Istri Yang Terzolimi

Istri Yang Terzolimi
reseler produk kecantikan


__ADS_3

Rasa kasihan yang sempat singgah mendadak pergi lagi. Kini, amarahkusemakin besar. Namun, akuharus sabar akan aku balasmereka dengan cara yang cantik.


(kirim fotomu pakai baju warna merah, dong.)


Lalu terpampang sebuah foto memakai bikini batem merah. Denganpose menantang. Aku malu melihat perempuan hina itu. Taklupaku abadikan percakapa mereka dan mengirimkan ke gawaiku.


Mas satria belum bangun. Jadi, secepatnya aku kembalikan HPnyapada posisi semula. Mengabaikan rasa marah dan sakit hati , akusegera mandi , solatdan siap-siap pergi. Seperti biasa, tetap dengan penampilan berkelas.


Kali ini, memakai gamis polos bahan jersey yang di paduka dengan ou ter panjang sampai bawah. Tak lupa perhiasan dan jam tangan mewah melingkar di kedua tangan ku.


Saat hendak berangkat, mas Satria terbangun dan terpaku penuh takjub. Dirinya sama sekali tidak ku lirik.


Biasa saja kali, mas. Buatap terpana memandangku, bila di belakangku kamu menginginkan tibuh wanita lain?


Untungnya, mobilsudah aku bawa dari rumah bapak. Jad, mas Satria akan melihat aku pergi menggunakan mobil, kendaraanyang tengah menjadi incaran keluarganya.


"dek, kamumau kemana?" tanyany.


"mau ada pertemuan dengab rekan bisnisku" jawabku denga ketus, sambilmemakai sandal yang baru aku beli tanpa menoleh.


"jangan pergi sendiri, dek. Tunggu mas sebentar, ya? Masmandi dulu. Nanti, mas temani kamu"


"aduk nggak usah lah, aku malu kalu datang sama kamu yang mukanya babak belor gitu, mas. Apakata teman-teman ku nanti, coba?" akhirnya dengan terpaksa aku tatap mukanya. Tetap menunjuk ekspresi jutek.


"ya Allah, dek. Kamukejam sekali sih sama mas. Kan, masseperti ini juga karena ulah kamu. Untungsaja mas tidak lapor perbiatan kamu sama ibuk" sahurnya , jugaikutan ketus.


"mau ngadu juga silahkan, mas. Aku sudah tidak takut sama keluargamu sekarang. Lagi pula, bukan salah aku, donh. Kan, kamu sendiri yang nggak mau keluar dri rumah ini. Katanya, mau menghindari tekanan ibu? Kenapasekarang malah jadi berubah pikiran gitu?" ujarku, sambil menambah polesan lipstikdan menggunakan kaca kecil yang aku ambil dari tas.


"nggak gitu maksudnya, dek," ralatnya, tampak menyesal sudah kecoplosan.


"nggak gitu gimana , ah? Tadi gitu, kok. Jangan mudah berganti pendirian. Kalau dasarnya tukang ngadu, ada maslah sampai sekecil apapun, akan berluindung di bawah ketiak ibuter sayang. Beda sama aku, wanita mandiri sukses."


Selesai berkata seperti itu, tiba-tiba segepok uang jatuh dari tas. Ah, sial. Mengapatidak aku tutup setelah ambil cermin? Segeraku punguti uang berwarna merah dan memasukkan kembali kedalam tas.


Mas Satria membelalak, tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"kenapa, mas? Pasti menyesal setelah melihat aku yang sudah sekaya ini ya?" tanyaku , penuhselidik.

__ADS_1


"dek, kamu jangan berangkat sendiri. mas ikut. Sekalian mas mau ambil baju-baju yang masih dirumah ibu. Kan, kemarenmas cuma bawa beberala potong saja. Nisa juga.." dai tampak takut melanjutkan ucapannya.


"kenapa? nangis lagi? Minta di belikan mainan baru? Emangaku peduli? Aku sumpahin keluargamu mendapat balasan atas sakit hati yang aku dan Raisya rasakan selama ini" ucapku, sengit.


"santi, jaga ucapanmu" bentaknya dengan nada tinggi.


"kamu yang harus jaga ucapan! Aku sama sekali tidak mengiginkan kamu berada dirumahku ini lagi. Dasar,tidak tau malu!"sengitku, tak kalah darinya.


" aku malas jalan sama kamu. Semua klienku sudah melihat vidio itu. Aku malu kalau terlihat masih jalan sama kamu"


Mas Satria sama sekali tidak berkutik, membuat aku terus melanjutkan ucapan ku.


