
Setelah semua orang duduk, gita di minta memanggil satria, oleh ibunya. Sebentar kemudian dia memulai pembicaraan, kukirm pesan pada bapak untuk segera kemari sekalian membawa bronis. Antisipasi bila terjadi perdebatan.
"santi, saya sudah mendengarhal yang kamu lakukan, kamubitu benar-benar ketelaluan. Apa pantas seoarng istri dari menejer di perusahan ternama, yang terhormat melakukan hal yang memalukan itu?" cetus ibu eka.
Jadi, mereka ramai-ramai kesini dalam rangka menyalhkanku? Kupijit pelipisku yang mulai berdenyut.
"satria menuai hasil dari perbuatanmu. Karenamu,dia menanggung malu. Tak hanya itu, posisinya juga terancam diturunkan. Bahkan, dia bisa dipindahkan ke twmpat anak perusahan yang lebih kecil. Di daerah yang lebih jauh di perbatasan kota. Seharusnya, bila ada hal yang kurang pas si hatimu, bicarakan secara baik-baik. Kamumalah mencertakasemua di depan umum"
Aku memilh diam, berusahamenahan emosi.
"kalau satria tidak pulang, berarti tidak kemana-mana, cumadi rumah kami" lanjut orang tua itu.
"hak yang wajar juga kalau satria memberkan uangnya untuk aku, dan gita, karna kami keluarganya. Dia sukses wajar jika ingin membahagiakan orang-orang yang dia sayang dong"
Kebisuan di sambung oleh mbak ida
"dan kalau suami sudah melangkah keluar ruamh, apapun yang dilakukannya jangan kamu pikirkan. Diamau apa saja, jangan kamu urus yang lenting dia memberi uang. Jadi, pikiran kamu ini tidak ruwet" sambungnya lagi.
Dalam hati, aku bertanya mereka bicara apa, sih?
Dulu, merkayang menyurh kami bercerai sampai-sampai mas sayria membawa semua baju-baju dari rumah ini, mereka diam, tidak ada ynag kesini. Kenapa sekarang malah menasehatiku? Bahkan, semua nasehatnya memojokkan diriku.
Jangan-jangan satria cerita kalau kemaren ketemu aku di warung bakso aku membawa mobil?
Kali ini tidak bisa tinggal diam. Segeraaku jawab semua perkataan mereka.
"oh jadi semua yang terjadi salah say bu? Satria member ua g belanja 20 ribu sehari salah saya? Sedangkan gajinya di sembunyikan dia nggak salah?" sengitku.
Kini giliran mereka yang membisu, memberi ruang padaku untuk mengeluarkan semua keluh kesah.
__ADS_1
"selama menikah, aku belum pernah mendapat nafkah yang layak. Tapikalian bersenang-senang menikmati nafkah yang seharusnya itu adalah hak aku dan raisya. Itu wajar, sayatidak boleh sakit hati? Lalu saya di jelek-jelekkan di hadapan teman-temannya, anak ibu tidak salah? Kemudian dia selingkuh dengan nyata, dan semua teman-temannya mengetahuinya, sayamasih tidak boleh sakit hati? Luar biasa sekai!"
Mereka tampak menyerngitkan kening, saat aku tertawa senis. Jelas aku sedang menertawakn didikan beliau pada anak yang jelas-jelas salah. Masih saja di bela.
"Jika ini terjadi pada mbak ida, apa ibu akan tetap manasehat seperti yang ibu menyalahkan saya saat ini?" ucapku dengan nada tinggi. Ingin sekalirasanya, pergi, kebelakangmengambil air dan ku siram tubuh mereka semua. Yang di tanya sama sekali tidak menjawab, malah menatapku penuh tanya. Jelas sekali merka kaget dengan sikapkuyang berani ini.
"dan stu lagi, mbak ida!" aku beralih kepada perempuan yang berstatus kakak iparku
"bila kamu berada di posisiku, menyaksikan nisa yang bermanja dan di manjakan oleh suamiku, sedangkan dia tidak penah memperlakukan raisya seperi dia memperlakukan nisa, apa kamu tidak cemburu? Apakah kamu tidak membenci nisa"
Aku berkata sambil menatap tajam anal yang berada di pangkuan ayahnya, diakebetulan tengah melihat kearahku.
