
bapak berralih ke mbak ida. "ida, bila posisinya anak kamu yang mengalami nasib seperti raisya, apakamu tidak akan marah?"
"ida tidak tahu apa-apa pak ibrahim, jangan bawa-bawa dia" sahut ibu satria, terdengar kesal.
"siapa yang bawa-bawa ida buk, sayakan cuma bertanya" jawab bapak.
"maaf pak, saya kurang suka. Ida anak yang baik, dia tidak pernah jahat sama raisya"sanggah ibu mertua lagi.
"lalu siapa yang jahat sama raisya? Siapa yang membuat cucuku tidak punya ayah?" tanya bapak lagi.
Mereka terdiam, untuk sementara waktu hanya ada keheningan di antara kami. Sebelum akhirnya ibu mertua kembali angkat suara.
"begini, pak ibrahim. Kami ini orang yang tidak suka berbuat masalah, kalau santi tidak memperkeruh suasana. Seandainya sebagai istri dia nurut dan tidak banyak menuntut, satria pasati betah di sini, satria pergi berbulan-bulan karena tidak nyaman, dengan segala protes yang di lontarkan. Kami ini keluarga satria, pak ibrahim. Janganlah larang anak ku ini, berbuat baik, pada kami. Kalau santi nunrut, manut aturan satria, satria pasti pulang kesini, kok"
Ibu mertuaku ini luar biasa. Dalam kondisi terjepit seperti sekarang, masih saja bisa mengkambing hitamkan orang yang seharusnya mereka minta maaf.
"pulang kesini? Tiga hari sekali, dua kali dalam sehari dalm seminggu? Pantaskah?" tanya bapak, tegas.
"Kan, pulang ke sini jauh, pak. Jangan. Menuntut seperti itu dong." timpal ibu mertua lagi
Kalau minat bisa saja. kecuali, satria punya wanita selingan di sana. Ceritanya akan beda lagi" terdengar hembusan nafas dari pria yang merawat dari kecil itu.
"Pak, menurut saya begini. Santiiti terlalu-"
Belum sempat selesai ibu mas satria bicara, lansung di potong sama bapak.
"santi terlalu apa? Terlalu menuntut? Terlalu banyak mintak? Anakku minta minta apa sama kamu selama menikah sama satria?" seropot bapak, tanpa ampun.
"segala kerja dia lakoni, demi kebutuhan hidup yang tinggi. Baju saja, mungkin beli setahun sekali."
Aku reflek mengangguk, mengakui perjuangan perihku untuk bertahan hidup.
__ADS_1
"pasti beda sama kamu, kan ida? kulihat, pakaian kamu bagus" setelah melirik rani sekilas, bapak kembali bertukar pandang dengan ibu satria
"selama santi tinggal bersama satria, dia selalu ngirit. Makan sama ikan asin, santi dan raisya belum pernah hidup sengang selama menikah dengan satria, dan saat dia tahu semua kebohongan satria, hal yang wajar dia marah, kan? Kecuali santi mayat hidup, baru diapakan saja dia diam" sedari tadi, aku hanya diam saja.namun,di dalam hati bersorak, sangat menyukai sarkasme bapak ini.
"bila anak saya ini buruk,dekil, jelek, tetap tidak pantas untuk kamu permalukan dia di belakang, sat" tegas bapak pada satrua. Lalu, beliau menghembuskan nafas panjang.
"kembalikan santi pada saya, saya akan menerima nya dengan tangan terbuka, saya siap menerimanya. Nikahi saja wanita yang menurutmu pantas untuk kami nikahi, bukan seperti anak saya wanita kampung yang jelek dan miskin"ujar bapak lagi.
Tidak ada jawaban, kulirik laki-laki itu, dia hanya terdiam dengan kepala tertunduk.
Bapak menarik nafas dalam-dalam, lalu berucap.
"fitrah seorang wanita diberi nafkah dengan layak. Kecuali bila benar-benar tidak mampu, penghasilanpas-pasan, barulah seorang istri harus memaklumi. Sebenarnya saya tidak tega melihat anak saya setiap hari hanya maka dengan goreng ikan asin sambel ijo, dan berjualan apa pun untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebelumnya saya tidak pernah ikut campur karena saya sama sekali tidak tahu kalau anak saya telah di zalimi"
Nafas bapak tersengkal-sengkal jelas sekali dia tenagh menahan emosi. Aki menunduk. Tidak terasa satu persatu tetes bening mengalir menganak sungai mebasahi pipi ini. Teringat semua yang telah di lakukan satria kepada aku dan raisya.
