Istri Yang Terzolimi

Istri Yang Terzolimi
akanku permalukanmu dengan cara elegan


__ADS_3

Warung bakso ini terkesan mewah nyaman bagi siapa pun untuk berlama-lama nongkrong disini


Tempat duduk laki-laki muda itu di sudut ruangan, sehingga untuk mencapai meja tersebit aku harus berjalan melewati meja-meja yang jejer terlebih dahulu.


Saat melintas kudengar sebuah obrolan dari salah satu pengunjung untuk makan siang. Mereka sekelompok sepertinya karyawan kantor di depan warung bakso.


"eh satria tadi kemana jemput si dia lagi? *tanya seorang yang ada di antara mereka lagi


Aku berjongkok pura-pura benerin sepatu, demi mendengar obrolan mereka.


" iya lah tuh anak nekad bener. Dengar-dengar dia sudah nggak pulang kerumah istirnya lagi"ucap yang lain


"kasian anak dan istrinya, ya satria memang nggak pernah bersyukur. Udah hidup punya keluarga tenang malah bertingkah" cecer yang lain nya.


Dada ini panas mendengar obrolan mereka. Aku bangkit dan melangkah menuju kearah meja teman maya ku tadi.


"loh pak andi" ucapku setelah sampai di dekat meja tersebut ternyata laki-laki yang mengajak aku kerja sama itu adalah putra ibu sindi.


"mbak santi?" ujar nya yang nggak salah terkejut. Dan akhirnya kami membahas tentang kerja sama yang kami rencana kan sebelum nya di menyetujui apapun saran dariku dan akhirnya kami resmi menjadi rekan kerja.


Ternyata mas satria kerja di perusahan bu sindi yang di kelola oleh pak andi, dan untuk restoran di rintis sendiri dan sekarang sudah berkembang pesat dan cabang nya dimana-mana.


***


Setelah membahas banyak hal dengan pak andi.


ketika mau pamit tanpa sengaja aku melihat kearah parkiran,kebetulan meja kami berpapasan sama parkiran.


tiba-tiba aku melihat mas satria yang berdiri di parkiran. Dia tidak sendiri dia bersama seorang wanita cantik yang modis dan ****. Terlihat bahagia, tak selayaknya orang yang memiliki masalah. Aku tak mengamati jelas, tetap sepertinya pak andi menoleh ke arak objek yang ku pandangi.

__ADS_1


"mbak santi istrinya satria?" tanya mas andi.


Replek kepalaku mengangguk. Kutundukkan kepalaku supaya laki-laki di depanku nggak tau kalau aku sedang menangis.


"sabar ya mbak"ucapnya kemudian. Hening


" mbak santi, jangan nagis. Hapus air matamu tak perlu menangisi laki-laki seperti itu, tunjukkan kalau mbak santi adalah wanita yang kuat, jangan kawatir aku berda di pihak mbah santi" ujarnya lagi.


Masih berlinang air mataku.Aku tatap laki-laki yang nggak begitu lama aku kenal ini.


"aku sudah tau perihal rumah tanggamu, meski pun aku hanya baru dengar dari pihak satria dan aku tidak tau yang dia katakan iti benar atau salah. Yang jelas aku tidak suka kelakuannya. Dia selalu mengumbar-uambar kekurangan istrinya kepada teman-temannya. Entah yang di katakannya itu benar atau tidak. Yang pasti sikapnya sangat buruk. Apa lagi orang yang berpendidikan"ujarnya lagi.


Aku hanya terdiam mendengar setiap kata yang di ucapkan pak andi


"aku tidak dekat dengan satria, hanya sesekali kami bertemu diruang miting. Kami juga jarang sekail berbicara. Tapi aku sering dengar dia bercerita di kantor, dia termasuk orang yang suka bercanda membiat lelucon, dan yang peling tidak aku sukai dia selalu menjadikanmu sebagai bahan lelucon saat bergurau" jelasnya lagi.


"Sekarng pulanglah, hapis air matamu, jangan sampai suamimu tau kalau kita bersama. Balas sampai dia menyesal telah menyaikitimu, telah menyia-nyiakanmu. Aku akan ketoilet. Tagihan ini biar aku yang bayar. Bersihkan air matamu. Agar kamu kelihatan canti dihadapan mereka berdua. Kamu paham santi?" ujarnya lagi sanbil menyerahkan sapu tangan kearahku. Aku bengong menatapnya.


