Istri Yang Terzolimi

Istri Yang Terzolimi
teror dari mas Satria.


__ADS_3

Ini jelas menyinggung perasaannya. Namun, lebih baik pria itu tersinggung dan membenciku. Karena sudah jelas, bapak tidak memberi izin untuk dekat, apa lagi melansungkan pernikahan dengan pria yang berstatus seperti pak Andi.


"Baik, aku paham maksud kamu,santi. Tapi bila kamu sudah benar-benar bebas, apakamu memperbolehkan aku untuk kembali mendekati kamu?." raut wajahnya menunjukkan aura kecewa sekaligus sebuah harapan baru.


"saya tidak akan melarang siapa saja untuk mendekati saya itu hak setiap orang."


"Jawabanmu ambungu"


"itu hanya perasaan bapak saja."kilahku sambil tersenyum.


"keberadaku di sini, di tempat ini bersamamu, Apa membuat kau tidak nyaman?"tanyanya kembali.


Aku hanya menunduk, memainkan jari jemari untuk mengusir gundah yang tiba-tiba hadir di dalam dada.


" Baik aku sudah tau jawabannya tanpa kamu memberi jawabanya, maaftelah mebuat kamu menjadi kurang nyaman, santi. Aku pamit." ucapnya sambil mengambil ransel yang dia sandarkan didinding saung.


"aku akan berusaha mengambil hatimu di saat kamu telah menjadi wanita yang bebas."sebelum turun dari saung pria itu kembali bersuara dan menoleh kearahku.


" setelah aku bebas aku menjadi milik orang tuaku kembali, pak."jawabku lirih. Pria itu hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan aku.


Aku menatap punggung itu denga persaan sedih. Bahkan aku harus membunuh perasaan itu tatkala dia baru saja hadir di depwn pintu hati ini.


Maafka aku pak Andi.


***


"Assalamualaikum buk aku pulang." sapa Raisya di saat aku sedang sibuk memilih-milih baju untuk pergi ke pertemuan meet up dengan reseler.


"Walaikum salam sayang," jawab ku lansung memeluk tubuh gadis kecilku.


"hmmm acem anak ibu belum mandi ya? Badan kamu anget ya, nak?" ucapku sambil memegang kening gadis kecilku.


"Iya bu, Raisyaboleh minta sesuatu nggak sama ibu?"


"Apa sayang?"

__ADS_1


"Raisya mau beli ayam goreng yang banyak dengan om ganteng yang kemaren." ujar Raisya penuh harap.


"Cuam itu?" tanyaku


"oke akan ibu belikan ya? Kamu istirahat saja dirumah. Sama gih ganti baju laly bobok istirahat biar nanti ibu pulang badan nya sudah segar. Ibu akan belikan semua yang kamu inginkan sayang." ucapku dengan lembut kepada gadus kecilku ini.


Dua puluh menit kemidian aku telah sampai di kedai ayam goreng kesukaan Raisya. Dan aku sudah melihat pemilik kedai yang sedang berdiri di dekat meja kasir dari kejauhan. Karena kedai ayam goreng ini berdinding kaca, jadi yang di luar bisa melihat yang di dalam kedai dengan jelas. Dan kebetulan suasana kedai ayam gorengnya belum terlalu ramai.


"silahkan ada yang bisa saya bantu?" tegur pemilik kedai ayam goreng dengan ramah.


"saya mau pesan ayam goreng dua pack ya?" sahutku kepada pemilik kedai.


"Oke, anaknya mana mbak tumen nggak di ajak?" tanya pemilik kedai lagi berusaha bersikapa ramah kepada pelanggannya.


"O Raisya sedang sakit, jadi tidak bisa ikut kesini."


"Kasian sekali Raisya. Cepat sembuh ya mbak. Salam kenal saya Zaidan mbak"dengan pdenya Zaidan mengulur tangnnya ke arahku. Namun, aku tidak menyambut uluran tangan Zaidan, aku lansung menangkup kedua telapak tanganku di depan dada.


