Istri Yang Terzolimi

Istri Yang Terzolimi
mengambil surat nikah yang berada ditangan Satria


__ADS_3

dua hari telah berlalu, alhamdulillah, satria tidak lagi datang ke,rumahku, hidupkuterasa tenang.


Menjelang siang, saataku aku sedang merangkap pesanan pembeli, gawaiku menyala, ada sebuah pesan masuk dari nomor baru.


(Satria sakit gara-gar ulah kamu, santi."


(sudah benyak pengorbanan yang dia lakukan untuk kamu)


(tapi tidak pernah kamu hargai usahanya untuk kembali kepadamu)


(kami sungguh kecewa kepadamu)


Aku lihat foto profilnya, ibnya Satria, akuhanya tersenyum membacanya pesanitu, tanpa berniat untuk mebalasnya. Dari bau-baunya, ibu Satrria mendukung Satria kembali bersamaku. Uangmemang bisa merubah segalanya, termasuk harga diri. Dulu, semua keluarga Satria sengat mendukung Satria untuk berpisah dari aku.


Aku lanjutjan aktifitasku. Biarlak, wanita tua itu murka karena pesannta tidak di balas. Siapa peduli? Diamau marah atau benci sudah tidak ada pengaruh buat aku.


Gawaiku menyala lagi. Kulihatdari depan, nomor yang sama. Aku abaikan saja, malasngurusin orang seperti itu.


Malam harinya, saat tubuh ini aku istirahatkan, aku buka pesan dari ibu Satria tadi siang.


(apa hatimu sudah tidak ada lagi rasa kasih sayang terhadap suami kamu Satria, santi?)


(jangan egois lah kasian anak kalian yang masih kecil tidak mengerti apa-apa.)


(mungkin kamu bisa untuk cari suami lagi, tapianak kalian? Mereka sangat membutuh ayah kandungnya)


(pikirka lagi, santi.)


Aku balas pesannya.


(terserah ibu saja.)

__ADS_1


(Aku sudah tidak peduli sama anak ibu.)


Sebelum pesan aku di baca,aku putuska untuk memblokir nomor itu. Akupejamkan mata ini, mencobauntuk melupaka segala kenangan buruk tentang satria dan keluarganya.


Terserak kalian saja buk, aku sudah tidalk pedulidengan apapu yang kalian katakan.


***


Siangnya ketiaka aku bru pulang pulang dri klinik kecantikan, tiba-tiba gawaiku berdering, aku lihat di sana ter tulis nama pak Andi, ada debar bahagia saat namanya tertera di layar gawaiku, bibir ini ter tarik seketika.


"hallo, assalmualaikum."


"waalaikumussalam, santi, maafaku mau tanya." pria di seberangvtelpon berhenti bicara untuk sejenak.


Aku semakin tersenyum, membayangkan, dia ketiaka akan mengajak aku bertemu lagi. Semoga saja memang itu maksudnya menelpon.


"iya pak , mautanya apa?" tanyaku dengan lembut.


Senyumku mengkerut seketika. Entah karena hayalku tak jadi kenyataan atau karena kabar buruk dri calon matan suamiku. Akutidak tahu yang mana alasannya.


Baruta yang memalukan yang baru saja aku dengarkan, menjadi alasan kuat untukku mengajukan gugatan cerai. Sebuahbukti yang sangat jelas.


Itu alasanya bapak mendukung keputusanku untuk berpisah karena Satria sudah terbukti selingkuh di belakangku.


Aku mersa bersalah dengan anakku karena harus kehilanga banyak waktu bersamaku.meski ladang setiap hari bersama dirumah. Namun terkadang ada acara dadakan, sehingga Raisya harus dititipkan sama mbah uti dan mbah kakungnya. Sehingga kadang lebih banyak menghabiskan waktu dirumah mbah utinya.


Aku janji setelah masalahku selesai dengan ayahnya, aku akan luangkan banyak waktu untuk gadis kecilku, untukurusan pabrik biar lah bapk yang mengurus semuanya. Aku tak peduli berapapu bagi hasil yang beliau berkan untuk aku. Yang penting aku tidak perlu bekerja banting tulang seperti dulu lagi.


