Istri Yang Terzolimi

Istri Yang Terzolimi
hanya membuat aku menjadi gila


__ADS_3

"bagai mana santi?" ibu mertua kembali bersuara. "ibu harap kamu bisa melewati ujian ini dengan baik, ya? Semoga setelah ini kamu, Satriadan Raisya bisa hidup bahagia. Kepalku sudah berdenyut tidak karuan.


" kenapa tidak meminta sama selingkihannya saja buk? Kenapa harus meminta sama aku?"protesku dengan lirih. Mereka seling pandang.


"Kalau ngomong yang benar dong santi! Kamu kan istrinya. Felly itukan cuma selingkuhan Satria. Jadikamu yang harus ikut memikir semua masalh yang menimpa satria dong. Sebagai istri seharusnya kamu yang sudah siap mendampingi suami apapun kondisinya" kini giliran mbak Ida yang sedari tadi diam kinimejawab dengan cirihas mulutnya yang pedas.


"mbak Ida" bentakku mulai hilang kendali, percuma menggunakan kata-kata sopan berbicara dengan mereka. Tetap saja kau yang selalu di salah kan.


"dalam hal ini aku yang paling tersakiti, seharusnya kalian tidak pernah darang ubtuk meminta bantuan kepdaaku, apa lagi meminta uang dalam jumlah yang banyak.. Dulukalian yang selalu menghabiskan uang mas Satira seharusnya sekarang kalian yang membantunya di saat dia dalam kesusahan bukanya malah berbalik kepadaku. Apakalian tidak punya malu?"tegasku penuh penekanan. Merka semua diam tidak bergeming.


"asal kalian tahu saja aku sudah siap mengajuka gugatan cerai pada mas Satria. Jadi kalian jangan mimpi aku akan kasih uang pada kalian.


Muka mbak Ida merah padam. Sedang kan yang lain aku tidak menapapnya.


" santi, sudahaku bilangkan, kalau percerain itu terjadi, Raisya akan menjadi korban. Aku tidak mau melihat keponakanku hidup tanpa ayah. Jadi sampai kapanpun perceraian itu tidak akan terjadi."mbk Ida tiba-tiba buka suara. keraasukan apa orang ini.


"korban apa mas? Siapa yang korban jika perceraian ini terjadi? Raisya tiba-tiba mbak sebut keponakan? Atau mas Satria? Adikipar kesyanganmu mbak?"aku diam sebentar mengatur emosi supaya tidak meledak-ledak.


" dan sejak kapan mbak memikirkan anakku? Jangan jadi bunglon, yangberubah ketika terjepit. Mbak! Kalau dasarnya benci selamanya saja membenci"


Sungguh aku semakin muak berhadapan dengan mereka semua. Satu keluarga tidak tahu malu.

__ADS_1


"aku sudh tidak butuh di akui dalam keluarga. Dari dulu kalian tidak pernah peduli sama anakkukan? Ada atau tidaknya mas Satria sebagai suamiku, selama ini sama saja, kalau mbak memikirkan Raisya kenapa malah mas Satria lebih disuruh mementingkan Anisa dari pada darah dagingnya sendiri atau jangan-jangan Anisa itu adalah anak nya mas satria bukan anaknya mas Denis?. Mbak pikir aku bodoh? Senyum mengejek tersungging dari bibir ini.


"santi lancang kamu jaga ucapan kamu" mbak Ida jadi tambah emaosi.


"santi, maafkan sikap istriku selama ini, sebenarnya dia adalah orang baik, hanya saja cara bicara nya sja seperti itu. Ketus. Ituhanya nada nya sajakok, santi. Dia adalah seorang istiri yang baik buatku." mas Denis menengahi dan mennarik tangan mabk Ida untuk duduk kembali, namun tetap memihak pada istrinya.


"orang yang baik tidak mencampurin urusan rumah tangga orang lain mas. Orang yang baik juga akan memperlakukan siapapun dengan adil. Dia istir yan baik buat mas Denis namun ipar yang buruk buat aku."


Aku tidak peduli mata mbak idak mencuat setengah karena ucapan aku baru san, lagi pula aku bicara jujur.


