Aku lansung membuka mata, disana ada ibu mas Satria yang membawa Anisa.


"eh iya, bu. Sedang mengantar mbahnya cek kolestrol." aku segera bangkit menyalami wanita yang masih mengendong cucu kesayangannya.


Meski dalam proses perceraian kesopanan tetap aku junjung tinggi. Raisya aku minta untu menyalami mbahnya.


Aku kembali berbaring di tempat semula. Tidak ingin berbicara dwngan ibu mas Satria. Takut memancing emosi didepan umum. Kembali memejam mata meski todak bisa lelap. Setidaknya, berpura-pura tidur untuk menhindar ibu mas Satria.

__ADS_1


"aku mau boneka ini"


Seketika, kepalaku terbentur karpet karena bantal boneka yang aku gunakan di tarik oleh Anisa. Cukup sakit, sehinggaaku mengaduh.


"aduh, Anisa,ada boneka yang serupa denganboneka ini kenapa mala mengambil yang ini? Kepala bulik jadi sakit kerena terbentur lantai."sunggutku.


"nggak mau! Anisa pengennya yang ini!" terianhnya.


"Udah nggak apa-ap, santi. nama juga anak kecil" sahut ibu mas Satria. Kemudian beliau mengusap rambut cucu kesayangnnya. Dengan penuh kasih sayang.


"Anisa main sam adek Raisya ya?" pinta wanita yang masih menjadi mertuaku itu.


"iya mbah"jawabnya lembut.


" Adek Raisya mbaik Anisa mau main masak-masak ini!" anak kecil itu yang tangan satunya menggendong boneka, membentak anakku.


Ada rasa tidak terima, Namun aku diam saja karena ada mbahnya, nanti kalau aku tegur malah bisa terjadi pertengkarandi depan umum.


"Adek Raisya yang ngalah ya.. Adek Raisya kan kecil. Adekraisya harus menghormati mbak Anisa" ibu endang mendekati kedua cucunya.


Dadaku mulai mendidih begitu saja terusa menyuruh anakku selau mengalah,lagi pula aku jadi bingung ajaran dari mana ini setau aku yang besar yang disuruh mengalah ini malah yang kecil yang di surih mengalah.


Begitu lah kalau mereka bermain bersama selalu anakku yang selalu mengalah. dan Anisa selalu membentak -bentak anakku. Apapun mainan yang di pegang oleh Raisya selalu di rebut oleh Anisa. Dan mbah mereka selalu berkata yang sama. Raisya yang ngalah ya?..


"aku jadi majikannya adek Raisya kadi pembantunya ya? Apayang aku katakan adek Raisya harus nurut ya?"


aku heran anak yang umur segitu. Raisya dan anisa sebenarnya seumuran sih cuma selisih 2 bulan tuanya Anisa. Untuk anak-anak yang usia TK tapi bicaranya seperti orang yang sudah besar. Sesekali mbahnya tertawa melihat dia berlagak seperti bos yang menyruh-nyuruh Raisya.


"adek Raisya sini duduk sini jangan main trus dong dengarin Anisa bernyanyi. Anisapintarlo bernyanyi kata mbah suara Anisa juga sangat merdu."


"nggak mau ah" tolak Raisya.


"adek Raisya jangan begitu dong, mbak Anisa mau bernyanyi sini duduk! Lihat dan dwngarin mbak Anisa bernyanyi"ibu endang bangkit dan menarik tangan Raisya dan mendudukkan mereka dengan paksa.

__ADS_1


Tidak lama Anisa bernyanyi menyanyikan lagu bintang kecil, untuk di pertontonkan dengan bangga. Ibu endang juga ikut bernyanyi sambil bertepuk tangan.


"hore! Ayoadek Raisya ikut tepuk tangannya dong."perintah wanita baya itu.


" wah, anak pintarnya ibu dan ayah, kesayangan keluarga, suaranya merdu sekali" ibu endang kegirangan memuju cucu kesayangannya itu.


Selalu seperti iti. Anakku selalu menjadi tim hore-horenya saja. Raisya melirik kearahku dengan tatapan dengan yang kesal. raisya berlalu sembil memainkan mainannya tadi.


"cuma seperti iti di bilang bagus." sunggut Raisya.


Naluri jahatku bergejolak. Ingin rasanya punya kesempatan memberi pelajaran. Anak kecil yang audah berlagak seperti bos.


"santi, ibu titip Anisa, ya? seprtinya ibu harus masuk ruanga dulu. Mau tampal gigi, bapak sudah menunggu di sana.


Aku mengangguk senang.


"mbah, nggak mau di tinngal. Mbah di sini saja, nanti kalu Anisa di jaili sama adek Raisya bagai mana?"


Ya allah bukanya dia yang mengniaya anakkudari tadi. Mengapa dia mmutar balik fakta?


"adek Raisya nggak nakal kok sayang."ucap ibu mas satria dengan dana yang tentunya amat lembut. Lalu beliau beralih kepad pitiku.


" adek Raisya jadi kerbau ya? Biar mbak aira yang naik. Adek Raisya jalan-jalan mutar-mutar seperti itu. Kalau seperti itu mabk Anisa nggak rewel. Biar mbah tambal gigi dulu"


Raisya lansung menurut berjongkok dan merangkak, meniru gerkan kerbau. Anisa naik dan duduk di atas punggung gadis kecilku dengan gerkan yang keras. Sampai gadisku meringis kesakitan.


"udah, ya, Anisa? mbah pergi dulu."


"santi ibu pergi dulu ya? Titip Anisa." tanpa menunggu jawan dariku perempuan itu segera pergi.


"Anisa turun!" bentakku.


"nggak mau, adek Raisya jadi kerbau ayo jalan lagi.

__ADS_1


__ADS_2