"Dan kalau kamu khawatir sama Nisa, kamupergi saja dari sini. Janganpernah sebut nama tuyil itu lagi, kalaukamu tidak ingin aku seret keluar." ancamku.


Dia semakin diam. Tiba-tiba gawaiku berdering. Segera aku menghubungkan telepon dan sengaja aku menyalakan speker supaya mas Satria mendengarnya.


"hallo bos canik, semuasudah beres, sudah siap. Tnggalmenunggu kedatangan bos cantik saja nih."


"Oke.empat puluh menit lagi saya sampai. Kalian sharing ilmu bareng-bareng dulu saja,ya? Yang omsetnya besat bagi-bagi triknya sama yang lain."


Aku segera berlalu. Mas Satria mengikutiku sambil merengek mita ikut. Namun, aku abaikan.


Saat membuka pintu mobil, tak lupa aku kenakan kecamata colat demi menambah sempurna penampilanku. Satria tak berdaya. Hanya mampu melihatku dengan tatapan memelas. Diriku segera berlalu mengendarai mobil incaran keluargany.


***


Di pertemuan dengan para reseler, kami berfoto bersama. Halitu menjadiku ingin mengunggahnya ke story whatsapp. Kalianluar bisasa. Tanpa kalian aku bukan siapa-siapa begitulah ku tipan yang ku unggah., lengkapdenga emotkon hati.


Sebuah notifikai pesan masuk, balasdari story yang ku pajang. Dari mas Satria.


(dek, kamu di mana?


(mas susul pakek motor kamu,ya?)


Hanya aku baca, tanpaaku balas. Aku lanjutkan acara berbagi ilmu dengan para reseler.


Seperti menwmuka dunia baru saat berjumpa muka dengan mereka. Benarkata pepatah, kitaharus saikit dulu baru merasakan nikmaya sembuh. Dalam hati, aku bertekat akan lepas dari satria dan keluarganya. Namun akan aku gunakan cara cantik untuk membalas skit hatiku.

__ADS_1


Sebuah notifikasi kembali masuk. Kali ini dari pam Andi.


(mereka semua reseler roti-roti kamu, santi?)


(Duh, penjual roti-roti sekrang cantik-cabtik, ya)


(ternyata, yang modis bukan hanya penjual prodik kosmetik saja. Reseler roti-roti pun tak kalah cantik, danjuga harus jaga penampilan,ya?)


Aku tertawa, pertanyaan pak Andi benar-benar lucu dan menghibur. Mana ada mereka reseler roti-roti?


(anda lucu , pak) balasku dengan emotikon tertawa.


(mereka bukan penjual roti-roti. Tapireselwr produk kecantikan.)


(aku membernya.)


Hanya di baca, tidakdi balas. Malu, mungkin.


Setelah acara selesai, aku beraiap pulang. Sebelumnya tak lupa aku memnyuruh pegawai rumah makan membungkis sisanya untuk dibawa pulang para reseler untuk keluarga mereka dan aku juga pesan ikan bakar dan rndang untuk Raisya dan kedua orang tuaku. Saatdi kasir aku di kejutkan dengan seseorang yang berada di sana.


"pak Andi" sapaku. Orang yang aku sapa terswnyim kikuk, sepertinyamenahan malu.


"mau gabung jadi reseler produk kecantika juga? Atau jadi reseler roti-roti?" godaku.


Kami tertawa. Setelah ber bincang sebentar kami memutuskan untuk nongkrong di sebuah kafe. Aku perlu sedikit menambah pergaulan. Supayatidak seenaknya di hina oleh ibuk Satria.


Aku dan pak Andi mengendarai mobil masing-masing. Sebenarnyabisa berangkat bersama.


Namun, akumasih menjaga etika. Bagaimanapunstatus aku masih menjadi seorang istri. Walaupun aku berharap, sebentar lagi status ini akan segera berakhir.


Di sini lah kami berda. Disebuahvtempat ngopi dengan memanfaatkan hutan yang terletak di atas perbukitan. Kami duduk sambil menikmati minuman dan memanjakan mata dengan memandang ke bawah bukit terlihat pusat kota yang ada di bawah sana.


Kami ngobrol cukup lama. Pak Andi orangnya cukup pengertian, rupanya. Terbukti, selama kami bersama , tidak sedikit pun dia menyinggung masalah pribadiku. Kami bercerita banyak hal melai dari masa anak-anak, hobi, dan banyak lagi. Beliaujuga orang yang rendah hati.


Entah dengan aku. Bagaimana diriku menurutnya? Duh, kenapaaku jadi berpikir ke sana, ya?


"kamu orang nya enak di ajak ngobrol, san."

__ADS_1


__ADS_2