"Entah berpa kalimat bentak yang menyakitkan keluar dari mulut istir anda. Sikapnya yang angkuh, pada hal kita adalah sama-sama menantu dikeluarga ini. Tetapi aku seakan tidak pernah di anggap temasuk dalam anggota keluarga. Dan cara kalian memperlakukan Raisya dan Anisa pun sangat jauh berbeda. Dan kalian selalu memperlakukan Anisa secara istimewa,Anisa dilimpahi dengan penh kasih syang, sementara Raisya dia mendapatkan limpahan kasih syang hanya dari keluargaku saja."


"bukan memperlakukan Anisa istimewa, santi. Hanya saja, setiap hari selalu bersama, rasanya beda dengan Raisya yang jauh." ibu mas Satria berucap dengan intonasi pelan. Seperti sedang meryau dan membujuk driku.


Seprtinya aku harus mengusir mereka sebentar lagi. Demi sekehatan jiwa dan raga ini. Terlalu lama berdebat dengan keluaga mas Satria. Hanya akan membuat aku jadi gila.


"kamu ya mentang-mentang sudah kaya sudah bisa cari uang sendiri. Senak hatinya kamu mencampakkan Satria. Santi kenapa waktu kamu masih bergantung pada Satria kamu tidak meminta bercerai? Kenapa malah sekarang"sengit mbak Ida. "di saat yah dari anak mu sudah terpurk mengapa kamu malah meninggalkannya. Malang sekali nasib Satria beristrikan kamu santi"


Lama-lama omongan mbak ida, membuat aku igin mengambil batu jika bisa akan memukulnya.


"mbak ida benar-benar. Orang yang tidak tau malu, ya? Sadar mbak! Aku seperti ini tanpa ikut campur tangn mas Satria. Usaha yang aku rintis setelah mas Satria memilih pergi dari rumah ini dan mengidupkan kalian semua"

__ADS_1


Jelas aku tidak akan tinggal diam saja, akusudah tidak mau lagi di injak oleh mereka lagi.


"Raisya menagis malam ayah nya lebih memilih pergi. Hingga bebulan-bulan dia ngak pulang apa, mbak manasehati anak ibu supaya menjenguk anaknya?"


yang di tanya malah kembali bungkam, hanya mentapku dengan mata melotot.


"dan sekarang, mbak bilang kalau aku memilih pergi disaat dia terpuryk? Dia itu selingkuh mbak! Dia tidak bisa menahan nafsu. Jadi ini kansekuensi yang harus dia hadapi. Jangan-jangan alsan kalian berubah pikiran, supaya mas Satria berbisah dariku, karenakeadan ku sekrang sudah membaik?"


Tidak pedulu disitu ada orang yang lebih tua, aku tetap terus mengaluar kekesalanku.


"aku masih ingat sore-sore waktu ibu datang kemari, ibu menyuruh aku untuk mengajukan gugatan cerai. Kan? Sekarangaku turuti. Seharusnya kalian bahagian,dong? Dan akan aku uruskan tanpa mas Satria harus mengeluar kan uang sepeserpun."


"ibu minta maaf santi. Ibu hilaf dan manusia itu tempatnya khilaf, jadi sudah septutnya kamu memaafkan ibu"


***


Setelah lama dan menyaksikan perdebatan ku sadari satu hal. Memperpanjangkan perdebatan ini, hanya akan menguras tenaga. Akan tetapi bagai mana cara aku mengusir keluarga mas Satria?


"astagfirullahalazim" ucapan istigfar berulang kali aku ucapkan berharap merka segera menyadari. Kekliruan yang dilakukan hari ini.


"santi, setiap kehidupan berkeluarga akan diuji. Kamu sebagai istri, harus selalu mengalah. Jika suami kekuar dari pintu rumah, anggap saja kamu tidak punya suami. Bisarkan saja dia berbuat apa saja yang dia inginkan. Tugasmu hanya melayani jika dia sedang berda di rumah. Dia mau melakukan apapun kamu nggak usah memikirkan itu semua akan membuat kepalamu pusing saja. Dan kamu tidak berhak melarangnya."kini ibu mertua angkat bicara lagi.

__ADS_1


"kalau kamu bersikap seperti itu insya allah rumah tanggamu akan tersa aman dan nyaman. Tidak akan ad pertikaian".


__ADS_2