Izinkan Aku Menjadi Ayahnya

Izinkan Aku Menjadi Ayahnya
Jangan melarang aku.


__ADS_3

Nabila meletakkan lagi cangkirnya di atas meja. Kevin tersenyum lega setidaknya Nabila mau minum teh buatannya.


"Bagaimana perut mu sudah enakan?" tanya Kevin. Pandangan matanya tidak terlepas dari wajah Nabila.


"Sudah. Aku tidak kenapa-kenapa. Jangan terlalu berlebihan mengkwatirkan aku begitu. Aku tidak mau semua orang jadi salah paham dengan perhatian mu kepada aku begitu. Asam lambung ku yang lagi kumat, mungkin karena aku jarang sarapan pagi." Nabila meletakkan tangan kiri diatas meja dengan tangan kanan menopang dagunya. Wanita itu salah tingkah ditatap Kevin seperti itu. Namun, dia berusaha biasa saja.


"Sampai kapan kau menyembunyikan kehamilan mu itu?" batin Kevin. Perlahan dia menggeser tangannya ingin menggenggam tangan Nabila, tapi hampir saja tangan Kevin menyentuh tangan Nabila, dengan cepat Nabila sengaja merapikan rambutnya.


"Persetan dengan penilaian orang, aku tidak bisa berpura-pura. Aku kwatir maka akan aku tunjukkan aku mengkwatirkan kau, jika aku rindu aku bebas mengawasi mu dari kejauhan. " Kevin menatap tangan nya yang tadi hampir saja menyentuh tangan Nabila, dia mengangkat sudut bibir atasnya.


"Asam lambung mu kambuh? Setelah makan bersama nanti aku antar kau ke dokter." Kevin mendorong kursi ke belakang dia ingin berdiri dengan cepat Nabila menolak.


" Tidak perlu, kemarin aku uda periksa ke dokter." sela Nabila.


"Kenapa kau selalu menolak semua perhatianku? Aku bisa terima kau menolak cintaku tapi tidak dengan perhatian ku." Kevin menggertakkan giginya. Dia kembali duduk dikursi.

__ADS_1


''Aku menolak karena ada hati yang harus aku jaga. Lagi pula kemarin aku sudah periksa ke dokter.'' Nabila berdiri dari kursi, karena tidak ingin berdebat dengan Kevin.Dia juga tidak ingin Reno melihat Kebersamaan dia dan Kevin bisa bahaya untuk hubungan dia dan Reno.


''Mau, kemana?'' Kevin ikut berdiri tangannya menahan tangan Nabila.


''Aku, mau ke taman. Mau makan perut ku lapar emang mau apalagi?'' Nabila menatap Kevin.


''Cih, bukannya tadi kau meminta aku di sini? Lalu sekarang kau yang ingin pergi?" Kevin tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia mengepal tanganya hingga buku-buku jarinya memutih. Namun, hatinya kembali luluh melihat wajah menunduk Nabila, " Baiklah. Kau duluan nanti aku nyusul,'' Kevin mengetuk-ngetuk meja. Kesal. Wanita ini selalu saja menghindari dia padahal Kevin ingin berbicara serius dengan dia. Namun, Nabila selalu berusaha menghindar, dia seperti sudah mengetahui niat Kevin mengajak dia ke dapur selain untuk menyeduhkan teh untuk dia Kevin ingin bicara penting.


''Terserah, itu urusan mu!'' Nabila tidak peduli dia bergegas ke taman untuk bergabung dengan semua yang sedang menikmati makan malam ditaman.


♥️♥️♥️♥️♥️


Nabila kembali duduk disamping Reno. Kemudian dia mengambil sosis lalu menyiapkan dimulutnya, Reno menoleh menatap Nabila, " Dari mana saja kau?" bisiknya pelan.


"Aku habis muntah," balas Nabila.

__ADS_1


"Alasan, lalu Kevin?" Reno menautkan kedua alis matanya.


"Aku tidak tahu." Nabila menyuapkan sosis ke mulutnya tapi lagi-lagi dia tidak bisa menelan.


"Sebentar temui aku didepan mansion." Reno kembali menikmati wine bersama para mafia itu.


Setelah beberapa menit Kevin datang, semua mata tertuju menatap Kevin yang rambutnya acak-acakan, pria itu seperti habis bergulat, pakaian Kevin yang tadi rapi terlihat kusut.


"Hei, kau baru bangun tidur?" Andre yang sudah dibawah pengaruh alkohol berbicara sekenanya.


"Aku ketiduran di dapur." Jawaban Kevin membuat Reno meremas cangkir di genggamannya. Bagiamana dia tidak curiga? Tadi Nabila baru datang dari arah dapur lalu selang beberapa menit Kevin pun datang dari arah yang sama.


Reno tersebut sinis, " Kompak ya," sindir Reno menatap Nabila.


Nabila mendekatkan bibirnya ditelinga Reno, "Jangan asal bicara. Aku tidak melihat dia disana!" Dia tidak suka dituduh begitu Nabila kwatir Reno bisa menjadikan ini alasan untuk menolak kehamilannya.

__ADS_1


__ADS_2