Istri Yang Terzolimi

Istri Yang Terzolimi
memeriksa pesan di hp Satria


__ADS_3

Aku refleks mengangguk, setuju dengan ucapn pak Andi.


"tapi, jika kamu merasa sudah tidak ingin hidup bersamanya, itu semua terserah kamu. Jangan lupa , minta petunjuk sama allah supaya di beri jalan terbaik. Danyang penting keputusan apapun yang kamu ambil, itu harus hasil perenunganmu sendiri. Jangan sampai. Ada pihak lain yang mempengaruhi"


Dugaanku terhadap pak Andi ternyata salah. Dia tidak sedang berusaha melakukan pendekatan. Justru, dia memberi nasihat yang sangat bijak.


"ya sudah santi, maafsudah menggagu waktumu"


"oh tidak apa-apa pak. Senang berkenalan dengan anda"


Percakapan kami berakhir dengan salam dari pak Andi. betul juga yang di kataknnya aku tidak boleh membiarkan siapapun memengaruhi pikiranku termasuk mas Satria.


Sementara waktu aku tak bisa berbuat apa pun untuk mengusir ayah dari anakku itu. Namun, aku yakin, bilamemang kami tidak lagi berjodoh, allah akan tunjukkan jalan untukku., tidak tersa aku sudah sampai rumah ibu, aku lansung masuk ke rumah karena Raisya juga berada di rumah ibu. ,mbak wati terlihat hemdak pulang saat mobiku baru saj ku parkir di halaman rumah. Kupanggil wanita yang usianya lebih tua dariku itu.


"Ada apa mbak santi?" tanyanya.


"mas Satria sudah di masakin mbak? Bagai mana kondisinya?" tanyaku balik.


"sudah mbak. Tadi saya bilangin kalau mau makan ambil sendiri. Dia tanya-tanya apa kegiatan mbak santi selama ini. Ya, saya jawab saja seadanya mbak"kemudian dia tampak ketakutan


"nggak salah kalau saya jawab begitu, kan mbak?"


"oh, iya. nggak papa, mbak wati. Terus dia ngapain saja tadi?"


"telpon-telpon terus, mbak. Waktu saya baru datang, loudspeakernya nyala. Kan, saya lewat di samping, jadisaya dengar, telpon wanita tua, mbak. Dia minta mas Satria bertahan di ruamh mbak santi. Katanya, sayang, sekarang mbak santi sudah punya mobil. Kalauperlu apa-apa mas Satria bisa pakek mobil mbak Santi.gitu, mbak"


Aku hanya mengangguk seraya mendengar semua cerita mbak Wati.


"mbak Santi, saya pamit dulu, ya. Takut anak-anak sudah pulang nyariin" ujarnya, kami pun bersalaman dan dia berlalu meninggalkan aku sendiri.


Oh, jadi begini rencana kalian? Baik lah, aku ikuti permainan kalian.


Rupanya, keberadaan mas Satria di sini bukan karena niat yang tulus untuk memperbaiki rumah tangga kami. Melainkan karena lagi-lagi demi ibu tercinta.


Baik lah kalau begitu. Kamujual aku beli, mas.


***

__ADS_1


Setelah menemani Raisya bermain dan makan siang, akukembali ke rumah. Kebetula, har iini aku ada janjian dengan reseler yang berneung pada anggotaku. Mereka berjumlah empat puluh orang.


Kami berencana mengadakan kopi darat di sebuah rumah makan. Akandi selenggarakan acara tasyakuran juga, karenaaku telah di beri kemudahan dalam menjalankan bisnis ini, danpenghasilanku tak lepas dari peran mereka, para reseler yang dengan semangat memasarkan produk.


Acara akan di mulai jam dua siang. Salahsatu dari merka memiliki hubungan pertemanan palinh dekat denganku, sudah ku minta untuk memesan menu rendang dan ikan bakar telebih dahulu aku sengaja memesan lebih banyak karna kalau nanti masi ada sisa bisa di bawa pulang oleh reseler-reselerku untuk anak-anak mereka yang tinggal di rumah.


Masuk kerumah, kulihat mas Satria sedang tidur di depan TV, rasaiba tadi pagi yang sempat singgah di dalam hati sudah tidak ada lagi. tidak ada ketulusan sedikit pun dalam hatinya untuk kami. Yang ada hanyalah ketamakan untuk membahagiakan keluarganya sendiri.


