Istri Yang Terzolimi

Istri Yang Terzolimi
aku suka dengan sikapamu hari ini.


__ADS_3

setelah Raisya menghabiskan mkanannya aku mencuci piring sisa makanannya dan membersihkan meja makan dari belas nasi Raisya. Aku siap-siap mau ke acara meet up reseler,dan kebetulan acaranya akan di adakan sekitar jam 10;30 menit.sesuai dengan permintaan para reseler lainnya.karna dengan alasan pas waktu makan siang di tempat kami ngumpul nanti supaya bisa makan siang bareng.


aku berangkatengendarai mobil,sesampai di temapet yernyata merka sudah berkumpul semia diasana.


Kali ini kami memilih rumah makan yang kekinian yang bernuansa terbuka.


Seperti biasa, kami membahas trik-trik konsumen supaya membeli produk kami. Jam sebesas lewat acara inti selesai. di lanjut dengan obrolan santai dan tak lupa berfoto ria.


Saat menunggu makan siang tiba, netrakumenangkap serombol laki-laki yang datang. Salah satu diantranya adalah seorang pria yang mengunakan pakaian santai jelana jens dan koas oblong warna hitam dan juga mengguna kan kecamata hitam. Terlihat auranya semakin memukau, tampansekali. Pria itu berjalan semakin mendekat dengan meja tempatku. Degup jantungku semakin bertalu-talu melihat langkah tegapnya. Sesekali senyum manisnya merekah di bibir manisnya.


Ya allah jaga lh hati ini.


Netra laki-laki tadi menangkap basah diriku yang tadi menatap kearathnya. Aku segera mengalihkan pandangn kearah reseler lainnya.


Mereka masih sibuk dengan berswafoto. Meja kami berbentu persegi panjang. Dan aku duduk di ujung. Meja di sebelah kami sudah ada keterangan sudah di pesan. Apakah raombongan laki-laki yang bru datang itu yang telah memesannya? Itu artinya merka akan melewati tempat duduk kami.


Aku segera menguasai dri dan mengajak berbincang para reseler lainnya.


Untuk menghilangkan rasa grogi aku betalih membuka gawaiku.


Iseng-isen aku buka sstori di kontak whatshap. Stori pak Andi berada paling atas. Sebuah foto minumana dengan kutipan singkat 'AKU TAU, APA YANG KAMU RASAKAN SAAT INI'


(Aku tidak minta denda Santi, jadi kamu bebas melihat aku sepuasnya. jadi jangan malu ya.) Seuah pesan singkat dari pak Andi.


Hilang sudah selera makan aku siang ini. Duh mengapa sih aku selalu bertemu dengan dia? Heran! Dia pubya rumah makan mengapa mesti makan di tempat lain, makan di rumah amakan orang lain.


"mbak Santi nggak makan? Tanya Asti. Aku menggeleng.


"pak Andi, itu Mayang datang. Apa aku bilang, dia pasti kesini kalau tau pak Andi juga ikut kesini."


Suara wanita di meja sebelah, membuathati ini tiba-tiba menjadi panas.


"Halain dong pak.tunggu apa lagi? Mau cari cewek secantik di mana lagi? Dari pada di kejar terus." timpal yang lain


Dan seterusnya banyak lagi candaan yang di lontarkan untuk laki-laki itu. Laki-lakiyang mulai mengetuk pintu hati ini. Perasanmalu yang sebelumnya singgah, mendadakpergi entah kemana. Dan enatah mengapa jua aku jadi marah. Segeraaku ambil makanan yang tadi tidak ter sentuh dan mulai makan dengan begitu lahap.


"mbak Santi jadi lapar melihat kita makan ya?" tanya asti.


Aku hanya mengedikkan bahu. Kulirik pria yang br baju hitam yang di meja sebelah. Dia masih menatapku dengan tatapan yang membingunkan.


Di kafe ini telah tersedia untuk karaoke. Salahsatu dari temanku yang hobi nyanyi. Dia lansung maju dan menyanykan sebuah lagu.

__ADS_1


Dan entah kenapa aku ingin menangis mendengar lirik lagu yang dinyanyikan oleh temanku. Sekelebet bayangan ketika bersama denga mas Satria. Menari di pelupuk mataku. Saatini aku membencinya. Namun tak dapat aku pungkiri dia pria yang telah menjadi suamiku dia juga lah cinta pertamaku. Aku tak menyangka kehidupan rumah tangga kami akan berakhir seperti ini.


