
"ibu tunggu jawabanmu, kamu jangan takut sama satria. Kalau perlu hadapi saja dia. Tetapi kalau menghadapinya kamu harus tetap hati-hati, karena bagai manapun kamu perempuan.kalah tenaga dengan dia. Ibu akan tunggu. dan nanti akan menghubungi arifin pengacara ibu, agar dia bisa menuntut satria memberi nafkah yang selama ini yang tidak dia berikan kepada kamu dan raisya. Suamimu itu kalau tidak ditekan, makadia tidak akan memberikannya!" ucap ibu rasti yang selalu siap membantuku.
"benar bu, mas satria itu keras dan juga egois" ucapku
Tidak terasa berjalan pulang sambil ngobrol denga bu rasti, akhirnya mobil burasti berkenti di depn rumahku,
"eh sudah nyampek aja" ucap bu rasti
"iya bu nggak terasa karna tadi kita sambil ngobrol tau-tau sundanh nyampe. aku pamit kepada bu rasti
" maksih bu sudah repot-repot ngantarin, nggak mampir dulu bu"ujarku basa-basi
"iya sama-sama, nggak apapa kok,malah senang ad teman ngobrol, lain kali saya ya ibu lagi ada kerjaan" ucap wanita paru baya namun tetap cantik itu
Aku keluar dari mobil bu rasti setelah berpamitan.
"hati-hati bu' ucapku
" iya, ibu pamit san assalamualaikum"ucapnya
"waalaikum salam jawabku sambil melambaikan tangan.
***
Seminggu berlalu semenjak kejadian di warung bakso,pak andi tidak menghubungiku lagi. Dan hal ini membuat aku sedikit lega.
Setelah mengetahwi status dudanya, dan dia juga tau tentang rumah tanggaku, lebih baik, kami tidak boleh terlalu akrab. Seorang yang tengah mengalami sebuah masalah dalam rumah tangganya, bukan hal yang baik bila mempunyai teman curhat laen jenis. Karena pada saat kita menemukan kebirukan pada pasanga , maka akan merasa nyaman bila ada orang ketiga yang hadir.
Bukan sebuah masalah bila aku dekat dengan siapa pun saat ini. Terlebih, bila orang tersabut tidak terikat sebuah hubunga pernikahan. Namun, menurutku, itu tetap hal yang kurang pantas di lakukan. Karena statusku saat ini masih sebagai istiri satria. Malas rasanya, menyebutnya 'mas' pada panggilan namanya.
Bila pernikahanini harus berakhir, tentu aku masih akan membuka hati pada pria lain, hanya saja, mungkin butuh waktu. Karna hal yang terjadi antar aku dan satria sangatlah menyakitkan. Tentunya hal ini meninggal sedikit rasa trauma yang besar dalam hati.
ketika sedang asyiknya mengemas barang, tiba-tiba rasya mengampiriku, aku menghentikan aktifitasku sejenak dan beralih menatap tubuh mingil desampingku.
__ADS_1
"ada apa sayang? Apa putri ibu menginginkan sesuatu?" tanyaku sambul mengelus lembut rambut lurus gadis mecilku.
"bu raisya pengen beliin peralatan tulis seperti selly teman sekolah raisya, ibu lihat ini punya raisya sudah habis dan rusak" rengek putriku dengan manja.
"Ya bentar ya tungu ibu nyelesain satu ini sisanya biar di seselasaikan sama mbak putri ya" bujuk ku
Setelah selesai aku mencari raisya untuk mengajak nya beli peralatan sekolah sambil jalan-jalan.
"raisya, yuk kita berangkat sekarang nak, kita sekalian kesuper market ibu juga mau belanja bulanan dirumah barang-barang semua hampir habis" ucapku sambil manggandeng tangan raisya.
"hore, beliin jajan yang banyak ya bu?" pinta raisya
"iya sayang" aku hany mengangguk. Setelah kepergian satria aku bertekat akan melakuan semua yang bisa membuat putriku satu-satunya inbahagiai. Karna sekarang kehidupan kami sudah mapan, aku sudah bisa membelikan apapun yang dia minta, kami tidak perlu lagi berhemat dengan makan goreng ikan asin sama sambel ijo. Aku juga sudah mempunyai penghasilan sendiri. Akubisa membeli apa pun kebutuhanku baju, jilbab,perhiasan semua aku beli. Dan aku juga beren cara membangun ruko di dekat ruamh ibu untuk meletakkan stok produk kecantikan yang aku jual.