Dia tertidur dengan pulas, benda pipihnya berada di samping tubuhnya. Dengan hati-hati, aku ambil gawainya yang berwarna putih itu, jika dia terbangun saat aku masihmemeriksa jejak percakapannya maka tamatlah sudah riwayat sandiwara mereka. Bila dia belum bangun saat aku selesai , maka aku akan nermain cantik untuk menyiksa persaannya. Sama seperti yang dia lakukan padaku. Kaki ini melangkah menuju kamar, Raisya, tempat aman untuk berselancar pada pesan aplikasi. Setelah menetralisir degup jantung, mulailahku periksa isi jejak pesan suamiku. Ada beberapa dari kawannya oti tidak penting. Satu nama ku buka. Mbak Ida.


(Sat, Nisa nangis terus nih , minta di beliin mainan seperti Raisya)


(ya tinggu aku gajian dulu, baruaku beliin) balas mas Satria.


Lalu, aku membuka ruang pesan dari ibu.


(Sat, ibu mau periksa. Kamu bawa mobil kesini, ya? Cari sopir siapa gitu orang situ yang bisa nyopir)


(ya, buk nanti aku coba ngomong sama santi)


(jangan mau kalah lah sama istri, Sat. Bagaimanapundia harus tunduk terhadap kamu suaminya)


Apakah kira-kira ungkapan paling kasar untuk meluapkan emosi terhadap wanita tua yang satu ini, ya? Dan masihkah berdosa bila kata-kata tak pantas aku umpatkan dari mulut ini?


(sabar buk. Taksemudah itu.)


(ya, kamucari cara dong masa mau kalah oleh istri?)


Demi apapun juga, darahku sudah mendidih. Seenaknya saja orang tua itu berkata seperti itu. Dia pikir, inimobil pinya siapa? Sudah untung Satria todak ku seret keluar dari rumahku. Dia malah menyuruh anaknya untuk tidak kalah sama aku. Seperti yang mau adu tinju saja.


(pokoknya jangan sampai kamu kalah dari istrimu itu. Diaharus menurut sama perkataan kamu. itupun kalau masih ingin punya suami.)


(santi sudah tidak mau lagi sama aku, buk.)


(alah, dia hanya berlagak saja, belum tentu kalau cerai sama kamu akan dapat CIO. Paling dapat pak RT, Si Santi itu hanya menyombongkan diri saja, biar kamu bersimpuh minta maaf, kepadanya Sat)


(bicaranya jangan keterlaluan bu Santi sakarang buka Santi yang dulu, sekarang Santi sudah cantik dan berkelas sekarang, diabisa mendaptkan bahkan yang jauh lebih baik dari Satria.)

__ADS_1


(emang dia punya kenalan O rang perusahaan? Cantiknya tetap gadis kampungan, palingjauh nya gaul sama pedagang sapi)


Ya allah, hati ini sakit sekali rasnya tak kuat jika diteruska membaca percakapan suamiku dengan ibunya, serendah itukah dia menganggap dai ini?


Mas Satria tam membalas lagi. Ada rasa yang agak luluh membaca sebuah kalimat pembelaan untukku. Namun, segeraku tepis. Jikadia serius membelaku, mengapabari sekarang? Setelah diri ini bertransformasi menjadi wanita berkelas. Ibu mertuaku masih saja menganggap aku sebagai perwmpuan kampung.


(ingat, Sat, kamu pilih wanita kampung supaya nurut. Biar kamu masih bisa membahagiakan ibumu dan saudara-saudaramu dengan uang gajimu. Bila kamu kalah malu sama profesimu, lah.)


(nggak tau, lah,buk.aku capek di tekan terus.)


Pesan tak berperikemanusiaan itu berakhir. Lagi, adarasa kasihan terhadap ayahnya Raisya. Ternyata, hidupnyabegitu tertekan.


Aku terus membaca pesan dari kontak bertulis (felly love love)


Seharusnya dia lebih kreatif mencari nama kontak itu untuk permpuan iti.


(mas)


(sayang)


(aku kangen)


(kapan kita ketemu?)


(aku sudah nggak tahan)


Semua pesan itu sudah di baca


(sama.kangen, pakaibanget.)


Balas mas Satria.


(pengen itu kamu)


Jawab perempuan itu.


(sabar, ya.)

__ADS_1


(tunggu suasana stabil dulu.)


Rasa kasihan yang sempat singgah memdadak pergi lagi.


__ADS_2