
"nggak mau,adek Raisya jadi kerbau! ayo jalan lagi" perintahnya. Sembil menaik turun pantatnya dengan kasar.
Gerakan itu membuat punghung Raisya sakit. Aku segera bangkit dan menarik kasr tangannya. Untungnya satpan berada jauh dari kami.
"sakit! Jangan nakali Anisa nggak boleh sama mbah uti!'
Ku angkat tubuh mungilnya aku dudukkan di pangkuanku dengan kasar.
Bibirnya mengecut hendak menangis. Namun aku ucapkan kalimat ancaman di telinga anak itu.
"Diam atau kamu saya kasi sama orang yang lewat itu" kebetulan ada orang yang lewat seoarng laki-laki tinggi besar rabutnya panjang bertato menakutkan lah pokoknya brewokan lagi.
"mau kamu saya kasih sama orang itu" tanyaku sambil berbisik di telinganya. Dia menggelengkan kepala dengan lemah sambil terisak dengan menunuduk kan kepala. mungkin dia juga merasa takut terhadap laki-laki yang baru lewat itu.
"Bagus! Jangan pernah bentak-bentak Adek Raisya lagi. Kamu paham!"dengan nada marah aku berbisik lagi di telinganya. Dia mengangguk lagi.
Duduk yang tenang di sini di pangkuanku nggak usah main lagi."ucapku penuh penekanan.
Gadis kecilku kembali bermain seperti semula.
"jangan di pegang! itu punya ku!" teriak Anisa ketika Raisya memegang boneka yang tadi dia ambil waktu aku gunakan untuk bantal.
"adek Raisy jangan naik mobil-mobilan itu. mobil itu punya mbak Anisa." teriaknya lagi.
Raisya beringsut mundur. Mencari mainan lainnya. Saat mendekati mainan masak-masak yang sempat direbut oleh Anisa. Anisa melarangnya lagi.
"Itu semua punyaku adek Raisya tidak boleh main pakai semua mainan itu"
"oh ya?' tanyaku di telinganya. Sambil mencubit pinggangnya.
" nangis lagi mau kamu saya kasih sama orang yang lewat tadi?" ucapku , geram.
Jika ada yang melihat, mereka akan mengira kalau aku sedang membujuk anakku yang sedang menangis.
"jangan cubit! Anisa itu anak kesayangan. Nggak boleh di nakali" rengeknya.
__ADS_1
"Baik lah Anisa duduk sendiri ya? Biar tidak di nakali. Tapi jangan melarang adek Raisya bermain kamu paham!'
Ku angkat dan ku dudukkan tubuh kecilnya ke lantai dengan kasar. Entah setan apa yang merasuki aku. Aku ingin meluapkan semua amarahku yang terpendam selama ini. Aku sangant membenci anak yang tidak berdosa ini, dan berbisik supaya aku bersikap jahat kepadanya.
Aku akui Anusa mewarisi kecantikan ibunya. Itu sebabnya keluarga mas Satria. Menjadikan dia sebagai putri mahkota. Dan siap pun wajib mennyanjungnya.
Aku menemani anak ku bermain, tidak aku pedulikan Anisa yang menangis. Bahkan dia sudah terisak isak sekarang.
"mabk anaknya nangis" ujar satpam yang kebetulan lewat. Aku tersenyum.
"iya,pak, lagi rewel nggak mau main sama adeknya".
"pipis Anisa mau pipis!" anak kecil itu tidak tahu cara memanggilku. Karena memang, tidak ada yang menjajarinya memanggil aku bulik. Dengan sangat terpaksa aku mendekat ke arah anak itu. Menyusahkan saja.
"Ayo jalan ke toilet" ajakku.
"Nggak mau harus gendong. Kan Anisa anak kesayangan tidak boleh jalan ke kamar mandi sendiri nanti jatuh. Ku buang nafas dengan kasar lalu ku seret tanganngnya. Ayo mau pipis di toilet apa di sini? Kalau pipis di toilet jalan jangan manja. Disini nggak ada ibu, ayah atau bahmu yang biasa menggendongmu. Aku gandeng tangan anak ini menuju toilet sementara Raisya aku titip sama satpam. Sesampai nya di toilet.
"Lepasin celana nya'
Lepasin sendiri kalau nggak pipis aja si celana."bentak kukesal.