" Santi"jawabku tanpa bersentuhan dengannya. Sepertinya zaidan agak sedikit malu sambil menarik uluran tangannya kembali.


"maaf mungkin salah orderan. Karena saya hanya pesan dua pack saja tapi ini kenapa malah jadi banyak sekali?" ujarku kepada pemulik kedai ayam goreng itu yang bernama Zaidan yang sedang mebuat pesanan pelanggan lain.


"Oh itu buat Raisya si gadis kecil yang cantik, semogacepat sembuh ya mbak? Dan tentu sekalian buat ibunya juga yang tidak kalah cantiknya." aku hanya melongo mendengar ucapan Zaidan.


"Oh ya salam buat Raisya ya semoga cepat sembuh, dan salam juga ... Untuk.. " pria itu itdak menrus kan ucapannya dan lansung pergi masuk kedalam ruangan. Aku hanya diam tidak mengerti apa maksud pria yang satu itu.


***


Aku kembali kerumah mengantar ayam goreng pesanan Raisya. Begitu melihat aku membawa ayam goreng kesukaan nya Raisya bersorak riang.


"hore ayam goreng.." ucapnya sambil betlari kearahku


"Sayang jangan lari-lari nati jatoh" ujarku menegur gadis kecilku, namuntdak di hrauka.


"Wah banyak sekali ibu membeliayam gorengnya"

__ADS_1


"itu di kasih sama oon yang jualan dan dia juga nitip salam buat Raisya semoga raisya cepat sembuh dan nggak sakit lagi" ucapku.


Aku mengajak Raisya kemeja makan dan menyisihkan ayam goreng nya untk ibu dan bapak.


"kakung kemana nduk?"tanyaku kepada Raisya.


"Entah lah tadi waktu Raisya lagi naonton TV kalau nggak salah dengar kakung ngomong sama uti katanya mau ke pabrik"


Tidak betpa lama ibu masuk dari arah belakang membawa sayuran bayam.


"Lah kok ibu meti bayam bu, nggak usah mask buk nih santi bawa ayam gereng untuk makan siang."


"itu dai katanya Raisya minta di bikinin sayur bayam"


sedang nemenin Raisya makan sambil ngobrol sama ibu, tiba-tib sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal.


("santi, aku lagi butuh uang. Bisakah aku minta uang bagianku yang ada pada bagian harta bendamu?) aku yakin pesan itu dari mas Satria. Siapa lagi yang membahas masalh uang selain dia dan keluarganya.


(harta yang mana, sih mas? Bukankah semua sudah jelas. Waktu kkamu kesini bersama ibumu?)


(kan, belumada keputusan? kamu malah nyuruh bicara di depan hakim, tambah ribet, Santi. Kita pakai jalan damai saja.)


(berdamailah dengan takdir kamu, mas. Cariusa yang menghasilkan uang. Jangan kerjaannya hanya kerjaannya hanya memerasku saja. Masa kamu salah sama aku. Yang hanya perempuan kampung? Yang di tinggalnpergi tanpan di beri nafkah saja, sanggup menghidupkan anakku kok. Kamu kan punya pekerja kantor.)


Aku sempat berpikir. Deri pada terus di teror, apa lebih baik aku berikan saja uang yang dulu mas Satria berikan untuk beli motor, yaitu memang jatah bulananku. Tapi nggak apa-apa lah kalau aku harus mengalah.


(Terserah mau bilang apa. Yangpenting tolong berikan aku uang bagian uang hasil barang yang ada sama kamu)


Aku tidak membalas lagi pesan itu nomor nya lansung aku blokir.


Rasanya aku sudah malas berurusan sama manusai yang susah di ajal bicara. Bicara pun percuma hanya bikin pising kepala.


Mungkin besok dia akan datang kesini untuk meminta uang yang tidak aku berikan. Kalau, iya. maka aku akan memilih untuk bersembunyi saja.


Rasanya kalau bisa aku mau secepatnya keputusan sidang berakhir dan aku bisa bebas dari manusia yang satu ini.

__ADS_1


__ADS_2