Setelah mengakhiri percakapan dengan pak Andi, aku kumpulkan semua berkas-berkas yang di butuhkan.


pak aripin dan sintia telah memberi tahuku syarat-syarat apa saja yang ahurs aku lengkapi sebelum mengajukan guatan cerai.

__ADS_1


Lembaran-lembaran sudah tertatarapi di hadapanku tinggal stu lagi yang belum buku nikah. Aku segera bangkit dri lantai dan membuka lemari yang menjadi lenyompan surat-surat penting. Aku sudah mengobraik abrik semua isi lemari, akantetapi aku tidak menemuka barang ayang aku cari. Barang yang aku cari sudah tidak ada di sana.


Ah sial! Pasti Satria sudah menyimpannya terlebih dahulu, pasti dia dan keluarganya tidak mau kami bercerai. Sungguh sangat sulit untuk meminta barang itu kembali.


Aku terduduk di lantai dan tersandar di pitu lemari. Menutup muka dengan kedua telapk tangan.


Mengapa maslahku bisa serumit ini? Aki hanya ingin berpisah dan bisa hidup tenang. Kenapa sangat sulit? Dulu, disaat aku lemah dan masih membutuhkan mas Satria, di saat aku berjuang sendiri menghidupi keluarga ini, merekamalah seolah merampas mas Satria dari adku dan Raisya, mereka menyuruh aku mwngurus perceraian sendiri.


Sekarang, setelahaku turuti keinginan mereka, bangkitdri keterpurukan hidup, dan siap melepaskan untuk tidak menjadi suamiku lagi tanpa nas Satria harus mengeluarkan uang dan tenaga. Mereka malah berbalik pikiran.


Mengapa masalh bisa serumit ini? Aku hanya ingin berpisah dan hidup tenang, aku menangis mencoba menghilangkan kepiluan di hati dengan air mata. Berharap rasa ini segera membaik dan berpikir jernih. Akuharus mencari jalan supaya bisa mengambil buku nikah itu dari tangan satria.


Setelah aku rasa telah membaik segera aku telpon bapak untuk kesini. Aku tidak bisa memecahkan masalah sendiri. Fengan berkeluh kesah dengan beliau, mungkin beliau memiliki saran yang lebih baik.


Di hadapan pria yang yelah meberi kasih sayang semanjak aku kecil itu aku berkeluh sesah aku ceritakan gundah yang aku rasakan saat ini. Bapakterlihat gusar menahan emosi.


"bapak sebenarnya malu dengan kondisi rumah tangga kalian. Sebenarnaya, tetanggakita sudah menjadikan hal ini swbagai ajang ghibah di saat berkumpul. Menjadi janda bukan sebiah prestasi yang membanggakan. namun, yang ada janda selalu menjadi stigma negatif dalam norma masyarakat. Akan tetapi, hidup bersama satria, yang sudah memiliki cacat prilaku juga kebiasaan yang buruk, tidak membuat mu menjadi lebih baik menjadi janda. Bapak yakin hubungan dengan wanita selingkuhannya itu akan tetap berlanjut meaki Satria masih bersama kamu.


Aku diam menytujui perkataan bapak dalam diam ku.


"tenang saja, santi, bapak akan menemui keluar ga satria untuk meminta buku nikah kalian. Tapibtidak untuk hari ini keadaan mereka pasti sedang tidak baik-baik saja, jangan khawatir bapak akan mengurus semuanya agar kamu bisa berpisah dri Satria secepatnya"


Mendengar pencerahan dri bapak hatiku menjadi sedikit tenang. Panas di kening beransur-ransur turun.


"bila ada yang memanfaatkan waktu ini untuk mendekatimu, jangan ladeni dia, jaga marwahmu, jangan berhubungan dengan laki-laki mana pun, sebelum kamu menjadi wanita bebas."


Mendengar hal ini, aku begitu terdohok, Aku meras,sedikit bahagia bercakap-cakap dengan pak Andi adalah suatu hal yanh tidak baik.


"Kamu harus sabar mungkir perceraianmu dengan satria akan memakan waktu lama karna keluarganya pasti akan melakukan apapun untuk supaya kalian tetap tdak berpisah,dan setelah bercerai dari satria kamu akan terbebas berurusan dengan keluarga mereka,dan anggap saja ini adalah cobaan untuk menggugurkan dosa."


Aku mengangguk tanda paham.

__ADS_1


__ADS_2