
"santi ngapain kamu disini? Ini acara penting kamu nggak layak ada di acara seperti ini. Kan setiap bulan sudah ibu wakilkan, dan kamu nggak pernah ikut juga.,jadi kamu nggak usah datang mendingan kamu pulang saja malu-maluin saja"hardiknya sesuka hati. Tanpa peduli kalau ibu-ibu yang lain sedang menatap ke arah kami.
Saat sedang marah-marah nggak jelas. Bola matanya seperti terpokus melihat perhiasan yang aku pakai. Munggkin hatinya semakin terbakar api emosi. Ada untungnya juga kemaren aku beli perhiasan bisa buat manas-manasi hatinya. Bukan maksud mau pamer sih. Tapi, nggak apapa lah sekali-kali mungki saja sampai rumah dia ngamuk mintak di beliin sama anak lanang kesayangan nya . Ah aku nggak peduli terserah dia mau apa.
"eh ada ibu, emangnya kenapa buk kalau aku juga berda di sini? Bukankan disini bebas untuk umum? Asal mereka mampu untuk ikut iya kan buk?"sahut ku begiti santai, tanpa menunjukkan wajah emosi sama sekali.
Aku berusaha untuk tidak terpancing emosi, didepan ibu-ibu semua. Aku nggak mau mempermalukan ibu rasti dan ibu sindi karna merka berdua yang membawa aku kesini. Dua orang wanita sukses yang disegani oleh semua orang. Pengusaha terkenal yang memiliki bisnis dimana-mana. Dan karna bu rasti juga aku bisa ikut gabung di klinik kecantikan nya. Aku juga telah memasukkan produk kecantikan yang aku jual kedalam klinik kecantikan bu rasti.
"hah! Kamu mampu? Kamu saja hidup pas-pasan, bagai mana kamu bisa, kamu bilang kamu mampu buat ikut arisan yang besar seperti ini. Ujarnya dengan emosi.
"bu endang kalau bisa suaranya di pelankan sedikit, karena malu dilihat orang, apa bu endang nggak lihat semua mata melihat kearah bu marni apa nggak malu? Oh ya bu endang ini mertuanya santikan, ya? Seharusnya sebagai ibu mertua nggak boleh memarahi menantunya di depan umum seperti ini, apa ibu nggak mikir bagai mana persaan santi? Kan bisa di bicarakan baik-baik"kali ini bu rasti ikut angkat bicara,dan menegahkan pertengkaran antar aku dan ibu mas satria. Malu, itu yang kurasa kepasa ibuk-ibuk yang lainnya.
'iya bu rasti, saya paham tapi saya kesal sama menantu saya ini. Dia soak kaya banget orangnya. Pada hal dia hidup cuma pas-pasan. Ngga kusah lah ikut acara arisan besar seperti ini, cukup saya saja yang mewakilinya, mengapa juga mesti harus datang kesini"sahutnya berusaha membela diri.
"santi ini bukan banyak gaya, santi ini ikut arisan disi ini, karna dia mampu kok, jadi mengapa mesti di permasalahkan buk? Oh ya kalau tadi ibu marni bilang santi hidup nya nggak mampu,berarti kebutuhannya nggak dicukupi dong oleh satria? Pada hal satra adalah menager di salah stu perusahan besar ya? Dan sudah pasti gajinya juga besar dong Tapi mengapa ibu bilang santi hidup kurang mampu pas-pasan, dan saya lihat satria hidupnya enak kok. Tidak susah-susah amat" tutur bu rasti panjang lebar, dan sukses membuat ibunya mas satria di skakmat dan sepertinya dia sangat malu sekali.
__ADS_1
"ya nih, bu endang memang selalu begitu amat sama menatunya! Dia juga selalu galak sama santi, pada hal santi menantu penurut loh! Tapi kenapa bu endang selalu seperti itu sama santi, sepertinya dia benci bangat deh sama santi."kini bu neneng salah satu tetangga ibu endang yang turut menimpali dan membelaku.
"loh kamu kok malah ikut-ikutan sih kenapa kesannya saya yang di keroyok gini ya? Lagi pula ini urusan saya sama menantu saya. Bukan urisan kamu bu neneng! Udah deh berhenti untuk julid sama saya! Urus saja urusan kamu sendiri"tampik ibu mas satria. Dadanya turun naik mungkin karna terlalu emosi yang sudah meluap-luap.
"Saya di sini bukan mau ikut camapur tapi memang kenyataannya seperti itu. Bu endang seperti tidak suka sama santi. lagi pula benarkan yang di kata bu endang, kalau satria itu kan hidup berkecukupan gajinya juga besar kerjanya juga mapan. Jadi mengapa santi dibilang nggak pantas berda di sini. Sangat aneh ibu mertua seperti kamu ini bu endang Sahut bu neneng lagi. Tak mau kalah. Seakan tatapannya menjatuhkan harga diri ibu mas satria.
"ah sudah lah! saya pusing tau nggak sih! Saya mau pergi saja dari sini, awas ya kamu santi! akan aku adukan ke satria semuanya. Atas kelakuan kamu di tempat ini" ibu mertuaku itu lansung pergi dengan buru-bru. Mungkin karna dia mersa diserang oleh banyak orang.dan juga banyak ibu-ibu yang neriakinya. Sepertinya ibu mas satria juga nggak bisa menjawab pertanyan orang yang barusan banyak bertanya.
Sepeninggalan ibu mas satria acra tetap di laksankan seperti bisanya setelah acara selesai kami pun pamit pulang kerumah masing-masing aku di antar pulang lasung kerumah oleh supir bu rasti sedangkam sepeda motorku katanya sudah di antar oleh orang suruhan bu rasti.
***
Aku malas pulang ada mas satria, tapi aku harus mandi dan ganti baju, sembari menimbang keputisan pulang atau tetap disini raisya mengeliat dari tidurnya pelahan membuka matanya,
"ibu, ibu sudah pulang? " tanya raisya denagn suara has bangun tidur
__ADS_1
"Sudah sayang" ucap ku sambil kucium pipinya
"hmm acam, raisya belum mandi ya?" tanyaku
"blum bu tadi raisa bobok abis maian sama kakung" ucapnya ku tatap mata sayu putriku
"raisya masih ngantuk?" tanyaku, dia hanya menjawab dengan menggelengkan kepala mau mandi sekarang? Ayo kita mandi, setelahitu kita makan tadi ibu beliin ayam goreng kesuaan raisya, dia menganguk, aku menggendong putriku kekamar mandi, setelah mandi dan mengganti pakaiannya aku gendong raisyaku kemeja makan.
"hore ayam goreng" teriak nya dengan riang, aku menyendokkan nasi dan ayam goreng kesukakanya kedalam mulutnya raisya sering menyebut ayam goreng kesukakn nya ini dengan sebutan ayam upin ipin, karna kebetulan goreng ayam yang aku beli ini adalah pahanya. Raisah sangat menikmati makanan kesukaannya ini,
Ketila raisya sedang makan bapak masuk dari pintu belanag bersama ibu sepertinya mereka dari kebun belakang rumah. Ibu bawa sayur-sayuran segar lansung mencucinya karna mau di masak untuk makan malam.
"wah sepertinya enak, raistya sedang makn apa?" tanya bapak
"ini kung raisya makan ayam upin ipin" ucapnya sambi menoleh kearah bapak.
__ADS_1
"kakung mau? Ini" raisya menyerah kan paha ayam yang diringnya ke pada bapak.
"nggak, raisya makan saja, kakung mau mandi dan solat asar dulu" ucap bapak sambil berlalu.