Istri Yang Terzolimi

Istri Yang Terzolimi
dasar tak tau malu


__ADS_3

"raisya kesini sama ibu om,ini kenalin om ibu raisya cantik bukan?",ujar Raiysa yang mengenalkan laki-laki tampan bernama Zidan tersebut kepadaku


zidan pun lansung tergagap di saat sedang menatap ke arah ku aku juga tidakengerti mengapa sikap laki-laki tampan ini sangat kwlihatan aneh sekali.Zidan mengulurkan tangannya untuk mengajak aku bersalaman.


Aku tidak menyambut uluran tangannya, aku lansung menangkup kedua tanganku di hadapan dada. Fan kelihatannya Zidan menjadi salah tingkah.


"sorry"ucapnya, aku hanya tersenyum lalu menundukkan kepala.


Raisya memutuskan untuk makan di tempat ini. Sesekali Zidan kedepatan mencuri panfang kepadaku entah apa maksudnya akujuga kurang ngeti. Hingga karyawanya juga menyadari dari tingkah aneh pemuda tampan ini, aku meneguh saliva, merasa malu dan risih dengan tatapan pria yang satu ini.


***


Setelah Raisya menghabiskan makanan kesukaannya. Kami pulang kerumah. Dan di perjalan Raisya meminya untuk mampir di rumah ibu, danmai sebentar di sana, padawaktu aku mengajak Raisya pylang malah raisya minta supaya tinggal di rumah mbah kakungnya saja, jadi aku pulang sendiri kerumah dan aku juga berniat nanti kalau rRaisya nggak mau di ajak pulang aku nginap dirumah ibu saja.


Ketika sampai di rumah betapa terkejutnya aku melihat mas Satria tidur di teras rumah. Dia tidak ikut pulang bersama keliarganya. Dasar tak putnya malu!


Aku melangkah tak acuh, melewatinya ynag terbaring tanpa alas pada keramik, ku buka pintu rumah, menutupnya Kembali dan melakukan kegiatan soreku. Seperti mamdi, sholat asar dan menyspu sekedar meskipun sudah di besih oleh orang yang biasa member!sih rumah,


Sepertinya satria menyadari bahwa aku sudah pulang. Diamenyusul masuk, tapi tetap tak ku hiraukan.


"Santi" panggilnya, kalaaku sudah selesi menyapu rumah. Namun, tetaptak aku tanggapi panggilannya.


Aku hanya menoleh sekilas lalu melangkah masuk kedalam kamar. Aku menutup pintu dan aku kunci dar dalam kamar. Uang-uangyang belum sempat di transfer ke bank, aku maasukkan kedalam tas. Karna hendak aku bawa kerumah ibu. Malas sekali jika satu atap denga laki-laki pembohong seperti satria, aku takut uang ku kalau tidak di selamatkan dia curi dan di brikan kepada ibunya dan keluarganya, dan bersenang-senang dengan haisl kerja kerasku, sungguh aku tidak rela jika sampai itu terjadi.

__ADS_1


Setelah selesai memasukkan semua uang kedalam tas. Kaki ini segera melangkah untuk segera keluwar dari kamar. Saat aku membuka pintu, Aku kaget karna Satria berdiari tepat di depan daun pintu. Dia lansung memelukku dengan erat. Akusidah berusaha melepaskan diri, tetapitidak bisa.


"Santi maafkan aku. Janganpernah meminta cerai dariku, aku mohon. Aku menyesal, santi. Aku juga rindu ke pada kamu dan raisya" dia terisak sambil mencium kepala ini. Rasanya sangat menjijikkan, mengingat apa-apa yang dia lakukan bersama gudik itu.


Aku berusaha mendorang tubuh kekarnya yang kini memeluk tubuhku dengan erat, bukanlah hal mudah.


Meski saat adu kekuatan dengan gudiknya, aku menang telak, tetapi Satria seorang laki-laki yang memiliki tenanga jauhlebih kuat. Dalam kepasrahan, tanpa bisa melawan, malahtimbuk ide gila.


Wajah aku, kini berada di dadanya, aku mengunakan gigi runcingku untuk menggigit. Dia mengaduh kesakitan akibat gigitanku. Dan di saat bersamaan, terlepas tangannya dari tubuhku ini.