Dia beru saha melepaskan celana nya namun tetap tidak bisa. Ke sabaranku benar-benar sedang di uji.
Saat melepas celananya aku melihat hal lain, ternyatadia poop. Bayang kan saja , aku mesti mbersih poop anak yang sangat aku benci selama ini.
Saat akan aku tinngal keluar, dia menangis.
"mamaknya adek raisya Anisa takut tungguin di sini,jangan tinggalin Anisa sendirian"
Bau poop Anisa menyengat sekali di hidung. aku tidak tahan jika harus berdiam di sana, tidak aku hiraukan dia menangis . Aku tinggalkan dia seorang siri si dalam toilet, menunggusi luar.
Hendak aku tinggal pergi. Rasanya sisi baikku berkata jangan.
***
__ADS_1
Anisa masih tersengar menangis di dalam toilet. Aku jadi agak cemas. Jika terjadi sesuatu pada anak kecil itu. Aku juga yang kena masalah.
Ku buka pintu toilet,memastikan apa yang terjadi pada anak kecil itu.
"Kenapa lagi?'
" mamaknya adek Raisya, jangan lari tungguin Anisa di sini saja. Anisa takut kalau di tnggal sendirian."
Ya keluarga mas satria tidak pernah mengajari anak ini memanggil aku dengan sebutan bulik, sesekali mereka selau mengajarkan dengan sebitan mamaknya Raisya, serendah itu aku dihadapan mereka. Perihal cara manggil saja, harus di cari yang tidak bergensi. Pada hal Raisya selalu aku ajari memaggil bude kepda mbak ida.
Akhirnya Anisa selesai juga BAB dan aku paksa supaya anak ini berjalan sendiri tanpa di gendong, pada hal tadi dia sempat merengek minta di gendong, namun aku paksa supaya jalan sendiri kalau nggak mau jalan akan tinggal di toiley sendiri.
Sampai di tempat permainan lansung aku ajak Raisya menuju ke parkiran, karena ibu sudah menunggu di mobil. Dari depan ibu mas Satria berjalan menuju kearah kami.
"Anisa nggak rewelkan?" Anisa menangis terisak.
"Kenapa kok cucu kesayangan mbah kok malah nangis?"Anisa diam saja sambil melihat ke arahku. Wanita yang menggendong cucunya paham dengan maksud cucu kesayangannya.
" Santi kamu apakan cucuku?"tanyanya denga tatapan tajam.
"Bu lain kali kalau mau mengajak anisa bawa baby sitter. Jadi, ada yang mengurus cucu kesayangan ibu. Nggak menyusahkan orang lain."sanggahku.
"Kamu kenapa, Santi? Kenapa kamu benci sekali sama Anisatidak bisa kah kamu menyayaginya seperti kami menyayagi Anisa?"
"Tidak bu, kaerna kalian juga tidak bisa memperlakukan Raisya seperti kalian memperlakukan Anisa menyayangi Raisya seperti mayayagi Anisa mengistimewakan Raisya seperti kalia mengistimewakan Ania"tanpa sadar nada bicaraku tiba-tiba memuncak.
" saya orang lain tidak ada aliran darah dengan anak itu. jadi tidak ada alasan untuk saya supaya ikit mengistimewakan anak ini.memperlakukan dia pak pitri kerajaan. yang ada keluarga ibu yang haris menyayagi Raisya karna Raisya adalah cucu dalam keluarga ibu posisinya sama seperti Anisa sama-sama cucu dalam keluarga kalian. Kenapamalah anakku di beda-bedakan? Seharusnya kalian sama-sama menyayangi merka karna mereka berdua terlahir dari darah daging keluarga kalian."
Aku membuangkan nafasku. Melepas kekesalan yang menguasai dada .
"Tadi Anisa BAB dam cuma saya siram saja, ibu bisa membersihlannya lagi biar tidak bau,saua permisi." aku mengajak Raisua segera msuk kemobil,
"Santi tolong antar kami pulang pake mobilmu ya,kasiam Anisa kepanasan kalau pulang hanya pake motor"
"maaf buk tidak bisa kami lagi buru-buru,"
__ADS_1
Dengan cepat aku masuk kedalam mobil bersama Raisya. Aku tidak mengubris lagi omongan ibu mas Satria. Kami lansung meninggalkan parkiran rumah sakit.