
Sengguh bijak sekalinasehat dari ibu mas Satria itu bukan? Sayangnya aku tidak akan pernah menuruti semua itu. Wanita itu masih berusaha memberi wejangan banyak sekali. Jadi ustadzah yang menyampaikan tausiah. Entah apa lagi yang akan di sampaikan aku malas mendengarnya. Tausiah itu hanya akan menguntungkan bagi Satria. Dan keluarga besarnya. Sedangkan diriku hanya seperti sianida yang bisa membuatku mati konyol jika menurutinya.
Terdengar suara motor bapakku di halaman rumah. Aku menarik nafas lega. Beliau masuk dan terlihat kaget. Dengan tamu agung yang datang. Tanpa basa-basi lansung duduk di kursi kosong.
Eh ada tamu rupanaya? Datang kesini mendadak sekali. Ada keperluan apa gerngan?"tanya bapak.
"ini pengen main saja pak. Sudah lama Santi tidak ajak Raisya main kerumah."ibu mertuaku menjawab pertanyaan bapak dengan santai.
Apa dia bilang? Perasaan selam merka di sini. Tidak pernah mereka menanyakan soal Raisya. Kenapa sekarang menjadikam anakku sebagai alasan?.
"ini pak mas Satria lagi kena musibah. Kepergok berbuat mesum dengan selingkuhannya. Terus pemerintahan desa atau apalah aku sendiri aku juga kurang paham
Meminta uang damaj tiga puluh juta. Kedatangn keluarga mas Satria kesini, karena aku di minta untuk meminta membayar denda tersebut."
Jika merka tidak mau jujur, biaraku saja yang ngomong sama bapak.
"Aku pasrah saja pak karna sudah berbulan-bualn mas Satria tidak pulang. Anggap saja selama ini aku berda dalm tanggung jawab bapak. Jika bapak menyuruh aku bayar ya aku bayar jika tidak ya tidak."
sengaja membuat merka malu wajh tamuhtamu ku ini semua menunduk.
"Satria dan Felly itu hany nerteman kok pak, kebetulan sedang mengerjakan pekerjaan di ruah Felly, malauklah sebgai seorang menejer lagi banyak perjaan, mungkinnegerjanya kemaleman gitu pak. Jadi warga bertindak enaknya sendiri" Ibu mas Satria menyanggah aduanku.
"Oh jadi seperti itu?" ujar bapak sambil menganghuk kepala.
Sepertinya hany akting, menurutku. Karena kenyataan di belakang, kamisudah tau perihal itu.
"Terus santi mebayar tiga puluh juta gitu?" tanya bapak lagi.
__ADS_1
"ya karena kami tidak punya uang pak. Karena kelihatannya santi juga sudah sukses dengan usaha barunya. Jadi, tidak salahkan kalau saya minta santi untuk bayar semua itu, kan pak? Bagaimana juga mereka masih suami istri. Susah senang di jalani bersama."
Masalah ini biar di bicarakan oleh bapak saja aku biar diam saja menjadi pendengar. Entahyang lain ikut nimprung atau tidak.
"jelas salah dong pak,"bapak terswnyum tipis. Yang pertama anak saya cuma kerja serabutan. Sementara Stria seorang menejer. Masa iya ibu minta Santi yang bayar? Santi bisa apa sih pak? Dia sudah cukup pising. Banting tulang, jualan apa saja, untuk memenuhi kebutuhan putrinya maklumlah suaminya sudah tidak pesuli lagi sama mereka. Dan tidak pernah kasih nafkah yang wajar."jika sudah begini aku hanya bisa menjadi pendengar saja.
"waktu masih bersama, di kasih nafkah yang todak layak di beri nafkah 20 ribu sehari, bayangkan pak apa anak saya tidak pontang panting bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Apa lagi sekarang sudah tidak ada lagi di berikan nafkah sama sekali. Saya perihatin sekali melihat anak saya."
Aku salut sekali mendengar cara bapak menjawab. Beliau berhenti sebenyar. Ku lihat sepertinya beliau mengatur emosi. Sama halnya denga aku. Mendengar permintaan mereka. Tentu saja mereka sanagt marah.