"berhentilah membela orang yang salah. Meskpun itu anak kita sendiri. Kecuali anda juga ikut melakukan kesalahan yang sama. memang hal yang wajar kita melakuakan kesalahan, meskipun kesalahan tersebut sanagat keterlaluan. Setidaknya dengan minta maaf, tidak terlalu mempermalukan diri sendiri. Dari pada datang kerumah orang malah menyalahkan orang yang punya rumah."cetus bapak,
Satu jam berlansung namun perdepatan ini belum juga menemuka titik terang, lalu merogoh saku celana.
Denagan mata sembab aku menerima uang yang beliau berikan.
"ini uang hasil penjuala dalam seminggu, semua dua puluh lima juta, hitung kembali, barang kali kurang. Staok bahan masih tersedia semua karyawan sudah bapak bayar semaua.
Seperti sengaja uang lima ikat bernilai lima juta di serahkan kepadaku.
Satria menatapku tak percaya.
Mabk ida terlihat merah pedam. Entah dengan mertuaku
"bagini pak" ibumertua mulai membuka suara
__ADS_1
"apapun yang terjadi jangan bawa-bawa ida, dia tidak tau apa-apa saya haya mersa memili tanghung jawab karena bapak nya telah menyerah ida kepada kami untuk kami terima sebagai keluarga untuk kami sayagi layaknya seperti anak sendiri."nada ibu satria terdengar lembut.
Apa karna telah melihat uang segepok tadi?
"iya , betul. Sayangi ida, cukup santi anak saya saja yang kalian marahi kalian zalimi. Ida jangan! dia cantik, pantasmenjadi menantu di rumah kalian. Beda dengan anak saya yang buruk rupa pantsanya. Dibentak-bentak, di marahi dimaki, dicaci, disalah kan' sambung bapak lagi
"cantik itu relatif, pa. Kalau banyak uang, pasticantik"
ternyata, ibu mertua sudah yeraindir oleh uangku.
"betul sekali buk makanya waktu bersama satria, anak saya buruk rupa jangankan untuk merawat diri, beli lauk saja harus banting tulang, di tambah lagi makanan tidak bergizi, mana bagus untuk tubuh"timpal bapak
"loh kaok pak ibrahim, bicaranya nyolot terus sama kami?"ibu protes dengan nada marah.
"kalau tamunya datang marah-marah, jangan menuntut tuan ruamh untuk sopan buk, kalau buk endang merasa sakit hati diketusain orang, bu endang jangan seenaknya nyolot sama santi, sebagai orang tuanya saya tidak terima anak saya di sakiti"balas bapak dengan tenang.
"pak izinkan saya bicara" setelah sekian lama terdiam, satria buka suara
Apa yang akan dia katakan? Masihpunya nyali dia setelah banyak tabiat buruk dia yang terungkap.
"sialhkan mau bicara apa? Apa mau ikut-ikutan menyalahka santi juga" ketus bapak.
"itu, saya mau minta maaf setelah membuat santi sakit hati dan kecewa, dan juga menelantarkan raisya"satria berhenti danmenghela nafas.
Ibu satria seperti tidak suka dengan penuturan putra kandungnya.
" terus, apa lagi? Ada lagi kesalahan yang kamu akui?" bapak bertanya tanpa mau menatap satria.
"saya menelantarkan santi tidak memberi nafkah yang layak, sayjuga menjelek-jelekkan santi dihadapan teman-teman saya, saya tidak pernah memberi kebahagiaan kepada santi, sayaselalu membuat hidup santi menderita.saya janji akan memperbaiki semuanya"diam kembali, pria yang masih bersatatis sebagai suamiku itu seperti sedang mengatur kata-kata.
"om, om satria liat ini poto kita waktu main do moll kemaren, nisa cantikan?"bocah kecil itu kembali berulah, menta perhatian dari ayah raisya. satrai hanya menoleh dan mengangguk.
__ADS_1