"ini untuk membersihkan sisa air matamu" ucapnya lagi. Aku mengangguk.


Dia melangkah kearah toilet. "kita bisa bicarakan ini di tempat yang lain" ucapnya sambil berlalu.


Aku segera menghapus bekas air mata segera kupoleskan bedak dan lipsik. Sekali lagi, aku meneliti riasan wajah. Benar kata pak andi. Aku harus kelihatan cantik di hadapan mereka berdua.


Melangkah keluar dari warung bakso, kutolehkan wajah mencari ayah raisya. Aku harus bertemu dengannya, mendengar kalau aku sering kali di jelek-jelekkan di depan umum. Telingaku memanas, hatiku begitu membencinya. Rasa cinta yang susah payah ku hilangkan selama sebulan. Suses lenyap, tak tersisa pada detik ini juga.


Akhirnya ku temukan satria tepat sekali. Dia berkerumun di depen mobilku, bersama teman-temannya berbincang di bawah pohon. kulihat wanita itu juga betda disana duduk berdampingan, Manis sekali.


Mempercepetkan langkah sembari menetralisir detak jantung yang tak karuan. Bukanlah sesuatu yang mudah. Rasa masrah ingin mencabik-cabik tubuhnya sangat besar. Namun, sekali lagi kukuatkan hati ini. Akan aku permalukan dia dengan cara yang elegan.

__ADS_1


"satria dan felli makin lengket saja nih"gaoda slah satu rekannya.


"biasa lihat istri yang bureng, sih. Samayang bohay gini jadi betah sat?" sahut yang lainnya.


Ku perkirakan jumlah mereka 10 orang makanya rame. Mulut laki-laki ini bahaya juga rupanya. Lihai sekali dalam menghinaku. Mungkin karna aku terlalu sering di jdikan bahan ejekan.


"ya bedalah kalau dirumah berdirinya susah nggak ada gairah"


Terdangar tawa mengelegar. Dari mulut-mulut kotor itu. Ya kotor bila mereka bermulut bersih nggak mungkin menghina orang yang nggak sama sekali mereka kenal. Dan tentu memilih menjauh dri laki-laki yang bisanya hanya menjelek-jelekan istri sendiri.


Kuhapiri merka yang sedang tertawa terbahak-bahak itu.


"apa kata anda saya bureng? Betulkah? sekarang, silahkan anda lihat apakah saya sejelek perempuan yang satria katakan di hadapn kalian?" ujarku


Seketika merka terdiam. Semua mata memandang kearahku dengan penuh kekagetan. Wajah satria ketika pucat.


Kulirik wanita yang disampingnya yang menunduk.


"kalau kemaren-kemaren saya terlihat jelek, bureng, kucel, bikin anu-anu nggak berdiri. jangan salahkan aku dong sat. Coba kamu pimir nafkah 20 ribu yang kamu berikan dalm sehari, cukup untuk makan atau idak. Ayo jawab!"sengitku.


Dia masih tidak berkutik sama sekali.


"Alasanmu gajimu cuma sedikt untuk menyiksaku ya? Kamu membiarkanku kerja sendiri banting tulang. Menghidupi gadis kecilku, juga untuk memberi makanmu. Pada hal, sebenarnya uangmu habis diluar rumah untuk ibumu untuk biaya kulyah adikmu untuk ibumu shoping sana sini,seta buat makan enak dengan gudik kamu ini iya kan? "


Sengajaku tinggika suaraku. agar semua yang berkumpul kesini. Barangkali banyak teman-teman satria di antara mereka biar dia malu sekalian.


Sebulan lebih kamu pergi tidak ngasih uang untuk anakmu, tidak mikir anakmu makan apa, tidak menanya kabarnya sehatkah, sakitkah, tapi sekarang aku jauh lebih baik keadaannya, tas bermerek, jam tangan mahal, gelang mas baju mahal, semua bisa aku belikan. Jadi kenapa kemaren aku tidak bisa cantik? Karena siapa?" ucapku lantang.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2