"Anda kesini malah menyuruh santi membayarnya. Uang sebanyak itu, jelas saja saya keberatan."bapak melanjutka seraya terkekeh kecil. Lalu beliau melirik ke arah mbah Ida.
"kalau Ida yang berada di posisi santi, mendengar kabar suaminya berzina dan sampai di arak kayak gitu, sakit hati apa nggak?"
Yang di tanya malah diam salah tingkah.
" seharusnya anak saya di hibur. Di besarkan hatinya. Bukannya malah di minta uang sebanyak itu sih. Jangan ngarang gitu sih. Santi mana ada uang sebanyak itu sih,"
Keluarga mas satria diam semua sikap merendah bapak justru membuat bingung. Bapakemang selalu bisa mengatasi masalah. Dengam santai. Berbeda denganku terkadang untuk meninggikan emosi posisi kita di mata orang yang terzolimi. Memang harus dengan cara merendahkan diri.
"loh bukanya santi sudah sukses? Penampilannya sekarang sudah berbeda dari dahulu., pak"sahut ibu Satria.
"Tidak juga buk, santi sukses dari man? Hanya sajaku minta untuk lebih memperbaiki diri dari sedikit hasil jualannya. Agar tidak di hina oleh orang"sanggah bapak.
"kalau begitu, mobilnya bisa dijualkan pak?"
Pertanyaan lebih mirip permintaan. Dari ibu mas Satria membuat kami saling pendang.
__ADS_1
***
Bapak menghela nafas panjang. Aku kasian padanya. Harus terlibat dengan urusanku dengan rumit. Namun, maubagai mana lagi. Pada siapa lagi aku bersandar. Bila tidak pada dirinya.
"Mobil siapa yang bapak maksud?"tanya bapak memmastikan kalau kami todak salah dengar permintaan konyol mereka.
" mobil santi pak raman' ibu mertua menjawab dengan tegas.
"Itu mobil santi saya yang belikan untuk mengantar barang. Kalau di jual santi akan pergi pake apa?"
"pak rahman tidak punya uang tiga puluh juta."tanpa tahu malu ibu satria meminta uang.
"buk, maaf, maaf sebelumnyaperbuatan satria begitu buruk. Dan sangan menyakiti dan mempermalukan anak saya. Santi" nada bicara bapak melembut seperti bicara dengan anak kecil. "masih pantaskah anak anda pembebeni anak saya. Dengan meminta uang sebnyak itu? Apakah tidak ada rasa kasian pada Santi? Meskipun dia buka menatu idaman kalian"
Ibu Satria terdiam semari memandang bapak.
"minimal anda malu dengan peristiwa yang menimpa anak anda, lah. Bukan malah kesini dan melempar tanggung jawab pada orang yang jelas-jelas tersakiti dari dulu. Oleh sikap kalian. Kalu begini pantas saja, Satria berperilaku seperti itu pada Santi. Karena kalian selalu melindungi orang yang selau salah."
Jika mereka orang normal, harusnya merka malu dengan ucapan luapan emosi yang baru saja bapak lontarkan.
"pak seburuk apapun anak saya, sebisamungkin dan sampai kapan pun, saya akan menjadi pelindung bagi saya. Jadi wajar saja kalau kami selalu ada di saat dia kena masalah"
Sanggah ibu mas satria. Di benarkan oleh anghota keluarga yang lain melalui anggukan kepala.
"oleh karenanya, silahkan lindung Satria semampu kalian. Tapi jangan libatkan Santi dalam masalah anak kalian. Jangan jadikananak saya sebagai unjung pesakitan atas perbuatan anak anda. Sudahcukup selama ini dia fharus berjuang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan dia dan putrinya."
Kini aku mengangguk, setuju dengan ucapan bapak
__ADS_1
"lagi pula, sebentarlagi. Anak saya akan mengugatkan cerai kepada anak anda. Masalh satria. Mau hancur atau tidak itu bukan urusan kami.