Sementara di meja sebelah. Rombongn pak Andi gaduh. Mereka terus menari tanga pria itu untuk naik ke tempat karauke. Di sana ada seorang yang seumuranku yang sedang antri menyanyi.


"Ayo, pak. Mayang sudah nunggu di panggung itu lo."


Aku meliriknya sehingga tatapn kami berdu. Sejenak saling bertukar pandang. Sebelum akhirnya aku memilih pergi ke toilet.


***


Kaget, itu yang terjadi pada diriku. Saat membuka pintu toilet, hendak keuar. Mendapati pak Andi berdiri di depan pintu toilet.


"kamu kenapa." tanyanya, basa-basi.


"saya? Kenapa? Ya tidak kenapa-kepana emangnya ada apa?"


Pria itu tersenyaum.


"kamu jangan bohong, santi." ucapnya lembut.


Kedua tangannya di masukkan ke saku celana jensnya. Terlihat semakin tampan saja. Meski kecamatanya sudah di lepas.


"pak andi bicara apa sih?" tanyaku pura-pura bodoh. Lagipula kenapa sih dia menyusul aku sampai ke toilet?


Wajah aku memanas seketika.


"nggak ada yang aneh dari sikap saya pak. Biasa aja" kilahku.


Dimana-mana harus menang jangan mau kalah meski sudah ketahuan. Gengsi, dong!


"Oh ya? kenapa tadi kamu lihatin aku terus waktu aku pertama datang. Dankamu kelihatan grogi gitu? Jangan bohong sama aku Santi. Aku lebih berpengalaman dari kamu mengerti." ujarnya sambil tersenyum manis.


Aku jadi salah tingkah aku mencari alasan sambil mengaruk kepala. Kelihatansekali bodohnya.


"aku suka sikapmu hari ini, Santi. Tapi, Jangan cemburu , akutidak suka sama Mayang teman-teman saja yang sering menjodohkan. Jangan cemberut ya?"


Aku diam berdiri dengan muka angkuh.


"kamu tidak cocok dengan muka jutek begitu, nggakusah di buat-buat jadi tambah malu nanti."


"apaan sih, pergi sana!" usirku.

__ADS_1


Kamu yang pergi aku mau kedalam. Ataukamu mau ikut?"


Sumpah, becanda macam apa ini nggak lucu! Aku jadi tambah malu. Aku ptuskan untuk pergi. Tapipria itu tetap mengikutiku.


"kenapa ngikutin sih?


" ada yang ketinggalan tapi bingung cara mengambilnya" ucapnya sambil cemberut.


"apaan?" tanyaku ketus.


"senyum kamu, kamubelum kasih saya senyum kamu dari tadi.


Pria ini sungguh keterlaluan aku memutuskan untuk pergi. Namun,dia masih saja mengekoriku


"kenapa lagi?"


"kamu jalan kearah parkir, santi. Dan teman-temanmu ada di sebelh sana"


Pandangan ku beralih kearah depan. Ternyata, deretan motor yang ada di sana. Sangat berlawanan arah dengan meja kami tadi tubuh ini segera berputar seratus delapan puluh derajat.


"santi"


Aku berhenti tanpa menoleh. Menghembuskan nafas kasar. Pria menjengkelkan itu berdiri tepat di sebelah kiriku.


"Samoga proses perceraianmu bisa berjalan cepat. Bila sudah selesai masa idah mu aku akan menemui orang tuamu. Jangan cemburu seperti tadi lagi ya?"ujarnya dengan lembut.


Aku termagu, tanpa sadar pria itu telah berjalan mendahuluiku.


"Mayang lansung pulang, sepertinya dia kecewa. Pak andi kenapa malah pergi ketoilet?" tanya salah seorang dari temannya.


"aku bisa mendengar setelah aku bergabung denga teman-temanku.


"Ada hati yang harus aku jaga." jawab pria itu tanpa beban sedikitpun.


"Oh begitu?"


"siapa nih? "


"Kenalin dong"


Suara di meja sebelah heboh. Temankuyang tadi manggung sudah kembali ke tempat duduknya. Dia menatapku sambil senyum-senyum.

__ADS_1


Setelah cara itu selesai kami pun kembali kerumah masing-masing.


__ADS_2