"Santi, kamu sudah gila, ya? Kenapa menggigitku?" tanyanya, masihmeringis untuk menahan sakit.


"sakit? Sebentar lagi juga sembub, kok. Beda dengan luka yang kau ukir di dalam hati ini. Tak sesederhana itu, hanya dengan kata maaf. Kamu pikir aku apa? Hati aku ini batu?" sarkasku.


"setelah apa yang kamu lakuakan terhadapku, setelah segala keburukan yang kau torehkan dalam kehidupan rumah tangga kita, semudah itukah mengharap maaf dariku? Jangan harap, jangan mimpi!"sarkasku lagi


"aku janji, Santi, tidak akan menyakiti kamu dan Raisya lagi. Aku janji akan membuat bahagia hidup kamu dan Raisya" Satria berusaha merayuku.


"mengapa secepat itu kamu berubah? Apa karna sekarang aku sudah cantik dan kaya?" Tanyaku.


Mengucap kata kaya, kembali aku igat duit yang berada di dalam tas. Aku segera meneratkan pegangan tasku. Supaya tas nya tidak jatuh. Apa jadinya jika dia melihat duitku yang jumlah nya lebih dari enam puluh juta ini, ya.


"santi, sebenarnyaaku ingin selalu mengajak kamu jalan-jalan, bersenang, kumpul bareng sama keluargaku tapi aku takut kalian nggak mau" ucapnya ntah apa maksud dari ucapannya

__ADS_1


"apa pernah di coba saudara Satria? Belum, kan? Bagai mana anda tau kalau saya dan Raisya tidak mau?" aku bertanya kepada nya, dia menggelengkan kepala.


"bila belum, mengapa begitu yankin? Atau ada alsan lain?" dia mengangguk kepala.


"ibu dia tidak mau kamu ikut serta"cicitnya , aku hanya tersenyum sinis.


"oh ternyata ibu ke sayanganmu itu pantasnya malam-malam di ajak tamasya ke ku buran, lalu dia di tinggal disana sendirian. Biar tau rasa" ucapku sambil tersenyum kecut.


"santi, jaga bicaramu!"dia mulai membentakku


"siapa suruh kamu bicara sama aku? Di rumah aku pula, yaterserah aku dong. Apa ada yang menahan kamu untuk tetap tinggal di sini? Tidak kan? Jawabku tak mau kalah.


"Santi, aku ini masi suami kamu"bentak nya


" oh ya kalau kamu merasa aku ini istrimu menagpa selama ini tidak menjalani tanggung jawabmu dengan baik , aku ingatkan ya? Tanggung jawab seorang siami itu memberinafkah yanglayak, memberiperlindungan terhadap anak dan istri. sedangkan kamu selama ini kemana? Dan aku igant kan sekali lagi saudara Satria sebentar lagi aku bukan istrimu lagi" jawabku denagn penuh penekanan.


"santi, aku ingin berlaku adil memperlakukan kamu dam ibuku" jawabnya dengan penuh keyakinana.


"aku tidak menuntut keadilanmu sekarang. Mas, sekarang kamu bebas. Jika kamu menggunakan ibu mu sebagai alasan untuk tidak mengajak aku kemana pun kamu pergi. Bukankah kamu bisa mengajak kami kalau tanpa meraka. Seperti yang biasa kamu lakukan sama wanita simpanan, pel*c*rmu? Aku berkata sambil melipat tangan.


Tak salah, jika hari ini aku ladeni kamu ngaobrol sat, barang kali ini untuk yang terahir kalinya. Aku sudah benar-benar muak berada di dalam satu rumah dengan laki-laki pembohong satu ini.


"Santi, dia bukan p*l*c*r dia itu adalah wanita terhormat. Hanya saja merasa kesepian karna di tonggal kerja suaminya. Aku kasian sama dia"

__ADS_1


Darah ini mendesir ketika mendengar pembelaan dia lakukan kepada gudiknya. Reflek kedua tangan in menggepal. Dengan membabi buta, kutonjok pipinya berkali-kali. Hidungnya sesekali juga jadi sasaran. Takut dia mati nanti aku masuk penjara. Dan terakhir lato-latonya ku tendang. Dan ku pegang dari luar terus aku tarik dengan kasar. Dia pun memohon minta ampun.


"apakamu bilang hah? wanita terhormat?"


__ADS_2