"santi, mas mnita maaf, mas ngaku salh padamu pada raisya, kita akan memperbaiki semuanya, mas janji setelah ini mas akan mempriolitaskan kalian yang lebih utama, masjua akan belajar menyupir biar kamu nggak capek mengendarai mobil sendirian" satria tiba-tiba bersuara.
Lucu sekali!
Ternyat oh ternyata. Diaberubah secepat itu, karna sebuah kuda besi yang ku tumpangi. Enak saja! Dia pikir aku perempuan apaan? Semurah itukah diriku? Setelahsegundah rasa sakit yang dia timpakan, hanyadengan menjadi sopirku saja dia memperbaiki semuanya?
***
Bapak datang dari arah pintu sambil menyerah bronis pesananku, akumemanggil mbah wati untuk menyiapkan untuk para tamu terhormat ini.
Semua keluarga satria berdiri dan bersalama dengan beliau. bapak menyalmami tanpa sikap ada ramah seperti biasanya. Aku mengambil kursi yang berada di ruang keluarga. Untuk duduk, karena sofa di ruang tamu tidak cukup.
"pak ibrahim, apa kabar, lama tidak berjumpa. Kenapatidak pernah main-main kerumah kami" ibu satiria berbasa-basi.
"alhamdulillah baik" jawab bapak
"tadinya, minggu depan saya mau kesana, mau nengok satria barangkali sakit atau apa gitu. Sudah lama tidak berjumpa di rumah ini" bapak menatap tajam kearah satria.
__ADS_1
"ah, tidak sakit apa-apa, pak, hanya saja, nisa lagi manja bangat sama satria, jadisusah ditinggal." ibu mertua menyahut sambil tertaw kecil. Dikiranya lucu?
Sedangkan bapak tidak tertarik sama sekali untuk tertawa. Beliauhanya menarik nafas, dan melirik kepada nisa yang masi bergelayut manja pada ayahnya.
Sebentar menempel pada ibunya , pada gita, lalu pidah lagi mbahnya, pindah sama satria trus kembali lagi ke pangkuan ayahnya.
It hal yang wajar di lakukan anak keci., tapikarna aku nggak suka sama anaknya sehingga terlihat sangat menjengkelkan.
"oh jadi karena nisa, ya, tanya bapak sambil mangguk-angguk.
Mas satria paham siakp dan kebiasaan bapak, dia lansung tahu bahwa laki-laki yang melimpahkan tanggung jawab diriku kepadanya, tengahmenahan emosi. Sedangkan yang lain tertawa kecil, mersabapak tidak merasa iri terhadap perlakuan mereka terhadap nisa.
" iya, pak, manja sekali. Mungkin karena anak satu-satunya" timbal mbak ida. Lalu mengsap puncak kepala nisa
"nisa salam dulu sama mbahnya dek raisya'nada bicaranya terdengar lembut, beda sekali saat awal datang. Dasar muka dua.
" tidak usah saya belum cuci tangan, tangan saya masih kotor," cetus bapak.
Demi apa pun, aku ingin ketawa melihat muka merah padam mbak ida. Nisa yang mau jalan kearah bapak ditarik gita.
"satria buka ayah nisakan? Atau ada yang tidak saya ketahui?" nada bicara bapak kali ini terdengar ketus.
Siapa yang tidak matah jika cucunya sendiri, diabaikan oleh ayah kandungnya, mereka pikir semua akan memperlakukan nisa bak putri raja? Termasuk bapaku? Mereka pikir nisa akanterlihat istimenwa di mata semua orang? Lucu.
Mendengar pertanyan bapak barusan. ibu mertua jelas tidak suka.
"maksud bapak ibrahim apa ya?"
"maksud saya satria siapanya nisa? Sampai harus menemani setiap hari? Bapak menegaskan pertanyaannya.
__ADS_1
"lalu bagai mana dengan cucu saya, yangdarah daging satria sendiri, bila dengan alasan nisa, satria disanra di rumah anda, lalu bagai mana dengan raisya yang setiap hari ingi bertemu dengan ayahnya? Harus siapa yang akan di sandra disini? Nisa punya bapak bukan?"
Mereka hanya terdiam, tidak menyahut.