Aku menaiku motor bersama raisya menuju sepermarket terdekat.
Sesampainya di supermarker. Raisya lansung berlari menuju arah tempat perlatan tulis dan memilih-milih setelah raisya mendapatkan yang dia cari aku mengajak nya mencari bahan-bahan yang akan aku beli.
Karena aku sendang serus memilih syuran. Tak sengaja aku berjalan mundur-mundur dan tanpa sengaja aku menabrak seaeorang yang sedang berdiri membelakangiku.
Kini aku dan pak andi saling berhadapn, aku gugup, dansedikit salh tingkah.
"ka-kamu" tunjuk pak andi, tak meneruskan ucapanny.
P-pak andi? A-apa kabar?" ucapku, aku benar-benar mersa sangat gugup. Bingung mau berkata apa.
"baik" sahut pak andi sambil tersenyum.
Tak berpa lama bu sindi pun menghampiri pak andi, bu sindi sepertinya senyam senyum sendiru, akupun kurang nerti ap yang ada dalam pikiran beliau.
"wah, raisya juga berda di sini, nak?" tegur bu sindi karna pas tadi ketemu nggak melihat raisya karna raisya sudah masuk duluan.
"iya oma" jawab raisya, raisyamemang diauruh manggil oma oleh bu sindi karna katanya beliu belum mempunyai cucu. Dansudah pengen di panggi oma.
__ADS_1
"raisya salam sama oma duli sayang" ucapku, raisyapun menurut, raisya salam sama bu sindi dan pak andi
"bu sudah seleai milih-milihnya? Tanya raisya
"Belum lum sayang" ucap ku
"raisya mau beli apa sini sama oma saja biar kan saja ibu ngobrol sama oom andi" ucap bu sindi
bu sindi melangkah mengikuti raisya sambil menggandeng tangan mungil itu.
Mereka pun berlalu, dan sekarng tinggal aku dan pak andi, rasa canggung di antara kami semakin beku,
"pak andi mau beli sesuatu? Apa yang bisa saya bantu?" ucapku mencairkan suasana.
"oh tidak aku hanya menemani ibu katanya beliau mau mencari sesuatu, tapisekarng saya malah di tinggalkan" gerutu pak andi.
"ya sudh pak saya mau lanjut belaja kebutuhan dulu" pamitku.
'iya sialh kan" ucapnya sambil tersenyum.
Aku melanjutka kearah persanunan, membeli kebutuhanku raisya dan tak lupa juga aku membeli lebih u tuk ibu dan bapak. Setelah rasa nya vukup aku menuju kekasir untik mebayar semua belanjaan, di kasir aku bertemu lagi dengan pak andi. Aku segera membayar belanjaan dan siap-siap mau keluar dan berenana menunggu raisya di tempat parkir saja. Beberapa menit kemudian terlihat bu sindi berjalan beriringan dengan pak andi sedang kan raisya di gendong sama pak andi sementara bu sindi menenteng dua plastik besar. Mereka berjalan ke arahku. Di mana motorku terparkir.
Setelah serada di dekatku pak andi manurunkan raisya dari gendongannya bu si di menyrah kan dua plasti besar tadi kepada raisya.
"kalian cuma pake maotar saja?" tanya bu sindi
"iya bu kebetulan tadi mobil sedang di pake bapak untuk ngantar barang pesanan pelanggan" jawabku sekenanya
"ya sudah kalau gitu, raisya ikut oma ya? Kita malan dulu sebelum pulang,Nanti oma antar pulang" bu sindi melirik kearah puriku.
"tapi buk"belum sempat aku melanjutkan ucapan ku laki-laki yang tadi mengendong raisya menjawb
" trus gimana bawa barng sebanyak ini pake motor. Tris raisyanya mau ditaruh dimana?" tanya pak andi
__ADS_1
"sudah nggak ada penolakan pokoknya kalian pulang sama ibu" ujar wanita itu
"lah terus mator saya bagai mana bu?" tanyaku bingung